Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 75. Posesif


__ADS_3

Keheningan melanda ruangan yang kini telah sah terisi 2 orang penghuni itu. Di atas ranjang empuk yang menghadap jendela dengan cahaya hanya dari sinar matahari itu, Anna terlelap begitu dalam di temani belayan sang suami yang sedikitpun tak ada keinginan untuk memejamkan matanya, hanya asik memandang sang istri sambil terus mengelus wajah cantik istrinya.


Anna tak banyak bicara sejak memasuki apartemen Rainer, entah kenapa tubuh Anna begitu lelah, letih, dan sedikit sensitif.


Semenjak pertemuannya dengan Winna dan Ardi, Anna terlihat sedikit murung seperti menyimpan beban yang sulit untuk diungkap kan pada Rainer, bahkan dia tak langsung membereskan barang barangnya.


Rainer faham dengan kondisi Anna yang kurang fit saat ini, ditambah nanti malam Anna harus ke kampus, jadi lebih baik mereka tidur terlebih dahulu hingga petang nanti.


***


"Sayang... bangun, ini sudah hampir magrib," ucap Rainer sambil membelai pipi Anna dengan lembut.


Anna sedikit mengernyitkan dahinya dan mulai membuka matanya dengan malas, tak ketinggalan tubuhnya mulai bergerak tapi masih belum mau bangun, malah makin menarik selimut yang menutupi tubuhnya


Melihat aksi istrinya itu, Rainer masuk kedalam selimut, membangunkan Anna sambil memeluk dan mencium Anna dengan gemas.


"Sayang.... katanya hari ini harus ke kampus, kalo tak akan ke kampus, ayo kita tidur lagi," ucap Rainer terus memeluk Anna.


Sontak Anna langsung membuka matanya dan terlihat sedang memaksakan diri untuk sadar dari tidurnya.


Kini kepalanya sedikit berdenyut karena bangun dengan tiba tiba, kemudian Rainer menarik tubuh Anna yang sudah bangun itu, kembali untuk merebahkan diri disampingnya.


"Kalo bangun pelan pelan sayang, biarkan tubuhmu beradaptasi dulu, jangan langsung bangun seperti ini, masih ada waktu sampai kamu kuliah, ayo mandi dan makan malam dulu, lalu aku akan antar kamu, "ucapnya begitu lembut sambil membelai dan memeluk Anna.


"Makasih be... sudah mandi aku akan masak ya," ucap Anna sambil ikut menatap suami jahil yang berubah jadi manis itu.


"Tidak usah, aku akan memasak spesial untuk kamu," jawab Rainer.


"Memangnya bisa?," tanya Anna sangsi dengan kemampuan suaminya.


"Bercanda.... coba saja nanti, ayo sekarang siap siap dulu, aku tunggu diluar ya," ucap Rainer dan dijawab dengan anggukan.


Lalu Anna melangkahkan kaki memasuki kamar mandi, beruntungnya di apartemen Rainer punya bethap, jadi sepertinya Anna akan mencoba berendam beberapa menit agar badannya terasa segar, Anna tak mengerti kenapa tubuhnya begitu lelah, padahal hari ini ia tidak bekerja seperti biasa.


Sedangkan di dapur, Rainer sedang berkutat dengan pisau dan teman temannya untuk membuatkan hidangan sehat untuk Anna, ia membuat sup hangat yang berisi beberapa sayuran segar, dan juga omlet yang dicampur dengan keju, semoga Anna suka masakannya ini.

__ADS_1


Setelah menunggu sekitar 30 menit, Anna kini sudah nampak berjalan mendekati Rainer yang sedang mempersiapkan alat makan untuk dipergunakan mereka makan malam.


"Ayo kita makan dulu sayang," ucap Rainer.


Anna begitu terharu dengan sikap Rainer yang lembut dan memanjakan dirinya, sepertinya pria di depannya ini sangat sukses membuat Anna semakin menyukainya entahlah, mungkin cinta, yang pasti Anna bahagia akan keberadaan Rainer disisinya.


"Maaf, aku malah tidur dan tak membantu apapun, nanti pulang kuliah barang barangnya akan ku bereskan ya," ucap Anna tidak enak.


"Ngomong apa sih, kamu istri aku, bukan pembantu, jadi biarkan art yang mengerjakannya, "ucap Rainer sambil menarik kursi untuk Anna duduk.


"Aku gak mau kamu kelelahan, jadi kerjakan apa yang ingin kamu kerjakan, dengan catatan aku tahu setiap kegiatan kamu, oke," ucap Rainer sambil mengecup singkat pipi Anna dan bergabung untuk duduk di samping Anna.


Anna hanya menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan Rainer, ternyata suaminya ini sangat pengertian, apakah Anna beruntung? Yah, saat ini Anna begitu merasa beruntung memiliki suami seperti Rainer yang baru ia kenal belum genap 6 bulan itu.


Setelah obrolan singkat mereka, kemudian Anna dan Rainer mulai menikmati makan malam mereka yang sebenarnya terlalu cepat untuk mengejar waktu kelas Anna yang akan dimulai sekitar 30 menit lagi.


"Mau berangkat sekarang? kita masih punya waktu sekitar 30 menit, mudah mudahan kita tidak terlambat," ajak Rainer.


Anna lalu bergegas membereskan bekas makan mereka, tidak sempat mencucinya, biarlah, kan Rainer bilang akan ada art yang akan membersihkan rumah.


"Kenapa?" tanya Anna sedikit kebingungan melihat suaminya yang tampak khawatir.


"Bolehkah aku minta sesuatu?" tanya Rainer saat mereka telah menyamankan diri duduk di sofa sambil Rainer menggenggam jemari Anna dengan mesra.


"Apa?" tanya Anna.


"Bisakah mulai sekarang kamu tidak dekat dekat dengan pria lain?" tanya Rainer yang membuat Anna bingung menanggapinya.


"Maksudnya apa? dekat dengan pria lain seperti apa? pacaran begitu?" jawab Anna asal yang membuat mata Rainer membulat seketika.


"Hei... kamu mau pacaran dengan pria lain sedangkan kamu sudah punya suami?!" murka Rainer sambil melipat tangannya di dada.


"Oh ya ampun, aku cuma bercanda, mana mungkin aku melakukan hal seperti itu," ucap Anna sambil memutar matanya malas.


Suaminya ini benar benar mulai posesif pada dirinya.

__ADS_1


"Dengarkan aku Anna, kamu istriku hanya milikku, pria lain tak punya hak dekat denganmu bahkan mendapatkan senyum darimu pun mereka tak pantas, aku tak suka jika kamu didekati pria lain meskipun mereka hanya temanmu saja," perintah Rainer yang begitu aneh.


"Jadi, jika ada pria manapun yang ramah padaku, aku harus jutek pada mereka? ya ampun bisa bisa aku dianggap gila oleh mereka babe," tutur Anna menyiratkan keberatannya.


"Biar saja, aku tak mau ada pria yang suka padamu, bahkan mendekatimu pun aku tak suka, sekarnag aku punya hak untuk itu," keukeuh Rainer begitu keras kepala.


"Baiklah, aku coba dan hanya pria yang menurutku berbahaya saja ya, kalo semua pria bukankah tidak mungkin," tutur Anna berusaha bernegosiasi.


"Ayo berangkat," ucap Rainer yang tiba tiba beranjak dari duduknya dan mengajak Anna untuk berangkat ke kampus, tanpa Anna sadari, Rainer saat ini sedang bingung dengan ketakutannya yang tak berdasar itu.


***


Setelah beberapa saat menempuh perjalanan menuju kampus Anna, kini Rainer dan Anna telah sampai tujuan, lalu Anna berpamitan pada Rainer dan mencium tangan Rainer.


"Aku kuliah dulu ya, tak usah di tunggu, kamu istirahat saja di rumah, nanti biar aku pulang naik taksi," ucap Anna memberikan saran yang tak diindahkan oleh suaminya itu.


"Tidak udah, aku tunggu di cafe saja," jawab Rainer sambil menarik wajah Anna kemudian mengecup dahi Anna lalu turun ke bibir Anna untuk menciumnya sedikit lama, bahkan Rainer sempat meng*hisap bibir Anna yang membuat Anna terkaget kaget dengan aksi suaminya yang berani itu, bibir Anna sampai bengkak karena ulah suaminya itu.


"Jangan bicara bahkan tersenyum pada pria lain, jika berani tersenyum pada pria lain, kamu akan mendapatkan hukuman mu nanti dikamar," ancam Rainer sambil mengusap bibir Anna yang basah dan bengkak karena ulah gilanya itu.


"Ish, dasar suami pemaksa, iya iya, puas," ucap Anna sambil mendorong dada Rainer yang mengungkung tubuhnya dan keluar dari mobil meninggalkan Rainer yang masih setia memandang kepergian Anna.


Anna tak begitu khawatir dengan ancaman Rainer, karena pada dasarnya Anna memang tak begitu akrab dengan teman pria disekitarnya.


Tapi berbeda dengan Anna, Rainer justru merasa was was pada istrinya itu, pasalnya bagi Rainer dimatanya, Anna saat ini malah terlihat semakin cantik.


"Apa aku larang saja Anna bekerja? dan kuliahnya... biar kuliah online saja tidak usah pergi ke kampus?" fikiran posesif dan konyol Rainer mulai menggerogoti otak pintarnya.


***


Ahem ahem ... mari kita saksikan kebucinan Rainer pada sang istri, apakah akan menggila, atau akan ada penggoda yang lain... ahay mulai gemes aku ini...


ikutin terus ya part selanjutnya, jejaknya akan selalu ku nanti 😂😂😂


happy reading 😘😘

__ADS_1


__ADS_2