Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 101. Pagi buta dirumah calon manten


__ADS_3

Tak seperti hari hari sebelumnya, hari ini tepatnya pagi ini terasa begitu berbeda. Suara suara manusia yang mendadak memenuhi kediaman keluarga Nalendra begitu riuh, saling mengintruksikan apa yang harus dilakukan demi menyelesaikan pekerjaan yang date line begitu mepet.


Andai bukan keluarga Nalendra yang membooking mereka, sudah pasti pekerjaan yang sangat mendadak ini tidak akan mereka ambil.


Demi perhelatan yang mendadak ini, Arman sebagai asisten serba bisa Rainer dan pak Ramdan sebagai penasehat dan kepercayaan dari Rudi Nalendra bekerja begitu ekstra dan nyaris tak tidur sama sekali demi memuluskan dan memenuhi apa yang bosnya inginkan itu.


***


Di satu sudut ruang tengah yang terasa nyaman dan hangat, Anna dan mamah Ros menggelar karpet ditemani cemilan dan teh hangat sambil dengan iseng memperhatikan pekerjaan IO yang dipercaya menangani semua keperluan yang dibutuhkan untuk acara akad nikah Raka dan Tania.


"Kekuatan uang memang luar biasa ya mah, padahal papah baru mutusin pernikahan Tania tadi malam, tapi bisa secepat ini persiapan dilakukan, dan nyaris lancar tanpa hambatan "


" Yah... begitulah, sama kaya Rainer, Papah kamu juga kalo punya keputusan sulit dibantah."


Pagi ini mertua Anna itu terlihat begitu lesu, sepertinya ada begitu banyak janggalan yang menghantam kepalanya.


"Mamah ngga seneng kalo Tania nikah hari ini?." Bukan bermaksud terlalu berani melontarkan pertanyaan semacam itu, tapi Anna merasa begitu khawatir melihat mertuanya tampak murung. Sepeti tersirat banyak penyesalan yang tercipta dari raut wajah yang berusaha baik baik saja itu.


"Mamah kesel An, masa semua anak mamah nikahnya sembunyi sembunyi kaya gini. Mamah juga pengen kan bikin resepsi meriah. Mengundang semua keluarga, Kolega papah, temen temen mamah, Pengen banget mamah nyiapin acara membahagiakan dengan suka cita. Bukan kaya gini."


Dengan gemas wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu merangkum wajahnya seperti menahan diri untuk tidak berteriak karena kesal.


Anna mengelus punggung sang mertua dengan sayang. Menyalurkan semangat setulus yang ia bisa.


"Maafin Anna juga ya mah."


Mendengar menantunya seperti merasa bersalah itu. Mamah Ros terhenyak dalam duduknya, merasa tak enak hati karena secara tidak langsung mengungkapkan kekecewaannya. Padahal yang dituju adalah anaknya, tapi malah menantunya yang kena sasaran.

__ADS_1


"Bukan kamu sayang, mamah merasa beruntung malah kamu cepet cepet dinikahin sama Rainer."


Tak ingin membuat mertuanya makin merasa bersalah, Anna menganggukkan kepalanya dengan semangat dan senyum yang terkembang. Berusaha menenangkan mertuanya agak rasa sedihnya tak berlarut larut.


Dalam hati Anna berjanji. Sepertinya ia memang harus membahagiakan mertuanya dengan cara mengabulkan apa pun yang mertuanya inginkan, terutama perihal resepsi yang ia inginkan.


Sama halnya dengan Anna dan mamah Ros yang enggan untuk kembali memejamkan mata saat keriuhan persiapan acara dirumahnya dimulai meskipun masih pagi buta.


Di kamar yang masih terasa sunyi itu, Tania terduduk dengan lesu di balkon kamar yang menghadap taman depan rumahnya.


Pagi pagi buta, sambil memperhatikan rumah yang mendadak ramai.


"Huft... dasar Raka sialan ! puas kamu bikin papah ngga percaya sama aku, puas kamu bikin aku nikah sama kamu dengan terpaksa."


Isak tangis yang dipicu oleh kemarahan terhadap perbuatan Raka tak hentinya berderai. Berbicara sendiri, marah marah sendiri. Hembusan lembut angin di pagi hari nyatanya tak bisa mengobati sesak yang Tania rasakan saat ini.


Tania semakin takut dengan masa depan rumah tangganya, apa benar Raka akan bisa membahagiakan dirinya, apakah Raka tak akan membuat keluarganya kecewa?. Sekarang saja dia memulainya dengan cara yang luar biasa dramatis begini.


Tanpa ampun Tania menolak panggilan telpon dari Raka yang terus berdatangan. Apa dia tidak tahu jika Tania berusaha menenangkan dirinya dari semalam? jika Raka terus mengganggunya dengan panggilan telpon dan puluhan chat yang dia kirim, bagaimana dia bisa tenang barang sesaat saja.


Mungkin saja Raka khawatir kalau Tania akan kabur dari pernikahan dadakan yang akan segera dilakukan ini. Mungkin juga Raka takut kalau papah akan mendapatkan fikiran jernihnya dan lebih percaya pada dirinya sehingga membatalkan pernikahan ini.


Tania mau menikah dengan Raka, tapi bukan dengan cara seperti ini. Tania tidak ingin menyisakan kekecewaan diwajah orang tuanya.


Itulah kelemahan Raka, selalu mengambil keputusan dengan tergesa dengan mengedepankan emosi sesaat, tanpa ada niatan untuk kembali dan berbicara baik baik dengan dirinya.


Tok tok tok ...

__ADS_1


"Tania, kamu udah bangun?"


Suara Rainer yang perlahan membuka pintu kamar Tania untuk mencoba melihat keadaan adiknya.


"Udah."


Mendengar jawaban Tania, tanpa merasa sungkan lagi Rainer langsung menerobos kamar Tania, menghampiri adik kesayangannya itu yang duduk bersandar dengan lemas di kursi yang berada tepat di balkon kamarnya.


"Kamu ngga kedinginan?"


Pertanyaan yang terdengar basa basi memang, tapi ini adalah bentuk perhatian dari seorang kakak pada adiknya.


"Udara pagi bagus buat tubuh ka, ngga akan bikin masuk angin."


Kalimatnya biasa saja, tetapi dibalut dengan nada menggerutu yang sarat akan amarah itu mengundang sedikit kegelian pada Rainer. Sekuat tenaga ia menahan tawanya yang ingin eksis menghangatkan suasana mendung yang terjadi pada Tania.


"Udah lah de, ngga usah diperpanjang sedihnya, bentar lagi MUA mau kesini lho mau dandanin kamu. Liat tuh, apa bisa mereka bikin wajah kamu beradab lagi? sembab gitu mukanya."


Tania tak serta merta terpancing dengan godaan sang kakak, Tania hanya mendelik tak suka dengan pernyataan Rainer. Bisa bisanya kakaknya itu seperti menertawakan keadaan Tania. Apa dia senang mendengar Tania dimarahi oleh papahnya? apa Rainer begitu bahagia akan menjadi kakak ipar seorang Raka yang telah menjadi sahabatnya sejak lama.


"Kakak sekongkol kan sama Raka? aku tahu kalian sahabat, tapi apa harus dengan cara mendukung apapun yang dia lakuin sama aku, apa itu yang namanya sahabat? ngga inget kalo aku tuh adiknya Kaka?"


Pecah sudah tangisan perdana Tania dihadapan kakaknya itu. Anggap saja ini kekecewaan Tania terhadap Rainer, karna sejak semalam tak terdengar sedikitpun Rainer membela dirinya di depan sang Papah. Bahkan ia terkesan mendukung apapun yang menjadi keputusan papahnya itu.


Rainer memandang Tania tanpa berkedip, mendengarkan kekesalan Tania yang menuduhnya seperti ia tak sayang pada adiknya itu.


"Sudah nuduhnya?" tanya Rainer sambil mencondongkan tubuhnya, berfokus menatap wajah sembab adiknya dengan intens dan tatapan yang siap menyemburkan apa yang ada dalam fikirannya. Ia berharap Tania mengerti apa yang menjadi kekhawatiran seorang kakak terhadap adiknya itu.

__ADS_1


"Raka memang sahabat kakak? tapi apa mungkin sayangnya kakak sama kamu bisa dikalahkan sama cucunguk kaya dia?"


Tania tertegun, tak bisa menjawab pertanyaan Rainer yang membuatnya terpana.


__ADS_2