
Indahnya cinta akan terasa kala cinta itu diperjuangkan dengan susah payah, bukan cinta yang diberikan dengan suka rela, akan terasa lebih nikmat dan sayang untuk disia siakan.
Pagi yang indah ditemani gemericik hujan yang menjadi back sound perjalanan Anna dan Rainer menuju ke kantor itu, telah menemukan kesepakatan yang jelas menguntungkan Rainer, dan menyelamatkan Anna dari tingkah konyol sang bos tampan nan pemaksanya itu.
Bisa dibayangkan jika Rainer meluluskan niat jahilnya dikantor, memanggil Anna dengan panggilan sayang, sungguh akan celaka Anna dibuatnya.
Bukan hanya malu yang akan dirasakan, juga celaka yang akan diraih. Pasalnya rumor tentang Anna digendong oleh Rainer saja belum surut beritanya, apalagi ditambah ini. Bisa jadi bulan bulanan fans panatik Rainer nanti Anna.
Kini Rainer berjalan santai menuju gedung tempat ia memimpin perusahaan dengan hati bahagia, sambil terkekeh melihat punggung gadis yang telah membuatnya menggila dalam sekejap itu, lari terbirit-birit meninggalkan dirinya.
"Kau sangat manis sayang," gumamnya dalam hati.
***
Ditempat lain. Seorang gadis bungsu dari keluarga Nalendra, sedang duduk manis di cafe dekat dengan kampusnya, berkutat dengan tugas akhir sejak pagi tadi, berselimut hujan yang cukup deras itu. Kaca matanya yang bertengger di hidung mancungnya, dan secangkir capuccino yang menemani kesendiriannya berusaha fokus dalam merevisi setiap kalimat dari skripsi yang ia buat.
Seorang pria dengan sorot mata tajam tak beralih pandangan sedikitpun dari gadis yang sedang fokus itu, memandangnya dari sudut cafe sambil berusaha menahan diri tak mendekatinya, hanya mengamati saja dari jarak lumayan dekat.
Setiap gerakan yang dibuat oleh Tania tak ada yang terlewat sedikitpun dari pindai mata seorang Raka, yang digadang gadang adalah calon tunangan dari Tania yang jelas belum disetujui oleh gadis cantik itu.
Setiap gerakan yang dibuat oleh Tania membuat Raka terkekeh dibuatnya. Tania kadang membuat gerakan seperti mengerutkan dahinya tanda ia sedang berfikir keras, mengetuk ngetuk kepalanya tanda ia sedang frustasi tak menemukan apa yang ia butuhkan, yang paling lucu dan membuat Raka betah memandang gadis cantik itu, saat ia memanyunkan mulutnya sambil menepuk nepuk pipi dengan kedua tangannya pertanda ia sudah lelah dengan pekerjaannya. Sungguh ini adalah pemandangan menyejukkan mata dan membuat mood Raka benar benar naik secara drastis.
Sudah 1 jam Raka duduk tanpa ada aktifitas lain. Raka benar benar tidak tahan ingin segera memiliki gadis cantik yang menjadi adik sahabatnya itu. Sudah sejak lama Raka menginginkannya, sejak ia pertama bertemu dengan Tania, saat Tania masih duduk di bangku SMA.
"Kau benar benar membuatku gila sayang," gumam Raka sambil meneguk kopi miliknya sambil tak henti matanya memandang gadis yang tak peduli sekitar itu.
Raka adalah sahabat dari Rainer. Mereka satu frekwensi, bedanya jika Rainer tak pernah sekalipun jatuh cinta pada gadis yang dikencaninya, dan tak pernah ada gadis yang membuatnya gila selain Anna dan itu pun baru sekarang ia rasakan.
Tapi, Raka sudah tergila gila pada Tania adik dari Rainer itu sejak ia pertama kali bertemu dengan Tania kala ia masih kuliah bersama Rainer di luar negri, dan Tania masih SMA.
Sering kali Raka dibuat merindu pada Tania hingga tak jarang ia memimpikan Tania sedang berada dalam kungkungan tubuhnya, merasakan keganasannya yang menciptakan nada indah nan nikmat.
Sayang, itu hanya dalam mimpi, karena sudah jelas jika ia melakukannya dalam dunia nyata, Rainer sudah pasti akan menghabisinya tanpa sisa. Pada akhirnya ia mengikuti jejak Rainer, mencari pelampiasan pada gadis lain dengan membayangkan wajah Tania.
Obsesi yang begitu menyeramkan bukan?.
__ADS_1
Kini, restu orang tua Tania sudah didapat, meskipun butuh kerja keras untuk meluluhkan hati Tania. Sabarnya akan terus bertambah demi cinta gilanya ini.
"Kring kring kering."
Sejenak fokus Tania terpecah karena mendengar nada dering yang berasal dari ponsel yang tergeletak di atas meja.
[Tania : "Assalamualaikum, Mah."]
[Mamah : "Waalaikum salam, kamu dimana sayang?"] tanya mamah di ujung sambungan telpon.
[Tania :"Tania lagi di cafe mah, lagi revisi, kenapa mah?"]
[Mamah: "Temenin Mamah ke kantor Kaka kamu yu, ada yang mau mamah omongin sama Kaka kamu itu"]
[Tania: "Ya udah, kita makan siang bareng aja ya"]
[Mamah: "Oke sayang, ya udah lanjutin kerjaan kamu ya, Assalamualaikum,"]
[Tania: "Iya mah, waalaikum salam,"] pungkas Tania, dan sambungan telpon pun terputus.
Mendengar rencana calon mamah mertuanya itu, Raka merasa mendapatkan angin segar agar bisa lebih dekat dengan gadis cantiknya itu.
Tapi ternyata, hanya memandang saja Raka tidak puas, Raka ingin dekat dengan gadis pujaannya itu. Ingin menatap wajahnya dari dekat, mencium aroma parfum dari tubuhnya, bahkan menyentuh kulit lehernya.
Ya Tuhan, tolonglah pria bernama Raka Abimanyu ini, dia sudah gila dengan keinginannya tentang seorang Tania Nalendra Putri.
"Ken, belikan aku sebuket bunga mawar dan sekotak coklat, aku tunggu di cafe Taste, 30 menit lagi aku tunggu," ucap Raka dalam sambungan telpon pada sekertarisnya yang sedang sibuk dengan limpahan pekerjaan bosnya yang sedang bolos itu. Lalu Raka memutus sambungan telponnya tanpa mendengar jawaban dari sekertarisnya itu.
"Sepertinya, aku butuh bantuan ibu mu sayang, tunggu saja kau akan bersamaku seharian ini," janji Raka yang dirapalkan dalam hati untuk Tania dengan penuh keyakinan. Sorot matanya begitu tajam melihat Tania yang sedang berkonsentrasi itu, seperti ingin menelanjanginya, terdengar mengerikan tapi memang cinta Raka segila itu.
Tiba tiba Tania bersin tanpa sebab, "Hacih... Yarhamukillah... kayanya ada yang kangen aku nih" gumam Tania sambil cekikikan.
Melihat gerakan yang baru dibuat Tania, seketika binar mata Raka muncul dan tak bisa menahan gumaman bahagiany, " Ya Tuhan, dia sangat cantik."
***
__ADS_1
Kini Tania dan mamahnya sudah duduk manis di ruangan Rainer menunggu kedatangan sang sulung yang sedang sibuk meeting bersama staffnya.
"Mah, emangnya ngapain kesini? ko tumben banget," tanya Tania.
"Mau ngomongin soal Kirana," ucap mamah singkat.
"Ya ampun mah, ulet keket diomongin," gerutu Tania.
"Ish, kamu sembarangan, anak cantik gitu dibilang ulet keket,"
Sedang asik ibu dan anak ini berbincang, tiba tiba Raka masuk ke dalam ruangan sambil membawa buket mawar yang cantik dan sekotak coklat ditangannya.
"Siang Tante," sapa Raka sambil mendekat kepada Tante Rosnya itu.
"Eh, ada calon mantu, kebetulan banget Dateng kesini," girang mamah Ros menyambut kedatangan Raka.
Mendengar julukan mamahnya pada Raka itu, membuat Tania mendengus tak suka.
"Iya Tan, udah feeling saya kalo ada Tante, spesial buat Tante," ucap Raka sambil menyodorkan apa yang ia bawa.
"Wah, makasih sayang, tau aja kamu kalo Tante suka coklat sama bunga," girang mamah Ros.
Lain halnya dengan Mamah Ros yang senang dengan kedatangan Raka, Tania menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil mendengus kesal.
"Dasar jelangkung, sebel," gerutu Tania dalam hati sambil mendelik tak suka dengan kedatangan Raka.
Sedangkan pria yang sedang diumpatinya malah tersenyum menyebalkan seperti mengejek Tania.
"Kali ini kamu ngga akan lepas sayang, liat aja, nempel kamu seharian sama aku." Sangat yakin Raka merapalkan keinginannya dalam hati itu pada Tania.
***
Setelah disuguhkan dengan kejahilan Rainer pria narsis yang didukung juga dengan kesempurnaan fisik dan hartanya yang melimpah. Kini muncul pria brengsek baru yang mengincar Tania, adik dari Rainer sejak lama.
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta ... kepada ku
__ADS_1
Beri sedikit waktu , biar cinta datang karena telah terbiasa"
Happy reading 😊