Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 60. Mengejar waktu


__ADS_3

Ketidak tahuan membuat semua rencana yang telah disusun menjadi berantakan, manusia hanyalah mahluk terbatas, tak memiliki akses penuh untuk memantau semua kejadian, termasuk Rainer seorang pria yang memiliki segalanya sekalipun.


Meskipun ia telah memantau seluruh gerak gerik Anna, menugaskan seseorang untuk menjaga dan mengikutinya, nyatanya kabar ini tak langsung di ketahui oleh Rainer.


Rainer tahu jika Anna pulang kampung, Rainer juga tau ada satu keluarga yang mengunjungi kediaman dari keluarga Anna. Hanya saja Rainer tak tahu apa tujuan dari keluarga yang datang ke rumah Anna itu.


Bahkan Rainer mendapat kabar jika Anna akan bertunangan Minggu ini dari Tania yang diberi tahu oleh Ratih.


Sejak kemarin malam saat keluarga Anna mendapatkan kunjungan dari keluarga Firman, Rainer terus berusaha menelpon Anna, tapi nyatanya, Anna menonaktifkan ponselnya hingga esok harinya, entahlah, mungkin Anna sengaja, atau bisa jadi Anna mendapatkan insiden lain, Rainer tidak tahu.


Untuk kesekian kalinya, Anna membuat Rainer kelimpungan, sekarang Rainer benar benar hilang kendali.


Rainer terus menghubungi ponsel Anna, dan pada puncaknya Rainer benar benar kesal dan langsung membanting ponselnya hingga ponsel itu hancur.


"Sial !!!" teriak Rainer dalam apartemennya.


Tak lama dari saat Rainer membanting ponselnya, Mamah Ros dan Tania masuk ke apartemen Rainer, mereka begitu kaget mendapati keadaan Rainer, dengan ponselnya yang sudah berserakan tak berdaya itu.


"Rain, apa yang kamu lakukan sayang?" tanya mamah, mendekati anak sulungnya itu.


Rainer hanya diam tak menjawab apapun sambil terduduk di sofa dan menundukkan kepalanya.


Rasa sesak itu jelas menghantam relung hatinya, menyesali kenapa dia mendiamkan Anna, menyesali kenapa dia tak bergerak cepat untuk datang ke rumah Anna, menyesali pekerjaannya yang tak kunjung selesai hingga ia tak bisa pergi sama sekali, memang sial sekali.


"Sayang, kamu masih punya kesempatan, selama Anna belum dinikahi oleh pria pilihan orang tua Anna," ucap mamah sambil memungut ponsel Rainer yang telah ia banting itu.


"Benar ka, masih ada waktu sampai acara pertunangannya," ucap Tania sambil memeluk kakaknya itu.


"Anna bahkan tidak mengangkat telpon Kaka, Tania..., bagaimana bisa Kaka masih punya kesempatan," lirih Rainer sambil menatap wajah Tania.


Tania kaget melihat wajah Kakanya yang sombong itu, begitu terpuruk dan putus asa, matanya memerah seperti telah menangis.


"Pasti ada alasannya ka..." ucap Tania.


Lalu Tania mencoba menelpon Anna dengan ponselnya, dan beruntungnya, saat Tania menghubungi Anna langsung tersambung.

__ADS_1


Wah wah wah, luar biasa, apakah Anna sengaja tidak ingin mendapatkan telpon dari Rainer?.


[ Tania : "Assalamualaikum... Halo"]


[ Anna : "Wa'alaikum Salam, ya, Halo... Tania?" jawab Anna dari sambungan telpon yang dilakukan oleh Tania.]


[Tania : "Ya ampun An, susah banget sih nelpon kamu," gerutu Tania ]


Anna yang mendapatkan gerutuan dari Tania malah terkekeh.


[Anna : " Maaf, hp aku semalam mati, lupa di isi daya, ini baru di nyalain," ucap Anna dengan enteng. ]


[ Tania : " Apa?! Lupa di isi daya? ya Allah Anna, kamu bikin seseorang ngancurin hpnya An" ucap Tania sambil melirik Rainer yang sedang menatapnya dengan wajah melongo.]


"Sialan, giliran Tania yang telpon langsung diangkat, giliran aku yang telpon, aktif juga engga," gerutu Rainer dalam hati.


Lalu Rainer merampas telpon Tania tanpa aba aba membuat Tania begitu kaget dan berdecak sebal dengan kelakuan Kakanya itu.


[ Rainer : "Anna, apa yang kamu lakukan hah!" bentak Rainer tiba tiba.]


[Anna :"Pak Rainer, apa maksud anda?" tanya Anna tak mengerti.]


Dengan geram Rainer mengeratkan tangannya pada ponsel Tania dan siap menyemburkan kekesalannya pada Anna yang pura pura bodoh itu.


[ Rainer :"Aku berkali kali telpon kamu dari semalam tidak bisa, dan sekarang giliran Tania yang telpon kamu langsung angkat telponnya hah! apa maksudnya? kamu berani padaku sekarang?!" ancam Rainer.]


Mendengar kelakuan Kakanya yang tiba tiba membentak dan mengancam Anna, seketika Tania langsung mengambil kembali ponselnya, benar benar Kakanya ini luar biasa.


Sedangkan mama Ros hanya memegang pelipisnya merasa pusing dengan kelakuan anak sulungnya yang kurang romantis itu.


"Ya ampun Rain, kamu memang benar benar ya," gerutu mamah yang masih terdengar oleh Rainer.


[Tania : "Engga usah didengerin Anna, kamu tenang aja, aku pengen ke rumah kamu sebelum kamu kembali kesini ya, kirimin lokasi kamu sekarang, ok," ucap Tania sambil memandang sengit Kakanya itu.]


[Anna : "Hah? kamu mau kesini? kapan?" tanya Anna kaget dengan permintaan Tania itu.]

__ADS_1


[ Tania : " Hari ini, mungkin sampe ke tempat kamu malem kayanya, aku berangkat dianter sama Raka," ucap Tania sambil melirik sinis pada Rainer.]


Tania merasa kesal dengan kelakuan Kakanya ini, bagaimana bisa Anna yakin dengan dirinya jika dia saja seperti ini, tak bisa membujuk, tak bisa meredam amarahnya, keputusasaannya diekspresikan dengan kemarahan, ya ampun mantan playboy ini memang benar benar amatir jika dihadapkan dengan gadis yang benar benar dia cintai ini.


Sedangkan mamah Ros hanya terkekeh melihat dua anaknya yang memiliki kepribadian yang berbeda itu.


[Anna : "Ya udah aku kirim lokasinya ya, sampai ketemu disini," ucap Anna. Lalu sambungan telpon itu pun terputus.]


Setelah menyelesaikan obrolannya dengan Anna lewat sambungan telpon, lalu Tania beranjak dari duduknya dan berkata "Tania siap siap dulu ya, mau liburan juga."


"Hey, tunggu! Kaka juga ikut," ucap Rainer bergegas menyusul Tania yang akan meninggalkan apartemennya.


"Selesaikan dulu tugas kamu diperusahaan Rain, jangan sampai kerja keras kamu selama hampir dua Minggu ini yang hampir membuat kamu kehilangan Anna menjadi sia sia, biarkan adikmu yang menangani Anna," ucap mamah Ros sambil memegang bahu Rainer.


Kini Rainer kembali sendirian dengan hati yang gundah, tak bisa kemana mana, dan ditinggalkan oleh mamah dan adiknya.


"Benar benar sial, pekerjaan sialan ini tidak selesai juga lagi, kenapa susah sekali mendapatkanmu Anna, kalau kamu berani menikah dengan orang lain, aku pastikan kamu akan menyesal Anna," gerutu Rainer.


***


Sedangkan keadaan Anna sekarang, begitu syok. Setelah hampir 2 Minggu tidak mendengar suara Rainer, barusan Rainer memarahinya, seharusnya Anna kesal, tetapi yang dirasakannya sekarang adalah Anna merasa lega, apa dia sudah tidak waras?


Beberapa detik kemudian Anna ingat keadaannya sekarang, apakah dia pantas bahagia, ataukah malah sedih?.


Ya sudahlah, kini Anna akan mengikuti saran dari Ratih, dia akan mengikuti saja bagaimana jalan takdirnya akan membawanya, yang terpenting adalah, sekarang waktunya Anna membahagiakan orang tuanya bukan, saat ini, berbakti pada orang tuanya lebih penting daripada segalanya.


"Semua akan baik baik saja, selama bapak dan ibu bahagia, pasti kamipun akan bahagia bukan," gumam Anna sekaligus memanjatkan pengharapamlnnya.


***


Alhamdulillah, beres juga part ini hehehe


semoga masih dalam koridor kehaluan yang masuk akal ya hehehe ....


Makasih untuk semua dukungannya ya, seneng banget aku tuh..

__ADS_1


happy reading 🤗🤗


__ADS_2