Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 80. Menjadi penggoda


__ADS_3

Peran utama wanita setelah berumah tangga bisa dibilang paling berat, menjadi orang dibalik kebahagiaan rumahnya, memastikan segala kebutuhan anggota keluarga meskipun yang menjadi pencari nafkah adalah seorang suami.


Tetapi apakah salah jika saat ini Anna ingin memiliki pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya meskipun dia belum lulus? sebelum ia berperan sebagai seorang ibu rumah tangga seutuhnya.


Setelah mendengar larangan dari Rainer, Anna begitu kecewa, bukankah Rainer sudah berjanji padanya akan mengizinkan dia ikut seleksi di bagian yang ia inginkan? Anna begitu bingung, sebenarnya apa masalahnya jika dia bekerja di divisi lain.


Sepanjang Anna melayani kebutuhan Rainer pagi ini, Anna tak mengatakan sepatah katapun, dia hanya bergerak melakukan apa yang harus dilakukan dan apa yang diminta suaminya tapi enggan mengeluarkan suaranya.


"Sayang, tolong pakaikan," ucap Rainer memancing suara Anna agar menyahuti perkataannya.


Anna kemudian meraih dasi yang disodorkan oleh Rainer, kemudian memasangkan dasi pada suaminya dengan cekatan.


Anna sering memperhatikan Wisnu dan Ardi mengenakan dasinya saat dikantor, dan tak jarang ia pun sering diminta untuk memasangkan dasi mereka, jadi sedikit banyak ia sudah mahir memakaikan dasi.


Melihat Anna telah meraih dasi yang ia sodorkan, Rainer kemudian membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Anna. Saat Anna sedang memasangkan dasinya, mata Rainer terus memandang wajah Anna sambil menyunggingkan senyumnya. Tetapi Anna tak sedikitpun melirik pada wajah yang sedang mengejeknya itu, Anna tetap tak mempedulikannya.


"Kamu marah sayang?" tanya Rainer ditengah tengah Anna memasangkan dasi untuknya.


Anna tak menjawab, hanya sekilas meliriknya Anna mulai memundurkan tubuhnya, Rainer lalu meraih pinggang Anna dan memegang tengkuknya dengan cepat, lalu mencium Anna dengan rakus.


"Mmmmm..." jerit Anna dalam ciuman Rainer sambil memukul dada suami jahilnya itu.


"Apa yang kamu lakukan?!" kesal Anna sambil mendorong tubuh Rainer.


Si pelaku malah terkekeh dengan girang, melihat Anna menggerutu, setidaknya kini istri kecilnya itu sudah mau bicara meskipun dalam keadaan marah bukan?.


"Aku suka melihatmu kesal, seperti memancing sesuatu dalam diriku," goda Rainer sambil mencium pipi Anna yang sedang membelakanginya.


"Ish, sebe...l," geram Anna sambil memukul lengan Rainer.


Setelah melakukan kejahilan pada istrinya, Rainer malah berlari meninggalkan Anna yang sedang menghentak hentakkan kakinya itu.


Kini Rainer telah duduk manis menikmati kopi yang disuguhkan Anna, tak lupa Anna pun telah menyiapkan sarapan berupa sandwich yang berisi telur dan sayuran, cukup untuk memberikan tenaga hingga makan siang tiba.


"Untuk permintaan kamu yang ingin ikut seleksi di divisi perencanaan aku perbolehkan tapi aku tak akan menjamin jika kamu akan lolos, tapi jika seleksi jadi sekertarisku, sudah jelas pasti akan aku loloskan bahkan tanpa seleksi," ucap Rainer menyebalkan.

__ADS_1


Mendengar penuturan Rainer, Anna langsung mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk menikmati sarapannya tanpa mempedulikan Rainer, matanya langsung memandang Rainer, entahlah apakah Anna harus bahagia atau harus merasa kesal mendengar pernyataan Rainer itu.


Bisa jadi Rainer akan berbuat curang dengan menggagalkan tes yang akan Anna ikuti bukan, tentu saja Rainer bisa melakukannya, tapi apakah dia akan tega pada istrinya sendiri?.


"Bolehkah? aku ingin ikut tes, tapi takut kamu gagalkan," sindir Anna dengan menohok.


Rainer malah terkekeh dengan girang, tahu apa isi kepala istrinya.


"Baik, aku tak akan ikut campur saat kamu ikut seleksi, tapi dengan satu syarat," ungkap Rainer sambil menampakkan wajah liciknya.


"Syarat lagi?" ucap Anna kesal dengan permintaan Rainer.


"Tentu saja, syarat kemarin kan belum lulus juga," jawab Rainer.


Mendengar perkataan Rainer, Anna lalu mendengus tak suka, sepertinya Rainer lupa, meskipun bukan Anna yang memulai, tetapi Rainer berhasil melumpuhkan Anna selumpuh lumpuhnya, sungguh keterlaluan bukan jika Rainer mengatakan ia belum meluluskan persyaratan Rainer sebelumnya.


"Kesel aku," gerutu Anna lalu memasukan sisa sandwich di piringnya dalam satu suapan.


"Baik, apapun akan aku lakukan, tapi janji jangan curang saat aku ikut tes," jawab Anna tanpa ragu, saat ini Anna lupa jika memiliki suami yang akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya, termasuk menghalangi Anna jauh darinya meskipun hanya sebentar.


"Oke," ucap Rainer sambil terkekeh, sepertinya Rainer berhasil memanipulasi perasaan Anna, benar benar pebisnis handal yang tak ingin merugi sedikitpun.


"Hei, harus sekarang?" tanya Anna.


"Jika tak mau tak masalah," ucap Rainer dengan santai seperti menyiratkan ancaman dari sikapnya yang tersenyum misterius.


"Baiklah, hanya ciumen selamat pagi kan," ucap Anna mengantisipasi keadaan kemudian ia mendekat pada suaminya.


Tak disangka, Rainer malah menarik Anna dan mendudukkan Anna di pahanya agar menghadap pada dirinya.


"Oke siap," ucap Rainer sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Anna yang sedang berada di pangkuannya, Anna benar benar tak menyangka, Rainer benar benar suaminya ga tak mau rugi.


"Harus begini? tanya Anna merasa gugup melihat wajah tampan Rainer yang berseri seri.


Rainer menjawab Anna hanya dengan anggukan kemudian menyentuhkan hidungnya pada hidung Anna, sesaat Anna berkedip dengan cepat, suami tampannya ini benar benar membuat jantungnya berdebar tak menentu, sungguh sangat ahli merayu.

__ADS_1


"Kamu mau aku beri contoh lagi?" tanya Rainer berbicara sangat dekat di wajah Anna hingga hembusan nafasnya menerpa wajah Anna.


"Ti ti-dak usah," ucap Anna gugup, lalu Anna langsung memegang wajah Rainer dan membawanya untuk Anna cium, sangat singkat.


"Sudah," ucap Anna gugup lalu memalingkan wajahnya, ia tak bisa turun dari pangkuan Rainer karena pinggangnya terus dipeluk oleh Rainer.


Kini wajah Anna benar benar memerah, sangat malu dengan perlakuan Rainer padanya, belum apa apa Rainer sudah mengalahkannya.


Sedangkan Rainer, mematung tak berkedip samasekali, ternyata Anna bisa melakukan inisiatif dengan memegang wajahnya begitu erat dan menciumnya dengan dalam meskipun hanya sebentar.


Kini Anna benar benar berhasil membangunkan mahluk yang sedang tertidur dalam diri Rainer, hanya dengan inisiatif yang tak seberapa.


"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Rainer dengan nafas yang memburu.


Mendengar pertanyaan suaminya Anna langsung memandang wajah Rainer, terlihat tatapan mata Rainer berubah berkabut. Saat melihat Rainer Anna faham apa maksud dari Rainer.


"Selesainya masih lama," ucap Anna mendapatkan ide untuk membalas balik suaminya.


"****...," umpat Rainer yang masih terdengar oleh Anna.


"Jika kamu tidak menghalangi aku ikut seleksi, saat aku sudah selesai, aku akan melakukan apapun untukmu setelah aku selesai," ucap Anna sambil memeluk Rainer dengan mesra.


Kegugupan Anna berubah saat mengingat misi agar Rainer tidak berbuat curang.


"Cup, selamat pagi sayang," ucap Anna saat melihat Rainer semakin tertegun dengan aksinya, lalu melepaskan diri dari pelukan Rainer yang mengendur.


"Aku benar benar guru yang handal mengajari istriku," gumam Rainer sambil terkekeh melihat Anna keberanian Anna.


***


Bolehkan jadi penggoda untuk suami sendiri 😂


Sepertinya sebentar lagi Anna akan lebih pintar menggoda dibandingkan Rainer.


Nikmati bahagia kalian saat ini sebelum cobaan menerpa ya...

__ADS_1


Maafkan adegan gak jelas ini, sepertinya authornya lagi falling in love pengen diginiin 😍😍😍


Happy reading 😊😉


__ADS_2