Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 89 Merasa lemah


__ADS_3

"Pagi ka," sapa Tania dimeja makan saat Rainer mendekati istrinya yang sedang sibuk menata dan menyiapkan sarapan untuk semua orang.


"Pagi," jawab Rainer sambil memperhatikan gerakan istrinya yang sedikit pun tak merespon kedatangannya.


Kini di meja makan semua keluarga sudah berkumpul untuk sarapan bersama, tidak terkecuali Tania yang biasa bangun siang.


"Mau sarapan apa Rain? Anna bikin sandwich sama omlet enak banget ini," ujar mamah Ros sambil memasukkan satu sendok omelet yang ada di piringnya.


Tanpa disuruh, Anna kemudian menyajikan kopi yang biasa ia buatkan di kantor untuk Rainer.


Rainer terpaku melihat kediaman Anna, yang nyaris enggan menatapnya, lalu ia memegang tangan Anna dengan lembut.


"Sayang, tolong ambilkan roti buat aku," pinta Rainer.


Mendapatkan permintaan suaminya, Anna kemudian menatap wajah suaminya sekilas dan tersenyum samar.


"Mau pake selai apa?" tanya Anna sambil mendudukan dirinya di kursi tepat di pinggir Rainer.


"Pake Nutella aja," jawab Rainer sumuringah karena Anna kini mulai mau merespon dirinya.


Mamah Ros dan Tania saling bertatapan melihat perlakuan Rainer pada Anna yang begitu berhati hati itu, benar benar merasa tidak menyangka jika Rainer bisa selembut itu pada seorang Anna.


Sebelumnya Rainer memang sering gonta-ganti kekasih, tapi tak satupun diperlakukan layaknya seorang kekasih, karena memang sebelumya Rainer lah yang dikejar, bukan karena dia yang menginginkannya, Perlakuan manis hanya dilakukan pada awalnya saja, untuk selanjutnya biasa saja.


Tapi kini dengan Anna, bahkan diperlakukan cuek saja oleh Anna, Rainer berusaha keras dengan sikap sabar dan lembutnya menghadapi Anna yang benar benar mengabaikannya, tak ada kata lelah ataupun bosan merayu sang istri, malah semakin lengket saja Rainer pada Anna.


Bukankah ini perlu dirayakan, mendapati perubahan sang sulung yang sangat drastis itu.


Sedangkan papah Rudi hanya fokus dengan sarapannya tanpa berniat mengganggu usaha Rainer untuk mencairkan kembali hubungannya dengan sang istri.


Kegiatan sarapan kali ini Begitu mereka nikmati, dengan sajian sarapan yang dibuat oleh Anna.


Setelah sarapan, kemudian Rainer dan papah Rudi bergegas pergi ke kantor, sedangkan kali ini Anna tidak pergi bekerja karena ia sudah resign dari pekerjaannya dan menunggu hingga waktu seleksi masuk untuk menjadi staf tiba.


"Sayang, pulang ke apartemennya nanti sore aja ya, aku ada meeting mendadak pagi ini, nanti sudah meeting aku pulang," ucap Rainer kemudian mengecup kening sang istri.


Anna hanya menganggukkan kepalanya, kemudian meminta tangan Rainer untuk ia kecup.


Meskipun Anna tak banyak bicara kali ini, tapi Rainer lega karena Anna tak tak menghindarinya lagi seperti semalam.


***

__ADS_1


Setelah meeting yang dilakukan Rainer usai, ia menepati janjinya pada Anna untuk pulang lebih awal, ia ingin segera pulang ke apartemennya bersama Anna.


"Sudah mau pulang bos?" tanya Arman saat mendapati Rainer sudah berbenah dan melenggang meninggalkan ruangannya.


"Hmmm, besok kita evaluasi hasil meeting tadi, aku pulang dulu, sampai jumpa besok," ucap Rainer sambil meninggalkan Arman yang masih sibuk dengan tumpukan pekerjaannya.


"Tentu bos," jawab Arman.


Terkadang Arman lelah dengan pekerjaan yang terus saja menumpuk, karena memiliki bos yang begitu perfeksionis, seringkali setiap pekerjaannya harus dilakukan sedetail mungkin agar tak mendapatkan amukan dari Rainer.


***


Kini waktu masih menunjukkan pukul 3 sore, tetapi Rainer sudah ada di parkiran keluarga Nalendra, tak sabar untuk menjemput istrinya kembali ke apartemen.


Lalu Rainer melenggang dengan santai berjalan memasuki rumahnya, ia mendapati sang istri sedang asik mengobrol di halaman belakang bersama Tania dan sang mamah, terlihat begitu asik, seperti Anna adalah putrinya bukan menantunya.


"Asik banget sih, ngobrolin apa kalian?" tanya Rainer mengagetkan ketiga wanita beda generasi itu membuat ketiganya menoleh serempak menatap kedatangan Rainer.


"Ko udah pulang jam segini?" tanya mamah Ros sambil menerima ciuman sayang di pipi dari sang sulung.


"Iya, pengen cepet pulang ke apartemen mah," jawab Rainer sambil mengacak rambut adiknya kemudian duduk tepat disamping sang istri, kemudian mengecup singkat bahu sang istri dengan sayang lalu merangkul pinggangnya dengan posesif.


"Kita pulang sekarang yu," ucap Rainer kembali mengecup sang istri, kini ia mengecupnya di bagian pipi.


"Enggak mau, pengen pulang aja," jawab Rainer memainkan rambut Anna yang menutupi lehernya.


"Udah deh ah, kalian tuh kebiasaan kalo mesraannya tuh didepan aku," gerutu Tania kesal dengan Kakanya yang tak tau tempat itu.


"Sirik aja kamu de, makanya mau donk dinikahin cepet, biar ngga ngiri terus gitu," ejek Rainer masih dengan posisinya.


"Nggak mau, takut kaya Kaka, masih mau disosorin sama cewe lain," cibir Tania.


"Enggak gitu," sangkal Rainer sambil melirik Anna yang tak sedikitpun merubah ekspresi wajahnya.


"Aku bikinin kopi ya," potong Anna sambil beranjak dari duduknya.


"Jangan dulu, bantu aku ke kamar ganti baju ya," ucap Rainer.


Anna hanya menganggukkan kepalanya kemudian.


"Mah, ke kamar dulu ya," pamit Anna pada sang mertua.

__ADS_1


Anna dan Rainer kemudian beriringan berjalan meninggalkan mamah Ros dan Tania yang menatap kepergian mereka.


"Cih, ganti baju aja harus dibantuin, apa gitu kalo punya suami ya mah? harus segala ditemenin istri," nyinyir Tania melihat kakaknya yang mendadak jadi manja itu.


"Yah manja manja sama istri kan bikin lebih romantis sayang, apalagi Anna yang keliatan cuek gitu sama Kaka kamu, dia perlu usaha ekstra untuk meyakinkan Anna dengan cintanya kan," jawab mamah sambil menyeruput teh hangatnya.


"Semoga aja yang kita takutkan ngga terjadi mah, aku malah ragu sama Kaka aku sendiri lho mah," gusar Tania.


Tania begitu takut jika kakaknya tega menyakiti gadis polos seperti Anna yang mana Rainer sudah sangat sering mematahkan hati para gadis lainnnya.


Kali ini berbeda bukan, Anna bisa dibilang adalah wanita pertama yang membuat Tania setuju memiliki hubungan dengan Rainer.


Berbeda dengan Tania, mamah memang sudah beberapa kali menyetujui hubungan Rainer dengan beberapa gadis lainnya, tapi dengan Anna, Mamah Ros juga merasa sudah begitu dekat dan menyayangi Anna, bukan sebagai menantu tetapi Anna sudah seperti putrinya sendiri.


"Kita lihat saja Tania, semoga Kaka kamu ngga bikin ulah deh, nggak rela juga kalo anak mamah terus terusan nggak bener kan," jawab mamah.


***


Sementara itu, kini Rainer dan Anna telah sampai di kamar yang semalam mereka tempati.


Dengan lembut Rainer menarik tubuh Anna, untuk merapat pada dirinya, memeluk pinggang Anna dengan sayang dan menepelkan dagunya di leher Anna dan mengecup sekilas leher Anna yang tertutup beberapa helai rambut Anna yang tidak diikat itu.


"Aku kangen sayang," bisik Rainer lembur tepat di telinga Anna.


Mendapatkan perlakuan intim seperti ini, tentu saja membuat bulu kuduk Anna merinding, apalagi setiap Rainer mengecup lehernya, bulu bulu halus yang terawat di wajah Rainer membuat Anna semakin kegelian dibuatnya.


Dengan perlahan Anna menjauh dari dekapan Rainer, mengikis keintiman yang Rainer buat, berusaha menjaga jantungnya agar tidak membuat sesak.


Dengan wajah memerah, Anna kemudian berusaha melepaskan pelukan Rainar dan ingin masuk kedalam kamar mandi.


"Aku bikinin air hangat, kamu istirahat aja dulu," ucap Anna berusaha menghindari kontak dengan Rainer.


Dengan berat hati, Rainer melepaskan Anna dan duduk di sofa dengan kesal, merasa mendapatkan penolakan dari sang istri yang seharian ini ia rindukan.


Kini Rainer merasa ia memang belum mendapatkan maaf dari sang istri, sungguh membuat pusing kepala.


"Sabar Rain, suami sabar disayang istri," gumam Rainer menyandarkan tubuhnya di sofa.


***


Maafkan aku yang telat banget up nya, akhir bulan menuntut pekerjaan di dunia nyata capai target hehehe

__ADS_1


happy reading , 😊


__ADS_2