
Beberapa menit kemudian, Anna telah selesai dengan kegiatannya menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami, mengisi bethup dengan air hangat dan busa busa beraroma terapi.
Anna tahu jika Rainer pasti lelah dengan kegiatannya sepanjang hari, setidaknya meskipun Anna masih menjaga jarak dengan sang suami, setidaknya dia tahu betul apa yang harus dilakukan oleh seorang istri untuk suaminya.
Anna kemudian keluar dari kamar mandi, mendekati sang suami yang sedang memejamkan matanya sambil menumpu tangan kanannya di dahi menunggu sang istri selesai dengan pekerjaannya.
Kemudian Anna menuangkan air putih untuk sang suami minum, sekedar melepas dahaga dan menyodorkannya.
"Minum dulu, biar Segeran dikit, terus mandi ya," ucap Anna sambil duduk tepat disamping Rainer.
Mendengar perhatian dari istrinya, Rainer kemudian menegakkan tubuhnya untuk menerima segelas air minum yang diberikan oleh Anna.
"Makasih sayang," jawab Rainer tersenyum.
Anna hanya menganggukkan kepalanya lalu beranjak keluar meninggalkan Rainer sendirian dalam duduknya untuk menyiapkan pakaian ganti bagi Rainer.
Setelah menghabiskan air minumnya, Rainer lalu beranjak dari duduknya kemudian mendekati kembali sang istri.
"Mandi bareng yu," tawar Rainer dengan jenaka.
Sedangkan ekspresi Anna begitu datar, hanya memandangnya tanpa binar sedikitpun kemudian meraih kancing baju Rainer untuk dibukakannya.
"Nggak usah, silahkan mandi sendiri, aku keluar dulu," ucap Anna setelah berhasil meloloskan kemeja Rainer dari tubuh sang suami.
Rainer hanya membiarkan Anna berlalu meninggalkannya, sungguh sangat sulit menghadapi Anna yang sedang mode acuh ini.
Baru sehari dia mendapati sang istri seperti ini, tapi Rainer benar benar sudah tak tahan.
Andai saja Anna sudah selesai dengan menstruasinya, bisa jadi Rainer akan menarik paksa Anna untuk mandi berdua dengannya.
__ADS_1
Tapi apa daya, jika ia melakukan itu, ia hanya akan menyiksa dirinya sendiri tanpa bisa menuntaskan apa yang dia inginkan, bukankah itu hanya akan menjadi bumerang bagi dirinya.
"Kamu benar benar bisa bikin aku gila sayang," gumam Rainer.
Saat masuk kedalam bethup, berusaha meregangkan dan menetralkan otot otot tubuhnya yang kaku, tiba tiba Rainer membayangkan sedang berendam berdua dengan Anna.
Oh ya ampun, siksaan ini begitu berat, sudah hampir 3 hari tak menyalurkan keinginannya, Rainer begitu mendamba, seketika adiknya bangun dari tidur diwaktu yang tepat sekali.
Ditambah sekarang Anna masih dalam mode acuh, membuat Rainer begitu menginginkannya.
"Akhirnya harus solo karir kan sekarang, semoga saat dia selesai menstruasi, ngambeknya juga selesai ya, tangan ini udah pengen pensiun," gumamnya ngaco dengan racauannya.
***
Kini Anna dan Rainer sudah pulang ke apartemennya, berpamitan alakadarnya dan rasanya Rainer memang ingin segera berduaan saja dengan istrinya yang sedang ngambek itu.
Nyatanya, usahanya yang selalu memancing obrolan aktif dipatahkan dengan jawaban Anna yang selalu menjawabnya dengan jawaban pasif.
Anna kini benar benar irit bicara, bahkan ia hanya mengerjakan seluruh pekerjaannya tanpa memperdulikan reaksi Rainer yang terus menatapnya.
"Sayang, mau sampai kapan kamu diemin aku kaya gini?" tanya Rainer.
"Ngediemin kamu kaya gimana?" tanya balik Anna pura pura tidak terjadi apa apa.
Pasalnya Rainer tak suka perubahan Anna yang tiba tiba seperti memberi jarak pada dirinya, meskipun Anna tetap melakukan yang biasa dia lakukan, tapi kini tak ada candaan atau pelukan hangat, membuat ia berfikir jika Anna memang masih dalam mode ngambek.
"Ya udah, aku mau nyiapin dulu keperluan buat seleksi besok, terus langsung tidur," ujar Anna sambil beranjak dan menuju kamarnya.
Ditinggal oleh istrinya tanpa mendapatkan kejelasan nasib selanjutnya bagaimanapun membuat Rainer mengacak ngacak rambutnya dengan kesal.
__ADS_1
Beruntung Rainer saat ini hanya memiliki satu kamar di apartemennya, jadi tak ada kesempatan Anna untuk menghindarinya dengan tidur sendiri.
Beberapa menit dalam kesendirian Anna didalam kamar, Anna sempat merenungi apa yang ia lakukan, apakah perlu ia melakukan ini kepada suaminya? bukan karena mendapatkan saran dari mertua dan adik iparnya saja, tapi memang benar, jika Anna memiliki kecemburian juga, ia pun tak suka jika suaminya seperti memberikan harapan pada wanita lain, ia hanya melakukan pencegahan saja.
Bahkan sempat Anna berfikir, apakah Anna harus membatasi rasa cintanya pada Rainer? Anna merasa begitu takut disakiti oleh pria yang sudah membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali itu.
Anna benar benar belum punya pengalaman soal cinta sama sekali, hanya dengan Rainer, pria yang langsung sah menjadi suaminya, pria yang mempunyai masa lalu kelam dengan begitu banyaknya wanita yang menempel pada dirinya, pria yang selalu didambakan oleh banyak wanita, dan mungkin saja sering menyakiti hati banyak wanita dengan cara mempermainkannya.
Memang sulit jika memiliki suami yang kredibilitasnya sudah jelas adalah seorang playboy, tak ada jaminan jika suatu saat Rainer akan bertemu dengan wanita yang memikat kembali hatinya bukan.
"Huft," Anna mendesah dengan berat, dadanya begitu sesak mendapati kenyataan seperti apa suaminya sebelum ini.
"Jalani saja Anna, semua butuh proses bukan," gumamnya dalam kesendirian, lalu beranjak untuk kembali melewati malamnya menunggu sang pagi segera kembali.
Rainer kini sedang menetralisir rasa kesalnya yang tak bisa melakukan apa apa pada istrinya, disisi lain Rainer pun merasa bahagia, ternyata Anna juga punya cemburu padanya.
Dengan langkah penuh percaya diri, Rainer akan mencoba kembali mendekati istrinya, semoga saja dengan kegigihan yang dilakukan Rainer, Anna bisa luluh kembali bukan.
Rainer kemudian membuka pintu kamarnya perlahan, berharap istrinya masih terjaga, tetapi sayangnya ia telah berbaring dengan nyaman, selimut telah membungkus tubuhnya dengan sempurna yang telah terlelap dibuai mimpi
"Ya ampun sayang, seandainya datang bulannya sudah selesai, aku akan buat kamu terjaga sampai pagi," gumam Rainer sambil menatap punggung Anna yang nampak kembang kempis menarik nafasnya yang teratur.
Lalu Rainer masuk kedalam selimut yang sama dengan Anna, menarik tubuh yang sudah terlelap itu, membalikkan posisi tidurnya hingga menghadap kepada dirinya.
"Aku tahu kamu masih ragu sama cinta aku sayang, tapi aku pastikan, kita akan selalu bersama tanpa ada siapapun yang mengganggu, hanya kamu dan aku dan anak anak kita kelak," gumamnya kemudian mengecup kening Anna penuh dengan perasaan.
"Bantu aku menjadi pria yang kamu inginkan, bantu aku menjadi pria yang selalu membuatmu bahagia, aku akan mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku, jadi percayalah padaku," gumam Rainer lirih membelai pipi merah sang istri dan ******* sekilas bibir merah itu lalu memeluknya dengan sayang.
***
__ADS_1
Happy reading😊