
Dalam perjalanan memulai membina bahtera rumah tangga, setiap insan dituntut saling mengerti pasangan, memahami apa yang akan menjadi tujuan mereka, memahami seperti apa rumah tangga yang mereka inginkan, dan saling mengerti apa yang pasangan butuhkan.
Kini Anna dan Rainer sudah berada di kosan yang akan segera mereka tinggalkan, menjalani hidup baru berdua, dalam susah atau senang, dalam sehat ataupun sakit, meskipun mereka baru saja mengenal, tetapi bukankah waktu pertemuan tidak menentukan bagaimana kualitas hubungan.
Rainer bengitu mengantuk saat ini karena ia berkendara semalaman, sedangkan Anna mulai mengepak semua barang barang yang akan dibawanya.
"Sayang, sebaiknya bawa saja barang yang diperlukan, yang lain berikan saja kepada penghuni kosan lain, agar beanfast," ucap Rainer sambil merebahkan badannya di kasur.
"Iya, biar dipilih dulu, ada beberapa barang kenangan soalnya," ucap Anna sambil memilah dan memilih barang barangnya.
"Kenangan?" tanya Rainer curiga.
Sepertinya saat ini Rainer mulai dalam mode posesif, sedikit sensitif jika ada ungkapan yang hampir menjurus kepada keromantisan masa lalu.
"Iya kenangan, sama temen temen, barang pemberian, kan nggak mungkin barang pemberian terus di berikan lagi sama orang lain," jelas Anna tak sedikitpun melirik pada suaminya yang tiba tiba duduk itu.
Hening beberapa saat, karena agak aneh dengan keadaan yang tiba tiba hening ini, lalu Anna menengok kepada suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Anna merasa heran.
"Memangnya yang memberi barang pada kamu itu banyak ya? laki laki atau perempuan?" tanyanya sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Banyak, dari teman kampus, dari teman kantor juga ada," jawab Anna tanpa curiga sedikitpun.
"Dari Damar ada?" tanya Rainer makin tersulut emosi.
"Ada, saat ulang tahunku beberapa bulan yang lalu, mas Damar ngasih sweeter ini," ucap Anna masih tak faham keadaan Rainer.
"Mana coba lihat," ucap Rainer ketus mendekati Anna sambil mendelik
Lalu Anna memberikan sebuah sweeter berbahan wol berwarna coklat dimana terdapat gambar lampu di bagian dadanya, memang terlihat lucu, tapi tidak bagi Rainer.
"Sepertinya ini sudah tak layak pakai sayang, kasihkan saja pada teman mu yang lain, atau buang saja," ucap Rainer sedikit menggeram.
Mendengar nada bicara Rainer yang tak biasa itu, lalu Anna melihat sang suami dengan wajah yang ditekuk.
"Kenapa?" tanya Anna sambil menatap Rainer yang bertingkah aneh.
Rainer lalu membalikkan tubuhnya, dan kembali ke tempat dimana ia merebahkan diri sebelumnya.
__ADS_1
"Tidak ada," ucap Rainer yang merasa kesal dengan ketidak pekaan istri kecilnya itu.
"Baiklah," ucap Anna dan kembali merapikan barang barangnya.
Setelah gerutuan Rainer yang tidak jelas itu, tak lama Rainer terlelap dalam tidurnya, sedangkan Anna melanjutkan pekerjaannya hingga selesai.
Saat petang tiba, Anna sudah menyelesaikan acara berbenah dan mengepak barang barangnya, Anna pun telah membagikan barang barangnya yang masih layak pakai, termasuk sweeter yang diberikan oleh Damar.
Bukannya Anna tak menghargai pemberian orang lain, tetapi bukankah hukumnya wajib untuk menuruti apapun permintaan suami selama permintaannya tidak melanggar aturan agama, bahkan pahalanya besar jika seorang istri menyenangkan suaminya bukan.
Dan itulah yang berusaha Anna lakukan, mencoba untuk menyenangkan suami dan menuruti apapun kata kata Rainer sebagai suaminya.
Semua barang yang akan di bawa oleh Anna sudah siap diangkut ke mobil, bahkan kosannya sekarang nyaris kosong, hanya kasur yang ditempati Rainer untuk tidur saja yang belum di bereskan.
Terlihat Rainer begitu lelap dalam tidurnya, sampai sampai Anna tak tega membangunkan suami jahil nan pencemburunya itu.
Tapi apa daya, Rainer belum Kana siang, dan kini hampir magrib. Dengan berat hati, akhirnya Anna membangunkan Rainer dengan hati hati.
"Pak... pak... sudah hampir magrib, bangun dulu yu, kita sholat magrib dulu lalu kita makan malam," ucap Anna sambil menggoyangkan lengan Rainer.
Seketika kesadaran Rainer terkumpul tiba tiba mendengar panggilan Anna yang menggelitik telinganya, seperti ingin mendapatkan hukuman saja.
Ternyata ia masih kesal dengan insiden sweeter itu, dan ditambah sekarang terus saja memanggilnya pak.
"Kamu bisa panggil Damar dengan sebutan mas, tapi kenapa sama aku susah banget," ucap Rainer menggerutu sambil beranjak menuju ke kamar mandi.
Sebaiknya ia menyegarkan tubuhnya, dan bersiap untuk mengimami sang istri untuk sholat magrib.
"Maaf, lupa," gumam Anna dibalik pintu kamar mandi.
Anna benar benar merasa bersalah pada suaminya itu, sepertinya ia memang keterlaluan. Tapi memang betul Anna belum terbiasa saja.
Beberapa saat Rainer telah selesai dengan mandinya, ia kemudian keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang tersamlmpir di pinggangnya mempertontonkan tubuhnya yang tampak beberapa tonjolan otot seksi di tubuhnya, dan jangan lupa roti sobek yang tampak siap untuk dilahap dengan kopi susu, sungguh tubuh idaman para gadis bukan.
Sejenak Anna berkedip dengan tampilan segar suaminya. Beberapa hari sudah menjadi istri Rainer, kenapa baru sekarang Anna menyadari bahwa suaminya itu begitu seksi.
Oh ya ampun, kemana aja kamu Anna???
Rainer lalu melangkah mendekati istrinya yang sedang memegangi pakaiannya sambil duduk di kasur yang telah Anna rapihkan, menatap dirinya tanpa berkedip, dan sedikit melamun, seperti terpana melihatnya.
__ADS_1
Sepertinya Rainer harus melakukan terapi hipnotis kesempurnaan paripurna yang dimiliki oleh dirinya.
Dengan perlahan Rainer mendekati Anna, lalu mencuri ciuman tepat di bibirnya, sontak Anna kaget dengan rasa yang ditimbulkan oleh Rainer, begitu berbeda tidak seperti yang dilakukan Anna pada Rainer, ia melakukannya dengan sangat lihai. Oh ya ampun sadarkan Anna Gusti...
Rainer melakukan penyatuannya itu begitu singkat, tapi begitu terasa mendebarkan bagi Anna.
"Sudah sadar sayang?" tanya Rainer sambil mengelus pipi merah istrinya.
"Hah? i-ya, ini baju gantinya, aku beli nasi goreng dulu di depan," ucap Anna tergesa gesa meninggalkan Rainer.
Yang dilakukan Rainer hanya terkekeh dengan tingkah polos istrinya itu, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang.
Sedangkan Anna diluar sedang menetralkan detak jantungnya yang berpacu dengan hebat, dan nafasnya yang memburu, sambil berjalan tergesa gesa menuju tukang nasi goreng yang berada tepat di pinggir jalan dekat dengan rumah pemilik kos kosan yang ditinggalinya.
Tangannya terus memegangi pipinya yang tiba tiba memanas itu, senyumnya terus terkembang dengan indah karena perlakuan Rainer yang membuatnya sport jantung itu.
Sungguh Anna punya suami yang bisa bikin diabetes, pantas saja banyak wanita yang ingin jadi kekasihnya, tapi apakah Anna beruntung kini telah saling memiliki dengan Rainer?
"Mang nasi goreng 2 ya, yang atau pedes yang satu enggak," ucap Anna saat sampai di tujuannya.
"Oke neng," jawab mang tukang nasi goreng.
Setelah mendapatkan nasi goreng yang dipesannya, kemudian Anna kembali menuju kesannya.
Tak disangka suami yang sebelumnya berhasil membuat Anna mati kutu itu menyusulnya, dengan pakaian yang telah ia siapkan tadi.
Kini Rainer hanya memakai t-shirt berwarna navi dipadukan dengan celana pendek hitam. hanya itu, tapi luar biasa auranya tak terbantahkan, bahkan setiap gadis yang melihatnya seperti mencari perhatian suaminya itu, membuat Anna kesal saja.
"Ngapain ngikutin, tungguin aja di kosan kenapa sih," gerutu Anna sambil menarik tangan Rainer agar kembali ke kosan.
"Takut kamu nyasar," ucap Rainer tak masuk akal.
Sepertinya saat ini mereka dalam mode sama, mempertahankan kepemilikan 😂😂😂
***
Ayo kita siap siap, AC nyalain biar ngga panas 😂
Happy reading 😘😘
__ADS_1