
Kata cinta memang sering kali membuat bahagia, tapi apa benar harus diungkapkan?. Bukankan cinta cukup dirasakan saja, karena terkadang ucapan tidak sesuai dengan apa yang dirasakan.
Rainer memang mahluk yang terlalu serakah jika menyangkut Anna. Dia tak merasa cukup hanya mendapatkan respon, tapi dia pun ingin mendengar pengakuan dari Anna.
Sedangkan Anna, mahluk yang paling tidak percaya diri jika itu tentang Rainer, dia merasakan cinta pada Rainer, tapi tetap merasa tak pantas untuknya, dan menimbulkan ketidak percayaan atas apa yang sering diungkapkan oleh Rainer.
***
Tak ada pergerakan apapun dari Anna setelah mendapatkan pesan what's app dari Rainer. Anna malah semakin tenggelam dalam pekerjaannya yang belum usai itu.
Saat ini, Anna sedang mengelap seluruh kaca yang ada di lantai 11 dan membereskan barang barang yang ada disana untuk dikosongkan ruangannya. Pasalnya lantai ini akan segera direnovasi karena akan diubah menjadi ruangan direksi yang baru.
"Tak tak tak," terdengar langkah kaki yang sepertinya sedikit dihentakkan, entah apa maksud dari sang pejalan kaki, tapi sepertinya orang tersebut sedang dalam mode galak.
"Ehem."
Mendengar nada deheman seorang pria yang tak asing membuat mahluk yang sedang sibuk dengan kegiatannya itu sontak langsung menengok pada asal suara.
"Sayang... Kamu mengabaikan what's app yang aku kirim?" tanya Rainer dengan nada sedikit ketus, dengan menampakkan wajah kesalnya.
Seketika mata Anna melotot tak percaya. Bos tampannya itu tak menepati janjinya? dia memanggilnya sayang pada saat jam kerja.
Seketika Anna berlari sekencang yang ia bisa untuk menutup mulut Rainer yang ingin dijahit itu, benar benar menyebalkan.
"Anda sudah berjanji tidak akan memanggil saya seperti itu Pa!" kesal Anna.
Beruntung di ruangan itu tinggal Anna seorang diri, Anna hanya berharap dibelakang sana tidak ada orang yang mendengar atau melihatnya.
"Cih, lucu sekali... bukankah kamu yang ingkar janji sayang," ucap Rainer malah semakin menjadi lalu mendekat perlahan pada Anna yang sedang terlihat panik itu.
"Aku sudah bilang sayang, kamu datang ke ruanganku, tapi kamu mengabaikannya," bisik Rainer tepat ditelinga Anna.
Mendengar suara Rainer yang sedikit mengancam dan bernada menggoda itu, Seketika bulu halus yang ada pada leher Anna meremang, menimbulkan kegelian yang sulit diartikan.
"Kamu harus di hukum sayang, karena telah mengabaikan aku," ucapnya terdengar begitu ngeri ditelinga Anna.
"Glek."
Saat ini, tenggorokan Anna terasa seret, seperti sulit untuk menelan sesuatu. Kebiasaan Rainer yang sangat suka menghukum Anna itu muncul kembali, padahal sebelumnya dia sudah tidak seperti itu.
__ADS_1
"Maaf pa," lirih Anna sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar Anna memanggilnya pa kembali seketika membuat Rainer berdecak sebal.
"Sayang, sepertinya kau sangat suka aku hukum ya?. Disini tidak ada orang, panggil aku dengan benar," perintah Rainer tak terbantahkan.
Anna langsung menatap Rainer, rasanya ingin sekali protes pada bos tampan yang seenaknya itu.
"Tapi ini masih jam kerja," terpaksa Anna memelas meminta belas kasihan pada Rainer agar menyelamatkannya dari rasa malu menghadapi kekonyolan Rainer itu.
"Terserah kamu, jika masih kekeh de..."
"Baik... Babe, maafkan aku, aku tak akan mengulanginya lagi," ucap Anna yang akhirnya mengikuti kemauan Rainer yang konyol itu.
Senyum puas pun terkembang dari wajah sempurna itu. Hanya mendengar Anna memanggilnya dengan Babe, membuat Rainer begitu bahagia dan jumawa.
Tanpa disadari oleh Anna, ternyata Rainer menghampirinya tidak sendiri, tiga orang yang sebelumnya menggerecoki Rainer di dalam ruangannya pun ikut serta. Mamah Ros, Tania, dan Raka ingin menyaksikan bagaimana cara Rainer menaklukan gadis polos yang masih suci dan belum berpengalaman itu.
"Benar benar pemaksa, jadi kesel mamah liatnya," gerutu mamah yang didengar jelas oleh Tania.
"Biarin aja mah, Tania yakin jika Anna bisa menaklukan Kaka yang seenaknya itu," tutur Anna yang diaminkan oleh mamahnya.
"Ya ampun, ada ibu bos, bagaimana ini," gumam Anna dalam hati.
Kemudian Anna tatap mata Rainer yang nampak seperti tak berdosa itu, Anna amat kesal dengan keadaan ini, bagaimana caranya ia menjelaskan pada orang yang ia tau sebagai istri dari pemimpin perusahaan sebelumnya itu.
Dengan gugup Anna mendekati nyonya besarnya itu dan berkata, "Maaf Bu, tadi itu saya bukan maksud lancang, saya benar benar minta maaf."
Timbul dalam benak Anna prasangka bahwa dia akan dipecat oleh ibu dari pimpinan PT Nalendra konstruksi tersebut.
"Apa maksud kamu?" tanya Nyonya Rosmalina dengan bingung.
Anna tak mengatakan apapun saat ibu dari bosnya itu bertanya, dia takut dianggap orang tidak tau diri, lebih baik Anna tak berkata apa apa daripada berbuntut panjang dan berakhir dia dipecat oleh istri dari sang pemangku jabatan tertinggi itu.
Sejenak mamah dari Rainer itu berfikir, setelah beberapa saat ia baru menyadari, bahwa gadis yang berada tepat dihadapannya yang sedang menundukkan kepala itu benar benar anak yang polos, sungguh mengingatkan kepada dirinya saat masih muda. Sungguh manis sekali.
Tiba tiba terlintas dari benak mamah Ros untuk sedikit menguji gadis yang digadang gadang akan menjadi calon menantunya itu.
Mamah Ros lalu memposisikan dirinya agar terlihat arogan Dimata Anna. Ia mulai menaikkan dagunya, membusungkan dada sambil melipat tangannya di dada, dan merubah sorot matanya menjadi menelisik.
__ADS_1
Melihat perubahan sikap dari mamahnya itu, Rainer menaikkan alisnya sebelah, merasa bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh mamahnya itu.
"Siapa nama kamu?" tanya mamah yang terdengar begitu arogan di telinga Anna.
"Nama saya Anna, Bu," jawab Anna terdengar sedikit bergetar pertanda jika ia sedang gugup.
Tania dan Rainer saling pandang, saling melempar pertanyaan dengan matanya.
Sedangkan Raka hanya menjadi penonton saja, bak sedang menonton sinetron, sungguh lucu sekali jika Tania dan Rainer tidak bisa menebak apa yang akan mamah Rosnya itu lakukan.
"Kamu sadar apa yang kamu ucapkan tadi pada anakku?" tanya mamah Ros sambil menundukkan kepalanya menatap wajah Anna yang mulai memucat itu.
"Maaf Bu, itu kesalahan saya, saya tidak akan melakukannya lagi," gumam Anna yang masih bisa terdengar oleh Rainer.
Mendengar apa yang Anna katakan, membuat Rainer naik pitam seketika. Ia lalu mendekat dan menarik lengan Anna.
"Apa yang kamu katakan?! beraninya kamu bilang tak akan melakukannya lagi?!" bentak Rainer yang membuat Anna berjengkit kaget.
Mamah Ros benar benar ingin tertawa melihat tingkah anak sulungnya itu, bisa ia bayangkan jika keinginannya untuk memiliki Anna di tentang sudah pasti anak tampannya ini akan sangat menggila. Ia benar benar sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak menyembur dan menggagalkan rencananya itu.
"Hentikan Rainer, jika Anna tidak ingin bersamamu, jangan dipaksa," ucap mamah Ros dengan menampakkan wajah seriusnya, yang sebenarnya di dalam hati mamah sedang terbahak melihat anaknya yang sedang putus asa itu.
Mendengar perkataan mamahnya, Rainer kemudian melepaskan genggaman tangannya pada Anna, tanpa menoleh kepada siapapun kemudian Rainer meninggalkan semua orang yang ada disana dengan perasaan yang benar benar murka.
Rainer kesal pada mamahnya mengapa mengatakan hal yang membuat Anna tak mau mengakuinya, dan Rainer kesal pada Anna mengapa Anna seperti tak punya perasaan sedikitpun padanya, dengan mudah akan menjauhinya. Dan Rainer kesal pada dirinya sendiri, kenapa ia begitu terlalu mencintai Anna yang seperti tak menyambut cintanya itu.
Anna melirik sedih melihat kepergian Rainer, ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia lakukan.
"Ayo kita mulai permainannya putraku sayang," gumam mamah Ros sambil tertawa didalam hati.
Tania dan Raka hanya memandang adegan ini dengan takjub, mamahnya ini benar benar sangat luar biasa, aktingnya benar benar memukau.
***
Maafkan dengan typo yang masih bertebaran, makasih banget udah mampir ke karyaku dan nungguin up aku yang suka ngaret ini 😂😂😂
Doain ya selalu lancar ngehalunya...
Happy reading 😚 😚
__ADS_1