
...Ucapkanlah kasih satu kata yg ku nantikan...
...Sebab ku tak mampu membaca matamu...
...Mendengar bisikmu...
...Nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu...
...Sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini...
...Sebab ku meragu pada dirimu...
...Mengapa berat ungkapkan cinta...
...Padahal ia ada...
...Dalam rinai hujan...
...Dalam terang bulan...
...Juga dalam sedu sedan...
...Mengapa sulit mengaku cinta...
...Padahal ia terasa...
...Dalam rindu dendam...
...Hening malam...
...Cinta terasa ada...
...(Acha Septriasa feat Irwansyah - Ada cinta)...
Lantunan lagu lawas begitu menyayat hati begitu sesuai dengan apa yang dirasakan oleh Rainer kepada Anna.
Duduk mendengarkan suara merdu penyanyinya, Rainer berfikir, kenapa liriknya begitu pas dengan suasana hatinya, begitu pas dengan apa yang ia rasakan sekarnag.
Terkadang Rainer ingin bertanya pada Anna, ingin mendengar kejujuran dari mulut gadis yang begitu menghantui pikiran Rainer setiap saat itu, "Apakah kamu sudah mencintaiku sekarang Anna?, apakah begitu sulit untuk membalas cintaku?, apakah begitu berat mencintai aku?".
Sungguh saat ini Rainer sedang dalam keadaan galau berat, sangat sulit menentukan sikap, merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan saat ini.
Setelah obrolan panjangnya dengan mamah Ros kemarin, akhirnya malam Minggu yang cerah ini, Rainer berada disini, di depan kosan Anna, bersandar dengan santai pada kap mobilnya tidak berniat mengabari Anna bahwa dia ada di depan kosannya tidak juga berniat untuk beranjak pergi. Rainer hanya memandangi pintu kosan Anna yang tertutup rapat dan jendela kamarnya yang sedikit terbuka pertanda penghuni kosan itu tengah ada didalam, entah apa yang sedang dilakukannya.
__ADS_1
Entah kenapa, hanya membayangkan jika Anna akan keluar dari pintu yang tengah tertutup rapat itu saja Rainer sudah begitu bahagia, padahal belum tentu Anna akan keluar, apalagi sekarang waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Bisa jadi Anna saat ini sedang dibuai oleh mimpinya bukan.
Rainer cukup lama menunggu, dan pada akhirnya dia menyerah juga. Dia lalu mengambil ponselnya, dan membuka aplikasi what's app lalu mencari kontak Anna yang ia beri nama My Qween. Oh ya ampun bucinnya kamu.
Tak menunggu lama, Rainer menyentuk kontak Anna untuk masuk ke ruang pesan, terlihat Anna sedang online pertanda Anna masih bangun. Tanpa ragu ragu Rainer lalu mengirim chat pada Anna.
Rainer : Anna.
Chat yang Rainer kirim tidak langsung dibaca oleh Anna. Rainer menunggu sekitar 1 menit sampai Anna membaca chat yang ia kirim.
Anna : Iya pa, selamat malam.
Rainer : Kamu belum tidur ?
Anna : Belum pa, ada yang bisa saya bantu?
Rainer : Keluar sekarang !
Rainer benar benar kesal dengan sikap Anna yang terus saja memasang jarak dengannya, tapi Rainer berusaha mengikuti saran mamahnya untuk tidak memaksakan kehendak dirinya sendiri.
Tak lama dari pesan yang terakhir Rainer buka, terlihat jendela Anna terbuka sedikit lebar, Anna mengintip dari balik jendelanya. Alangkah kagetnya Anna melihat Rainer berada tepat di sebrang jalan tidak jauh dari kosannya.
Melihat Anna sedang mengintip, Rainer merapatkan kakinya, kemudian memeluk tubuhnya sendiri, terlihat kedinginan. Cuaca malam ini memang terasa sedikit dingin, Rainer hanya memakai sweeter berwarna nafi dipadu padankan dengan celana jins sepanjang betisnya yang membuat Ranieri tampak lebih muda.
Setelah melihat keberadaan Rainer diluar sana, Anna lalu bergegas memakai hoode nya dan keluar untuk menemui Rainer.
"Aku ingin makan malam denganmu," pinta Rainer sambil menatap Anna lekat.
Entahlah, hari ini sepertinya Rainer sedang malas untuk marah atau kesal sekalipun, jadi Rainer hanya menampakkan senyum sedikit saja.
Mendengar permintaan bosnya yang sedikit berbeda cara penyampaiannya, tak seperti biasanya yang selalu memaksa, Anna pun jadi tak ada perasaan ingin menolak ajakannya.
"Baik pa, saya temani, kalo boleh yang deket deket sini aja ya" jawab Anna.
"Ok."
***
Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit dengan mobil akhirnya mereka tiba di tempat makan yang berbeda dengan biasa Rainer datangi.
Bukan di puncak ataupun di cafe mahal, mereka memutuskan untuk sekedar makan sambil nongkrong di pedagang kaki lima pinggir jalan, dimana tempat duduk yang diperuntukkan untuk pembeli terdapat di trotoar jalan. Disini abangnya menyajikan aneka makanan manis dan hangat.
Anna dan Rainer memesan wedang ronde dan roti bakar,sambil duduk memandangi ramainya hiruk pikuk jalanan kota di depan sana yang terlihat begitu banyak anak muda yang asik menikmati malam Minggu mereka.
__ADS_1
Bising suara jalan tak mengganggu sedikitpun anak anak muda yang asik bercengkrama bersama teman, saudara bahkan mungkin pasangannya. Bahkan ini menjadi suatu ciri khas keasikan menikmati malam yang berbeda, sambil duduk duduk menikmati cahaya lampu jalan, berbaur denggan banyak orang yang tak dikenal, sambil menikmati hangatnya ronde jahe yang menyusup ke tubuh yang sedang kedinginan ini.
Saat ini ada kebimbangan yang melanda di hatinya, meragukan kepercayaan dirinya bahwa dia akan mampu membuat Anna jadi miliknya. Tanpa dia tau Anna pun sudah menerima dirinya, hanya saja Anna tak mengatakannya.
"Anna," panggil Rainer pada Anna yang asik memandangi jalanan itu.
Seketika Anna menoleh pada bos yang sudah mengisi hatinya itu, dengan senyum yang sedikit berbeda.
Mendengar Anna tak melakukan kesepakatan mereka dengan memanggilnya dengan panggilan sayang, Rainer hanya tersenyum kecut. Dia malah berfikir bahwa Anna memang tak ingin bersamanya.
"Apakah begitu berat menerima perasaanku Anna?" tanya Rainer begitu terdengar tak percaya diri.
Anna mengerutkan dahinya, berfikir ada apa dengan bosnya ini.
"Iya?"
"Kau begitu terbebani dengan perasaanku Anna?" ucap Rainer sambil memandang mata Anna lekat.
"Apakah anda masih kesal dengan kejadian kemarin pa?" tanya Anna.
Rainer hanya menggelengkan kepalanya, dia memang sudah tidak marah lagi, saat ini Rainer hanya ingin mencari kebenaran pada Anna tentang perasaannya, menentukan apakan Rainer akan berjuang, ataukah akan menyerah saja.
"Aku tak akan memaksamu lagi untuk menyukai ku atau menerimaku sebagai calon suamimu Anna, jika kau tak mau."
Mendengar penuturan yang dikatakan Rainer, entah kenapa hati Anna sedikit merasa nyeri. Pria didepannya ini ingin menyerah, padahal Rainer belum bertemu dengan orang tuannya, tapi dia sudah menyerah.
Beberapa detik kemudian, rasa tak percaya diri Anna muncul kala mengingat kejadian kemarin saat bertemu dengan ibu Ros, Anna menundukkan kepalanya, keinginannya benar benar tak bisa ia terka saat ini, di satu sisi ia ingin menerima Rainer, tapi disisi lain ia ingat perbedaan mereka yang begitu jauh. Anna takut perbedaan status sosial mereka akan mempengaruhi hubungan mereka di masa depan.
"Kita begitu berbeda Pa... Anda berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari saya, saya hanya seorang gadis kampung yang tidak punya apa apa. Keluarga saya tidak akan bisa menyamai keluarga kalian, anda hanya akan merasa malu."
"Bukan itu jawaban yang aku inginkan Anna," tegas Rainer tak suka saat Anna mengungkit perbedaan sosial mereka.
"Bagi saya, kebahagiaan orang tua saya yang terpenting pa, saya tidak ingin menyakiti mereka, saya takut dimasa depan saya akan mempersulit mereka."
"Intinya kamu tidak mau bersamaku Anna," tegas Rainer yang dibalas tatapan Anna yang terlihat sudah berembun itu.
Anna tak menjawab, ia terlalu pengecut menghadapi masa depan yang belum pasti akan seperti apa nantinya. Anna hanya ingat bagaimana ibu Ros kemarin, seperti tak suka padanya. Anna berfikir jika ibu dari bosnya itu tak suka jika anaknya bersama dengan seorang gadis dari keluarga miskin seperti dirinya.
***
Memang prasangka hanya akan membuat terluka, hanya menerka apa yang belum tentu benar, hanya memikirkan apa yang kita pikirkan, tanpa kita tau ternyata hal yang kita sangkakan itu terbalik dengan apa yang kita bayangkan.
Cinta itu sudah mencokol di hati Anna, bahkan sudah begitu besar, tapi benteng yang berjudul status sosial itu yang menjadi ketakutan Anna.
__ADS_1
Tanpa Anna tau, jika Anna mengatakan iya saja, Rainer akan menggadaikan segalanya demi memperjuangkan cintanya, bahkan mungkin akan meninggalkan segalanya demi hidup bersama Anna.
Happy reading 😊