
Jalanan raya dipenuhi kendaraan yang memperdengarkan alunan klakson yang saling bersahutan, tak jarang pula para pengendara yang mengumpati kemacetan panjang yang membuat urat syaraf menegang karena tak sabar ingin keluar dari padatnya jalanan kota ini. Nyatanya tak memudarkan senyum merekah Rainer yang biasanya irit ekspresi itu.
Padahal waktu sudah mendesak untuk dia menghadiri meeting bersama Jihan dari PT Karya Nusa. Arman pun kini sudah menunggu di restoran yang mereka janjikan untuk menghadiri meeting yang telah diundur waktunya itu.
Jika dalam kondisi normal, pasti Rainer sudah mengumpat siapapun yang mengganggu jadwalnya, tapi sekarang, dia sedang tak ingin menegangkan urat syarafnya. Rainer tak ingin merusak kebahagiaannya hanya karena menanggapi kondisi jalan yang macet, atau karena dia nyaris terlambat mengahadiri meeting malam ini.
Saat ini, Rainer sedang menebarkan aura positif dan kebahagiaan, jadi dia tak akan melakukan hal sia sia dengan marah marah dengan kondisi yang tidak bisa ia rubah ini. Benar benar efek cinta begitu dahsyat bukan.
"Halo, Rainer.... Kamu masih dimana?!" tanya Arman dengan geram dari ujung telpon yang tersambung.
Pasalnya, sekitar 15 menit lagi meeting akan dimulai, dan Jihan sang perwakilan dari PT karya Nusa telah duduk manis menunggu kedatangan sang CEO dari PT Nalendra konstruksi itu.
"Masih dijalan, tunggu saja, sebentar lagi, buat dirimu berguna Arman," jawabnya dengan santai.
Rainer tiba tiba memutus sambungan telpon itu secara sepihak, benar benar seenaknya sekali.
"Maaf ya Jihan, pak Rainer terkena macet, tak apa bukan kita menunggunya beberapa menit lagi," terang Arman yang ditanggapi senyuman manis dari sang wakil manager Perencanaan dari PT Karya Nusa itu.
"Tidak masalah pak Arman, kita masih punya waktu sekitar 15 menit lagi," ucap gadis manis itu ramah.
Arman hanya tersenyum kikuk dengan keramahan yang dipertontonkan oleh Jihan.
"Saya pun ingin minta maaf karena pak Sandi tidak bisa menghadiri rapat penting ini, karena beliau sedang ke Singapura untuk menemani istrinya berobat," terang Jihan menjelaskan kondisi manajernya.
"Tidak masalah, pak Sandi sepertinya sangat tepat menunjuk anda sebagai wakilnya untuk menangani proyek ini," ucap Arman berusaha membuat suasana akrab dengan Jihan.
Pasalnya, Jihan adalah gadis muda berbakat yang masih berusia 24 tahu. Ia sudah ditunjuk sebagai manager perencanaan karena kepiawaiannya dalam menangani setiap proyek besar di perusahaannya. Terutama proyek yang sedang bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin oleh Rainer ini.
Rainer adalah pebisnis yang bisa dibilang sangat selektif dalam memilih partner kerja sama untuk perusahannya ini, banyak perusahaan yang mengajukan sebagai partner PT Nalendra konstruksi. tetapi Rainer begitu pemilih.
Tetapi dengan mudah PT Karya Nusa bisa masuk dan memenuhi kriteria Rainer dalam berkongsi dengan perusahaannya ini. Tidak lain karena adanya campur tangan dari kecerdasan Jihan yang membuat kagum seorang Rainer dengan keahlian dalam menyusun strategi bisnisnya.
__ADS_1
Beberapa menit menunggu, akhirnya orang penting yang dari tadi ditunggu tunggu sampai juga.
Dengan langkah santai dan berwibawanya, Rainer melangkahkan kaki mendekati meja yang telah ditempati oleh Arman, Jihan, dan asisten Jihan yaitu Ricki.
"Selamat malam Jihan, maaf membuatmu menunggu," sapa Rainer sambil mengulurkan tangannya untuk dijabat.
"Tidak masalah pa, anda mungkin kesulitan di jalanan bukan, jadi bukan masalah jika kami hanya menunggu sebentar," ujar Jihan sambil menunjukan senyum ramahnya.
Rainer kemudian menyamankan dirinya terlebih dahulu, duduk di sofa empuk tepat di depan Jihan, sambil bersandar mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah karena telah menghadapi kemacetan yang cukup panjang. meskipun begitu, ia tak masalah, karena Rainer telah mendapatkan mood boosternya yang luar biasa.
"Ini dokumen yang tadi anda pesan pa, sudah saya siapkan," ucap Arman bersikap layaknya bawahan pada atasannya. saat ini profesionalitas sedang ia jaga di hadapan Jihan, karena tak etis saja jika dia bersikap layaknya seperti seorang teman sedangkan ini adalah lingkungan kerja apalagi dihadapan koleganya meskipun Jihan hanya sebagai perwakilan saja, tapi tetap, Arman harus menghargai pimpinannya itu bukan.
Rainer kemudian menarik dokumen yang disodorkan Arman, dengan cepat Rainer membaca dan meneliti isi dari berkas berkas itu, sejenak Rainer meneguk air putih yang telah disiapkan oleh Arman untuk sekedar menyegarkan tenggorokannya agar lebih berkonsentrasi dalam menjalankan meeting yang terbilang diujung waktu ini.
"Baiklah, ayo kita mulai meeting kali ini." Seketika semua orang yang berada di meja itu langsung memfokuskan diri mereka dalam meeting ini.
***
Sudah 2 jam meeting yang dilakukan oleh rainer berlalu. Saat ini mereka berada di lobi, melakukan perpisahan formal yang biasa dilakukan sebagai tanda kesopanan saja.
"Tentu Jihan, saya percaya pada anda. saya yakin anda bisa menjalankannya dengan baik dan memenuhi ekspektasi saya terhadap anda," jawab Rainer.
"Saya pamit pa, selamat malam." Kemudian Jihan berlalu meninggalkan Arman dan Rainer yang berdiri tepat di pinggir mobil yang dinaiki oleh Jihan dan Ricki.
"Dia gadis yang luar biasa bukan," puji Rainer dengan mata masih menatap mobil yang melaju meninggalkan mereka berdua.
"Tentu saja." Senyum kagum terpancar dibalik mata sipit Arman yang dibingkai dengan kacamata itu.
"Saingan mu banyak Arman, jadi bergeraklah dengan pintar." Rainer menepuk bahu Arman sambil berlalu meninggalkan Arman yang masih mengagumi gadis cerdas itu.
Beberapa detik kemudian, Arman menyadari jika bosnya itu sudah meninggalkannya. Rainer masuk ke dalam mobilnya kembali dan berlalu begitu saja.
__ADS_1
"Mau kemana dia, sangat tergesa gesa sekali," gumam Arman, dia pun bergegas masuk kedalam mobil yang dikendarainya untuk ikut meninggalkan restoran tersebut.
***
Disisi lain, Anna sedang duduk di kursi bundar yang diatasnya di teduhi oleh payung yang menyatu dengan meja taman yang terdapat tepat di depan kampusnya tersebut.
Anna duduk sendirian, sambil menggoyangkan kakinya kedepan dan kebelakang sambil memilin tali tas selempang yang tersampir di pinggangnya, ditemani cahaya lampu yang terasa remang remang, tanpa ditemani sang sahabat.
Irman sudah pulang sejak 30 menit yang lalu, karena sudah di telpon oleh ibunya mengintruksikan agar Irma cepat pulang.
Sedari tadi Anna menggerutu, kesal karena dengan bodohnya ia menuruti perkataan Rainer yang menyuruhnya untuk menunggunya dan jangan pulang sendiri.
"Aku benar benar bodoh, untuk apa aku menunggu pria brengsek itu, harusnya aku pulang dari tadi." Gerutuan Anna terdengar jelas di telinga pria yang sedang terkekeh geli melihat gadisnya, sudah 5 menit yang lalu Rainer memperhatikan Anna.
Anna lalu berdiri dengan tiba tiba, bersiap untuk meninggalkan tempat duduknya itu, berniat untuk pulang sendiri saja, karena sudah lelah menunggu kedatangan Rainer.
Saat ia berbalik, sontak Anna kaget dengan keberadaan Rainer yang berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di meja tepat dibelakang Anna sambil menyunggingkan senyuman tampannya.
Anna kesal melihat senyum tampan Rainer itu, lalu melewati Rainer begitu saja tak lupa meninggalkan jejak tatapan menusuk sarat dengan kekesalannya pada Rainer.
Yang ditatap malah terkekeh geli dengan tingkah gadis manis itu, kemudian ia mengejarnya dan langsung meraih tangan Anna dengan mesra.
"Ayo aku antar pulang," ajak Rainer dengan lembut.
Entahlah, Anna masih bingung dengan apa yang terjadi. Yang pasti kini mereka memiliki perasaan yang sama.
Tidak ada pernyataan yang menunjukan bahwa mereka jadian, tapi saat ini yang jelas mereka sudah menjadi TTM ( Teman Tapi Mesra).
***
Aih... sumpah yah, inget othor masih singel dulu, ngga pernah di tembak jadi pacar, nyatanya sekarang jadi suami πππ
__ADS_1
Konfliknya belum yang berat berat ya, ini masih yang manis manis aja dulu, konflik beratnya pasti ada waktunya ππ
Happy readingππ