
Tak ada kata yang terucap dari wajah yang sedang menahan kesal itu, Anna benar benar tak faham dengan jalan fikiram mahluk tampan di depannya ini. Bukankah yang harusnya marak itu Dia, kenapa jadi Rainer yang marah.
Sebenarnya jam masuk kuliah masih sekitar 1 jam lagi, sekitar jam 7 malam. Tapi Anna sudah sampai di kampusnya jam 6 tepat, lalu apa yang akan dilakukannya sekarang?.
"Pa maaf, kita mampir dulu ke tempat makan, tapi sekarnag saya yang traktir boleh?" usul Anna sambil berusaha mengembangkan senyum pada mahluk yang sedang menekuk wajahnya itu.
Rainer tak menjawab apapun, dia hanya menganggukkan kepalanya, dan meliriknya sebenar lalu kembali memfokuskan kembali matanya untuk berkendara mengikuti petunjuk arah yang di berikan oleh Anna.
Sebenarnya Anna ingin bertanya kenapa Rainer marah padanya, tapi biar saja bosnya seperti ini. Anna berharap bisa meredakan emosi bos tampannya itu dengan mengajaknya ke tempat makan favoritnya.
Kini mereka sampai di angkringan tak jauh dari kampusnya, hanya sekitar 500 meter jarak antara angkringan ini dan kampusnya. Anna bergegas memasuki antrian untuk memesan makanan yang dia inginkan, diikuti Rainer dibelakangnya menghalangi pengunjung lain berdekatan dengan Anna.
Terlihat sudah banyak calon pembeli yang antri untuk makan di tempat ini, padahal ini hanya angkringan sederhana dipinggir jalan yang menyajikan menu ayam goreng beserta teman temannya seperti tahu tempe, soto dan lain sebagainya, tetapi antriannya begitu mengular, beruntungnya disini penyajiannya cukup cepat, jadi pembeli tak akan terlalu lama menunggu.
"Pa, mau pesan apa? ayam, lele, atau soto?" tanya Anna kepada Rainer yang sedang memperhatikan keadaan sekitar.
"Ayam saja" jawabnya singkat.
"Kang, Nasinya 2, Ayam nya 2 paha satu sama dada satu, tahu tempe 2, kol goreng, sama ati ampela 2, sambelnya agak banyakan ya," teriak Anna supaya terdengar oleh sang penjual.
"Oke neng, duduk disini udah kosong," ucap sang penjual menunjuk meja di depannya yang baru saja ditinggalkan pembeli yang telah menyelesaikan makannya.
"Oke, makasih kang."
Kemudian Anna menarik tangan Rainer yang sedang ceingak celinguk memandangi orang orang yang berkutat dengan apa yang mereka miliki, ia tak pernah makan ditempat seperti ini, dan nampaknya Rainer sedang berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan asing ini.
"Enggak usah diliatin gitu pak, ayo kita duduk, keburu ada yang nempatin," ajak Anna sambil menggenggam tangan Rainer.
Anna tidak tau jika tindakan yang ia lakukan menimbulkan sengatan listrik pada tubuh Rainer, matanya terus menatap tangan mungil yang menggenggam jemari Rainer itu, menciptakan lengkungan kebahagiaan di wajah tampannya.
Ah... sepertinya malam ini meeting nya akan berjalan dengan sangat lancar karena ia telah mendapatkan sengatan semangat dari sang pujaan hati yang belum sah menjadi apapun untuknya itu.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pesanan mereka telah tiba, satu bakul kecil nasi untuk dua porsi, ditambah lauknya berupa ayam goreng sayap dan paha, tahu tempe, lalapan, Ati ampela, dan kuah soto yang menyegarkan, sudah tersaji di meja lesehan yang Anna dan Rainer tempati.
Anna dengan sigap menyiapkan makanan untuk Rainer, menyendok kan nasi kepiring Rainer, " Bapa suka paha atau dada?," tanya Anna.
"Paha saja" jawab Rainer.
Ternyata Anna sengaja memesan paha dan dada, agar Rainer bisa memilih, terdengar biasa saja tetapi bagi Rainer apa yang dilakukan Anna begitu manis, Anna seperti seorang istri yang melayani suaminya. Apakah ini hanya halusinasi Rainer saja, ataukah memang Anna sedang menampakkan kesediaannya untuk menerima Rainer?.
Apapun jawabannya yang pasti, kekesalannya yang disebabkan oleh sikap Anna yang tak menampakan rasa cemburu melihat ia ditempeli wanita lain, sekarnag telah berbunga bunga kembali.
Sungguh cinta memotong sedikit akal sehat Rainer untuk menyikapi keadaan dirinya itu. Secepat itu moodnya kembali, hanya karena digenggam tangannya oleh Anna.
"Ini tempat makan favorit saya pa sama temen temen di kapus, saya kesini kalo kebetulan nyampe ke kampusnya cepet aja, kaya sekarang ini," terang Anna memecah keheningan karena kediaman Rainer.
"Hmmm." Rainer hanya menanggapinya dengan gumaman saja tanpa menoleh sedikitpun pada Anna, hanya fokus pada makanannya yang rasanya begitu memanjakan lidah Rainer itu.
Melihat sikap Rainer seperti itu, Anna berfikir, sepertinya dia belum berhasil mengembalikan mood Rainer lagi.
Setelah selesai menyantap makanannya, Anna tak langsung beranjak dari duduknya dan menatap Rainer dengan lekat, meminta atensi Rainer hanya tertuju padanya.
"Apakah anda marah pada saya pa?"
"Menurutmu?"
"Sepertinya iya, karena apa?, apakah saya melakukan kesalahan?"
"Kamu tidak sadar?" Anna hanya menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, di tanggapi dengan senyum smirk di wajah Rainer.
"Kamu membuat 2 kesalahan," seketika mata Anna melotot, kenapa bisa dia sampai melakukan 2 kesalahan ... lagi!!!.
"Hei, tunggu dulu, apa salah saya pa? dan lagi harusnya saya yang marah karena anda telah berbohong" protes Anna.
__ADS_1
Rainer hanya memandang wajah Anna yang tiba tiba berubah, matanya memancarkan kekesalan yang sepertinya telah ia tahan beberapa lama, dan kini sepertinya sedikit demi sedikit memuntahkan amarahnya.
" Kapan aku berbohong padamu?" tanya Rainer.
"Anda baru saja mengatakan jika anda menganggap saya calon istri anda? tetapi dengan mudah anda menyentuh wanita lain, bahkan anda dirangkulnya dengan mudah, menurut anda bagaimana perasaan saya?! dan sekarang anda tiba tiba marah pada saya mengatakan saya punya dua kesalahan yang saya lakukan?, Anda benar benar luar biasa pa."
Mata Anna terlihat berkaca kaca, ia menahan sekuat tenaga agar air mata yang akan segera meluncur itu tak terlihat oleh Rainer.
Setelah mengeluarkan amarahnya, Anna berdiri dari tempat duduknya, menarik tasnya dengan kasar, mendekati kasir dan membayar tagihannya.
Sedangkan Rainer masih duduk diam dengan kekagetannya, sesaat termenung dengan bodoh, mencerna kalimat panjang yang disampaikan oleh Anna. Tanpa dia sadari Anna telah berlari meninggalkannya menuju ke kampus yang jaraknya sekitar 500 meter itu, cukup jauh jika ditempuh hanya dengan jalan kaki.
"Berapa pa?" tanya Rainer pada Kasir.
"Sudah dibayar pa," ucap kasir itu sedikit tak enak menyaksikan sepasang muda mudi yang bertengkar.
Lalu Rainer berlari meninggalkan angkringan tersebut, berusaha mengejar langkah Anna yang sedikit berlari.
Wajah Rainer tak hentinya melengkungkan indah senyum bahagianya mengetahui bahwa Anna tadi ternyata merasa cemburu padanya. Anna hanya pintar menutupi perasaannya dibalik senyum manisnya itu.
Secepat cepatnya Anna berlari, langkah Rainer lebih lebar sudah pasti akan dengan mudah Rainer menyusul laju langkah Anna. Saat Rainer berhasil menyusul Anna, kemudian Rainer meraih tangan Anna yang sedang mengepal itu, ditariknya tangan Anna sehingga tubuhnya terhuyung mendekat dan merapatkan diri dengan paksa kedalam pelukan hangat Rainer.
Sesaat Anna memberontak dengan apa yang dilakukan oleh Rainer, tapi apa daya tenaga Rainer lebih kuat mendekap tubuh lelahnya, lama kelamaan terasa tubuh Anna bergetar dan suara isakan terdengar lirih ditelinga Rainer. Anna sudah tak bisa menahan kekesalannya pada Rainer yang seenaknya itu, ia benar benar kesal dan berusaha memukul dada Rainer dengan sisa tenaganya yang telah habis karena menahan tangis.
Sedangkan Rainer, memeluk tubuh ringkih itu dengan hangat dan kuat, tidak lupa tangan besarnya mengelus lembut rambut Anna dan sesekali mencium pucuk kepala Anna dengan khidmat.
Sungguh kau terlalu berani kali ini tuan Rainer. 😂😂😂
Rindu adegan yang uwu. Maafkan othor yang ngga jelas ini ya 😆😆
Happy reading 😉😉
__ADS_1