
Berita tentang Rainer menggendong Anna menuju klinik ternyata tidak langsung hilang begitu saja.
Bagaikan berita selebriti yang terus digosok lama lama menjadi panas, semakin asik untuk diperbincangkan. Bahkan, ada juga yang berspekulasi bahwa diantara Rainer dan Anna telah terjadi sesuatu. Cibiran demi cibiran mulai santer terdengar. Banyak yang bilang jika Anna menggoda Rainer, ada juga yang bilang Anna menggunakan guna guna untuk menggaet Rainer. Sungguh membuat kuping panas jika terus didengarkan.
Ternyata selain orang yang mencibir, masih ada orang orang baik yang membela Anna. Mereka tau betul seperti apa Anna. Mereka pun yakin ini hanya kesalahan yang memang bukan yang Anna inginkan.
Rumor yang menyudutkan Anna ini pun akhirnya sampai juga pada telinga Tania.
Kini Tania sedang duduk manis di Sofa tepat berada di depan meja sekertaris Rainer sambil membolak balik majalah yang khusus di sediakan untuk membunuh rasa jenuhnya. Ia sedang menunggu Rainer dan Arman yang sedang meeting dengan clien.
Setelah menunggu lumayan lama, terdengar derap langkah beberapa orang menuju ke arah Tania, Tepatnya Rainer akan menjamu clien di ruangannya.
Tidak disangka, clien Rainer saat ini adalah orang yang Tania kenal. Dia adalah pria yang digadang gadang akan dijodohkan dengan Tania oleh papahnya.
Keberadaan sang pria yang tak diinginkan Tania itu begitu mengejutkan Tania. Bahkan rasanya Tania ingin kabur dari situasi ini, tapi nyatanya kesempatan Tania untuk kabur sudah lenyap, karena mata sang pria telah menyadari keberadaan Tania.
"Hai, kamu disini?!" ucap pria bernama Raka yang akan dijodohkan dengan Tania itu.
"Iya," gumam Tania sambil menampakkan senyumnya yang dipaksakan.
"Kebetulan, ayo masuk, kakak sama Raka mau makan siang bareng, kamu ikut juga Tan," intruksi Rainer yang membuat Tania melotot tak percaya.
Tania jelas protes dengan ajakan Rainer ini. Niat Tania datang jauh jauh ke kantor Kakanya ini bukan untuk makan siang dengan Raka sang pria yang akan dijodohkan oleh papahnya itu, tapi dia ingin bertemu Rainer untuk menanyakan tentang Anna. Tapi harus batal karena ada orang yang tak diinginkan kehadiran nya.
"Sepertinya enggak bisa ka, Tania mau ketemu Anna," jawab Tania berusaha mencari alasan untuk menolak ajakan sang Kaka yang rupanya sedang mendekatkan Tania dan Raka itu.
"Tenang aja, nanti juga dateng kesini, dia juga mau Kaka ajak makan ko," ucap Rainer membuat Tania tak bisa berkutik lagi.
Raka hanya tersenyum simpul melihat tingkah Tania yang berusaha menolak keberadaannya disini. Raka tau betul jika Tania tidak ingin dijodohkan dengannya. Tapi Raka tak peduli, dia akan berusaha menumbuhkan perasaan Tania kembali.
"Ya udah, ini masih jam 11, silahkan kalo kalian mau ngobrol dulu didalam, Tania ada perlu dulu sama ka Arman," ucap Tania mendekat pada Arman yang sudah mulai berkutat kembali dengan pekerjaannya.
Rainer dan Raka pun melanjutkan langkahnya masuk ke ruangan Rainer. Dan kini, Tania tepat berada di depan meja Arman, memasang wajah kesal sambil melipat tangannya di dada.
__ADS_1
"Kenapa nggak bilang ada dia sih ka, sengaja ya?!," tanya Tania dengan kesal.
"Kamu kan enggak nanya Tan, kamu cuman bilang mau ke kantor, pengen tau rumor tentang Anna dan Rainer, iya kan? Enggak nanya Rainer mau meeting sama siapa!" ucap Arman sambil sibuk dengan pekerjaannya.
"Ya tetep aja ka, harusnya Kaka bilang sama aku, kalo ada dia kan," Tania masih kesal dengan keadaan ini, ia seperti sedang di prank oleh kakaknya itu.
"Udah lah Tan, terima aja nasib, yang penting Raka suka sama kamu kan, dia nggak nolak begitu tau akan dijodohin sama kamu," ucap Arman berusaha menyudahi kekesalan Tania.
"Ogah, udah ah, aku mau nyamperin Anna, kalian emang nyebelin," gerutu Tania sambil meninggalkan ruangan Kakanya yang mengesalkan itu. Rasanya berbagi nafas dengan orang yang dibenci itu begitu menyesakkan, serasa rebutan udara.
***
Di sisi lain, dimana Anna sedang menyelesaikan pekerjaan terakhirnya di siang ini, membantu untuk memphoto copy berkas berkas di ruangan keuangan.
Anna bukannya tak mendengar gunjingan orang orang pada dirinya, dia hanya malas untuk sekedar membela dirinya. Percuma saja bukan kita menjerit jerit mengatakan jika tidak ada apa apa diantara mereka tapi nyatanya memang perkataan kita tidak akan merubah pemikiran orang terhadap kita.
Jika tak ingin kesal dengan perkataan orang lain, cukup gunakan tangan untuk menutup kedua telinga kita, jika dua tangan ini digunakan untuk menutup mulut banyak orang, Percuma, tak akan pernah berhasil.
Bahkan orang yang menjadi pelaku yang telah menggendong Anna pun tak melakukan apa apa. Padahal rumor yang tidak mengenakkan ini sudah tersebar hampir satu Minggu, tapi Rainer seperti biasa saja, dia bekerja seperti biasanya, bahkan setelah kejadian itu, Rainer malah terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya, dan sepertinya tak ada waktu untuk sekedar menjahili Anna seperti biasanya.
Mungkin Anna sedikit kehilangan dengan kondisinya saat ini, saat kurangnya interaksi diantara mereka, tapi bagi Anna ini lebih baik untuk keamanan hatinya. Anna sekarang tak terlalu khawatir, tak akan timbul pengharapan tentang kata kata Rainer sebelumnya bahwa dia telah menetapkan Anna sebagai calon istrinya. Anna sudah menganggapnya itu hanya angin lalu dan hanya perkataan seorang buaya darat saja.
Tanpa disadari oleh Anna, jika Rainer telah berhasil mengisi ruang di hati Anna yang belum pernah disinggahi oleh pria manapun.
Saat Anna larut dalam lamunannya itu, terdengar suara renyah seorang gadis yang pernah bertemu dengan Anna di festival kuliner bersama Rainer pada minggu malam itu memanggil Anna dengan riang.
"Anna..." Tania memanggil Anna yang baru saja memulai pekerjaannya setelah membantu memfoto copy di ruangan keuangan, kini ia sedang mengepel lantai koridor. Terlihat pada mata Tania bahwa Anna tidak fokus dengan pekerjaannya sehingga pada saat Tania memanggil Anna, seketika Anna langsung terperanjat kaget.
Tak menunggu lama, Tania sedikit berlari untuk menghampiri Anna sambil neringkrak kegirangan.
"Anna, apa kabar?" seru Tania.
"Eh, mba Tania, baik mba, gimana mba Tania sehat?" jawab Anna dengan ramah.
__ADS_1
"Mau ketemu pak Rainer ya?" lanjut Anna bertanya.
"Engga, aku sengaja kesini pengen ketemu sama kamu An, kalo kerjaan udah selesai kita makan bareng yu, ajakin juga temen kamu yang kemarin barengan jualan itu, siapa namanya lupa aku?" ajak Tania antusias.
"Oh, Ratih, iya nanti diajakin, kalo boleh mba Tania tungguin di pantri aja dulu sambil ngopi ngopi ya, saya beresin ini dulu," ujar Anna memberi ide.
"Boleh deh, daripada nungguin di ruangan kakak aku, bikin Bad mood," gumam Tania.
"Ya udah, jangan lama lama ya, aku tunggu di Pantri," lanjut Tania, sambil melangkah meninggalkan Anna yang bergegas membereskan peralatan kebersihannya.
***
Sementara itu di ruangan CEO di PT Nalendra konstruksi yang didalamnya terdapat dua orang pria calon adik dan kakak ipar itu yang ternyata belum mendapatkan lampu hijau dari Tania sang calon tunangan Raka, dua rekanan bisnis ini ternyata adalah teman sekampus saat masih menempuh pendidikan sarjananya di Inggris.
Setelah usai mendiskusikan langkah apa yang akan mereka tempuh dalam mensukseskan kerja sama mereka untuk menjalankan proyek yang sedang mereka garap. Kini mereka sedang mengobrol santai mengingat masa lalu.
"Aku tau Ka, papah bukan sengaja jodoin kamu sama Tania, ini memang khusus permintaan kamu sama papah kan?" cibir Rainer.
"Tapi inget Raka, ngga semudah itu kamu bisa meluluhkan hati Tania, dia tipe cewe yang mudah sayang sama orang tapi sulit memaafkan jika pernah disakiti, dan papah pun tau itu, papah bukan orang tua otoriter yang tega menjodohkan anaknya hanya karena bisnis," sengit Rainer.
"Tau banget aku Rain, makanya gimana pun caranya, aku mau buktiin sama Tania, kalo aku udah berubah," tegas Raka dengan keyakinannya.
"Selamat berjuang bro, semoga berhasil, dan semoga kamu dikasih kesabaran lebih untung menghadapi Tania," ucap Rainer memberi dukungan.
"Nanti kita jadiin makan siang bareng, sambil aku kenalin kamu sama pilihan aku," ajak Rainer sambil mengembangkan senyumnya.
"Wah wah wah, pacar kamu beda lagi emangnya? bener bener buaya," kekeh Raka.
"Sorry, dia bukan pacar aku, dia calon istri aku, biarpun dia belum ngakuin, tapi aku yakin dia yang aku pilih," begitu mantap Rainer mengatakannya tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Tante udah tau?," tanya Raka
"Belum, nanti aku kasih tau kalo udah waktunya," jawab Rainer dengan sedikit lesu.
__ADS_1
***
Happy reading 😊😊