Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 64. Ternyata bukan mimpi


__ADS_3

Saat Anna hilang kesadaran, semua merasa bingung, sulit mengartikan reaksi Anna yang sampai pingsan itu, bahkan pria yang telah resmi menjadi suami dari Anna pun merasa bingung, ia sempat berfikir, begitu bahagiakah Anna menikah dengan nya hingga ia pingsan begini.


Yah, saat ini yang telah berhasil meyakinkan pak Syaiful, ayah dari Anna itu adalah Rainer Nalendra putra, sulung dari Rudi Nalendra.


Semua orang menatap kepanikan Rainer yang berlebihan itu, dia terus saja mengelus pipi cantik Anna yang sudah dihias sempurna oleh MUA yang telah di pilihkan oleh Mamah Ros.


Kini, kamar Anna telah diisi oleh orang tua Anna dan orang tua Rainer termasuk adik mereka Ayu dan Tania, sedangkan tamu undangan dadakan yang terdiri dari tetangga terdekat, dan beberapa tamu yang dibawa oleh papah Rudi termasuk keluarga Firman pun sedang menikmati hidangan yang disiapkan oleh keluarga. Benar benar pernikahan yang mendadak dan serba cepat pengerjaannya.


"Sayang... bangun, jangan buat aku takut," lirih Rainer sambil terus memeluk tubuh lemas itu, dan jangan lupa sekali kali Rainer menciumi pipi gadis tak berdaya itu.


"Ish, dasar laki, ngga liat kondisi banget sih ka," umpat Tania melihat kelakuan Kakanya itu.


Rainer tak peduli dengan umpatan Tania yang merasa kesal dengan kelakuannya. Bukan bermaksud untuk memanfaatkan kesempatan, hanya saja Rainer sedang dalam kondisi khawatir dan rindu bercampur jadi satu.


"Rain, kayanya Anna berat mengetahui ternyata sekarang yang jadi calon suaminya kamu, bukan Firman," ucap papah Rudi menggoda.


Sejenak Rainer terhenyak dengan ucapan papahnya yang terdengar sedang mengusilinya itu, ia pandang wajah bapak mertuanya yang sedikit terkekeh mendengar godaan sang besan itu.


"Itu ngga bener kan Pak? Anna cinta ko sama Rainer," ucap Rainer kesal sekali pada bapaknya.


Rainer jadi ingat kejadian hari kemarin saat ia berusaha meyakinkan Pak Syaiful untuk membatalkan perjodohan Anna dengan Firman.


***


Flash back


Pada siang hari setelah kedatangan Rainer di pagi harinya, kedua orang tua Rainer telah tiba di kediaman keluarga Anna, menyusul anak anaknya yang sudah duluan berkumpul di desa yang indah ini.


Rainer pun sudah berhasil memulihkan tenaganya setelah semalaman melakukan perjalanan panjang hingga pagi hari, meskipun ceritanya dia beristirahat, tetapi tetap saja fikirannya terus berkecambuk memikirkan bagaimana caranya untuk menggagalkan rencana orang tua Anna untuk melangsungkan pertunangan anaknya itu.


Kini mereka tengah berkumpul di rumah pa Syaiful ayah dari Anna untuk membahas kelangsungan hidup Anna.


Kini, di ruangan lumayan besar tanpa adanya kursi di dalamnya ini, mereka duduk lesehan bersama dengan suka cita, awalnya masih mengobrolkan hal receh yang menyenangkan sembari saling memperkenalkan diri.


Keluarga dari Firman pun termasuk Firman sendiri ikut menghadiri perkumpulan ini. Yang tidak ada disini hanyalah Anna, Tania, dan Ayu, mereka sengaja diungsikan agar tidak mendengar apa yang akan mereka diskusikan.


"Baiklah, bapak ibu sekalian, mohon maaf jikalau kami menimbulkan kegaduhan ditengah rencana yang telah di buat oleh keluarga Pak Syaiful dan keluarga dari Pak Rustam selaku orang tua Nak Firman," ucap bapak Rudi.

__ADS_1


"Disini saya ingin menjelaskan kedatangan anak saya Rainer, dan termasuk kedatangan kami keluarga Nalendra, sengaja bermaksud ingin meminang Anna sebagai calon istri dari putra kami ini, sebenarnya saya pun bingung harus bagaimana, karena kondisinya adalah Anna pun saya dengar telah di jodohkan oleh bapak, tapi bukankah sebelum janur kuning melengkung dan belum ada khitbah yang terjadi, kami boleh mencoba peruntungan bukan pa?" tanya bapak sambil mempertegas niatnya.


Bapak dari Anna itu hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala, pertanda bahwa ia setuju dengan apa yang di ucapkan oleh pak Rudi sebagai ayah dari Rainer itu.


"Mohon maaf pak, saya tidak bisa menjawab iya ataupun tidak, karena saya sudah terlanjur berjanji pada sahabat saya pak Rustam, suatu saat ingin berbesan dan lebih mempererat persaudaraan kami," ucap Pak Syaiful sambil melirik pada sahabatnya Pak Rustam.


"Benar Pak Rudi, saya sangat ingin berbesanan dengan keluarga pak Rustam, karena kami tau betul bagaimana keluarga ini," ucap Pak Rustam semakin membuat Rainer kepanasan.


Bolehkah Rainer menggunakan caranya?, dengan cara mengancam keluarga ini? apa mungkin itu akan berhasil?. Tangan Rainer tak henti mengepal ingin menghancurkan apapun yang ada di hadapannya, tetapi kepalan itu terus dipegangi oleh Mamah Ros agar tak hilang kendali. Mamah tahu betul bagaimana tempramen anaknya, jadi sebisa mungkin mamah Ros menahan anaknya ini agar tidak berbuat bodoh.


Pak Syaiful sudah memahami gelagat Rainer dari tadi yang berusaha menahan emosinya, sebenarnya Bapak dari Anna itu tidak ingin ada di posisi saat ini, tapi harus bagaimana lagi, ia benar benar tidak ada pilihan lain lagi.


"Baiklah, saya akan memutuskan sekarang, akan jadi sulit bagi kalian karena ini akan menentukan kalian akan mundur atau maju," ucap bapak memberi peringatan.


"Putri sulung saya itu punya satu Prinsip yang tak pernah ia langgar sedikitpun dari mulai ia remaja hingga saat ini, dia tidak mau berpacaran, mungkin saja diapun akan menolak untuk bertunangan jika bukan karena permintaan saya sebagai bapaknya. Jadi saya akan menghormati prinsip anak saya itu."


Sejenak pak Syaiful menarik nafas untuk mempersiapkan diri untuk mengucapkan apa syarat yang akan diberikan pada kedua calon menantu nya itu.


"Jika kalian siap untuk langsung menikahi Anna, saat ini juga saya sebagai ayah dari Anna akan merestui," dengan yakin Pak Syaiful berucap.


"Saya akan tetap menikahi anak bapak, tapi tidak dalam waktu dekat ini pa," ucap firman.


"Apa maksud kamu Nak?" tanya pak Syaiful benar benar tidak faham dengan apa yang di katakan oleh pemuda berwajah kalem itu.


"Sebenarnya saya sudah memendam rasa ini pada ayu, sudah lama saya menunggunya, saya harap bapak mau menerima saya sebagai calon dari Ayu, meskipun usia kamu terpaut lumayan jauh, tapi insyallah saya akan menunggu sampai Ayu siap," ucap Firman dengan lantang.


Semua orang dibuat kaget dengan pernyataan Firman yang tak disangka itu. Terkhusus Pak Syaiful yang memandang sahabatnya begitu tak menyangka.


"Baiklah, nanti kita bahas keinginan Nak Firman," ucap Pak Syaiful yang di angguki oleh keluarga Firman yang juga ikut syok dengan penuturan putranya itu.


"Saya bersedia menikahi Anna detik ini juga," tak menunggu lama, dengan lantang dan penuh keyakinan Rainer berucap, tak lupa senyum kemenangan terhias di wajah tampannya, menyiratkan kelegaan yang tak terbendung itu.


"Alhamdulillah, bagaimana keluarga Nak Rainer tidak keberatan kah?" tanya pak Syaiful pada Pak Rudi yang menatap bangga pada anak sulungnya yang dulu kelewat Badung itu.


"Tentu saja saya sangat setuju Pak, ini suatu anugrah bagi kami sekeluarga," ucap Pak Rainer.


Sedangkan Mamah Ros langsung sibuk dengan ponselnya, menghubungi MUA langganannya, dan yang pasti semua yang dibutuhkan dalam menggelar acara perhelatan Rainer dan Anna yang awalnya acara pertunangan menjadi pernikahan itu.

__ADS_1


***


Flash back off


Semua kejadian kemarin yang membuatnya berdebar itu seperti mimpi bagi Rainer, begitu unik cara mendapatkan Anna hingga ia telah berhasil memiliki Anna menjadikan ia pendamping hidupnya. Semoga untuk selamanya.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Anna menunjukkan pergerakan, alisnya berkerut, dan tangannya bergerak sedikit demi sedikit, dan matanya mulai membuka perlahan.


"Sayang, kamu udah siuman?" ucap Rainer begitu bahagia sambil mengeratkan pelukannya dan mengelus pipi Anna dengan mesra.


Saat menyadari siapa yang ada didepannya Anna seketika terperanjat kaget, dengan refleks memundurkan tubuhnya.


"Kenapa sayang?" ucap Rainer heran dengan reaksi Anna.


"Beneran, Anna nyesel udah nikah sama kamu ka," kekeh Tania menggoda kakaknya yang sedang panik itu.


Seketika ingatan beberapa waktu yang lalu menghantam kepala Anna, menyadari sesuatu yang tak bisa ia percaya itu.


"Jadi, ini bukan mimpi? Beneran yang tadi ijab itu pak Rainer?" tanya Anna memandang lekat pada orang tuanya.


Kedua orang tua Anna hanya menganggukkan kepala, mereka sempat berfikir apakah Anna tak mau menikah dengan Rainer?.


Melihat kedua orang tuanya mengangguk tiba tiba Anna menangis yang benar benar tak bisa dibendung.


"Waaaaa, ya Allah, jadi ini bukan mimpi?" ucap Anna dalam tangisnya.


Tania langsung memeluk Anna sambil tak bisa menahan tawanya melihat wajah Kakanya yang merasa bingung itu.


"Sabar ya Anna, kamu udah jadi istri dari Kaka aku," goda Tania sambil terkekeh.


"Maksudnya apa?" tanya Rainer tak suka pada Tania, yang dibalas semakin terbahak oleh Tania.


***


Selamat ya bang Rainer... akhirnya udah sah aja ini.


Belum tamat ya... ditunggu part selanjutnya

__ADS_1


Happy reading 😉


__ADS_2