Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 103. Perkara makan


__ADS_3

Berjalan di taman pada malam hari ditemani semilir angin, bagaikan sedang memerankan adegan romantis dalam drama Korea. Dengan gaun yang dikenakan Anna sepulang menghadiri pernikahan dadakan adik iparnya.


Tangannya digandeng mesra bisa juga


mungkin posesif oleh suami tampan yang tak berhenti menebar senyum membuat setiap wanita yang berpapasan dengannya tersipu malu.


"Fiuh... ngeselin," gerutu Anna tiba tiba.


Padahal lagi asik gini, malah dirusak oleh suami yang tebar pesona, dasar mantan buaya emang.


Kesal juga ternyata jika ada wanita yang melirik suaminya. Segera Anna melepaskan genggaman Rainer, membuat tangan Rainer kosong dan merasa kehilangan.


"Sayang, kenapa cepet cepet sih?" tanya Rainer bingung tiba tiba Anna berjalan cepat meninggalkan dirinya.


"Tungguin... kenapa sih?" Rainer kembali meraih jemari istrinya dengan lembut dan rapat, menariknya hingga Anna tak bisa lagi melepasnya.


"Kenapa sih?" pertanyaannya diulang karena tak mendapatkan jawaban.


"Ngga apa apa, kamu kan lagi asik sama mba mba yang disana," gerutu Anna tak sadar dengan apa yang ia katakan.


Seketika ia menutup mulutnya, ia benar benar tak sadar telah mengatakan hal memalukan itu, menampakan bahwa ia tak suka Rainer berinteraksi dengan wanita manapun, ada apa dengan dirinya?.


Wajah Rainer berubah, binar matanya terlihat cerah. Ia sangat senang, ternyata istri kecilnya ini bisa juga cemburu.


Rainer cekikikan, terlihat tengil dan mengesalkan di hadapan Anna. Kini Anna cemberut, merajuk sambil menghentak hentakkan kakinya yang dibalut flat shoes cantik pemberian mertuanya. Serius Anna lagi kesel.

__ADS_1


"Iya maaf maaf sayang, tadi cuman senyum ramah aja, ngga ada maksud lain, serius," jawab Rainer membela diri, ditambah dengan jemarinya yang membentuk huruf v untuk lebih meyakinkan pembelaannya.


"Bodo amat," makin kesal saja Anna mendengar Rainer beralasan.


Anna kemudian berusaha melepas tangannya yang digenggam Rainer, namun gagal, Rainer malah memeluknya.


"Jangan marah sayang, Ngga ada yang paling cantik, ngga ada yang paling aku cinta ngga ada yang paling aku sayang, cuman kamu wanita dan istri aku, kamu ngga tau aku sebutin itu sama kamu?" tanya Rainer sambil menggesekkan hidungnya ke hidung Anna yang mungil.


Seketika wajah Anna langsung memanas dan bersemu merah menahan malu, apa benar apa yang dikatakan suami gombalnya itu. Ah sudah lah percaya saja, kalo ngga percaya takut dosa.


"Udah yu, kita cari makan, aku laper banget nih," ucap Rainer yang masih mengurung Anna dalam pelukannya.


"Makan lah, kan pak bos banyak uang." jawab Anna.


Sebenarnya Anna tak tega, Karena mengingat suaminya belum makan malam. Bahkan tadi siang entah kenapa Rainer seperti tak berselera makan di acara Tania, padahal makanan yang disuguhkan begitu menggugah selera, Anna saja mencoba semua stand makanan.


Sungguh aneh suaminya, tadi saja ngga mau makan, sudah jelas makanannya enak enak dan mewah, sekarang malah mau makan ayam goreng yang jualannya di pinggir jalan.


Saking terkejutnya dengan permintaan Rainer, Anna sampai lupa jika ia sedang kesal.


"Ya sudah ayo, tapi disitu antriannya panjang banget, pasti sekarang lagi penuh penuhnya, coba cari yang lain deh," ucap Anna berusaha membujuk.


"Nggak apa apa lama juga, aku tunggu."


Ya ampun...

__ADS_1


***


Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang Rainer inginkan. Nasi ayam pecel pinggir jalan dengan antrian yang didominasi oleh para karyawan yang baru pulang kerja, dan mahasiswa yang notabene kosannya dekat dengan penjual ayam ini.


"Tetep mau disini? panjang banget itu antriannya," tanya Anna meyakinkan suaminya.


"Ngga apa apa, yu turun, siapa tau udah ada meja yang kosong," ajak Rainer setelah berhasil menemukan tempat parkir untuk kendaraan yang ditungganginya.


"ok".


Saat masuk ke dalam tenda, beruntung ada meja yang telah kosong, tak menunggu lama Anna dan Rainer pun duduk bersebelahan. Namanya juga di pinggir jalan, terdengar suara bising dari kendaraan yang lalu-lalang, teriakan pembeli yang memesan, dan penjual yang melayani turut memeriahkan suasana.


"Pa, saya pesan ayam goreng yang paha, porsinya yang Merapi ya sama kasih kuah soto juga, istri saya samain aja nasinya porsi normal aja."


Rana melotot tak percaya, suaminya mau makan porsi Merapi yang seperti porsi kuli, dan dia tidak menanyakan apa yang mau Anna pesan.


Dan yang membuat Anna lebih takjub lagi, ternyata Rainer sudah tahu cara memesan disini padahal ini pertama kali mereka datang kesini.


"Semangat banget mau makan disini," tanya Anna.


"Ngga tau, pengennya kaya ngga tahan aja, apa aku ngidam ya hahaha ," seloroh Rainer membuat Anna tersedak dengan candaan garing Rainer.


"Mana ada laki laki ngidam, suka ngaco nih," jawab Anna tak percaya.


Rainer hanya menaikkan bahunya tak perduli, ia hanya terfokus dengan makanan yang sudah tersaji didepan mata yang begitu menggugah selera Rainer. Ia makan dengan lahap, sungguh luar biasa, baru pertama kali Anna melihat suaminya makan dengan bersemangat seperti itu.

__ADS_1


Melihat Rainer makan dengan begitu lahap begitu sangat menikmati, membuat Anna berkaca kaca entahlah, Anna seperti ingin menangis. Hanya lihat suaminya makan saja bisa bikin Anna menangi. Ada apa dengan dirinya? sebentar sebentar kesal, tak lama dia akan senang, tiba tiba bisa menangis dengan alasan yang sepele.


Apakah benar Anna ...?


__ADS_2