Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 78. Janji


__ADS_3

Kepanikan melanda Rianer saat mendapati Anna yang terus meringis kesakitan menampakkan wajahnya yang pucat pasi menahan nyeri di perutnya. Rainer terus berlari menggendong sang istri seperti tak memperdulikan rasa lelahnya berlari sambil menggendong sang istri.


"Tunggu sayang sebentar lagi kita sampai," ucap Rainer panik dan bergegas mendekati temanya yang berdiri tepat di depan pintu apartemennya.


Pria yang berstatus sebagai teman Rainer itu kebingungan menatap Rainer yang sedang menggendong seorang wanita yang belum ia ketahui siapa wanita yang digendong Rainer itu.


"Cepat masuk," perintah Rainer menyuruh sang pria membuka pintu yang mana ia sudah tau pasword pintu untuk masuk ke apartemen Rainer.


Lalu pria yang bernama Bayu itu membukakan pintu untuk Rainer yang terlihat kesulitan menggendong seorang wanita ditangannya itu. Mendapatkan akses dari Bayu, lalu Rainera langsung masuk menuju kamarnya, diikuti Bayu, Rainer kemudian merebahkan tubuh Anna diatas kasurnya dan memposisikan Anna senyaman mungkin.


"Bay, cepat periksa istriku, dia tiba tiba kesakitan tadi," ucap Rainer panik.


Bayu belum mempedulikan apa yang dikatakan oleh Rainer, dia hanya berfokus pada Anna yang terus meringis menahan sakit.


Bayu lalu segera memeriksa Anna, memegang perut Anna yang terus ditekan itu.


"Rain, tolong mundur dulu, beri aku ruang," ucap Bayu sambil memegang denyut nadi Anna.


"Jangan sentuh terlalu lama Bay," ancam Rainer, suaranya sedikit menggeram saat dengan leluasa Bayu menyentuh Anna.


"Aku ini dokter Rainer, tentu saja aku akan melakukan apapun yang diperlukan," sangkal Bayu yang tak suka mendengar temannya itu berfikir yang tidak tidak pada dirinya.


"Maaf nona, siapa nama anda?" tanya Bayu tanpa menghentikan pemeriksaannya.


"Panggil saya Anna, dokter," jawab Anna lirih.


" Oke Anna, Bagaimana saja rasa sakitnya?" tanya Bayu.


"Entahlah, ini seperti sakit saat saya akan datang bulan, tapi sekarnag rasanya nggak bisa ditahan dok, sangat sakit, sampai terasa melilit," ungkap Anna.


"Jika sakit, coba tarik nafas, lalu hembuskan perlahan," intruksi Bayu memberikan solusi untuk sedikit meredakan sakit perutnya.


"Apakah bulan ini kamu sudah mengalami menstruasi?" tanya Bayu.


"Belum diketahui," jawab Anna sambil terus berusaha menenangkan dirinya.

__ADS_1


"Baiklah, lebih baik kamu beristirahat saja, dan buat Kompress untuk perut agar meredakan sedikit sakitnya, aku akan resepkan obat penghilang sakit ya," ucap Bayu.


"Sebenarnya tidak ada tanda tanda berarti, hanya saja jika sakitnya tidak berkurang, lebih baik coba cek secara menyeluruh ke rumah sakit ya," saran Bayu yang langsung diangguki oleh Anna.


Setelah selesai dengan pemeriksaannya, kemudian Bayu menjauhi Anna yang akan memulai untuk beristirahat lalu menghampiri Rainer yang duduk tepat di sisi ranjang sambil memegangi kaki Anna dan sedikit memijatnya.


"Ayo kita bicara di luar Rain," ajak Bayu pada Rainer, lalu Bayu melangkahkan kaki mendahului Rainer keluar dari kamarnya dan menunggu diluar.


"Aku antar Bayu dulu ya sayang," ucap Rainer sambil mencoba mencium Anna, tapi nyatanya Anna menghindari kontak dengan Rainer dengan cara menutup tubuhnya sampai kepala dengan selimut karena kembali mengingat kemarahannya pada Rainer.


Mengalami penolakan dari Anna, Rainer kemudian menghela nafasnya berat, lalu mengusap kepala Anna yang tertutup oleh selimut itu.


***


"Kau serius dia adalah istrimu? sejak kapan kau menikah?" Bayu langsung memberondong Rainer dengan pertanyaan yang sejak tadi terus saja terpikir olehnya, Bayu seperti dipermainkan oleh teman sekaligus tetangganya itu.


"Menurutmu?" menjawab pertanyaan Bayu dengan pertanyaan lagi, membuat Bayu melotot tak percaya dengan pria tampan didepannya ini.


"Kau memaksanya? dia sampai sakit begitu?" ucap Bayu membesar besarkan keadaan Anna, nyatanya Anna hanya mengalami sesuatu yang memang sering terjadi pada wanita.


"Apa maksudmu?" tanya Rainer dengan khawatir.


"Dengarkan, jika memang dia istrimu, kau harus berhati hati, karena menurut pengakuannya, istrimu selalu mengalami hal seperti ini setiap datang bulan, terlebih sekarang," ucap Bayu menjelaskan keadaan yang dialami oleh Anna.


"Kemungkinan pemicunya adalah dia kelelahan dan mengalami tekanan, menyebabkan kondisinya saat ini lebih parah dibanding sebelumnya, tapi lebih baik coba kamu periksa secara menyeluruh saja istrimu agar tidak terlambat," lanjut Bayu kemudian meminum minuman kalengnya hingga tandas.


"Ok, aku mengerti," ucap Rainer sambil mengangguk nganggukkan kepalanya.


"Jangan membuat istrimu terlalu tertekan Rain," saran Bayu, ia melihat interaksi dari pasangan pengantin baru ini memang terlihat sedang bersitegang, nampak dari Anna yang enggan menatap suaminya.


"Hmmm," jawab Rainer, saat ini Rainer sedang malas menimpali temannya itu, Rainer sedang memikirkan bagaimana caranya agar Anna tak ngambek lagi padanya.


"Memangnya kapan kalian menikah, kenapa aku tak diundang?" tanya Bayu penasaran.


"Sekitar satu Minggu yang lalu, kami memang tidak mengundang siapapun," jawab Rainer yang ikut menyandarkan diri dengan nyaman di sofa.

__ADS_1


"Pantas saja istrimu begini, sepertinya dia menyesal menikah denganmu," gurau Bayu sambil terkekeh dan langsung mendapatkan lemparan kaleng kosong dari sang pemilik apartemen.


"Sialan, tak akan ada wanita yang menyesal menikah denganku," jawab Rainer jumawa.


"Cih, dasar narsis, ya sudah jaga istrimu, aku pergi," ucap Bayu.


Setelah kepergian Bayu, Rainer lalu pergi ke dapur membuatkan susu hangat untuk Anna terlebih dahulu sebelum ia masuk ke kamar.


"Sayang, sudah tidur?" tanya Rainer saat ia sudah dikamar dan duduk di sisi ranjang dekat dengan Anna sambil meletakkan susu yang ia buat di nakas.


Mendengar kedatangan Rainer, Anna semakin mengeratkan selimut yang menutupi kepalanya, berusaha tak memperdulikan suara Rainer yang memanggilnya.


Rainer mengetahui jika Anna masih belum tidur, sambil menghela nafas, ia kemudian ikut masuk kedalam selimut yang membungkus Anna dengan perlahan dan berusaha meraih tubuh Anna untuk ia peluk.


"Jangan sentuh aku," bentak Anna sambil menepis tangan Rainer yang berusaha meraih perutnya didalam sana.


Kini Anna sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, tidak terlalu merasa kesakitan, makanya dia sudah punya tenaga kembali untuk menolak sentuhan Rainer.


"Ayo kita bicara, aku akan mendengarkan apapun keluhanmu, dan berusaha mengabulkan apa maumu, hmmm" ucap Rainer mulai membujuk Anna dengan lembut.


Anna masih bertahan dengan kediamannya, dan masih berusaha menolak sentuhan yang berusaha dilakukan Rainer.


"Kamu tau sayang, seperti apa masa laluku, jadi tolong dampingi aku untuk berubah. Sebelum bertemu kamu, aku tak pernah berfikir untuk memiliki sebuah keluarga sendiri, bahkan aku tak pernah menginginkan seseorang seperti aku menginginkan kamu," lanjut Rainer sambil menatap lurus langit kamar, membayangkan betapa gilanya ia membayangkan saat dia akan kehilangan Anna kemarin.


"Jadi, aku tak mungkin akan menyakitimu sayang, apalagi dengan cara dekat dengan wanita lain, tak akan pernah," janji Rainer.


Mendengar itu, Anna langsung membalikkan tubuhnya menghadap Rainer, membuka selimut yang menutupi kepalanya, dan tangannya dengan kesal langsung memukul tangan Rainer dengan keras yang ada didepannya.


"Plak, dasar pembohong, kamu larang aku mendekati pria lain, tapi kamu dengan mudah bicara dan tertawa dengan wanita lain, apa itu bukan egois namanya," ucap Anna dengan kesal, suaranya sampai bergetar menahan tangis.


"Baru nikah seminggu, kamu sudah berani begitu padaku, bagaimana nanti? aku takut membayangkan kamu akan selingkuh dan menyakiti perasaanku," lanjut Anna yang mulai menangis tersedu sedu.


Rainer kemudian memeluk istrinya dengan sayang, berusaha meyakinkan kembali istrinya agar tak ragu pada dirinya, meskipun dulu dia sering berganti ganti pasangan, tapi Rainer tak pernah seyakin ini pada seorang wanita, makanya dia mau menikah dengan Anna.


"Tak akan pernah sayang, hanya kamu yang ada dalam hidup aku, tidak akan ada wanita lain, kecuali anak anak kita, hanya kita yang akan hidup bersama sampai maur memisahkan," janji Rainer dengan begitu yakin seperti ia berjanji pada dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Happy reading.


__ADS_2