
Tiba tiba menikah tanpa rencana dan terbayang sedikitpun tentu saja akan menimbulkan kebingungan tersendiri, apalagi ini di rencanakan dalam semalam. Bisa jadi akan menimbulkan kegaduhan dan pemikiran negatif untuk sebagian orang, dan itulah yang Anna pikirkan.
Bagaimana tanggapan orang orang sekitar terutama teman temannya di kota menanggapi pernikahannya yang mendadak itu. Apalagi orang orang kantor, sudah pasti mereka akan berfikir jika ada sesuatu yang terjadi pada Rainer yang membuat dia menikahi Anna begitu mendadak, mungkin saja.
Disaat Anna memikirkan dengan keras apa yang akan terjadi, Rainer malah santai saja menanggapinya. Malah dia akan sangat senang jika semua orang langsung tau, karena tak akan ada yang berani mendekati Anna saat ini.
Begitulah pola pikir laki laki, mereka lebih banyak memakai logika dibanding perasaan seperti halnya perempuan.
Kini mereka masih di sini, memandang Anna yang menundukkan kepalanya mendengar keputusan Rainer untuk tidak mempekerjakan Anna lagi.
"Mulai hari ini kamu dipecat Anna," ucap Rainer sambil melipat tangannya di dada.
Sejenak Anna memandang wajah suaminya itu tak percaya, lalu menundukkan kepalanya merasa kecewa dengan keputusan sang suami.
"Tentu saja menantu mamah nggak akan jadi cleaning service sayang, kamu bisa bekerja di bagian lain bukan," ucap mamah Ros memberi penghiburan pada menantunya.
Wajah Anna sejenak berbinar karena senang dia masih bisa bekerja.
"Tidak usah bekerja, Rainer masih sangat mampu membelikan apapun yang diinginkan dan dibutuhkan Anna, cukup Anna membereskan kuliahnya saja," tegas Rainer yang membuat hilang kembali binar kebahagiaan di wajah istrinya itu.
Melihat putri sulungnya murung, ibunya kemudian mengusap bahu Anna dengan lembut, sambil menatap menantunya yang sedang mendudukan diri di kursi tepat disampingnya Anna.
"Tidak usah tergesa gesa, kalian bisa diskusikan jalan tengahnya, kita hanya akan membahas resepsi yang akan di adakan 3 bulan lagi jika Nak Rainer setuju," ucap ibu.
"Tentu Bu, kalian bisa tentukan waktunya, biar nanti Arman yang akan membantu persiapannya," ucap Rainer.
Kini Anna masih tak puas dengan keputusan Rainer, ia mungkin akan bicara tentang keinginannya saat mereka sedang berdua saja.
***
"Bisakah aku tetap bekerja pa?," tanya Anna saat mereka sudah berdua di kamar Anna.
Mereka duduk diatas ranjang sambil berhadapan, dimana Rainer menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan Anna bersila tepat dihadapan Rainer sambil wajahnya tampak memohon untuk tak dipecat dari pekerjaannya.
"Tak bisa, aku tak mau kamu mengerjakan hal kasar," jawab Rainer dengan tegas.
"Baik, aku akan berhenti jadi cleaning service, dan akan ikut seleksi di divisi lain sesuai pendidikan Buku," keukeuh Anna memberikan pilihan yang lain.
"Ok, jadi sekertaris ku saja," pungkas Rainer menyeringai.
"Dan aku pastikan kamu selalu dalam pengawasanku," lanjut Rainer mendekatkan wajahnya tepat kehadapan Anna hingga hidung mereka beradu.
__ADS_1
Anna lalu memundurkan tubuhnya menjauhi posisi Rainer yang terlalu menggoda itu, tiba tiba wajah Anna memerah membayangkan bagaimana jika ia jadi sekertaris Rainer yang nyaris seharian bersama Rainer, apakah akan seperti adegan dalam novel novel online yang sering ia baca, apakah mungkin sevulgar itu? oh ya ampun. Bisa jadi hanya waktu kuliah saja mereka akan berpisah dan itu tidak lebih dari 3 jam.
"Tidak," jawab Anna dengan tegas.
"Tidak?, apa maksudnya tidak?" tanya Rainer.
"Sepertinya aku tak cocok jadi sekertaris, bidang ku bukan disana," jelas Anna.
"Jadi sekertaris suami sendiri sangat mudah sayang, tak usah melakukan hal sulit, cukup Arman saja akan mengerjakannya, kamu cukup urus aku saja, dan penuhi keinginanku saat aku ingin bersamamu dimana saja," ucap Rainer berbisik di telinga Anna yang membuatnya merinding.
Benar benar pria tampan yang sudah menjadi suaminya ini adalah seorang penggoda ulung, menyebalkan sekali.
"Pekerjaanmu bisa dimulai sekarang," ucap Rainer sambil menepuk nepuk pahanya meminta Anna untuk naik ke pangkuannya.
"Ayo kita latihan, sebelum kita bulan madu," ucap Rainer membuat wajah Anna kembali memerah.
"Bu-lan ma-du?" tanya Anna dengan kaget.
"Tentu saja, kita akan bulan madu, apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi sayang?" tanya Rainer sambil dengan sigap menarik tubuh Anna dan mendudukkannya di paha lalu memeluknya dengan mesra, tak lupa Rainer langsung memposisikan wajahnya berada di ceruk leher Anna lalu menghirup aroma segar dari tubuh Anna dan sesekali mengecup leher putih itu.
Mendapat perlakuan seperti itu tentu saja Anna langsung terperanjat kaget, belum terbiasa dengan sentuhan Rainer yang lembut, yang membuat sekujur tubuhnya menggila itu.
"Apa harus begini?" tanya Anna sambil berusaha menggeser tubuhnya dari pangkuan Rainer, berusaha keluar dari kuncian Rainer yang begitu erat itu.
"Membuat istri senang juga kan pahala Babe," ucap Anna berusaha membujuk Rainer.
Mendengar panggilan mesra dari istrinya membuat seringai itu muncul lagi, sepertinya akan menyenangkan memanfaatkan keadaan istrinya yang sedang bimbang ini.
"Ok sayang, kamu boleh ikut seleksi di divisi yang ingin kamu coba masuki, tapi dengan satu syarat," jelas Rainer mulai tangannya berkeliaran ke tempat yang dia inginkan.
"Apa syaratnya?" tanya Rainer.
Melihat seringai di wajah suaminya itu, Anna jadi punya firasat buruk, sepertinya tingkat kejahilan Rainer naik level satu tingkat, lebih ekstrim dan membuat Anna akan menikmatinya juga.
"Pertama, cium aku dengan mesra," ucap Rainer sambil terkekeh.
"Hanya sekali kan, itu mudah," ucap Anna jumawa.
"Jika cara ciumanmu salah, kau tak bisa melanjutkan ke tahap berikutnya," ucap Rainer. Sungguh suami yang memiliki banyak tipu muslihat.
"Ok," jawab Anna dengan semangat dan polos.
__ADS_1
"Tutup matamu," pinta Anna dengan percaya diri.
Lalu Rainer menutup matanya, dan Anna mulai membalikkan tubuhnya menghadap kepada suaminya.
"Cuman cium itu hal gampang," ucap Anna jumawa, ditanggapi dengan anggukan saja pura pura percaya oleh Rainer.
"Aku mulai ya," ucap Anna.
"Hmmm."
Anna pandangi terlebih dahulu wajah tampan suaminya, tak menyangka saat ini ia sudah sah jadi istri seorang Rainer, kemudian Anna mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Rainer.
"Cup," sangat singkat.
"Sudah," ucap Anna, lalu mengepalkan tangannya menikmati euforia keberhasilannya.
Rainer membuka matanya, dan melihat istrinya yang senang dengan sesuatu yang belum pasti keberhasilannya, sungguh lucu tingkah istrinya itu, Anna tak tau jika seleksi ini lebih sulit daripada seleksi masuk ke perusahaannya sekalipun.
"Itu bukan ciuman sayang, itu hanya kecupan, bahkan tidak pantas disebut kecupan," ucap Rainer memperlihatkan kekecewaan di wajahnya dengan kegagalan Anna, tapi nyatanya di hati Rainer sedang terbahak melihat istrinya yang langsung lemas mendengar hasilnya itu.
"Cari refrensi ciuman yang benar, jika masih belum memuaskan ku jangan harap kamu bisa ikut seleksi masuk ke perusahaan, jadilah istri yang baik yang menunggu suaminya pulang kerja, atau jadi sekertaris pribadi suamimu lebih mudah," pungkas Rainer lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
"Tidak !!! aku coba lagi ayo," pinta Anna memohon.
"Jangan sekarang, cari refrensi dulu, baru praktek denganku, aku beri waktu 3 hari, selama kamu belum berhasil jangan kemana mana kecuali ke kampus, karena kamu sudah di pecat sebagai cleaning service," pungkas Rainer lalu memejamkan matanya.
"Ish, sebel," ucap Anna lalu turun dari ranjang.
Tiba tiba tangan Anna ditarik ikut merebahkan diri di samping Rainer.
"Mau kemana?" tanya Rainer.
"Berkemas, kamu bilang besok kita pulang kan," jawab Anna dengan wajah yang ditekuk.
"Nanti saja, kita tidur lagi sekarang, atau mau lihat refrensi ciuman biar cepat lulus?" tanya Rainer menggoda.
***
Ya ampun Anna, buat apa sih kamu kerja lagi, kalo mau apa apa tinggal minta aja kan. ðŸ¤ðŸ¤
Enggak gitu juga ya, ada banyak orang yang ingin memiliki banyak pengalaman, dan bekerja adalah cara refreshing seorang ibu rumah tangga ditengah kesibukannya dalam mengurus rumah.
__ADS_1
Tapi tetep ya, yang paling utama adalah keluarga, apalagi anak. Terlepas dari itu, jika suami tak mengizinkan ya lebih baik di rumah saja insyaallah berkah hehe...
Happy reading 😊😊