
Beberapa minggu berlalu setelah pernikahan Tania dan Raka. Kini Anna sudah memulai pekerjaan barunya di perusahaan yang sama tetapi dengan posisi yang berbeda, menjadi magang di bagian perencanaan yang terasa luar biasa menyibukkan.
Sebagian petinggi di perusahaan telah mengetahui perihal pernikahan Anna dan Rainer, namun mengingat permintaan Anna pada Rainer bahwa ia tak ingin ada lagi yang tahu, maka mau tidak mau semua orang yang sudah tahu harus bungkam dengan status Anna. sedangkan status Rainer, sudah jelas ia sengaja mengumumkan bahwa statusnya saat ini sudah menikah.
Alasan mendasari ia melakukan ini sudah jelas bukan, bahwa Anna ingin menjalani pekerjaan barunya tanpa mendapatkan perlakuan spesial karena mengingat status barunya saat ini.
Anna ingin mendapatkan pengalaman dan ingin membuktikan bahwa ia pun mampu meningkatkan kualitas dirinya.
Dengan berat hati Rainer memenuhi permintaan Anna meskipun sebenarnya ia sangat ingin mengumumkan secara resmi siapa wanita beruntung yang berhasil ia nikahi.
***
"Anna, siapkan dokumen untuk presentasi," perintah Willy ketua tim perencanaan A.
"Baik pa," jawab Anna.
Dengan sigap ia menyiapkan semua yang diperlukan. Anna memang hanya sebagai magang di bagian perencanaan di tim Anda ini, tetapi ia pun diberi kesempatan untuk memberikan ide ide jika ada proyek yang sedang timnya kerjakan, bahkan sekarang ia menjadi asisten yang sengaja Willy tunjuk untuk membantu pekerjaannya. Anna menghandel semua pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, dari mulai mengatur agenda, mengumpulkan data, bahkan merapihkan segala yang perlu ia rapihkan. Terkesan seperti kacung, sangat melelahkan dan menyita waktunya, tapi Anna bersyukur, dengan begitu Anna bisa banyak belajar dari segala aspek.
Bahkan menurut Anna, Ini sangat bagus, Anna sangat bersemangat dengan apa yang dikerjakannya saat ini, Anna bisa dengan bebas mengeksplor dan mengasah kemampuannya.
Saking bersemangatnya dengan pekerjaan yang ia geluti saat ini, Anna hampir lupa bahwa ia sudah punya suami, yang setiap saat memperhatikan gerak geriknya dari CC TV yang suaminya pasang khusus di ruangan yang ditempati Anna.
"Sudah siap?" tanya Willy.
"Sudah pa," jawab Anna, ia kemudian keluar dari biliknya mengekori kemana arah Willy dan timnya akan tuju.
***
__ADS_1
Ruangan rapat kini telah dipenuhi team perencanaan yang diketuai oleh Willy. Setiap kursi yang memutari meja bundar menghadap ke proyektor itu telah terisi, mendengarkan materi yang dibawakan oleh Willy.
Rainer duduk berdampingan dengan Arman, menghadap audience yang sedang fokus memperhatikan pemaparan di depan mereka.
Tetapi kini, dimanakah fokus dari seorang Rainer sang pemimpin perusahaan?, Tentu saja memperhatikan anak gadis yang sudah tak gadis lagi di hadapannya, gadis magang yang sedang fokus memperhatikan apa yang di jelaskan oleh Willy. "Sungguh istri aku ini memang menawan," gumam Rainer terdengar samar oleh Arman sang asisten.
"Fokus pa," bisik Arman berusaha menarik fokus Rainer pada materi yang sedang dibawakan.
"Aku fokus," jawab Rainer sekenanya, ia memang fokus, tapi pada istrinya.
Bagi Rainer, benar benar mengesalkan berjarak dekat dengan Anna, tapi tak bisa memeluknya, bahkan bertemu langsung saja tidak, apalagi mengingat larangan Anna, sungguh Rainer tak berdaya.
"Sekian yang dapat saya sampaikan, sekian," ucap Willy menutup materi yang telah ia bawakan.
Sedikit pun fokus Anna tak terganggu, memperhatikan setiap apa yang dibawakan oleh Willy, bahkan kini mendengar Willy menutup materinya, Anna sigap dengan laptopnya, siapa tau ada masukan masukan dari rekan kerja yang lain termasuk dari pemimpin rapat hari ini untuk menyempurnakan konsep yang timnya buat.
"Secara garis besar, saya faham dengan konsep yang tim anda usung dan bisa dibilang konsep anda ini bisa direalisasikan, hanya butuh beberapa penyesuaian saja," puji Rainer membuat tim Willy bersuka cita mendengar pujian dari sang pemimpin perusahaan.
"Terimakasih pa," jawab Willy merasa bangga dengan apa yang timnya kerjakan.
"Berapa lama tim anda menyelesaikan perencanaan ini, dan siapa saja yang turut andil dalam pembuatannya, coba rinci sedetail mungkin, tolong drafnya siang ini sudah ada di meja kerja saya, nanti saya akan diskusikan dengan Arman," ucap Rainer.
Kemudian Arman segera berdiri untuk menutup pertemuan kali ini.
"Sekian rapat kali ini, terimakasih untuk kerja kerasnya," ucap Arman.
"Terimakasih pa," ucap semua yang ada di dalam ruangan rapat dengan serempak, mereka begitu bersuka cita kali ini karna mendapatkan respon yang baik dari Rainer.
__ADS_1
Tak hanya Willy dan timnya yang hadir pada rapat kali ini merasa senang dan berbangga, Anna pun begitu senang dan bangga karena untuk pertama kalinya dia turut andil dalam sebuah proyek, meskipun ia hanya mengerjakan hal yang ringan menurutnya.
Setelah sekian lama dalam ruangan, baru ia sadari jika suaminya tengah menatapnya dengan tajam dan seulas senyum yang menggoda. Buru buru ia memalingkan wajahnya takut ada yang menyadari jika ia tak sengaja bersitatap dengan sang pemimpin perusahaan.
"Dasar dia ini, ngga bisa apa dia kontrol matanya biar ngga ngeliatin terus," gerutu Anna dalam hati.
Kini peserta rapat hari ini telah berangsur angsur meninggalkan ruangan. Rainer pun ikut beranjak dari duduknya untuk meninggalkan ruang rapat, tapi Rainer sengaja mengakhirkan diri, sudah jelas dikarenakan Anna masih di ruangan unruk membereskan berkas berkas yang ia bawa dan sekaligus menemani Willy yang masih berada di ruangan.
"Kami permisi pa," pamit Willy pada Rainer dan Arman dan segera meninggalkan ruangan.
Tanpa Anna sadari, tiba tiba Willy meraih dan menarik tangan Anna, untuk ikut serta meninggalkan ruangan bersama dirinya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari pria lain di hadapan suaminya, tentu saja Anna kaget luar biasa. Mata Anna membulat tak percaya ada tangan yang lancang memegang jemarinya, tangan Willy melakukannya tanpa merasa berdosa. Ya Gusti, bakalan bencana ini.
"Maaf, saya bisa jalan sendiri," tolak Anna dan berusaha menarik tangannya.
"Ups sorry Na, kelepasan." jawab Willy sekenanya.
Sedangkan tepat di belakang Anna, perasaan Rainer kesal bukan main, bocah ingusan didepannya berani sekali menyentuh istrinya. Tangan Rainer mengepal dengan kuat seperti siap meninju bocah ingusan yang tak tau apa apa didepannya itu.
"Sabar bos, nanti nyonya kecil marah kalo bocah itu kena bogem anda," ucap Arman memperingatkan Rainer.
Memang benar, jika Rainer melakukan hal yang akan membuat terbongkar status Anna, sudah jelas istri kecilnya itu akan marah dan merajuk kembali bukan.
"Willy!, suruh Anna yang mengantarkan berkas perencanaan tadi ke ruangan saya, sekarang!!" ucap Rainer sedikit membentak.
Rainer lalu melewati Willy dan Anna dengan tergesa dan sedikit menghentakkan kakinya, tidak lupa dia menubruk bahu Anna lalu melirik sinis pada Anna.
__ADS_1
"Waduh, dia ngambek," gumam Anna dalam hati.