
Kenyataan bahwa rasa cinta memang sulit untuk dikendalikan. Ia datang pada siapapun dan kapanpun sesuai dengan kehendak yang maha pencipta. Mengalahkan logika yang seringkali bertanya, apakah dia pantas?, apakah dia mampu?. Jawabannya hanyalah, aku tak peduli, karena aku sudah jatuh cinta padanya.
Seandainya ada manusia yang terlihat bisa mengendalikannya, nyatanya cinta yang tak tergapai seringkali membuat jantung terasa diremas, mengakibatkan suram suasana hati, terkadang,membuat hampir gila.
Pada saat cinta datang menghantam dengan tiba tiba, terkadang manusia dibuat bingung dan kelimpungan menghadapinya. Adapula yang bisa berbuat nekat dan gila seperti apa yang dilakukan Raka dan Rainer.
***
Gadis yang sedang dilanda kesedihan dan kekecewaan itu berusaha menetralkan perasaannya, berharap suasana hatinya kembali seperti semula sebelum ia bertemu dengan Raka, pria tak berperasaan yang hanya memikirkan keinginannya sendiri itu.
Tania berjalan dengan langkah perlahan, menyusuri setiap sudut lorong yang akan menghantarkannya ke tempat dimana mamah dan Kakanya berada.
Di sudut lain, berjarak beberapa meter dibelakang keberadaan Tania, Raka mengikuti dengan terus menatap punggung gadis yang telah ia buat menangis lagi dengan aksi brutalnya.
Penyesalan memang terasa di dalam diri Raka, tapi dia merasa puas, karena merasa mendapatkan cukup jawaban atas pertanyaannya selama ini, apakah Tania masih mencintainya atau tidak?, dan jawabannya adalah, masih cinta, bahkan mungkin sangat cinta. Maka dari itu, tekatnya semakin bulat untuk segera mempersunting gadis pujaannya itu.
Terlihat Tania berhenti tepat di depan meja Arman sedang berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Sekilas Arman melirik keberadaan Tania, menelisik perubahan yang terjadi pada gadis ceria itu.
"Hai ka," sapa Tania sambil mendudukkan bokongnya di kursi tepat di samping Arman.
Sekarang terlihat jelas, mata dan hidung Tania sedikit memerah, dengan lipstik yang sedikit memudar dan riasan yang sudah tak sama seperti terakhir Arman melihatnya, yang paling jelas terlihat adalah, sorot mata yang sedikit sayu menandakan ada kejadian yang membuatnya bersedih.
Arman menghela nafasnya berat melihat keadaan gadis kecil yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu, kemudian ia sodorkan kopi yang belum sama sekali ia minum itu.
"Minum," titah Arman yang langsung diangguki oleh Tania.
Arman tau betul siapa Tania, bagaimana pergaulan Tania, siapa saja temannya bahkan tau bagaimana hubungan rumit yang terjadi antara Tania dan Raka.
Melihat keakrapan yang terjadi antara Tania dan Arman, langsung menimbulkan amarah yang tak tertahankan dari Raka. ia mengeratkan giginya sehingga terdengar menggeretuk dan mengepalkan tangannya dengan kuat seakan ingin meninju siapa saja yang berani mendekati gadisnya, berani sekali gadis pujaannya minum dari gelas yang sama dengan yang digunakan oleh Arman.
Matanya terus menyorot apapun gerakan yang dibuat oleh Tania, dan menatap Arman dengan sengit penuh dengan amarah.
Sedangkan yang ditatap sama sekali tak peduli dengan amarah yang terjadi pada Raka. Arman sudah lelah di curigai oleh Raka, dan sudah lelah melihat Tania terus dirundung kesedihan menghadapi kelakuan pria arogan itu.
"Jika sudah tenang, masuklah, Rainer dan Tante Ros sudah menunggu kalian," ucap Arman sambil meneruskan pekerjaannya.
"Oke... pulang Kaka kerja, temani aku jalan ya, sepertinya aku butuh curhat," pinta Tania yang dijawab dengan gumaman saja oleh Arman "Hmm."
Sedangkan Raka melewati mahluk yang mengacuhkan keberadaanya itu untuk masuk ke ruangan dimana tantenya dan Rainer berada.
__ADS_1
"Aku masuk ya ka," ucap Tania melangkahkan kakinya memasuki ruangan Rainer.
***
Saat masuk ke dalam ruangan, terlihat mamah dan Kakanya yang masih saja belum selesai dengan perdebatan mereka.
"Assalamualaikum," salam Tania.
"Waalaikum salam,"
Melihat kedatangan Tania, Mamah dan Kakanya itu menghentikan perdebatan mereka. lalu menatap keberadaan Tania.
"Udah makan siang?" tanya mamah.
"Belum, lagi ngga nafsu makan." jawab Tania.
Mamah Ros tak menyadari perubahan yang terjadi pada Tania, tapi Rainer langsung tau kemungkinan apa yang telah dilakukan oleh orang yang menjabat sebagai sahabat sekaligus calon adik iparnya itu.
Setelah melihat Tania, kemudian mata Raka beralih pada Raka yang terus memandangi kedatangan Tania, tanpa peduli siapa yang ada di sekitarnya.
Dalam hati, Rainer mengumpati sikap Raka yang cintanya terlalu gila pada adiknya itu. "Dasar pria kurang ajar, awas saja kalau kau menyakiti adikku," gumamnya dalam hati.
Rainer bukannya tak sayang pada Tania, tapi dia tau betul apa yang terjadi dimasa lalu. Tetapi dia terlanjur berjanji pada sahabat laknatnya itu untuk merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi pada Tania.
Rainer merasa prihatin dengan kisah cinta adiknya itu, untuk saat ini, dia hanya bertugas mengamati saja, tak bisa melakukan apa apa, karena ini masalah prinsip Tania. jadi biarkan saja Raka berjuang sendiri, untuk mengembalikan kepercayaan Tania kembali dengan caranya.
Sejenak Rainer memikirkan nasib percintaan adiknya yang rumit itu, sampai melupakan perdebatannya yang lumayan sengit dengan sang mamah.
"Ayo kita makan siang dulu, dan kamu Rainer, ajak gadis yang kamu bicarakan itu, mamah pengen liat, gadis seperti apa yang bisa menolak kamu," ucap mama Ros sambil mendudukkan dirinya tepat disamping Tania.
Lamunannya buyar seketika mendengar perintah dari mamahnya, lalu Rainer menarik nafasnya yang berat.
"Ajak saja ka, Tania yakin mamah akan suka pada Anna," ungkap Tania dengan yakin.
Mamah lalu melirik pada Tania dengan tatapan menyelidik. "Kamu sudah tau orangnya? kenapa ngga cerita sama mamah sih?" tanya mamah terdengar sedikit kecewa karena baru mengetahui bahwa anak sulungnya telah kalah telak oleh gadis sederhana yang menjabat sebagai cleaning service di kantornya itu.
"Tania ngga punya hak cerita lah mah, harus Kaka yang cerita sendiri sekalian minta restu kan," ucap Tania.
"Dan lagi, memangnya Anna udah nerima Kaka memangnya?" tanya Tania terdengar mengejek di telinga Rainer.
__ADS_1
Tangannya langsung melipat di dada dan matanya langsung menyorot tak suka pada Tania yang meragukan kemampuannya menaklukan seorang gadis.
"Jangan samakan Kaka dengan dia yang tak mampu menaklukan mu Tania, kakakmu ini mahluk yang tak punya celah untuk ditolak wanita manapun," ungkap Rainer dengan jumawa.
Sedangkan pria yang dimaksud Rainer hanya mendengus tak suka mendengar pernyataan Rainer, yang secara tidak disadarinya Raka mengakui betapa sulit mengembalikan kepercayaan Tania padanya.
"Cih, blagu," umpat Raka yang masih terdengar oleh telinga Rainer.
"Tapi, Tania yakin mah, Anna pasti dipaksa sama Kaka, soalnya keliatan banget kalo ketemu Kaka, Anna keliatan tertekan," ucap Tania yang ditanggapi kekehan renyah dari mamah.
"Ya jelas lah sayang, mana ada cewe baik dan polos kaya gitu mau sama cowok playboy kaya Kaka kamu, Mama rasa, Kirana lebih cocok sama Kaka kamu dibandingkan Anna yang katanya anak baik dan polos itu," ejek mamah sambil melirik sengit pada Rainer.
Rainer malah tersenyum bangga dengan apa yang dibicarakan mamah dan adiknya itu, Rainer merasa bangga hampir bisa mendapatkan Anna meskipun jalan yang ia lewati sedikit sulit tak seperti mendapatkan gadis yang lainnya. Catet ya, hampir, belum 💯% berhasil.
Di tempat yang lain, gadis yang dari tadi terus di bicarakan oleh anak dan ibu keluarga Nalendra itu, tak berhenti bersin bersin.
"Hacim hacim."
"Padahal aku ngga apa apa tadi, kenapa sekarang bersin bersin terus ya?" tanya Anna pada Ratih yang menjadi partner kerjanya hari ini.
"Kedinginan kali An, atau ada yang ngomongin kamu kayanya," ungkap Ratih dengan jawaban asalnya.
"Masa sih?" gumam Anna.
[Derrt derrt derrt]
Terasa getaran ponsel Anna, tanda ada pesan yang masuk ke aplikasi what's app nya.
[Sayang, aku tunggu di ruangan aku sekarang]
Melihat isi pesan yang masuk, Anna langsung bergidig ngeri. Bos pemaksanya kenapa jadi so romantis begini?, tiba tiba perasaan tidak enak menerpa, sepertinya akan terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui apa.
Anna tak langsung menjawab pesan yang di kirim oleh Rainer, ia lalu menutupnya dan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana dan melanjutkan pekerjaan kembali yang belum usia sejak tadi.
Sedangkan yang mengirim pesan, sedang duduk menahan kesal sambil di tatap lucu oleh orang orang yang menyaksikan tingkah Rainer.
"Kasian, ngga diakuin ayang, hahaha," ejek Tania dengan bahagia melihat kakaknya dengan di iringi tawa mamahnya yang puas melihat bujang Playboynya itu.
"Awas saja kamu sayang," ancam Rainer dalam hati.
__ADS_1
***
Happy reading 😊😉