
Kepura puraan adalah hal yang paling bodoh yang dilakukan manusia yang saling mencinta. Disaat Rainer mengatakan jika ia serius dengan perasaannya pada Anna, dengan bodohnya Anna menyangkal perasaannya pada Rainer, hingga memaksa Rainer menyerah untuk memperjuangkan cintanya.
Kini Rainer dengan terang terangan seperti menyatakan jika dia tak mempedulikan perasaan Anna, bahkan mungkin sengaja membuat Anna menyadari bahwa betapa sakitnya melihat Rainer dengan wanita lain. Jika sudah begini, apa yang bisa dilakukan Anna?.
Saat Rainer berlalu meninggalkan Anna tanpa menghiraukan dia sedikitpun, disinilah Anna, berdiri mematung dengan hati yang bagai tertusuk sembilu, betapa nyeri dan menyesakkan. Bahkan ia tak menyadari ada setitik mutiara yang terjatuh dari telaga yang biasanya berbinar menampakkan ketegaran itu.
"An... Kamu nggak apa apa?" tanya Ratih dengan khawatir.
Seketika Anna terbangun dari kebisuannya, dan baru menyadari bahwa ia menangis. Kemudian ia menetralkan perasaanya yang sesak dan mengusap pipinya yang baru saja dialiri setitik air mata dengan cepat, berharap Ratih tidak menyadari keadaannya.
"Hah? kenapa? aku baik baik aja, kenapa emangnya?" tanya Anna berusaha biasa saja dan mengabaikan apa yang sedang ia rasakan, menampakkan senyum yang dipaksakan dan hasilnya ialah Ratih melihat wajahnya yang menyedihkan.
Menyadari sahabatnya yang sedang tidak baik baik saja itu, kemudian Ratih menarik tangan Anna dan segera membawa Anna ke luar dari gedung perkantoran tersebut.
Mereka berjalan sedikit tergesa, mencari tempat nyaman untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, terutama hati Anna yang sedang dirundung kekesalan itu.
"Nggak apa apa An, cerita aja, aku sahabat kamu, ngga usah ada yang ditutup tutupi dari aku, aku tau banget kamu," ucap Ratih berharap Anna mau mencurahkan isi hatinya agar Anna mendapatkan kelegaan.
Mendapatkan pertanyaan sederhana itu, Anna benar benar Tah bisa menahan sesaknya lagi untuk saat ini. Tangisnya pecah tanpa aba aba, kedua tangannya menutup wajahnya dengan sempurna, berusaha menahan Isak tangisnya yang kian mendesak untuk keluar dari tadi.
Hatinya hancur, bukan karena rasa cemburu saja, tapi karena mengetahui jika ia tak punya hak untuk itu, tak punya hak untuk mengatakan keberatan jika Rainer berdekatan dengan wanita lain, tak bisa dengan lantang mengatakan bahwa ia pun merasakan cinta yang sama pada Rainer. Dan kini apa yang bisa ia lakukan? hanya menangisi ketidak berdayaan dirinya atas sikapnya yang tak bisa apa apa, menangisi sikap pengecutnya yang tak ingin mengambil resiko sakit di masa yang akan datang.
Cinta Rainer begitu mudah di artikan dan diucapkan, tapi cinta Anna begitu sulit di ungkapkan dan di sampaikan, dia hanya bisa merasakan sakitnya karena di halangi kepengecutannya.
Melihat temannya tergugu menangis tanpa bisa dihentikan, seketika Ratih memeluk tubuh mungil itu, menepuk punggung Anna dengan perlahan menyalurkan semangatnya untuk tetap bertahan dengan keadaan ini.
"Dengerin aku Anna, jangan memaksakan diri jika kamu ngga kuat, katakan saja apa yang kamu rasakan, jangan selalu dipendam, kita nggak akan tau takdir yang sedang menanti kita seperti apa, mengalir saja seperti air," nasehat Ratih dengan tetap menepuk punggung temannya itu.
Isakan Anna tak berhenti mendengar apa yang di ucapkan oleh Ratih, Anna malah semakin terisak, ia ingin melakukan apa yang Ratih katakan, tapi rasa takutnya lebih besar, Anna jadi ingat dengan orang tuanya di desa.
***
__ADS_1
Sementara itu, di ruangan CEO, kini Rainer sedang berusaja menyamankan duduknya sambil memandang tak suka pada wanita yang berdiri tepat di hadapannya dengan senyum menjijikan yang bertujuan untuk menggoda pria tampan yang sedang dirundung patah hati itu.
Jika sebelumnya Rainer akan langsung merespon wanita cantik manapun yang mendekatinya tanpa basa basi, namun kini, rasa tak nyaman selalu menghinggapi dirinya dikala ada wanita yang dengan terang terangan menggodanya.
Bahkan Rainer memperlihatkan ketidak sukaannya dengan kehadiran Karina, padahal apa salah Karina? dia hanya wanita yang kebetulan saja tertarik magnet kesempurnaan yang dimiliki oleh Rainer.
"Kamu kenapa Rainer? ada yang salah dengan pakaian ku? sepertinya ada yang aneh dengan cara kamu memandangku," ucap Karina ragu ragu.
Rainer hanya menatap Karina tanpa ekspresi, datar dan tanpa binar kekaguman sedikitpun.
"Ada keperluan apa kamu kesini?" tanya Rainer tanpa basa basi.
Seketika rasa heran menghinggapi diri Karina, terlintas pertanyaan pada benak Karina, apa yang terjadi pada pria tampan yang suka menggoda wanita ini, sebelumnya dia begitu menggairahkan membuat Karina berasumsi jika Rainer pun menginginkan dirinya. Sikapnya sangat berbeda dengan saat pertama kali mereka bertemu di acara makan malam keluarga beberapa Minggu lalu di kediaman Nalendra, Rainer bahkan tak ragu mencium dirinya. Tapi kini, bahkan menyentuhnya saja tak mau.
"Tentu saja aku ingin menagih janjimu sayang, bukankah kita akan berlibur bersama seperti janjimu saat kita makan malam tempo hari?" ungkap Karina.
Sejenak Rainer tersenyum sinis dengan matanya yang terus menyelidik tak suka mendengar perkataan wanita seksi didepannya ini.
Rainer pun jadi mengingat bahwa betapa menjijikkannya kelakuan dirinya dulu, kenapa baru sekarang menyadari bahwa dia terlalu tak peduli dengan perasaan wanita wanita yang ia permainkan.
"Aku berharap kau akan mendapatkan pria yang mencintaimu, seperti aku yang telah mencintai gadis lain," lanjut Rainer.
Mendengar perkataan pria toan nan kaya ini, seketika Karina memasang wajah kecewa dan marah, semudah itu Rainer berubah sebelum dia bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkan hati Rainer.
"Apakah wanita itu yang tadi kita temui dibawah," tanya Karina dengan mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
"Siapapun wanita itu, bukan urusanmu, yang pasti, aku sedang berjuangendapagkannya saat ini," tegas Rainer.
"Baiklah, aku mengerti, tapi sebagai gantinya untuk terakhir kali, temani aku makan malam Rainer, bukankah kita bisa menjadi teman meskipun aku tak bisa memilikimu?" tanya Karina.
"Aku tak bisa berjanji, kita lihat saja nanti," ucap Rainer.
__ADS_1
"Baiklah kalo begitu, aku tak akan mengganggu pekerjaanmu, aku akan pulang," ucap Karina.
"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai ke mobilmu."
Saat ini, Rainer memang tak ingin kembali menyakiti siapapun, rasanya dia seperti telah mendapatkan karma, baginya segitu menyakitkan saat hatinya merasa dipermainkan seperti sekarang, mungkin saja wanita wanita yang sebelumnya Rainer permainkan pun merasakan hal yang lebih dari yang ia rasakan sekarang, begitupun dengan Karina.
Tanpa Rainer sadari, ternyata Karina memendam kemarahan yang teramat, karena telah menerima penolakan dari pria yang telah ia incar sejak lama itu.
***
Kini Rainer telah di sini, berdiri dan membukakan pintu mobil Karina dan mempersilahkan yang empunya mobil untuk masuk kedalam mobilnya. Bukan bermaksud untuk romantis atau memberikan perhatian pada Karina, tetapi hanya atas dasar rasa bersalah saja karena ia telah menorehkan kekecewaan pada hati wanita yang tak tau apa apa itu menurut versinya.
"Makasih ya, meskipun kamu ngga milik aku, tapi aku mau kita tetep jadi teman baik," ucap Karina. Dengan cepat Karina memeluk tubuh kekar nan seksi itu, dan mencium pipinya dengan mesra. Rainer memang kaget dengan aksi yang dilakukan Karina, tapi ia membiarkannya saja tanpa berniat untuk menghindar, ia berfikir mungkin tidak apa jika hanya untuk yang terakhir saja.
Tak disangka, di belakang sana Anna yang baru saja bisa menenangkan hatinya dengan dibantu oleh Ratih, sedang berdiri menyaksikan dua mahluk yang begitu mesra itu.
Sejenak akan sehat Anna menghilang dan amarahpun memuncak seketika, apalagi dengan jahil Ratih malah memanas manasi Anna yang sedang dipuncak kemarahannya itu.
" Jangan membuang air matamu demi pria Anna, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, masalah apa yang akan terjadi biarkan Allah yang mengatur," ucap Ratih memancing reaksi yang akan terjadi pada Anna.
beberapa detik berikutnya, mobil Kirana telah melaju meninggalkan Rainer yang memandang kepergiannya, lalu Anna berjalan menghampiri Rainer yang mematung kala menyadari Anna berada di sana.
Rainer berusaha menetralkan perasaanya sekarang karena keberadaan Anna, mungkin ia hawatir melihat ekspresi Anna yang tidak seperti sebelumnya, kini Anna terlihat marah, berjalan menghampirinya dengan matanya yang terus menyorot padanya, saat Anna telah mendekat padanya, secara sefleka Rainer sedikit memundurkan langkahnya tapi Anna terus saja mendekat, tanpa aba aba, Anna langsung mengayunkan tangannya pada pipi Rainer.
"Plak..." suara tamparan itu begitu keras, dan Rainer terlihat kaget merasa tidak menyangka jika Anna akan melakukan hal itu padanya.
"Dasar laki laki brengsek, kau bilang menganggapmu sebagai calon istrimu, tapi kau malah berani berciuman dengan wanita lain,"
Mendengar umpatan Anna pada dirinya, Rainer bukannya marah, ia malah menyunggingkan senyumnya dan bergumam dalam hati, "Ya tuhan, akhirnya kamu lakukan ini." Begitu bahagianya Rainer karena mendapatkan tamparan dari gadis yang telah menyatakan protes padanya ini.
***
__ADS_1
Lanjut....
happy readingš