
"Anna pulang dengan saya, jika kamu mau pulang silahkan," Ucap Rainer pada Willy.
Pemuda yang senantiasa setia menunggu kedatangan Anna yang dari sore tadi belum juga kembali itu terhenyak kager melihat kedatangan Anna. Ia tak sendiri, di antar pemimpin perusahaan ini. Willy hanya diam, tak bergeming melihat tangan besar Rainer menggandeng tangan Anna dengan mesra.
Setelah sampai di biliknya, Anna kemudian bergegas membereskan barang barangnya dan tak menunggu lama bersiap untuk pulang.
"Maaf anda lama menunggu pak Willy, saya pulang bareng suami saya, terimakasih udah mau nungguin ya," ucap Anna tak enak hati pada Willy, menganggukan kepalanya lalu melewati Willy.
Tak sampai disitu, aksi Rainer membuat Anna tercengang dan tak menyangka, padahal sudah Anna sematkan kata suami pada pamitan kali ini dengan Willy.
"Maaf Wil, kamu boleh dekati siapapun, tapi jangan yang ini, dia istri saya," ucap Rainer sambil menepuk bahu Willy yang sedang menunduk, lalu beranjak pergi mengikuti Anna yang telah berjalan melewatinya.
Willy syok mendengar kenyataan ini, tak menyangka gadis kecil yang sejak pertama kali bertemu langsung suka itu, ternyata sudah bersuami, dan suaminya adalah pemimpin perusahaan ini, sungguh miris sekali.
Sebenarnya, setelah Anna mendapati pesan dari Willy, ia sudah ingin membalas pesannya, mengatakan bahwa Willy tak usah menunggunya. Tapi sungguh diluar ekspektasi, Rainer langsung mengambil ponsel Anna, tak memberinya kesempatan untuk menuliskan pesan yang akan ia kirim pada Willy, Malah langsung menggandeng tangan kecilnya, mengantar dirinya untuk mengambil barang barang Anna di ruangannya.
Sungguh tak disangka, ada niat terselubung yang menurut Anna itu keterlaluan, tapi apa daya, itu memang hak Rainer melakukannya, dan Anna hanya perlu menuruti apa yang dikehendaki sang suami.
***
Apalah arti sebuah pengakuan, berjanji jika akan setia sampai akhir hayat tidaklah cukup bagi seorang Rainer, ia butuh sebuah pengakuan dari Anna, pengakuan bahwa ia telah dimiliki seorang Rainer.
Sedangkan Anna, terlalu santai menanggapi ketidak sukaan Rainer, terutama terhadap teritorial seorang Rainer yang berani orang lain usik, yaitu dirinya.
"Ya sudah ok," ucap Anna tak tahan didiamkan oleh Rainer setelah ia kembali dari kantor.
Dari tadi sore hingga malam suntuk seperti ini, Rainer tak beranjak dari ruang TV, memindahkan saluran tanpa henti sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan malas.
Mendengar suara Anna yang dari tadi duduk menemaninya tanpa suara, berharap Rainer mengatakan sesuatu, hanya melirik tak bernafsu, tanpa berniat memberi jawaban.
__ADS_1
Melihat respon Rainer, seketika Anna merasa lelah, ternyata suaminya ini pintar sekali merajuk, perlahan ia menggeser tubuhnya, meletakan kepalanya di paha sang suami, berharap kemarahannya mereda.
"Aku ngga akan nutupin lagi, terserah kamu deh," ucap Anna mendusel kepalanya pada perut Rainer.
Melihat tingkah Anna yang terkesan lebih manja itu, Rainer baru bisa tersenyum. Kini Iris mata yang dari tadi terlihat kesal itu, sekarang sudah berbinar lagi. Dengan sayang ia mengusap lembut kening Anna, menyingkirkan rambut yang nyaris menutupi wajah Anna.
"Beneran, besok ke kantor jadi ngga usah misah lagi masuk kantornya ya," ucap Rainer menegaskan.
"Hanya itu? ngga ada yang lain?" tanya Anna memastikan.
"Ada lagi, makan siang bareng, boleh aku jemput ke ruangan kamu, aku umumin di setiap ruangan kalo kamu istri aku, boleh?" tanya Rainer seperti belum puas.
"Ya ampun, ya udah iya, jadi udah kan ngambeknya" jawab Anna sudah tak peduli dengan nasib pekerjaannya di kantor esok hari. Ternyata Anna lebih tak tahan didiamkan oleh Rainer.
"Iya udah," jawab Rainer dengan yakin.
Sebenarnya Rainer agak heran, biasanya Anna tak pernah semanja ini, biasanya Anna terkesan mandiri, dan yang suka manja biasanya dirinya, tapi sekarang Anna terlihat lebih menggemaskan, setiap Rainer sedang duduk pasti selalu nempel pada dirinya, minta dipeluk dan minta diusap kepalanya.
"Masa sih?" tanya Anna sambil menyentuh dagunya seperti sedang berfikir.
"Iya banget, tapi aku makin suka," ucap Rainer.
Anna hanya terkekeh, senang melihat senyum Rainer yang sudah nampak lagi tak malu malu. Anna lalu mengecup bibir Rainer yang tampak lebih menggoda bagi dirinya itu.
Mendapatkan serangan mendadak itu, tentu saja Rayner tak menunggu waktu untuk membalasnya, jika sudah seperti ini sudah jelas, nalurinya sebagai seorang pria merasa berbahagia disuguhi makan malam yang nikmat, tak akan ia sia siakan, mubazir.
Dan kegiatan yang membuat gerah itu terjadi di ruang TV, diatas sofa yang terbatas ruangnya, disaksikan Chanel TV yang menampilkan pertandingan badminton Indonesia melawan Malaysia. Ya sudah lah suka suka mereka saja.
***
__ADS_1
"Uwek... uwek... uwek."
Sejak pagi tadi, saat Anna baru bangun. Anna sudah mondar mandir ke kamar mandi, bahkan kini ia terduduk lemas disamping closet, memuntahkan apapun yang ada dalam perutnya, sunggung mual yang ia rasakan tak juga mereda padahal ia sudah di kamar mandi sekitar 15 menit.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rainer khawatir mendengar keadaan istrinya itu, terlihat tak berdaya.
Dengan telaten, Rainer memijat tengkuk Anna berharap mual yang Anna rasakan mereda.
"Udah, makasih," ucap Anna terdengar bergetar menahan lemas yang disebabkan oleh muntah muntah hebatnya.
"Ngga usah ke kantor ya, kita ke dokter dulu," ucap Rainer sambil memapah sang istri naik ke ranjang lagi.
Anna tak ada tenaga untuk menolak, ia hanya menganggukkan kepalanya lalu menarik Rainer untuk ia peluk, Anna butuh Rainer menemaninya saat ini, badannya terasa begitu lemas.
Rainer sudah membuatkan air jahe untuk Anna, berharap bisa membantu meredakan mualnya.
"Man, rapat hari ini undur jadwalnya, saya ngga ke kantor hari ini, dan kasih tau Tomi, hari ini Anna izin tak masuk kantor," ucap Rainer dalam sambungan telpon bersama Arman.
"Kenapa Anna?," sebait pertanyaan yang terdengar khawatir Arman sampaikan.
"Ngga tau, muntah muntah terus dari tadi, makanya kita mau ke dokter hari ini," jawab Rainer lalu memutus sambungan telpon setelah terdengar suara 'OK'.
***
"Tuh lihat udah ada kantungnya, Selamat ya, sebentar lagi pak Rainer akan jadi Ayah, usia kehamilannya baru menginjak 6 Minggu, dijaga makan dan istirahat istrinya ya," ucap dokter Prita.
Sebaris informasi yang diucapkan dokter cantik yang sedang menunjukkan adanya kehidupan dalam perut Anna di dalam layar USG itu, membuat Rainer bahagia bukan kepalang, matanya berkaca-kaca tak bisa menahan buncahan bahagia.
"Beneran dok? Alhamdulillah," ucap syukur Rainer, meremas jemari Anna yang sejak tadi ia genggam.
__ADS_1
"Makasih sayang, itu anak kita," ucap Rainer mengecup kening sang istri yang sama bahagianya dengan Rainer.