Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 96. Perasaan yang berbeda


__ADS_3

Pagi menjelang begitu indah, kini Anna dan Rainer sudah berkutat di dapur untuk membuat sarapannya hari ini, sebenarnya yang berkutat di dapur Anna saja, Rainer hanya berperan sebagai penghangat saja yang terus menempel pada punggung Anna.


Romantisnya Rainer belum menghilang hingga pagi ini, sampai Anna dibuat luar biasa heran, mengapa Rainer sepagi ini sudah bangun, padahal yang Anna tahu jika Rainer tidur begitu larut.


Semalam Rainer tidak langsung tidur seperti Anna setelah mereka menyelesaikan kegaduhan dikamar mandi, ia kembali berkutat dengan laptopnya, membuka beberapa email yang masuk dan mulai menganalisa laporan yang minta segera dikerjakakan oleh dirinya karena pagi ini akan dipakai untuk bahan meeting bersama kliennya.


Tidak lama Anna bangun, Rainer pun ikut bangun, mengikuti Anna ke dapur untuk membuat sarapan.


"Biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku be, kamu mandi sana," titah Anna pada Rainer yang betah menempel memeluk perut Anna sambil menyimpan dagunya tepat dibahu Anna yang sedang sibuk mengiris bawang untuk membuat nasi goreng.


"Aku takut kamu akan kesepian sayang, jadi aku temani kamu," jawab Rainer asal yang semakin erat memeluk Anna.


"Ish, aku jadi susah gerak ini," gerutu Anna.


"Benarkah," jawab Rainer konyol lalu mencium gemas pipi sang istri.


"Ya sudah, aku mandi dulu ya," ucap Rainer melepaskan pelukannya dengan berat hati kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah beberapa menit menyelesaikan mandinya kini Rainer telah siap dengan penampilannya yang sempurna dengan bajunya yang rapih, rambutnya sudah di tata sedemikian rupa menambah ketampanannya berkali lipat, dan jangan lupa iapun menyemprotkan parfum mahalnya yang beraroma maskulin makin menjerit saja para gadis yang melihat dirinya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya membuat sarapan, Anna kemudian menyusul sang suami ke kamar untuk memastikan bahwa jika suaminya memerlukan sesuatu, dan benar saja kini Rainer menunggunya untuk memasangkan dasinya.


"Sayang, tolong pasangkan ya," pinta Rainer sambil masih memperhatikan rambutnya yang baru ia tata.


Anna kemudian mendekat dan meraih dasi yang berada tepat di atas kasur, kemudian meminta Rainer sedikit menunduk guna mensejajarkan tubuhnya.


"Wangi banget sih," ucap Anna sambil menelisik wajah suaminya yang sudah begitu segar.


"Benakah? padahal ini parfum yang biasanya, baru sadar kalo ini wangi," jawab Rainer sambil menyelam hidung mungil sang istri.


"Hari ini aku mau ke rumah mamah, sambil nungguin telpon, aku berhasil atau engga keterima," gumam Anna sambil dengan cekatan tangannya memasangkan dasi di leher Rainer.


"Baiklah, jika tidak lolos seleksi, kamu langsung jadi sekertaris aku aja ya," jawab Rainer keukeuh dengan keinginannya untuk menjadikan istrinya sekertaris pribadinya.


"Ish, keukeuh banget sih," jawab Anna dengan gemas.


"Ya biar kamu bisa terus mantau aku setiap saat," jawab Rainer beralasan.

__ADS_1


"Bukan sebaliknya? biar kamu bisa memantau aku setiap saat," sanggah Anna sambil memicingkan matanya merasa yakin akan apa yang ia katakan.


Mendengar penuturan sang istri, Rainer kemudian terkekeh dengan renyah, lalu meraih wajah sang istri dengan gemas mengecupnya sekilas.


"Udah yu, ayo kita sarapan, aku anterin kamu dulu ke rumah mamah baru ke kantor,"ucap Rainer merangkul bahu sang istri dan mengajaknya ke ruang makan.


Setelah selesai sarapan, Rainer kemudian mengantar Anna menuju rumah keluarga Nalendra untuk sekedar berkunjung, baru setelah itu Rainer pergi ke kantor.


Sampai di kediaman Nalendra, mobil yang ditumpangi oleh Anna dan Rainer berhenti tepat di depan gerbang tinggi berwarna putih, satpam penjaga rumah keluarga ini langsung membuka gerbang tersebut saat mengetahui jika yang datang adalah salah satu majikannya.


"Aku langsung ke kantor ya, nanti sore aku jemput," ucap Rainer.


"Nggak mau nyapa mamah dulu?" tanya Anna sambil meraih tangan suaminya lalu ia kecup.


"Enggak, aku udah telat," Rainer membalas Anna dengan mengecup dahi dan bibir Anna sekilas lalu baru Anna keluar dari mobil dan melambai untuk berpisah dengan Rainer.


"Hati hati di jalan ya."


Mobil Rainer pun berlalu meninggalkan kediaman Nalendra.


Setelah memastikan jika suaminya telah pergi, Anna kemudian menyempatkan diri untuk menyapa satpam rumah ini dan langsung masuk menuju tempat dimana Tania dan mertuanya berada.


"Waalaikum salam, sayang kamu sudah datang?" tanya mamah begitu senang dengan kedatangan Anna.


Saat ini di rumah kediaman Nalendra sedang lumayan banyak orang. Mereka adalah para crew dari IO yang akan menangani acara pertunangan resmi Raka dan Tania.


"Kamu harus ngasih saran buat acara penting ini," ucap mamah Ros yang begitu antusias dengan perhelatan yang akan dilaksanakan.


Anna lalu ikut duduk tepat di samping mamah Ros.


Meskipun mamah mengatakan begitu, tapi pada kenyataannya Anna hanya menyimak diskusi alot yang mereka lakukan tanpa bisa ia memberikan saran yang berarti, Anna benar benar tak paham.


Sedangkan Tania yang diharapkan ada disana, tapi nyatanya tak terlihat batang hidungnya.


Saat ini Tania malah tertidur pulas dikamarnya, ia sedang merasa stres dan merasa tak percaya akan benar benar bertunangan dengan Raka.


"Baiklah Bu, kami akan memulai dekorasi rumah ini satu Minggu lagi ya, semoga acaranya lancar," ucap salah satu crew yang akan mendekorasi rumah kediaman keluarga Nalendra itu.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih ya atas waktu kalian," ucap mamah ramah menutup diskusi alot yang telah ia lakukan dari semalam.


Tak lama, para crew IO ini berpamitan untuk kembali ke kantornya, meninggalkan keluarga Nalendra.


"Jadi acara pertunangan Tania satu minggu lagi mah?" tanya Anna.


"Hmmm, dan Tania dari semalam uring-uringan hahaha," gelak mamah mengingat tingkah anak gadisnya yang terus terusan diuber oleh sang calon.


"Kenapa uring uringan mah?" tanya Anna tak mengerti.


"Sepertinya Tania mulai ragu lagi, bisa jadi dia belum siap nikah kayanya," ucap mamah Ros masih terkekeh.


Anna hanya mengangguk saja menanggapi mamah Ros yang sedang begitu bahagia, ia benar benar sudah menganggap mertuanya ini seperti ibunya sendiri, begitupun sebaliknya, mamah Ros pun sudah menganggap Anna seperti anaknya sendiri.


"Mah, Anna ke kamar Tania dulu ya," pamit Anna ingin melihat Tania.


"Enggak mau sarapan dulu? mamah belum sempat sarapan soalnya," ajak mamah.


"Udah sarapan tadi," tolak Anna.


"Ya udah mamah sarapan dulu, tolong bangunin Tania, suruh dia siap siap kita ke butik," pinta mamah.


Sampai di kamar Tania, Anna kemudian mengetuk kamar Tania sebelum ia masuk. Memang kamar Tania tidak pernah dikunci, tapi bukankah tak sopan jika dia tiba tiba masuk dan mengagetkan penghuni kamar.


"Tania, kamu udah bangun belum?" tanya Anna setelah mengetuk pintu.


"Masuk An," jawab Tania terdengar menyahuti panggilan Anna.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Tania, barulah Anna berani membuka pintu kamar Tania yang masih tertutup itu lalu masuk dengan perlahan.


"Ya ampun, kamu ngapain jam segini masih tidur, mamah ngajakin ke butik tuh, cepetan bangun," ajak Anna yang kemudian ikut naik ke kasur.


"Males ah," jawab Tania.


"Ko males sih, ada masalah lagi kamu sama Raka?" tanya Anna penasaran.


"Keraguan aku nggak hilang hilang sama Raka, tapi keluarga aku terus aja maksa buat cepet diresmiin" keluh Tania.

__ADS_1


"Aku kira, kalo kamu nurut sama orang tua, pasti kebahagiaan kamu akan terjamin Tan, yakin aja, insyaallah orang tua kita lebih mengerti bagaimana memilih orang yang tepat untuk kita" jawab Tania meyakinkan Tania.


"Ya sudah ngga usah dipikirin, ayo mandi, ganti baju kita jalan sama mamah," bujuk Anna sambil menarik tubuh lunglai Tania yang masih tertutup oleh selimut hangatnya itu.


__ADS_2