
Setelah usai menyelesaikan pekerjaannya, Anna bergegas menyusul keberadaan Tania yang sedang menunggunya di pantri. Terlihat kini Tania sedang asik berbincang dengan Ratih dan Melly, mereka benar benar akrab. Tak terlihat jika Tania adalah anak dari pemilik perusahaan yang telah mempekerjakan mereka. Bahkan Tania tak ada niatan untuk memberi tahu jika dia adalah anak dari pemilik perusahaan ini. Sungguh orang kaya yang rendah hati.
Anna kemudian bergabung dengan teman temannya, yang sedang asik mengobrol sambil memakan camilan yang sengaja Tania bawa itu.
"Mba Tania kok ada disini?," tanya Ratih penasaran dengan keberadaan gadis yang sebelumnya pernah terlihat bersama Rainer itu.
"Mampir aja pengen ketemu Anna, dan sekalian nanti aku juga kan mau ngelamar kerja disini," ucap Tania.
Ratih dan Anna tahu jika Tania adalah adik dari Rainer dan sudah pasti adalah anak dari pemilik perusahaan yang mempekerjakan mereka disini.
"Ngapain ngelamar sih mba, tinggal minta aja sama orang tua mba Tania, jadi wakil direktur gitu," canda Ratih.
"Ieh, males banget jadi wakil direktur, aku lebih suka jadi staf aja, kalo jadi wakil direktur bisa bisa aku tiap hari pulang malem kaya ka Rainer, nanti nggak bisa nongkrong sama kalian donk," jawab Tania sambil memasukan camilan pedas itu kemulutnya.
Dalam benak Tania memang tidak ada niatan untuk menjadi orang penting di perusahaan papahnya itu. Tania menyadari jika dia adalah wanita yang suatu saat akan berumah tangga. Jadi saat ini dia hanya ingin mendapatkan pengalaman menjadi seorang wanita karir saja tidak lebih.
Bahkan keinginan terbesarnya, ia ingin menjadi ibu rumah tangga dan bisa menjalankan bisnisnya sendiri yang benar benar menjadi hobinya, dimana hobi Tania saat ini adalah membuat design ruangan menjadikan suatu ruangan itu nyaman untuk dihuni.
Sebenarnya hobinya ini cocok dengan perusahaan yang di pimpin oleh kakaknya ini. Tetapi tetap saja Tania tak suka terlalu dibebani dengan pekerjaan yang menumpuk, apalagi jika nanti dia sudah menikah, dia ingin lebih fokus pada keluarganya.
Begitulah Tania, sangat tau apa yang diinginkannya di masa yang akan datang, meskipun calon yang direkomendasikan oleh orang tuanya bukan yang diinginkannya, tapi tetap saja, suatu saat jika dia sudah berumah tangga, ia ingin menjadi seorang ibu dan istri yang bertanggung jawab, bisa menjalankan kewajibannya sebagai ibu dan istri, dan bisa tetap menggeluti hobinya di dunia design.
"Udah jam makan siang, kita makan diluar yu, aku traktir deh" ajak Tania dengan riang.
Tentu saja Melly dan Ratih menyambutnya dengan bahagia, kecuali Anna yang ingat akan tugasnya.
"Maaf mba, tapi saya harus anterin makan siang untuk pak Rainer, kayanya ngga bisa lama lama deh mba, gak apa apa kalian aja duluan," sesal Anna.
Tak menunggu lama Tania langsung menghubungi ponsel kakaknya.
__ADS_1
"Bentar ya, aku bilang dulu sama Kaka, tadi sih sebenernya ngajak kita makan bareng sama temennya, tapi aku males, aku bilang dulu biar diizinin," ungkap Tania sambil menempelkan ponsel di telinganya menunggu orang yang dihubunginya itu menerima panggilan dari dirinya.
[Tania "Halo ka,"]
[Rainer "Kenapa?"]
[Tania " Maafin, aku sama Anna ngga bisa ikut makan bareng kalian, ada urusan antar wanita jadi kita misah ya makannya"] ucap Tania berharap Kakanya itu mengerti.
[Rainer "Engga bisa, udah tugas Anna buat nemenin kaka makan,"] sanggah Rainer dengan keuekeuh.
[Tania " Ish dasar bucin, sekali doank ka, besok besok juga kan bisa bareng lagi, aku ini cuman sekali ini kan nggak pernah, pelit banget"] kesal Tania mendengar jawaban dari Rainer.
[Rainer "Ya udah, kita misah makan, tapi di tempat yang sama cuman beda meja aja, ngga ada bantahan lagi pokoknya"] pungkas Rainer tak mau ada penolakan lagi.
Rainer tiba tiba menutup telponnya secara sepihak membuat Tania kesal dibuatnya.
"Punya Kaka ko bucin banget sih, kesel jadinya," gumam Tania sambil menyimpan ponselnya dalam tas mungil miliknya. Sementara itu 3 orang yang memperhatikan obrolan yang dilakukan dengan kakaknya lewat telpon itu saling pandang dengan heran, merasa bingung dengan apa yang di obrolkan oleh anak dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja itu.
Tania langsung melirik dengan jenaka, "Pak Rainer, sama bawahannya, bucin banget sampe aku ngga boleh ajak dia makan."
Mendengar perkataan Tania, Anna langsung blushing, menampakkan Rona merah pada pipinya, dan pura pura mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tak terlihat oleh teman temannya.
"Wah wah wah, jadi kita ngga jadi makan donk mba," terdengar Ratih seperti kecewa tapi sambil cengar-cengir memahami apa yang dimaksud oleh Tania.
"Jadilah, tapi harus satu tempat sama mereka, cuman beda meja, kita tunggu aja, mereka mau makan dimana, baru kita berangkat, ok!" seru Tania dengan semangat.
Semenjak kejadian rumor yang tersebar dan beritanya belum mereda ini, Anna berusaha menguatkan hatinya agar tidak terbawa rumor ini, tapi entah kenapa Ratih selalu mengatakan jika Rainer benar serius dengan perkataannya, dan juga kini Tania seperti mendukung apa yang dilakukan Kakanya itu.
Tetapi tetap saja hati Anna terus meragu. Anna tak berani meyakinkan dirinya bahwa Rainer serius dengan perkataannya. Logikanya terus mengatakan jika tak mungkin orang seperti Rainer akan serius padanya. Pada akhirnya keadaan ini membuat suasana hati Anna seringkali naik turun.
__ADS_1
"Ting," nada notifikasi pesan masuk terdengar, memberitahukan lokasi mana yang harus mereka tuju untuk makan siang.
"Yu, berangkat sekarang, keburu abis waktu jam makan siang kalian kan," ajak Tania dengan riang.
***
Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk sampai di restoran yang sudah ditentukan oleh Rainer yang hanya di tempuh dengan berjalan kaki. Restoran yang mereka masuki ini adalah restoran khas Sunda dengan penyajian ala prasmanan yang makanannya akan dipanaskan secara mendadak.
Terlihat di satu meja yang menghadap ke luar itu, telah ditempati oleh 4 orang pria, yaitu, Rainer, Raka, Arman, dan ada juga Damar. Mereka sudah mulai menyantap makanan yang mereka pesan sambil mengobrol dengan santai.
Saat Tania dan kawan kawan datang, sejenak perhatian Rainer teralihkan, memberikan instruksi dengan tangan dan matanya agar Tania menempati meja kosong yang berada tepat di samping meja yang Rainer dan yang lainnya tempati.
Tetapi Tania mengacuhkan intruksi yang Rainer berikan, setelah memesan apa yang mau mereka makan, Tania malah menggiring teman temannya naik ke lantai atas menjauhi keberadaan Rainer. Sungguh tak mengasikkan bukan jika Tania sedang bergosip, tapi didengarkan oleh kakaknya.
"Awas kamu ya de," pesan what's app masuk ke ponsel Tania, yang hanya di balas dengan emoticon mengejek "😝".
Melihat tingkah Tania yang cekikikan sendiri, Anna hanya menatapnya dengan kagum.
"Kalian adik kakak yang luar biasa," gumam Anna dalam hati.
***
Konflik baru akan dimulai, simak terus ya kelanjutan kisah mereka ...
Bahagian banget lho othor nya kalo banyak yang suka karya othor ini, berasa semangat aja gitu nulisnya hehehe.
Jangan lupa yang belum masukin favorit masukin deh ya biar nanti notifikasi up nya nggak ketinggalan, untuk yang udah, makasih ya, yang udah komen, yang udah like, yang udah kasih vote, sama yang ngasih Hadiah, seriusnya bahagia
Lanjut baca ok 👍
__ADS_1
Happy reading 😉😉