Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 65. Enggak nahan, cieee


__ADS_3

Pernikahan adalah salah satu momen yang paling ditunggu tunggu oleh suatu pasangan serius. Mengikat janji seorang suami pada Tuhannya untuk menanggung segala yang ada pada seorang istri, kehidupannya, susah senangnya, lahir batinnya, baik buruknya, termasuk dosa dosanya.


Meskipun acara pernikahan Rainer dan Anna diadakan begitu sederhana, tapi kebahagiaan tak berkurang sedikitpun dalam acara sakral ini, terutama Rainer, ia begitu bahagia karena kini telah berhasil mendapatkan Anna seutuhnya.


Kini mereka sedang berdiri menghadap kepada tamu yang hadir, menyalami mereka satu persatu, mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang telah mereka raih, dengan perjuangan begitu pelik dihari kemarin.


Kini Rainer tak henti menatap wajah malu malu Anna, wajah yang memancarkan kecantikan yang berbeda dari sebelumnya, ingin rasanya Rainer menyentuh Anna sekarang, tapi apa daya tamu tamu masih berkumpul, sibuk dengan apa yang terhidang saat ini.


Ditatap tanpa berkedip oleh Rainer, Anna menjadi gelisah, sepertinya ia ingin kabur dari keadaan yang membuatnya sulit untuk bergerak ini. Jemari Anna tak henti digenggam oleh suaminya, seperti Rainer takut Anna akan kabur, ya ampun, sepertinya sekarang Anna sesak nafas, setiap gerakannya tak luput dari mata Rainer.


Perlahan tanpa malu malu Rainer menarik Anna mendekat padanya, dengan berani Rainer berbisik mesra pada Anna yang membuat Anna merinding seketika.


"Sepertinya kita akan melakukan hal yang tak biasa sayang," ucap Rainer menggoda.


Kemudian senyum jahat tersungging di wajah tampan yang sedang berbahagia itu. Sedangkan Anna, seperti sedang terancam, tubuhnya gemetar tak karuan, entahlah, di mata Anna saat ini Rainer begitu menakutkan.


"Ya ampun, kenapa jadi begini," gumam Anna yang masih terdengar oleh Rainer.


Rainer hanya terkekeh geli melihat tingkah polos istrinya yang begitu lucu, dengan jahil Rainer mengecup leher Anna yang terbuka itu yang membuat yang punya leher terperanjat kaget dengan aksi dari suaminya itu.


"Pak, jangan disini, masih banyak orang, kan malu," ucap Anna tanpa sadar.


Rainer kembali terkekeh dengan kegugupan dari istri kecilnya itu.


"Jangan panggil Pak sayang, panggil babe, atau suamiku, atau sayangku... nanti lanjut dikamar ya, atau kita langsung pulang aja biar leluasa," ucap Rainer semakin menggoda.


Seketika Anna langsung menoleh pada suaminya, nampak suaminya tak henti tersenyum, benar benar saat ini Rainer sedang mengobral senyumnya.


Dan Anna hanya menghela nafasnya berat, tak menyangka dengan statusnya yang berubah dalam kurang dari 1 Minggu, dan tak menyangka mendapatkan suami yang telah lama ia rindukan ini.


Tak berselang lama, Tania menghampiri suami istri baru itu, yang mana sang suami terus menggenggam tangan sang istri yang terlihat risih itu.


Tania hanya menepuk jidat melihat kelakuan Kakanya yang seperti takut istri ya kabur dari hadapannya.


"Kaka, istri kamu itu perlu makan, apalagi punya suami kaya Kaka begini, butuh tenaga ekstra buat menghadapinya bukan?" ucap Tania sambil menarik lengan Anna yang tidak digenggam oleh Rainer.

__ADS_1


Alih alih marah, Rainer malah tertawa dengan senang yang membuat Tania pusing melihat tingkah Kakanya yang sedang gila ini.


***


Setelah ditinggalkan istri dan adiknya itu, Rainer kemudian bergabung dengan mertua dan papahnya yang sedang mengobrol santai sambil menikmati hidangan di meja.


Kini tamu undangan sudah berangsur angsur pulang, dan hanya tersisa beberapa keluarga saja yang membantu membereskan sisa sisa kemeriahan di rumah ini.


"Selamat ya Nak, kini kamu berhasil menjadikan Anna sebagai bagian dari hidup kamu, jadi apa rencana kamu berikutnya?" tanya pak Rudi.


"Kalo boleh Pa, besok Rainer dan Anna akan kembali ke kota, karena pekerjaan Rainer yang tidak bisa ditinggal lama lama," ucap Rainer.


"Menginaplah disini beberapa hari, biarkan perusahaan papah yang tangani," ucap Papah Rainer.


"Oke," jawab Rainer tak membantah sedikitpun, ia malah senang karena papahnya mau membantu mengurus perusahaan.


***


Kini sudah larut malam, Anna pun sudah melepas pakaian yang membuatnya tidak leluasa itu, sudah membersihkan make up yang mempercantik tampilannya hari ini, bahkan sudah segar karena sudah mandi.


Setelah selesai dengan ritualnya, Anna bergegas keluar kamar, menuju keramaian yang terjadi di ruang tengah, bersama keluarga besarnya yang sedang bercengkrama itu. Saat ini, para sepupu dan adik Anna termasuk Tania, sedang menggelar kasur di ruang tengah, mereka akan tidur bersama disini, niatnya akan bergadang, tetapi entahlah mereka sanggup atau tidak.


Dia terus berfikir, apa benar Rainer mencintai Anna? tapi jika tidak, kenapa dia mau menikah dengan Anna secepat ini padahal mereka belum lama mengenal.


Ya sudahlah, saat ini Anna masih belum siap dengan keadaan ini, membayangkan apa yang akan dilakukan Rainer padanya malam ini membuat Anna menciut, Anna akan berusaha tidur disini bersama yang lainnya, yah itu satu satunya cara menyelamatkan diri malam ini.


"Kak, ngapain disini, tidur dikamar aja sana," ucap Ayu dengan jahil.


Ayu tahu betul Kakanya itu sedang sangat gugup, sangat jelas dari wajahnya yang sangat sulit tersenyum saat ini.


"Iya nanti Kaka pindah, pengen ikutan ngumpul dulu masa nggak boleh sih," gerutu Anna yang membuat Tania dan Ayu terkekeh.


"Tenang aja An, kak Rainer nggak gigit ko, tapi mungkin gigit dikit deh, hahahah."


Mendengar lelucon yang tak lucu yang dibuat Tania, wajah Anna makin pucat, menampakkan ketakutan yang tak bisa ditutup tutupi.

__ADS_1


Tak peduli dengan gelak tawa semua orang di ruangan ini, Anna kemudian melompat ke tengah tengah mereka, menarik selimut yang mereka pakai dan menutupi sekujur tubuhnya.


Melihat tingkah Anna yang sedang ketakutan, Tania dan Ayu makin tertawa melihat kepolosan dari Anna ini, akhirnya mereka membiarkan saja Anna bergabung bersama mereka, kasihan juga melihat Anna yang sedang ketakutan itu.


Beberapa jam telah berlalu, kini Anna sudah dibuai mimpi indah bersama sepupu dan adiknya itu, sedangkan Rainer baru memasuki rumah sekitar jam 10 malam.


Ia mendapati istein kecilnya sedang tidur bersama keluarganya yang menggelar kasur di tengah ruangan, begitu pulas dan nyenyak, sepertinya Anna sangat kelelahan.


Rainer kemudian masuk ke kamar Anna, membersihkan dirinya, mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman untuk tidur, dan merapihkan terlebih dahulu kasur yang akan ditempatinya, baru ia keluar kembali menjemput Anna.


Posisi Anna saat ini sedang tidur diapit oleh adiknya Tania dan ayu, sungguh lucu mereka.


Rainer kemudian mengguncangkan tangan Tania perlahan, menyuruhnya untuk geser, agar memberikan ruang Rainer untuk mendekati Anna.


"De.. de.. bangun, geser dulu bentar," bisik Rainer takut membangunkan orang orang yang telah terlelap dalam tidurnya.


Tania sejenak menggosok matanya yang dipaksa bangun oleh kakaknya itu, kemudian perlahan mengangkat tubuhnya untuk memberikan ruang pada Rainer mendekati istri kecilnya itu.


"Hati hati ka, kayanya Anna cape banget hari ini," ucap Tania sambil menguap dan di jawab anggukan oleh kakaknya itu.


Perlahan Rainer mengangkat tubuh mungil istrinya yang begitu pulas dibuai mimpi, menggendong ala bridal style, mengajaknya untuk pertama kali tidur seranjang dengannya. Sungguh bahagia sekali Rainer mendapati momen seperti ini.


Lalu Rainer melangkahkan kaki masuk ke kamar Anna yang telah disulap oleh keluarga menjadi begitu nyaman layaknya kamar pengantin yang sebelumnya sudah Rainer benahi agar bisa langsung ditiduri.


Rainer meletakan Anna perlahan dibawah selimut, kemudian ia ikut bergabung disisi satunya tepat dipinggir Anna.


Ia tak langsung terlelap seperti apa yang dilakukan Anna, sejenak Rainer menatap wajah Anna yang sedang pulas itu, terkadang ia tersenyum melihat lucunya cara Anna tidur, kadang Anna mengerutkan dahinya, kadang tersenyum tiba tiba, dan kini ia menggeser tubuhnya mencari tempat nyaman yang bisa ia dapatkan.


Rainer mengelus rambut panjang itu dengan penuh syukur, mengecup puncak kepala Anna dengan begitu khidmat. Merasa terusik kembali tidurnya, Anna kemudian meraih pinggang Rainer yang menghadap pada dirinya dengan erat, dan mendusel wajahnya tepat diantara perut dan dada, semerbak wangi shampo Anna tercium oleh hidung Rainer, dan sentuhan yang dilakukan Anna menimbulkan daya sengat yang berbeda.


"Apa aku bangunkan saja ya," gumam Rainer menahan hasratnya yang sudah lama tidak tersalurkan itu.


***


Ah ya ampun, pengen bikin adegan luar biasa tapi pengalaman masih cetek πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Nyari referensi dulu ya othornya 🀭🀭


Happy reading😘😘


__ADS_2