
Setelah berjalan beberapa saat dari cafe, di barengi dengan perdebatan yang mana mereka berusaha saling memahami satu sama lain. Kini mereka duduk di sebuah kursi di taman kota ditemani keramaian pengamen jalanan yang sedang menghibur para muda mudi yang sedang menikmati malam Minggu nan panjang dan menyenangkan ini.
Sejenak Raka memandangi gadis manis yang sedang asik menikmati lagu lagu malam nan menyenangkan, begitu cantik dan mempesona. Raka begitu heran kenapa rasa cintanya pada gadis berkaca mata ini tak pernah pudar sedikitpun dari tahun ke tahun. Padahal Tania begitu gigih untuk menghindarinya, tetapi semakin Tania berusaha menghindari dan menampakkan kebencian pada Raka, semakin kuat rasa untuk memiliki pada diri Raka.
Kini gadis manis ini menuntut jawaban tentang kejadian yang telah membuatnya marah selama 4 tahun terakhir, membuat Tania memendam kebencian karena salah faham dari ulah orang ketiga, menjadikan cinta yang bersemi pada sang pria arogan nan berkarisma itu tertutup dengan kekecewaan yang mendalam.
"Kamu tau ka? dulu aku di labrak sama perempuan itu didepan teman teman aku, dia ngatain aku sebagai pelakor, dan membuat teman teman aku mikir kalo aku iya seorang pelakor, udah gitu dia ngeliatin foto foto kalian lagi ngamar lagi," ucap Tania dengan kesal.
"Aku benci banget sama Kaka waktu itu." lanjutnya.
"Oke, maaf, boleh aku jelasin sama kamu?" tanya Raka.
Tania hanya menganggukkan kepala sambil tetap matanya fokus pada Raka.
"Sebelum ketemu kamu, aku emang laki laki brengsek Na, bahkan om Rudi tahu, makanya awalnya kan papah kamu ngga setuju sama kamu, tapi semenjak ketemu kamu, aku ngga gitu lagi, aku ingin membuktikan bahwa aku layak buat kamu," tutur Raka sambil tetap memandang wajah cantik itu.
"Stela, hanya salah satu perempuan masa lalu saat aku masih jadi laki laki brengsek, dan dia bisa jadi korban aku yang menuntut pertanggung jawaban," lanjut Raka.
"Kenapa Kaka ngga tanggung jawab aja sama dia?" tanya Tania mulai tak suka mendengar penuturan Raka.
"Bagaiman caranya aku tanggung jawab Na?" tanya balik Raka pada Tania.
"Nikahin aja dia," gumam Tania. Telaga bening itu mulai berkaca kaca, dan Raka tau sebabnya.
"Kalau Stela hamil, mungkin aku akan tanggung jawab," tutur Raka yang membuat hati Tania terasa tertusuk sembilu.
"Tapi aku ngga melakukan hal sampai bisa buat dia hamil sayang, aku sudah berusaha menjadi pria yang papah kamu inginkan, tapi memang bayang bayang masa lalu tidak bisa menghilang begitu saja, maafkan aku ya."
Sejenak Tania memandang wajah pria tampan di depannya, mencari kesungguhan dan kejujuran dibalik binar matanya yang sedikit berembun. Masa lalu memang tak bisa diubah, tapi bukankah seiring berjalannya waktu manusia masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki dirinya.
Sebelum Tania merespon apa yang dikatakan Raka, tiba tiba suara pria yang tak asing itu menyapa Raka dan Tania yang sedang serius berbicara itu.
"Kalian disini?" ucap Rainer yang sedang berjalan sendiri.
Rainer baru saja mengantarkan Anna pulang ke kosannya. Setelah itu ia tidak langsung pulang, Rainer ingin menyendiri dulu, menenangkan perasaanya yang sedang tidak karuan dan bermaksud sekedar berjalan-jalan saja sendiri.
"Kaka ngapain disini," tanya balik Tania.
Rainer tak menjawab apa apa, dia hanya menggeser kursi yang berada tepat di depan Raka, mendudukkan bokongnya dengan sedikit keras, dan langsung menyalakan rok*k dan menghisapnya dengan khidmat.
Melihat gelagat aneh Kakanya, Tania tahu jika Kakanya sedang mengalami kesulitan, terlihat dari cara menghisap produk dari tembakaunya itu, setiap hisapannya terasa mengandung suatu beban dan Rainer seperti berusaha mengeluarkan beban itu dari setiap buangan asap yang dilakukannya.
__ADS_1
"Kalian udah baikan ya?" tanya Rainer, enggan menjawab pertanyaan Tania.
Raka hanya diam dan menyunggingkan senyumnya saja pada Rainer.
Pada ujung malam di hari Sabtu menuju Minggu ini, mereka mengakhirinya dengan perasaan berbeda. Raka dan Tania yang sama sama mulai saling memahami dan tentu saja dengan kebahagiaan Raka.Dan perasaan Rainer yang merasa berat karena hubungannya yang rumit dengan Anna.
***
Pagi cerah dengan matahari mengintip di celah celah jendela,manampakkan keindahannya mengajak para insan yang sebelumnya telah puas berlibur, untuk kembali menjalani kewajibannya dalam bekerja.
Kecerahan pagi ini, tidak mendukung perasaan Rainer yang sama sekali tidak menampakkan semangat sedikitpun pada diri Rainer.
Setelah semalam berpisah dengan Raka dan Tania, ia kembali ke apartemen menikmati kesendiriannya.
Dan pagi cerah ini tidak mengobati kehampaan hatinya, Rainer berfikir, apa yang sebenarnya harus ia lakukan, bukan ia lelah untuk memperjuangkan Anna, tapi ia merasa kecewa saja, sepertinya Anna tidak ingin sedikit menerima dirinya. Bisa jadi Rainer sedang benar benar patah hati untuk pertama kalinya.
Dengan gontai ia mulai bersiap untuk menuju ke kantor, ia harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya, meskipun ia kini dalam keadaan tidak baik.
***
"Siang mba," tanya seorang gadis cantik nan seksi kepada resepsionis PT Nalendra konstruksi ini.
"Selamat siang ka, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis dengan ramah.
Tak disangka baru saja mengatakan makadunya, ornag yang gadis itu tunggu baru saja masuk dari pintu utama, berjalan berdampingan dengan sekertarisnya Arman, dan calon adik iparnya Raka, mereka baru saja melakukan meeting lanjutan mengenai proyek yang akan mereka kerjakan tempo hari.
Tanpa ragu ragu, Karina gadis yang menunggu Rainer dan baru saja bertanya pada resepsionis itu berjalan tergesa gesa menyambut kedatangan Rainer.
"Rain, untung aja kamu dateng, jadi aku ngga susah susah ditanyain sama resepsionis kamu," ucap Karina dengan manja.
Dalam sekejap, semua mata yang ada di tempat itu tertuju pada suara manja yang dikeluarkan oleh Karina, termasuk gadis yang malam Minggu kemarin menyatakan keraguannya pada Rainer.
Rainer menyadari keberadaan Anna, kini Anna bersama dengan Ratih berada tepat dihadapannya hendak membeli makan siang untuk dirinya dan memandang tak berkedip keberadaan Karina dan dirinya yang sedang berhadapan itu.
Sejenak mereka saling bertatapan beberapa detik, seperti mereka berada di ruang hampa hanya berdua saja, beberapa detik kemudian Rainer menyadari keadaan dan langsung mengalihkan pandangannya dari Anna menjadi kepada Karina.
Tak disangka, Rainer langsung meraih tangan Karina dan mengajaknya untuk ke ruangan dimana dia bekerja.
"Ayo ke ruanganku, kita makan siang bersama," ucap Rainer sambil matanya kembali menatap Anna.
Anna hanya mematung melihat adegan yang dipertontonkan Rainer, kemudian Rainer melangkahkan kakinya melewati Anna yang tak berkutik sama sekali.
__ADS_1
Hati Anna merasa nyeri, menahan sesak melihat apa yang dilakukan oleh Rainer, bisa dibayangkan wajahnya mulai memerah, matanya mulai berkaca-kaca. Entahlah ada apa, yang pasti Anna sedang merasa cemburu, tapi Anna tak bisa melakukan apa apa, itu sangat mengesalkan bukan.
Sedangkan dua mahluk yang sedang menonton pertunjukan yang Rainer buat hanya tersenyum melihat kekonyolan yang dilakukan Rainer, sepertinya sahabat mereka ini sedang menguji Anna, apa mungkin sedang balas dendam pada Anna? entahlah.
***
Maafkanku bila
Ku kurang romantis
Tak segombal lelaki lain
Memang diriku tak penuh kejutan
Tak mampu guncangkan dunia
Namun kau pun tahu
Hati ini hanya untukmu
Namun kau pun tahu
Ku tak dapat hidup
Tanpa dirimu
Oh-wo-wo
Kucinta kau
Saat ini
Lebih dari hari yang kemarin
Dan akan kuberi kau
Lebih dan lebih
Sampai akhir hayat nanti
( Abdul and the coffe theory-lebih dari hari yang kemarin)
__ADS_1
Rainer memang selalu cinta sama Anna saat ini, tapi cinta itu memang perlu diuji kan... jadi nikmati saja Anna.
Happy reading 😉