Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 83. Undangan


__ADS_3

Sepanjang hari setelah Anna menghilang entah kemana, Rainer tak mengijinkan Anna menghabiskan sisa harinya dikantor hanya untuk sekedar berjalan jalan ataupun menemui kembali Ratih di pantri, bahkan saat Anna akan ke toilet, Rainer mengantarnya, kini Anna benar benar tidak lepas dari pandangan Rainer.


"Be, bisakah aku ke taman sebentar, sepertinya aku ingin ngemil sesuatu," ucap Anna berharap suaminya mengizinkan.


Rainer hanya menghentikan pekerjaannya sebentar dan kemudian melirik Anna yang berada tepat disampingnya, Rainer kini duduk di sofa untuk mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk itu.


"Tunggu sebentar," ucap Rainer.


Kemudian Rainer mengambil ponselnya dan segera menghubungi Arman yang berada tepat di balik pintu sedang melakukan pekerjaannya pula.


"Masuk ke ruanganku," ucap Rainer dalam sambungan telpon tanpa menunggu jawaban dari Arman.


Setelah beberapa saat, Arman muncul dari balik pintu dan mendekati keberadaan Rainer.


"Ada yang bisa saya bantu pa," tanya Arman, saat jam kerja Arman memang seperti itu bersikap normal layaknya bawahan kepada atasannya.


"Iya, tolong belikan makanan yang ada di taman, suruh Ratih yang membelikannya," ucap Rainer tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas berkas yang sedang dibacanya.


"Oke," ucap Arman lalu meninggalkan ruangan Rainer.


Mendengar apa yang dikatakan Rainer, Anna melotot tak percaya, Anna bukan hanya ingin makan makanan yang ada di taman, tapi dia merasa bosan karena selama beberapa jam setelah makan siang, ia hanya duduk memperhatikan suaminya bekerja.


"Be, aku ingin menghirup udara segar, aku tak akan lama," ucap Anna memohon pada suaminya.


"Tidak bisa, aku tak mau ambil resiko jika nanti kamu bertemu dengan Damar," ucap Rainer tak terbantahkan.


"Huft.." Anna hanya menghembuskan nafas beratnya lalu menyandarkan tubuhnya di sofa, merasa bingung dengan sikap suaminya yang berubah menjadi posesif ini.


Rainer lalu menarik tubuh Anna dan mengangkat Anna agar duduk di pahanya, lalu ia memundurkan tubuhnya agar bersandar di sofa dan membuat Anna bersandar di dadanya, memeluknya dengan erat.


"Aku tak ingin kamu berinteraksi dengan pria manapun, apalagi dengan Damar, apa tak bisa kamu dirumah saja tidak usah bekerja, aku banyak uang, untuk apa kamu bekerja," ucap Rainer sambil mencium leher Anna dengan lembut yang menciptakan gelenyar pada tubuh Anna.


Anna lalu menjauhkan tubuhnya dari dekapan Rainer dan memandang lekat wajah Rainer yang begitu tampan dimatanya.


"Kamu tak percaya padaku be?" tanya Anna.


Melihat pandangan Anna yang begitu dalam menatapnya, Rainer lalu meraih pipi Anna dan mengelusnya dengan mesra, mendapatkan sentuhan lembut dari suaminya Anna kemudian memejamkan matanya perlahan merasakan limpahan cinta dari Rainer untuk dirinya.


"Aku tak percaya pada diriku sendiri sayang," ucap Rainer dengan lirih.


"Maksudnya apa? aku tak mengerti," tanya balik Anna.

__ADS_1


"Dulu aku pria yang mudah mempermainkan hati wanita, dan sekarang aku takut mendapatkan karma," ucap Rainer sambil mencium bibir Anna sekilas.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Anna kemudian meraih leher Rainer dan memeluknya dengan sayang.


"Tak akan pernah, selama kamu jujur padaku, dan selama kamu selalu mencintaiku, aku tak akan melakukan hal yang kau takutkan, aku terima masalalumu dan mau menjadi masa depanmu, apa itu tidak membuktikan bahwa aku menerimamu?" ucap Anna meyakinkan Rainer.


Hari ini, entahlah jahil Rainer sedang libur, dia takut Anna kesal dan melarikan diri, jadi Rainer tak banyak menjahili Anna.


Saat ini Rainer hanya sedang menikmati kebersamaannya saja, karma bisa jadi sebentar lagi Anna dan dirinya akan sama sama sibuk dengan pekerjaan masing masing.


Saat Rainer dan Anna sedang asik bercengkrama, tiba tiba ada mahluk cantik masuk tanpa permisi, bahkan mengetuk pintu saja tidak, membuat Anna terperanjat dalam pangkuan Rainer, tetapi Rainer tak peduli, Rainer malah semakin erat memegang pinggang Anna dalam dekapannya.


"Selamat siang kakakku sayang," ucap Tania tanpa menyadari posisi Anna saat ini.


Saat melihat apa yang dilakukan Kakanya, Tania langsung menutup matanya merasa malu dengan apa yang dilakukan oleh pasangan pengantin baru dihadapannya.


"Oh ya ampun!, kalian jika mau bermesraan di rumah saja, atau setidaknya kunci pintunya!" ucap Tania menggerutu sambil berbalik badan kembali keluar dari ruangan Rainer.


Rainer hanya terkekeh saja dengan tingkah gila adiknya itu, salah dia sendiri masuk ke ruangan pimpinan tanpa mengetuk pintu, tanggung akibatnya sekarang.


Sedangkan Anna merasa malu dengan apa yang terjadi, ia berusaha turun dari pangkuan Rainer, tapi sayang kekuatan Rainer tak bisa ia tandingi, pada akhirnya Anna hanya bisa menutup mukanya sambil menunduk.


"Be aku malu pada Tania," ucap Anna sambil memukul dada suaminya itu.


Diluar ruangan Rainer, tepatnya di depan meja Arman, Tania malah ngomel ngomel pada Arman yang sedang terkekeh dengan Raka yang baru datang berbarengan dengan Tania sebelumnya.


"Ka, kamu sengaja ya engga ngasih tahu jika didalam mereka sedang me- ... ah kesel... mata suci aku..." gerutu Tania tak henti.


"Hahaha, bukankah tadi sudah aku peringatkan Tania, di dalam ada Anna, Raka saja mengerti, bagaimana bisa kamu tak mengerti," ucap Arman mengejek Tania.


"Ish sebel," ucap Tania makin kesal melihat tunangannya yang belum diresmikan itu malah ikut terkekeh bersama Arman.


"Mungkin mereka sudah selesai, ayo masuk," ajak Raka sambil meraih tangan Tania menuntunnya masuk kembali ke ruangan Rainer.


"Wah wah wah, pengantin baru," ucap Raka saat memasuki ruangan Rainer.


Kini Anna sudah berada diposisi seharusnya, duduk di kursi sambil tersenyum kikuk kepada Tania, masih merasa malu karena terpergok sedang bermesraan dengan sang suami.


"Ternyata jodohku lebih dekat daripada kamu yang sudah mengincar Tania begitu lama," ucap Rainer jumawa.


"Berisik !" protes Tania tak ingin mengingat nostalgia mereka dan juga masih kesal dengan apa yang dia lihat tadi.

__ADS_1


"Mau apa kalian kesini?" tanya Rainer sambil memeluk pinggang Anna.


Melihat aksi Kakanya itu, Tania mendengus sebal, kakak satu satunya ini memang benar benar lengket pada sang istri.


"Jemput kalian," ucap Tania sambil mendudukkan dirinya di samping Anna.


"Untuk apa dijemput?" tanya Rainer.


"Kita ada makan malam keluarga, kata mamah sih mau ngenalin mantunya," ucap Tania sambil menarik Anna berdiri.


"An kita ke taman yu, tadi aku liat Ratih mau ke taman juga," ucap Tania.


"Hei, izin suaminya donk," ucap Rainer menarik kembali istrinya.


"Ish dasar, cuman ke taman aja nggak boleh, bentar aja ka, lagian jam kerja Kakak masih lama, bosen tau nunggunya," ucap Tania menarik kembali Anna agar berada di sisinya.


"Boleh ya pak, cuman sebentar aja, nanti balik lagi ko," ucap Anna berharap Rainer memperbolehkannya pergi.


"Sayang, kenapa panggil pak lagi?" protes Rainer.


Anna begitu malu jika ia memanggil Rainer dengan panggilan khususnya, terlebih dihadapan Tania.


"Maaf," sesal Anna sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.


"Ya sudah, jangan lama lama, nanti aku telpon," ucap Rainer terpaksa melepaskan Anna bersama adiknya.


"Makasih be," ucap Anna lalu Tania dan Anna pun pergi meninggalkan Raka dan Rainer berdua di ruangan Rainer.


Setelah kepergian Anna dan Tania, Rainer langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, keruangan ku sekarang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Rainer lalu mematikan telponnya tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia telpon.


Sedangkan Raka yang sudah duduk nyaman di sofa tak jauh dari Rainer mengernyitkan dahinya melihat ekspresi wajah Rainer yang seperti sedang resah itu.


"Wajahmu seperti sedang kejepit pintu Rain, sangat kasihan," canda Raka sambil terkekeh.


Mendengar ejekan dari calon adik iparnya, Rainer lalu melempar Raka dengan bantal sofa.


"Si*alan" umpat Rainer.


***

__ADS_1


Happy reading 😊


__ADS_2