
"Saya terima nikah dan kawinnya ..."
Sebaris janji suci terucap bersama genggaman tangan kepada Rudi Nalendra sebagai wali dari Tania sang putri mengantarkan ia menjadi wanita yang akan menjadi istri seorang Raka Abimanyu.
Setelah ucapan "SAH" diteriakan oleh semua orang dengan suka cita, begitu menggema membuat hati Raka terasa begitu lega dan sungguh terharu. Akhirnya gadis yang ia impikan selama ini telah sah menjadi haknya, akan menjadi tanggung jawabnya seumur hidup.
Yah, kini Tania telah sah menjadi nyonya Tania Abimanyu. Meskipun acara perhelatan ini di gelar begitu sederhana dan dihadiri oleh orang orang terdekat saja yang jumlahnya kurang dari 50 orang, namun tak mengurangi kesakralan acara meskipun dipersiapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
"Udah sah sekarang," ucap Raka setelah mereka selesai menerima ucapan selamat dari seluruh keluarga dan kerabat yang hadir saat itu.
"Iya," jawab Tania sambil berusaha tersenyum.
Jawaban Tania yang datar itu menimbulkan sedikit rasa bersalah, biarpun tak ada penyesalan sedikitpun dalam hati Raka. Bahkan ia begitu bahagia karena sudah berhasil bisa memiliki Tania seutuhnya tanpa takut kehilangan lagi.
Raka menatap sang istri barunya dengan pandangan takjub, begitu cantiknya Tania dengan balutan kebaya sederhana dan riasan yang begitu menawan, membuat mata tegas dan tajam itu berkaca kaca menahan haru.
"Maaf untuk cara aku, tapi aku ngga nyesel," ucap Raka tanpa ragu, menggenggam jemari lentik Tania sambil menatap manik cantik dihadapannya itu.
__ADS_1
"Ngga usah dikasih tau, kita jalanin aja, semua sudah terjadi."
Masih ada rasa kesal yang mencolok di hati Tania, tapi ia sudah menerimanya dan menyadari terutama saat Rainer menjelaskan apa yang terjadi pada Rainer dan papah Rudi tadi pagi.
Flash back sebelum akad
"Papah sama kakak bukan ngga sayang sama kamu, bahkan kami sangat sayang sama kamu, kami tahu betul kamu ngga pernah aneh aneh bahkan ngga pernah pacaran, kami taunya kamu punya hubungan sama Raka aja. Kamu tahu ketakutan kami Tan?," tutur Rainer sambil menatap Tania yang sesenggukan menahan tangisnya karena kesal.
"Raka itu laki laki normal, Kaka tahu banget dia lagi menahan diri bahkan sekuat tenaga, apalagi dia udah suka sama kamu lama banget, ngebet banget sama kamu, kakak ngga yakin kalo dia bisa selamat jika di lama lamain," ucap Rainer sambil mengambil posisi duduk tepat disampingnya Tania.
"Enggak gimana gimana, jalani aja, Kakak yakin Raka akan jadi suami yang sayang sama kamu, justru yang kakak takutin kalo kalian belum nikah. Tadi malem aja dia berani gitu sama kamu, di rumah kita dan ada papah dan mamah, Giman papah ngga marah dan langsung ngambil keputusan ini coba," pungkasnya.
Rainer berdiri bersiap meninggalkan Tania dengan poin penting yang harus Tania renungkan.
"Tak ada penyesalan yang ngasih tau dari awal, penyesalan akan datang terakhir pada saat kamu sudah melakukan kebodohan. Jadi, tolong papah dan kami semua, jika kamu terluka, kami yang akan lebih terluka."
Ucapan Rainer sang kakak yang banyak berpetualang dengan banyak wanita itu begitu terngiang dalam kepala Tania.
__ADS_1
Pada akhirnya, Tania berusaha menerima takdirnya, berusaha meyakini dan menanamkan sugesti positif, jika Raka akan menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuk dirinya.
Flash back off
"Janji ngga kaya gitu lagi ya," ucap Tania berusaha menuntut janji pada Raka.
"Iya janji, maafin aku ya, aku cuman takut aja kamu batalin, jadi dari pada kita ngga jadi, ya udah kita percepat aja, nanti resepsinya kita bikin paling meriah ya." janji Raka merangkul bahu Tania dengan lembut dan sayang.
Tania hanya mengangguk berusaha percaya dengan perkataan Raka yang terlihat meyakinkan. Kini ia sudah berdamai dengan keadaan, memberi ruang pada dirinya untuk belajar memikirkan perasaan orang tuanya.
"Ayo foto dulu foto dulu."
Rainer datang bersama keluarga inti lainnya termasuk keluarga Raka yang hadir, mengakhiri percakapan singkat pengantin baru itu untuk mengabadikan momen bahagia mereka dalam sebuah bingkai.
Beberapa jepretan foto untuk menyimpan kenangan bahagia itu tercipta dengan indah. Wajah penuh kelegaan semua keluarga, memberi arti bahwa hidup tak harus ditangisi, hidup hanya untuk dinikmati dan dijalani.
Kelak, perjalanan menuju sah Tania dan Raka dengan bangga akan mereka ceritakan kepada anak cucu mereka, mungkin diselipkan juga dengan tawa, karna begitu tak terduganya cara mereka menempuh hidup baru dalam sebuah rumah tangga baru.
__ADS_1