Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 52. Semoga ada pencerahan


__ADS_3

Cinta yang dirasakan oleh Raka adalah cinta yang sudah ada pada titik kegilaan, beruntung masih ada akal waras yang masih bisa mengendalikan jiwa posesifnya dalam memiliki Tania.


Papah Rudi menyadari itu, Ia menyadari betapa pria muda dihadapannya ini memiliki kecemburuan yang besar terhadap anaknya, papah Rudi menyadari jika Raka sudah ada di tahap menjadi budak cinta pada anaknya.


Papah Rudi tak masalah dengan sikap Raka yang seperti ini. Dia menyadari jika Raka dan Rainer adalah tipe laki laki setia yang akan menjadikan pasangannya ratu didalam kehidupannya. Maka dari itu ia tidak keberatan memenuhi permintaan orang tua Raka untuk menjodohkan Raka dan Tania.


Selain itu, Papah Rudi pun tau, jika sebelumnya Raka dan Tania memiliki hubungan khusus dimasa lalu, meskipun ia tak tau apa yang membuat Tania menolak Raka.


Setelah kepergian Tania dan Arman, papah masih duduk di ruang tamu bersama Raka yang wajahnya sudah menampakkan keinginannya untuk mengejar kepergian Tania.


"Jika kamu ingin mengejar Tania sekarang, kejar saja. Tapi Om sarankan Raka, jaga emosimu, Tania anak yang keras kepala, luluhkan dia dengan kesabaranmu,"


"Tentu om, asal om sudah mendukung Raka, Raka akan berusaha keras untuk meyakinkan Tania kembali."


Sungguh Raka beruntung, sudah memiliki calon mertua yang mengerti dirinya, dan sudah mempercayainya, dan Raka akan berusaha menjalankan kepercayaan Om Rudinya itu.


***


Kini Tania sudah lepas dari jangkauan Raka, berada satu mobil bersama Arman.


"Aku turun di depan aja ka," ucap Tania setelah beberapa menit Arman melajukan mobilnya menuju cafe dimana Jihan sedang menunggunya.


Mendengar permintaan Tania yang minta diturunkan di jalan, Arman lalu menoleh pada Tania, memandang tak suka pada gadis lugu di sebelahnya ini.


"Mau kemana kamu?," tanya Arman tanpa berniat menghentikan laju mobilnya.


"Ini malem Minggu ka, aku mau jalan sama temen temen aku, lagipula Kaka juga kan lagi kencan," jawab Tania dengan memasang wajah jenaka saat mengatakan kencan pada Arman.


"Lebih baik kamu ikut Kaka aja, ngga usah sama temen temen kamu," Tegas Arman.


"Yang bener aja ka, masa aku jadi orang ketiga diantara kalian," protes Anna tak terima akan menyaksikan dua sejoli yang sedang pendekatan itu.


"Kan ada Damar disana, ya kamu sama Damar lah, Kaka ngga percaya kalo kamu pergi sendiri," ucap Arman tak terbantahkan.


Tanpa orang lain sadari, Tania sudah dianggap oleh Arman seperti adiknya sendiri, bahkan bisa jadi Arman merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga Tania seperti Rainer menjaga Tania juga.


Saking dekatnya Arman dan Tania, sering kali membuat Raka cemburu buta pada Arman, karena mengira Arman pun memiliki perasaan suka pada Tania.


"Ish, sama aja bohong ka, lepas dari papah, sekarang ka Arman yang ngelarang akhirnya pergi," gerutu Tania yang masih didengar oleh Arman.


"Kaka yakin, sebentar lagi Raka bakalan nyusulin kamu Tania, seenggaknya kalo kamu sama Kaka, dia nggak akan menggila kalo kamu dekat sama pria lain," ucap Tania.

__ADS_1


"Ish, kenapa ingetin orang itu sih ka, males aku," Gerutu Tania lalu menyandarkan tubuhnya dengan keras ke sandaran kursi yang ia duduki.


***


Tebakan Arman ternyata benar, setelah beberapa menit Arman dan Tania sampai di cafe milik Damar yang mana Jihan menunggu mereka.


Baru saja Tania menyeruput jus jeruknya, terlihat Raka berani mendudukan dirinya tepat di samping Tania dan mengambil jus jeruk yang baru ia minum sesedot itu.


"Boleh gabung kan?" tanya Raka sambil melirik Arman dengan tatapan persaingan yang kentara.


Yang dilirik malah tersenyum geli melihat tingkah temannya sekaligus salah satu rekanan bisnis Rainer itu. Benar benar luar biasa tidak habis pikir Arman dengan jalan pikiran Raka, dia masih saja menganggap Arman sebagai ancaman baginya dalam mendapatkan kembali Tania, padahal semua orang sudah tau jika Arman sudah menganggap Tania sebagai adiknya sendiri.


Melihat kedatangan Raka yang sungguh luar biasa itu, Tania menatap sengit pada Raka. Sungguh tidak bisa dipercaya, dulu Tania bisa begitu suka pada pria pencemburu ini, bahkan sekarangpun rasa suka itu masih tersisa.


"Jadi orang ko nyebelin sih ka, ngapain kesini? ganggu aja kerjaannya," sinis Tania sambil mengangkat tangan untuk memesan kembali minumannya yang baru.


"Kamu lari, ya aku kejar, makanya kalo aku dateng jangan malah pergi," ucap Raka sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Tania.


Yang diajak bicara tentu saja kesal dengan aksi Raka, apakah ia tidak tau di meja ini bukan hanya ada Tania dan Raka? selain Jihan dan Arman, ada juga Damar yang bergabung di meja mereka.


"Ish, ka aku pergi ya, ngga nyaman aku disini," ucap Tania berusaha berdiri ingin menghindari Raka.


"Enggak bisa, kamu ngga boleh kemana mana, sebentar lagi Rainer dateng," tegas Arman tak mengizinkan Tania pergi.


"Sayang, jangan bikin aku bertindak gila dengan liat kamu duduk dekat dengan pria lain, biarpun Damar tidak punya perasaan sama kamu, tapi tetap dia itu seorang pria," ucap Raka yang hanya ditanggapi dengan tatapan tak suka oleh Tania.


Yang di maksud Raka tentu saja mendelik tak suka mendengar perkataan Raka yang begitu menohok itu.


"Ya ampun bro, bucin banget sih, dia cuman pengen duduk sama aku ngga sampe aku pacarjn juga kali Raka," ucap Damar yang tak digubris sama sekali oleh Raka.


Setelah perdebatan yang menguras pikiran Tania itu, akhirnya dia pasrah saja dengan keadaan yang berusaha ia hindari ini, sepertinya semesta sudah benar benar menjebak dirinya bersama Raka. Di rumah, Tania akan mendapat dorongan dari orang tuanya untuk menerima Raka, bahkan Kakanya sendiri dan semua teman temannya seperti tetap mendukung ia bersama Raka. Kadang Tania ingin berteriak, apakah tidak ada yang mengerti perasaanya, tidak mengerti kesakitan yang Tania alami, hanya satu alasan yang membuat Tania tidak akan mudah percaya lagi pada Raka, yaitu sebuah penghianatan, meskipun kejadian itu belum dikonfirmasi kebenarannya, tapi nyatanya wanita yang menjadi partner Raka pun telah mengakui apa yang telah terjadi.


Seperti petir disiang bolong yang mengagetkan semua orang, saat mereka sedang asik berkumpul dan bercengkrama sambil menikmati live musik dari band yang sedang bernyanyi di atas panggung cafe, terdengar seorang gadis memanggil Raka begitu manja.


"Hei Raka, kebetulan banget kamu disini," ucap gadis berambut sebahu itu.


Dia adalah Stela, seorang yang dulu dengan agresif mengejar Raka hingga membuat Tania salah paham sampai sekarang.


Melihat kedatangan Stela, Tania hanya tersenyum kecut. Sudah bisa Tania tebak, wanita itu masih sering mengikuti Raka kemanapun dia pergi, entah mengikuti dengan menggunakan jasa orang lain, atau memang dia sendiri yang mengikuti. Sungguh wanita yang mengerikan.


Sedangkan Raka, melihat kedatangan Stela jelas ia tidak suka dan merasa sangat terganggu. Ia sekarang sudah hawatir dengan apa yang akan terjadi pada Tania, sudah susah payah iya meyakinkan Tania biarpun belum berhasil, sudah datang lagi penyakit yang belum sembuh sembuh itu.

__ADS_1


"Ngapain kamu disini?" tanya Raka dengan nada sinis sambil menatap sengit pada gadis gigih didepannya itu, dan tak lupa tangannya sudah berada dibelakang Tania seperti sedang memeluknya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa yang ia duduki itu.


Dengan tidak tau malu Stela menerobos masuk untuk menduduki tempat duduk dekan Raka yang mana terhalang oleh damar dan berusaha menyamakan posisi duduknya mendekati Raka.


"Ya ampun, drama apa ini? Jadi kita nonton sinetron ini Man?" tanya Jihan yang merasa geli melihat ada perempuan yang tak tau malu seperti Stela.


"Kita lihat saja, bagaimana mereka menghadapi ini," timpal Arman sambil mengangkat jus pesanannya.


Sedangkan Damar hanya mengangkat jempolnya setuju dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Arman itu.


"Aku duduk dekat kamu ya," ucap Stela tanpa sungkan sedikitpun.


Melihat Stela sudah berhasil mendudukkan dirinya di sofa, Raka langsung berdiri sambil menggenggam tangan Tania.


"Kita jalan duluan ya," ucap Raka pada teman temannya dan di tanggapi dengan anggukan saja.


Sedangkan Tania tak mengatakan apa apa, dia pun tak menolak saat tangannya ditarik keluar cafe oleh Raka, sedangkan Stela merasa kesal karena ia benar benar tidak dihiraukan sama sekali oleh Raka.


"Aku mau pulang," ucap Tania sambil melepaskan tangannya saat sudah sampai di pintu keluar cafe.


"Enggak bisa, kamu harus temenin aku jalan," ucap Raka memaksa.


"Jalan aja sendiri," ucap Tania ketus sambil berjalan meninggalkan Raka menyusuri trotoar jalan yang lumayan ramai yang banyak dilalui oleh para pejalan kaki yang sedang menikmati malam minggunya.


"Ok, Kita jalan sendiri sendiri," ucap Raka.


Tania menoleh dengan kasar, merasa tak suka dengan apa yang Raka ucapkan, apakah dia tak ada niat untuk menjelaskan sesuatu, malah mengiyakan apa yang Tania katakan?.


Melihat mata Tania yang menatapnya sengit, Raka malah terkekeh geli dengan tingkah gadis manisnya ini. Perbuatan tidak sesuai dengan perkataan.


Sepertinya malam ini akan menjadi malam panjang bagi mereka berdua.


***


Hay para pembacaku yang selalu setia nungguin up dari aku, jangan lupa coba tengok karya aku yang lain donk, siapa tau cocok juga, biarpun up nya disana tidak sesering disini, tapi tetap masih berjalan ko.


Judul novelnya M**engejar cinta Rana**.


Makasih ya dengan dukungan kalian, beneran aku seneng banget banyak yang suka karya aku yang masih banyak salah ini...


Terus dukung aku ya.

__ADS_1


Happy reading😉


__ADS_2