
Cinta itu manis bagaikan gula atau madu tapi anehnya tidak bikin eneg bagi yang menjalani, menebar kebahagiaan ke sekitar membuat iri yang melihat, apalagi yang jomblo. Cinta pun memiliki harapan akan terus meningkat dan bertambah rasa dan pengertian minimal tak akan pudar sampai kapanpun.
Ada banyak bumbu bumbu yang menambah rasa dalam perjalanan cinta, membuat rasa itu semakin kuat dan lebih lezat untuk di nikmati.
Salah satu bumbu yang paling menarik dalam kisah cinta yaitu kecemburuan, seperti yang dua mahluk ini rasakan, cemburu yang begitu manis, yang membuat semakin erat cinta mereka.
Anna dan Rainer duduk di tengah ruangan di atas karpet yang di gelar seadanya sambil menikmati makan malam mereka tanpa suara. Rainer menatap istrinya yang sedang makan, tak sedikitpun menatapnya, hanya makan dengan sedikit bernafsu, saat mengunyahpun seperti dengan kekuatan penuh, sungguh kasihan nasi goreng yang tak memiliki dosa itu.
Sesekali Anna akan melirik suaminya dengan tajam, memandang dengan kesal, dan Rainer menyadari kekesalan istri kecilnya ini.
"Tak mau mengatakan sesuatu sayang?" tanya Rainer dengan lembut.
"Tidak ada," jawab Anna sedikit ketus.
Sungguh wanita memang mahluk rumit, tak ingin harga dirinya terusik meskipun dalam hati sedang terjadi gejolak yang luar biasa, dan pria dituntut untuk mengetahui apa yang terjadi tanpa harus sang wanita mengatakannya. Beruntung Rainer adalah pria yang tahu bagaimana menangani wanita yang ngambek.
Melihat tingkah istri kecilnya, rasanya Rainer ingin terkekeh, tetapi berusaha menahannya.
Beberapa menit kemudian, makan malam mereka sudah selesai tanpa hambatan apapun, selesai dengan rapih tanpa ada yang tersisa, kemudian Anna menyodorkan air minum yang langsung ditenggak oleh Rainer sampai tandas.
Rainer kemudian menyalakan TV yang masih ada dalam kamar Anna, sekedar untuk menghidupkan suasana saja, biarpun sebenarnya saat ini Rainer hanya memandangi istrinya yang sedang cemberut dan duduk menjauhi dirinya.
"Sayang," tanya Rainer mulai memancing keadaan.
Yang dipanggil hanya melirik sebentar lalu fokus kembali pada tontonannya yang bergenre komedi tapi anehnya sang penonton tak berniat untuk tertawa sedikitpun, wajahnya malah menampakkan guratan kekesalan seperti sedang menonton sinetron yang membuat urat syaraf menegang karena kesal pada peran antagonisnya.
Lalu Rainer terkekeh lagi, membuat Anna melirik tak suka pada apa yang dilakukan Rainer, dalam benak Anna sedang berdebat, apa mungkin Rainer tak tau jika dia sedang cemburu karena banyak wanita menatap suaminya penuh minat, dan sang suami seperti menikmatinya.
"Kemari sayang, kenapa duduk mu sangat jauh?" ucap Rainer, yang ditanggapi acuh oleh Anna.
Karena Anna tak bergerak sedikitpun, lalu Rainer mendekati perlahan dan merebahkan kepalanya di pangkuan Anna, ia pandangi istrinya yang sedang bermuka datar itu.
"Kamu tak mau menyelesaikan tugasmu sayang," tanya Rainer.
"Tugas apa?" jawab Anna.
Rainer menududukkan kembali tubuhnya yang baru saja merebahkan diri itu dan merapatkan diri pada Anna lalu berbisik dengan lembut di telinganya.
__ADS_1
"Bukankah kamu mau ikut seleksi di divisi lain di kantor?"tanya Rainer begitu lembut sambil memegang pipi istrinya dengan lembut untuk mengalihkan pandangan Anna agar fokus kepadanya.
"Jika masih mau, kau sudah tahu bukan syaratnya," lanjut Rainer.
"Dari kemarin aku coba, tapi gagal terus, aku lelah dan tak tahu seperti apa yang benar agar kau setuju," ucap Anna sambil memandangi suaminya.
Sejenak Anna berfikir, ternyata benar, suaminya begitu tampan, apa salah jika ia cemburu dan tak terima kala wanita lain menatapnya dengan minat, apakah dia beruntung? ataukah malah sial karena sudah pasti memiliki suami tampan seperti suaminya ini akan membuat darah tinggi setiap hari.
Tiba tiba pandangan Anna berubah sayu, menyiratkan ketidak percayaan diri, entah kenapa malam ini Anna benar benar sensitif, malah merasa takut jika suatu saat Rainer akan bosan padanya.
Rainer memandangi wajah istrinya, tersirat ada perubahan dari cara memandang istrinya itu, matanya kini sedikit berembun, menatapnya begitu dalam, kemudian Rainer mengelus pipi Anna dengan lembut.
"Kamu marah karena tadi aku menyusulmu?" tanya Rainer lirih sambil tetap mengelus pipi mulus istrinya yang polos tanpa make up itu.
"Maaf, sepertinya aku tak pantas marah karena sesuatu hal yang konyol," ungkap Anna yang sedikit menundukkan pandangannya, merasa menyesal atas tingkahnya yang tidak jelas itu.
Rainer lalu menarik tubuh Anna agar masuk kedalam pelukan dada bidang Rainer yang pelukabel itu lalu mengangkatnya agar duduk di pangkuannya.
"Kamu tahu sayang? aku tak pernah merasa yakin pada wanita manapun selain kamu, tak pernah mengejar wanita lain seperti aku mengejar kamu, tak pernah memikirkan wanita lain seperti aku memikirkan kamu, jadi apa yang kamu hawatirkan saat hati dan pikiranku hanya ada kamu?" tanya Rainer kemudian mengecup leher istrinya dengan sayang.
Lalu Rainer memegang bahu Anna, menjauhkannya sejenak dari tubuhnya untuk memandang mata Anna dengan dalam. Rainer melihat ada setitik air mata yang mengalir di pipi istrinya itu, lalu ia mengusapnya dengan lembut dan penuh perasaan.
"Kamu tahu dulu siapa aku bukan? aku tak memaksamu untuk percaya jika aku sudah berubah, cukup buktikan saja dan lihat sendiri, apakah aku sudah berubah apa belum," ungkap Rainer sambil terus menatap mata istrinya dan menempelkan hidung mereka.
"Kamu mau aku ajari agar kamu lulus persyaratan dariku sayang?," tanya Rainer menggoda.
Lalu pandangan itu berubah sayu, tersirat ada keinginan lain yang menggebu dalam diri Rainer untuk dikeluarkan, dibalas dengan tatapan Anna yang merasakan keromantisan suaminya, ia begitu tersanjung dengan sentuhan sang suami. Saat ini Anna merasa dicinta dan dihargai sebagai seorang wanita dan istri.
Suasana romantis yang sedang Rainer bangun itu membuat Anna berkaca kaca, ada sesuatu yang bergejolak didalam sana, benar benar membuat debaran itu mengalun indah, Bagaikan sedang menyaksikan adegan lagu bolywood romantis mengalun dalam bayangan.
suraj hua madham chaand jalne laga
aasmaan yeh haai kyoon pighalne laga
suraj hua madham chaand jalne laga
aasmaan yeh haai kyoon pighalne laga
__ADS_1
main thehra raha zameen chalne lagi
dhadrka yeh dil saans thamne lagi
oh kya yeh mera pehla pehla pyaar hai
sajna kya yeh mera pehla pehla pyaar hai
suraj hua madham chaand jalne laga
aasmaan yeh haai kyoon pighalne laga
main thehra raha zameen chalne lagi
dhadka yeh dil saans thamne lagi
oh kya yeh mera pehla pehla pyaar hai
sajna kya yeh mera pehla pehla pyaar hai
hai khoobsurat yeh pal sab kuch raha hai badal
sapne haqeeqat mein jo dhal rahe hai
(Bayangkan sedang nonton Vidio klip Suraj Hua maddam yang diperankan oleh Shahrukh Khan dan Kajol di Film kabhi khushi khabi gham)
***
Maafkan author ya menyematkan lirik lagu India, soalnya aku merasa Vidio klip ini beneran romantis banget, bikin yang nonton deg deg ser gimana gitu 😂😂😂, pengennya lagu Korea yang nge-hits dan romantis tapi tetep kebayang ini donk.
Coba puter deh, suka aku beneran.
Siap siap menuju puncak ya 😂😂😁
selamat berhalu ria...
Happy reading 😊😉
__ADS_1