Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 42. Diabetes


__ADS_3

Angin berhembus dengan lembut di sore menuju malam itu, mengiringi dua insan yang sedang merenungi perasaan satu sama lain dalam rengkuhan tangan sang pria pemaksa di pinggir jalan menuju kampus Anna.


Beruntungnya kondisi jalanan sedang sepi karena mayoritas manusia berusaha secepat mungkin ingin segera sampai ke rumah untuk sekedang ingin cepat beristirahat di rumahnya masing masing.


Isakan tangis Anna masih terdengar lirih di telinga Rainer, menyalurkan kekesalannya pada manusia yang selalu mengatakan bahwa Anna membuat kesalahan tanpa Anna tau apa salahnya.


Untuk kali ini saja, Anna tak mau kalah dengan ketakutannya kehilangan pekerjaan. Kini iya ingin mengatakan apa keluhannya pada sang pria yang telah membuat ia kesal hingga ketiadaannya membuat Anna merindu.


Pria yang memeluknya secara paksa, dengan gerakan tangannya membelai rambut panjang Anna yang di ikat rendah dan sekali kali mencuri ciuman di puncak kepalanya ini, telah berani menempati hati yang awalnya baik baik saja tanpa keberadaannya, telah berani menumbuhkan harapan pada hati seorang gadis, padahal sudah jelas Pria brengsek ini adalah pria yang mudah disentuh oleh wanita mana saja. Sangat mengesalkan.


Setelah sadar dengan perbuatan bos brengseknya itu dan berhasil menenangkan dirinya dan meredakan Isak tangisnya, kemudian Anna mendorong tubuh tegap dan wangi itu hingga terhuyung kebelakang.


"Jangan sentuh saya Pa, anda memang pria menyebalkan!" teriak Anna dengan berderai air mata dan menyorot bengis pada wajah Rainer yang menampakkan cengiran menyebalkannya.


Rainer begitu bahagia melihat Anna saat ini, bukan karena Anna sedang menangis. Tapi saat ini Anna sedang menyalurkan kecemburuannya. Rainer begitu bahagia mendapatkan sikap seperti ini dari seorang Anna yang dikenalnya begitu pintar menyembunyikan perasaannya dan Rainer mengira dia adalah gadis yang tak peka.


Melihat sang bos brengseknya ini malah tersenyum ceria seketika amarah Anna semakin memuncak, Anna menarik nafasnya siap menyemburkan umpatan pada Rainer. "Anda bahagia melihat saya begini?!" kesal Anna.


Dengan senyumnya yang tak henti berkembang, Rainer menganggukan kepalanya lalu berkata, "Kamu begitu manis jika sedang cemburu, Sayang".


"Waht? Sayang!" umpat Anna sambil membulatkan matanya tak menyangka pria tampan di depannya ini semakin berani dengan tindakannya.


Semakin murka saja Anna dengan perkataan Rainer yang seenaknya itu. "Anda memang menyebalkan, Pak!" bentak Anna sambil menutup wajah dengan kedua tanganmya kembali Anna terisak. Bosnya ini kenapa sangat senang menggodanya.


"Maafkan aku yang tak mengerti arti dari kediamanmu, maafkan aku tidak mengerti perasaanmu, maafkan aku dengan keinginanku yang ingin melihat perasaanmu padaku." Rainer lalu merengkuh kembali tubuh Anna yang kembali terisak itu.


"Ayo aku antar ke kampus," ucap Rainer sambil menarik tangan Anna dengan lembut menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari keberadaan mereka.

__ADS_1


Bak sebuah adegan di drama Korea, dua insan yang sedang menyalurkan rasa itu, Anna yang menyalurkan protesnya dan Rainer sedang menyalurkan kebahagiannya, telah menjadi tontonan orang orang yang kebetulan sedang lewat di jalan tersebut, sungguh romantis.


Sampai di mobil yang Rainer parkirkan di depan angkringan yang tadi mereka singgahi, kemudian dengan sigap Rainer membukakan pintu mobil untuk gadis yang sedang merajuk itu, menghalangi kepala Anna dengan tangannya agar tak terantuk dinding mobil.


Setelah memastikan sang pujaan hati duduk dengan nyaman, kemudian Rainer menutup pintu mobil dan berlari mengitari mobil, lalu duduk di kursi kemudi dengan nyaman.


Mata Rainer yang berkilau dengan kebahagiannya itu menatap wajah malang yang sedang menangis dengan perasaan geli, sambil menyodorkan air mineral yang sudah ia buka segel dan tutupnya terlebih dahulu.


"Minumlah."


Tanpa berkata apapun, Anna lalu meraih botol minum yang disodorkan Rainer dengan sedikit amarah, lalu meneguknya dengan satu kali tegukan hingga setengahnya tandas diminum.


"Air minum itu manjur bukan membuat kamu selalu teringat padaku?" canda Rainer sambil terkekeh.


Anna lalu melirik Rainer yang sedang tersenyum geli dengan sengit. "Bisa bisanya pria brengsek ini masih menggodaku."Umpat Anna dalam hati.


"Maafkan aku Anna," ucap Rainer lirih.


Mendengar kata maaf yang terlontar kembali dari mulut manis Rainer, Anna menghentikan gerakannya lalu menatap Rainer.


"Kenapa anda sangat senang menyiksa saya, bahkan anda senang menghukum saya dengan kerinduan, sekarang anda membuat saya mengatakan kebodohan ini," ungkap Anna dengan lirih, menampakkan kembali matanya yang berkaca-kaca.


Kini Rainer tak memperlihatkan senyuman kembali, hanya matanya yang berbinar menampakkan kebahagiaan, bahwa usahanya membuat sang gadis mulai mencintai dirinya sudah berhasil.


"Maaf, aku tak mengerti perasaanmu." Rainer mengusap air mata yang mulai mengalir ke pipi merona Anna itu.


"Kamu tau Anna?, meskipun banyak wanita yang mendekatiku, tapi hanya kamu yang membuatku mengejar kamu, sampai membuatku murka setiap ada pria yang mendekatimu," ungkap Rainer yang hanya ditanggapi dengan tatapan mata tak terbaca dari Anna.

__ADS_1


"Bahkan aku merasa marah saat aku belum bisa membaca perasaanmu, aku kira kamu tak membalas cintaku. Kau tau? seminggu ini, aku sangat merindukanmu, hingga aku marah saat kamu berinteraksi dengan Damar, dan tadi saat Karin mendekatiku, kau biasa saja, tak cemburu sedikit pun. Aku benar benar putus asa tadi," lirih Rainer sambil terus memandangi mata Anna yang masih basah itu.


"Jangan sembarangan menafsirkan perasaan orang pa, karena perasaan ini hanya saya yang tau" ungkap Anna.


"Baiklah, mulai sekarang, aku hanya akan mengartikan bahwa perasaanmu sama denganku," goda Rainer sambil menarik turunkan alisnya dengan jenaka.


Melihat tingkah bos tampannya itu, Anna ingin tertawa, kemudian memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dengan Rainer agar Rainer tak bisa melihat tawanya yang sedang ia tahan itu.


Sungguh gadisnya ini benar benar manis. "Baiklah, sebentar lagi kamu harus kuliah, dan aku pun harus meeting, jadi ayo kita selesaikan tugas kita," ucap Rainer. Lalu ia melajukan mobilnya menembus jalanan yang mulai ramai kembali menuju kampus Anna.


Sesampainya di kampus, Anna kemudian keluar dari mobil Rainer tanpa berkata apapun, tetapi Rainer menarik tangan Anna untuk duduk kembali di kursi yang sebelumnya ia tempati. Kemudian tatapan mereka bertemu. "Jangan langsung pulang nanti, tunggu aku menjemputmu," titah Rainer yang dijawab dengan anggukan tanpa senyuman oleh Anna.


Tak disangka dan diprediksi oleh Anna, Rainer kemudian menarik tangan Anna lebih mendekat padanya dan mencuri satu kecupan di pipi manis Anna yang membuat sang pemilik pipi itu kaget bukan kepalang.


"Plak..." Anna memukul tangan Rainer dengan keras membuat Rainer mengaduh sambil terkekeh dengan riang.


"Dasar bos brengsek," umpat Anna sambil berlari meninggalkan mobil Rainer.


Rainer begitu gemas dengan gadis polos ini hingga ia tak tahan ingin merasakan sentuhan kulitnya. Sepertinya Rainer harus segera memberi laporsn pada sang mamah.


Berani sekali bos brengseknya ini, kenapa tidak di pukul tepat dipipinya aja sih An...


***


Maafkan othor yang tulisannya masih acak Adut ini ya...


Happy reading😉😉

__ADS_1


__ADS_2