
Setelah kepergian Rainer dari kamar pasien yang ditempati oleh Anna, menyisakan perasaan berbeda pada diri Anna dan Rainer. Dalam keyakinan perkataannya pada Anna, terbersit rasa khawatir yang melanda. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Rainer merasa tak percaya diri bisa mendapatkan seorang gadis. Jika dengan wanita lain, Rainer bisa mendapatkqn wanita manapun tanpa harus bersusah payah, tapi sekarang, bahkan dia mulai meragu bisa meyakinkan Anna jika dia serius akan perkataannya.
Bukannya Anna meragukan apa yang dikatakan oleh Rainer, tapi ia merasa dirinya tak pantas apalagi dengan statusnya hanya sebagai karyawan rendahan. Apalagi Anna tidak tahu bagaimana keluarga Rainer. Meskipun dia tau jika Rainer memiliki adik perempuan yang begitu baik bernama Tania, tapi jelas belum cukup.
Setelah satu jam berpisah dengan Rainer, tak menunggu lama, Anna kemudian keluar dari ruang istirahat Di klinik perusahaan ini. Anna sebenarnya tidak merasa sedang sakit. Hanya saja, dia tak enak kepada perawat yang ada di klinik tersebut, karena mereka sudah mendapatkan pesan dari Rainer jika Anna tak boleh keluar dari ruangan ini jika belum tidur minimal satu jam.
Setelah berhasil meninggalkan klinik, Anna kemudian bergegas ke ruangan kebersihan untuk mengambil peralatan yang dibutuhkan untuk membersihkan tempat tempat yang sudah dijadwalkan akan di kerjakan olehnya.
Hari ini, tugas Anna adalah membersihkan lantai 3, tepatnya Anna akan membersihkan toilet yang ada di lantai 3.
Anna tidak sempat bertemu dengan Ratih dan Melly, mungkin mereka sudah memulai pekerjaannya dari satu jam yang lalu saat Anna di tarik paksa oleh Rainer.
"Ya sudahlah, ayo kerja lagi, semangat !!" ucap Anna berbisik sambil menenteng peralatan kebersihan toilet dan mulai melangkahkan kakinya ke tempat yang akan di tujunya.
Entah kenapa hari ini begitu aneh. Tatapan semua orang begitu nampak tak biasa. Setiap karyawan yang berpapasan dengan Anna selalu menyempatkan diri untuk berbisik.
"Ada apa?" bisiknya bicara sendiri.
Ditengah jalan, Anna bertemu dengan Wisnu yang sedang berjalan beriringan dengan Ratna.
"Anna, kamu nggak apa apa kan?" tanya Ratna perhatian.
"Anna nggak apa apa mba, emang kenapa?!" tanya anna sedikit heran.
"Beneran kamu nggak di apa apain sama si bos?" tanya Wisnu makin aneh.
"Bos siapa mas? ngga ngerti aku," tanya Anna makin keheranan.
Tiba tiba Ratna dan Wisnu menarik lengan Anna menuju ruangan mereka yang tepat berada di sebrang toilet yang akan Anna bersihkan.
__ADS_1
"Duduk An, kamu harus dikasih informasi penting," tegas Wisnu.
Dahi Anna makin berkerut dengan apa yang diucapkan Ratna dan Wisnu. Dua sahabat ini memang orang orang yang perhatian kepada Anna selain Wina tentunya.
"Tau enggak? pagi ini kita dapet foto kamu lagi digendong sama pak Rainer An, udah tersebar di group wa karyawan, berita ini benar benar heboh," ucap Ratih menggebu gebu
"Apa?! ko bisa? siapa yang foto?," tanyaku gelagapan.
Sontak Ratna dan Wisnu saling pandang, merasa kaget dengan jawaban yang seperti membenarkan foto yang tersebar itu benar adalah foto Anna dengan Rainer.
"Jadi beneran foto kamu An? ini bukan editan orang iseng?" tanya Wisnu.
Anna tak mampu menjawabnya dan hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Melihat gelagat ku yang tak menyangkal apa yang mereka katakan ini, mereka mendesah dengan berat.
"Dengerin kita An, kamu pokoknya nggak boleh terjebak sama rayuan si bos ya, kamu nggak tau kalo si bos pacarnya banyak?" tegas Wisnu.
"Bukan salah dia punya pacar banyak Nu, emang cewenya aja yang pengen dijadiin pacarnya biarpun jadi pacar keseksiannya pak Rainer" bela Ratna.
Ratna dan Wishnu terus saja berdebat mengenai pendapat mereka soal Rainer, sedangkan Anna hanya memandang mereka takjub. Mereka benar benar baik dan pengertian.
"Enggak gitu mas, aku ngga di apa apain ko, cuman tadi aku dikira sakit sama pak Rainer," jawab Anna dengan polosnya.
"Gawat ini, kayanya kamu bakal jadi incaran pak Rainer An, kamu hati hati lho ya, bukan cuma karena pak Rainernya aja, tapi inget cewe yang suka sama pak Rainer itu kadang suka ada yang bringas lho," terang Ratna.
"Anna nggak ada apa apa ko sama pa Rainer, dia cuma sebagai bos kita aja, nggak ada yang lain," ucap Anna berusaha mengembangkan senyumnya.
Saat mengatakan itu, ada yang aneh dalam hati Anna. Di dalam hatinya ada yang mengiyakan jika Rainer hanya sebagai atasannya. Tapi ada bagian dari dirinya menolak pernyataan itu.
"Udah kan ya, udah jelas, nggak ada apa apa ko, yang tadi cuma salah paham aja, Anna balik kerja lagi ya," ucap Anna sambil undur diri.
__ADS_1
"Oh, ya udah, maaf ya An, kita cuman khawatir aja sama kamu ko, tapi kayanya kamu akan baik baik aja deh," ucap Ratna.
"Pasti mba..."
***
Setelah keluar dari ruangan Ratna dan Wisnu, Anna memasuki toilet yang berada tepat di depan ruangan itu. Anna memulai pekerjaannya dengan mengelap kaca besar depan wastafel, menyikat dan membersihkan wastafel, mengepel lantai termasuk membersihkan closed di setiap bilik toilet, tak lupa mengisi kembali tisu yang kosong.
Saat Anna akan beranjak untuk melanjutkan pekerjaannya, tiba tiba wanita yang tempo hari memaki maki dirinya berada tepat di depan Anna lalu ia memanggil Anna dengan angkuh.
"Pinter banget kamu ngegoda atasan ya An, dikasih pelet apa pak Rainer sama kamu, ko bisa dia mau gendong kamu An?" ucap Lani dengan nada menghina.
"Asragfirulloh mba, ngga boleh ngomong gitu lho mba, bisa jadi fitnah," sanggah Anna. Saat ini Anna memang marah dengan apa yang dikatakan oleh Lani. Tapi Anna tak ingin lebih rendah membalas Lani dengan kemarahan.
"Kalo mba Lani pengen tau kenapa pak Rainer begitu sama saya, tanya langsung aja sama orangnya," ucap Anna sambil lalu meninggalkan Lanj yang kesal atas jawaban Anna.
"Dasar cewe gatel," umpat Lani kesal sambil menghentak hentakkan kakinya.
Anna saat ini begitu sedih, belum apa apa dia sudah dianggap tak pantas, padahal itu dikatakan oleh orang lain. Bagaimana jika nanti yang mengatakannya adalah keluarga bahkan orang tua Rainer, rasa sakitnya pasti akan berlipat ganda.
"Aku harus tau diri kan," ucap Anna sambil berusaha menetralkan perasaannya, berusaha melupakan apa yang telah terjadi barusan, dan berusaha melupakan apa yang dikatakan Rainer pagi tadi.
Saat ini cinta Anna sudah mulai berkembang sedikit demi sedikit, tetapi kesadaran tentang perbedaan status sosial itu masih tertancap begitu dalam, tak ada niatan untuk menyingkirkannya. Anna merasa begitu takut dengan kenyataan, jika dia terbuai bahkan bukan hanya dia sendiri yang tersakiti, orang tuanya yang tidak tau apa apa pun akan ikut tersakiti.
Anna tak ingin kejadian yang menyakitkan itu kembali terulang menimpa dirinya dan orang tuanya.
***
Makasih banget buat pembacaku tangan setia nungguin tiap part-nya.
__ADS_1
Happy reading, 🤗