Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 63. Pernyataan tanpa suara


__ADS_3

Kehadiran Rainer membuat Anna berdebar debar tak menentu, kerinduannya membuncah, ingin sekali menatap wajah tampan itu yang selalu mengancamnya untuk tak menyukai pria lain. Tapi nyatanya Minggu lalu Rainer seperti memutuskan untuk mundur dari arena perjuangan untuk mempertahankan tekatnya memiliki Anna, dan sebelumnya Anna telah memutuskan akan mengikuti apa keinginan orang tuanya saja.


Saat Anna melihat bapaknya dan Rainer sedang bercakap cakap, Anna langsung berlari ke belakang rumah, untuk menghindari tatapan pria yang telah membuatnya bimbang itu.


Andai saja kemarin ia mendapat kepastian dari mulut Rainer, pasti Anna akan bisa dengan yakin mengatakan pada Bapanya jika ia memiliki pria yang telah mengisi hatinya bukan, apakah sekarang terlambat? entahlah apa yang akan terjadi, Anna pasrah saja, ia tak ingin membuat kelurganya malu dengan sikapnya yang plin plan.


***


"Bapa, saya mencintai putri bapa, begitupun putri bapa kini telah mencintai saya, saya mohon jangan jodohkan putri bapa dengan pria lain," mohon Rainer meminta pada pria paruh baya di depannya ini.


Sejenak bapak melirik pada Tania yang sedang tersenyum penuh arti dan sedikit menganggukkan kepalanya pada bapa Anna.


"Nak jangan seperti ini, ayo kita duduk, dan bicara baik baik," ucap bapa sambil menuntun tangan Rainer untuk duduk di kursi yang sebelumnya ditempati oleh Tania.


Bapak benar benar tidak mengira ada pria yang rela berlutut padanya demi Putri sulungnya itu, bapa merasa terharu, sepertinya Anna telah membuat pria gagah didepan nya ini begitu mencintainya.


Lalu bapak tatap wajah lelah itu, wajah yang telah menempuh perjalanan tanpa tidur sedikitpun, terlihat mata Rainer sedikit berembun, seperti ingin menangis dan putus asa.


"Jika Anna mencintai nak Rainer, kenapa Anna tidak menolak sedikitpun saat kami bilang akan memilihkan calon untuknya? bahkan tidak mengatakan bahwa ia memiliki seorang kekasih, padahal bapak sudah bertanya tapi dia bilang tidak punya," tanya bapa ingin tau apa pembelaan Rainer.


Rainer kemudian menghela nafasnya, begitu berat, sesal itu muncul lagi, kesalahan nya dalam mengambil langkah ternyata membuat Anna meragu padanya.


"Ini salah saya pa, seminggu terakhir kemarin saya menghindarinya, karena berfikir ingin menghormati keputusannya untuk tidak memiliki hubungan dengan pria manapun termasuk saya, saya ingin menjaga dia agar saya tidak melewati batas, dan bermaksud akan datang kemari setelah pekerjaan saya selesai, tapi nyatanya saya malah keduluan, dan memang saya berlebihan, maafkan saya, seharusnya saya mengatakan sesuatu agar Anna tidak merasa ragu," sesal Rainer.


Mendengar pernyataan dari Rainer, bapa begitu terharu dan bangga pada putrinya, ternyata putrinya berusaha menjaga dirinya, dan pria dihadapan bapa itu juga berusaha menghormati keputusan putrinya.


"Baiklah, bapak tidak bisa memutuskan ini semua sekarang, tunggulah satu malam, bapak akan berbicara dengan Anna terlebih dahulu, dan memutuskannya nanti, nak Rainer beristirahatlah dulu," ucap bapa.


"Tania... ajak nak Rainer ke rumah mang Kiki aja, kalo disini nggak ada kamar kosong, dan kemungkinan akan terganggu istirahatnya kan lagi diberesin ya," ucap bapa mengintruksikan pada tania.


"Iya pa," jawab Tania tanpa sungkan.


Hebatnya Tania, baru beberapa hari di rumah Anna, Tania sudah begitu leluasa dan akrab dengan seluruh anggota keluarga, Tania sudah seperti memiliki keluarga baru disini.


"Ajak makan dulu Tan Kakanya, bapak masuk dulu," ucap bapak sambil meninggalkan Kaka beradik itu di depan rumah.


Bapak hanya tersenyum sambil menepuk bahu Rainer menyalurkan kesabaran padanya.

__ADS_1


"Kamu ko bisa akrab banget sama keluarga Anna sih Dek?" tanya Rainer.


Tania hanya tersenyum sambil melahap makanan di depannya.


"Ya iyalah, mereka baik banget, beruntung banget tuh si firman dapet Anna yang baik dan cantik, udah gitu keluarganya baik lagi," ucap Tania menggoda kakaknya.


"Tania ! Kamu enggak bantu Kaka buat gagalin pertunangan Anna?" tanya Rainer sambil melipat tangannya di dada.


"Ya ngapain di gagalin sih ka, cowoknya baik sama ganteng juga, biarpun masih muda tapi firman tuh dewasa, keliatannya dia juga bakalan sayang sama istrinya," ucap Tania, membuat Rainer geram, tapi sayang ia tak bisa berbuat apa apa.


"Besok mamah kesini, jadi Kaka tenang aja," ucap Tania.


Mendengar pernyataan dari adiknya itu, terlintas rencana gila yang mungkin bisa ia lakukan untuk memiliki gadis pujaannya itu.


***


Kini Anna sedang berhadapan dengan bapaknya, menundukkan kepalanya begitu dalam, tak kuasa memandang wajah renta yang selalu menghawatirkannya itu.


"Anna, ada yang ingin kamu sampaikan sama bapa?" tanya bapa.


Yang ditunggu jawabannya hanya semakin dalam menundukkan kepala bingung pada bapaknya, bingung apa yang harus dikatakan, bingung harus bicara dari mana dulu, bingung memikirkan reaksi bapa jika tahu apa yang sebenarnya, pada akhirnya Anna hanya diam saja tak mengucapkan apapun.


"Anna, katakan pada bapa, apa yang kamu inginkan?" tanya bapa.


Anna kemudian mengangkat kepalanya yang tertunduk dari tadi, dan menatap wajah pria yang sangat ia sayangi ini.


"Anna hanya ingin melihat bapak dan ibu bahagia, karena Anna yakin jika bapak ridho dengan jodoh Anna, itu akan membuat rumah tangga Anna bahagia," jelas Anna.


Bapak begitu terharu mendengar penuturan Anna, ia merasa beruntung memiliki anak yang begitu menyayangi orang tuanya. Kemudian bapak merangkul tubuh mungil putri sulungnya itu dan mengusap rambut panjangnya, rasanya kebahagiaan bapak begitu membuncah memiliki anak anak yang begitu baik.


"Baiklah, bapak rasa, pilihan bapak tidak akan salah untuk kamu, dan bapak ingin menjaga kamu Anna, ingin menjaga prinsip kamu untuk tidak berpacaran atau bertunangan. Maukah kamu besok langsung menikah saja dengan pria pilihan bapak?," tanya bapak sambil menjauhkan Anna dari dekapannya yang ingin melihat langsung reaksi Anna.


Anna berfikir sejenak, lalu dengan mantap menganggukan kepala. Terlihat memang dari pantulan matanya satu keraguan dan ketakutan, tapi Anna sudah yakin, jika ia mendapatkan restu orang tuanya, pasti ia akan bahagia. Bukankan restu orang tua adalah restu Allah juga?.


***


Kini, persiapan yang tadinya sebuah pertunangan berubah menjadi sebuah pernikahan yang begitu mendadak digelar.

__ADS_1


Seluruh keluarga Anna yang memang hanya ada di sini sudah hadir dan berkumpul di kediaman Anna.


Seorang pria dengan gagah telah duduk di depan wali sang mempelai perempuan di saksikan oleh penghulu dan para saksi, memancarkan keyakinannya untuk mempersunting sang gadis pujaan.


Dan Anna sebagai calon mempelai perempuan, duduk dengan resah berusaha menerima nasibnya yang tiba tiba sekarang menjadi calon mempelai wanita. Ia ditemani sang ibu, Tania, Ayu dan beberapa sepupunya di meja rias yang ada di kamarnya, menunggu ikrar yang akan di ucapkan oleh sang mempelai laki laki.


Terdengar sayup sayup keriuhan diluar sana yang entah apa yang terjadi, membuat dada Anna berdetak begitu kencang, tangannya tiba tiba dingin, memancarkan kekhawatiran, karena ketidak tahuan siapa yang diputuskan bapaknya menjadi calon suaminya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Anna Azalea Rumi binti Syaiful dengan maskawin uang tunai sebesar *************, satu set perhiasan dan seperangkat alat shalat dibayar tuuunai" ucap mempelai pria dengan lantang tanpa ada kesalahan sedikitpun.


"Bagaimana saksi sah sah sah?..." tanya penghulu.


"Saaaaah," riuh semua saksi dan orang orang yang ada disana dengan bahagia.


Sedangkan Anna di dalam kamar tiba tiba lemas, tak menyangka dirinya sekarang adalah istri orang. Anna tau suara itu bahkan sangat tau.


Kemudian Anna dipeluk oleh Ibu dengan bahagia, ibu sampai menangis mengetahui bahwa Anna di persunting oleh orang yang begitu menyayanginya.


"Selamat ya Anna, semoga kamu selalu bahagia dalam rumah tangga kamu," ucap ibu.


Anna tiba tiba pingsan karena syok dengan keadaan ini.


"Bu Anna bu, Anna pingsan !!" terik Tania mendapati Anna yang lemah, dalam pelukan ibunya.


"Ya Allah Anna!! tolong tolong, pindahin ke kasur, bawain air minum sama minyak kayu putih," panik ibu semakin erat memeluk anna. Seketika dalam kamar Anna, semua orang menjadi panik melihat keadaan Anna.


Seseorang berlari keluar dari kamar Anna dengan tak kalah panik membuat orang orang di luar sana ikut menoleh, ingin mengetahui apa yang terjadi.


Sedangkan sang pria langsung berlari menuju kamar, melihat keadaan Anna.


"Anna kenapa?!" tanya sang pengantin pria sambil berteriak tak percaya menerobos kedalam lalu dengan sigap merangkul Anna yang terkulai lemas itu.


***


Ya ampun maafkan up nya yang sedikit ngaret, othornya sibuk ngabisin opor ini, takut basi 😂😂


Nggak tahan akunya pengen liat Anna jadi pengantin, silahkan yang mau ngisi nominal uang maharnya mau berapa, bingung othornya 🤭🤭

__ADS_1


Happy reading 😊😊


__ADS_2