Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 88. Tak tahan


__ADS_3

Mencintai bukanlah perkara gampang, tapi tidak juga bisa dibilang sulit. Perjalanannya bagaikan air, mengalir kemanapun dia mau. dan saat gejolaknya begitu besar, karang yang kuatpun akan terus dihantamnya tanpa ampun.


Diatas ranjang berukuran besar ini, Rainer terus saja menggerakkan tubuhnya, mencari posisi tidur ternyaman, berusaha mengabaikan kesendiriannya, memaksa kesadarannya ditarik oleh mimpi, berusaha melupakan jika saat ini ia sedang berbaring sendiri tanpa ada pelukan Anna yang sudah seminggu ini menjadi pelengkap dikala malam tiba.


Beginilah rasanya pengantin baru ditinggal istri? benar benar kesepian, benar benar tak bisa tenang, benar benar ah... Rainer benar benar ingin memeluk tubuh mungil itu.


Sejenak Rainer melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 11 malam, apakah jam itu sedang mempermainkannya? rasa rindu ini kembali mendera dan begitu bergejolak hebat, berharap pagi cepat datang, nyatanya ini hanya permainan waktu yang sedang benar benar menertawakan kebodohannya.


"Ah... saya...ng, aku tak tahan, aku ingin tidur memeluk kamu," geram Rainer sambil berguling guling dikasurnya.


Kemudian Rainer beranjak dari tidurnya, memaksakan diri untuk kembali ke kamar Tania, berharap Anna sudah tidur lelap seperti biasanya.


Jika melihat dari kebiasaan Anna, biasanya dia sudah sangat pulas tidur, karena Anna bukan tipe orang yang suka tidur larut malam, bahkan biasanya Anna akan sudah sangat pulas tidur jam 9 malam, dan nyaris sedikit sulit dibangunkan jika sudah tidur.


"Biar sajalah dia marah, aku akan merayunya nanti, yang penting aku tak mau tidur sendiri," gumam Rainer berbicara sendiri sambil berjalan keluar kamarnya untuk kembali ke kamar Tania.


***


Di sisi lain, di kamar Tania satu jam yang lalu setelah kepergian Rainer dari kamar Tania, Mamah Ros dan Tania masuk dengan perlahan ke kamarnya menengok kasur yang biasa Tania tempati sendiri itu telah menggulung tubuh mungil yang telah memejamkan matanya kembali.


"Anna sudah tidur mah," bisik Tania sambil mengendap ngendape dekati ranjang yang diikuti oleh mamah Ros dibelakang Tania.


"Hei, ini baru jam 10 dan dia sudah tidur?" tanya mamah Ros saling berbisik pada Tania.


"Memang begitu mah, bahkan saat Tania menginap dirumahnya, jam 8 malam Anna sudah bersiap untuk tidur, dan jam 9 sudah entah kemana," ucap Tania ikut masuk ke dalam selimut bersama Anna.


"Ya ampun... bener bener mantu mamah ini, udah jelas dia ngga kenal sama dunia malam ya," kikik mamah Ros begitu bangga dengan menantunya yang tak biasa ini.


Jika melihat anak anak zaman sekarang, mereka begitu terbiasa dengan dunia malam, main sampai larut malam, bahkan sering kali membuat orang tua khawatir, termasuk putrinya sendiri, meskipun Tania benar benar hanya nongkrong di cafe dengan temannya tetapi tetap saja Tania adalah gadis yang suka bermain juga sama seperti anak muda pada umumnya.


"Padahal mamah kepo banget tadi kalian ngapain," gumam mamah kecewa.


"Tenang aja mah, Tania udah kasih tau ko, kita memang harus merubah Kaka biar dia bisa merubah kebiasaanya yang selalu gampang dekat dengan wanita lain," ucap Tania.

__ADS_1


"Ya sudah, besok saja kita ngobrol sama Anna nya, kayanya dia cape banget, gak tega mamah ngegangguinnya juga," ucap mamah kemudian keluar dari kamar Tania menuju kamarnya sendiri.


Tania pun ikut merebahkan tubuhnya bersama Anna yang telah terlelap dan terbuai oleh mimpi indahnya.


***


Kini Rainer telah berada tepat di depan pintu Tania, kebetulan Tania memang tidak pernah tidur dengan mengunci pintunya, jadi jika ada yang darurat siapapun tak khawatir.


Dengan mengumpulkan keberanian, nekat mengambil resiko terburuk yang akan terjadi padanya, Rainer kemudian memasuki kamar Tania dengan perlahan, mendekati sisi ranjang yang ditempati oleh istrinya itu.


Berbeda dengan Anna yang memang tipe manusia yang jika sudah tidur akan sangat pulas, Tania adalah mahluk dengan kebiasaan tidur yang mudah sekali terbangun, meskipun hanya dengan langkah kaki seseorang, tingkat waspadanya sangat tinggi.


"Kaka... udah malem, ngapain sih, ganggu orang tidur aja," gerutu Tania saat mendapati Kakanya berada tepat disisi ranjang yang ditempati Anna.


Mendengan ocehan adiknya yang tiba tiba terbangun itu, Rainer tak menanggapinya sama sekali, Rainer malah memerintahkan Tania untuk pindah ke kamarnya.


"Pindah ke kamar Kaka sanah," titah Rainer sedikit memaksa.


"Ish, apaan sih, nggak mau, takut nanti ada kerusuhan di kamar aku kan gawat," ucapnya sambil kembali menarik selimutnya untuk kembali bermesraan dengan mimpi indahnya yang tadi sempat terganggu.


"Apaan sih, beneran ka enggak mau, pindahin aja Anna ke kamar Kaka, dia ngga akan kebangun, aku jamin deh," ucap Tania semakin nyaman dengan tidurnya.


Tanpa menunggu lama, Rainer kemudian mengangkat tubuh Anna yang sudah tak berdaya itu karena terlalu dalam bermimpi, bahkan tanpa sadar saat Rainer mengangkat tubuhnya ala bridal style tiba tiba tangan Anna malah memeluk leher Rainer dengan erat, merapatkan tubuhnya begitu ketat seperti tak ingin melepaskannya sedikitpun.


Mendapatkan perlakuan spesial dari sang istri meskipun Anna dalam keadaan tak sadarkan diri, membuat hati Rainer begitu membuncah bahagia. Kemudian Rainer tatap wajah Anna yang polos dan ayu itu dengan pandangan sayu, lalu ia kecup kening Anna dengan mesra, melupakan jika ia masih ada dikamar Tania yang jelas sedang melihat adegan romantis yang sedang dilakukan sang Kaka.


"Udah deh ka, jangan di depan aku donk mesra mesraannya," gerutu Tania kesal dengan kelakuan Kakanya yang kepalang bucin itu.


"Sirik aja kamu," ejek Rainer kemudian berlalu meninggalkan Tania sendirian di kamarnya.


"Liat aja, nanti Raka lebih bucin daripada Kaka ya sama aku... semoga," umpat Tania dalam hati.


Sampai di kamarnya, Rainer kemudian bergegas membaringkan Anna dengan nyaman, setelah merasa Anna telah nyaman, kemudian ia ikut bergabung memasuki selimut yang telah dikenakannya pada Anna.

__ADS_1


"Biarlah nanti kamu marah sama aku sayang, yang penting aku nggak mau tidur sendiri tanpa kamu," ucapnya begitu serius kemudian mengecup dahi sang istri turun ke bibir kemudian sedikit ********** hingga anna melenguh dalam tidurnya.


"Tahan Rainer, ini belum waktunya," ucap Rainer berusaha menenangkan diri.


Kemudian Rainer memeluk Anna dan ikut memejamkan matanya, tak butuh waktu lama hingga ia ikut menyambut mimpi indah bersama istrinya.


***


Saat pagi menjelang, seperti biasa Anna akan lebih bangun lebih awal, memang dia tak mudah terganggu saat dia tidur, tapi Anna akan bangun dengan sendirinya jika sudah saatnya, dan dia tahu kapasitas dirinya.


Saat mendapati Rainer ada disampingnya kala dia terbangun, bukan rasa kesal yang ia rasakan, tapi perasaan merasa dicintai dan dibutuhkan, sampai Rainer memindahkan dirinya yang sedang tidur demi bisa tidur dengannya, bukankah Anna patut merasa bahagia saat ini karena suaminya tak bisa jauh darinya?.


Sejenak Anna berdiam diri untuk memperhatikan wajah pulas suaminya yang sedang memeluk perutnya dengan posesif, begitu nyaman dan terlihat tenang. Kemudian Anna mendaratkan ciumannya di dahi sang suami kemudian melepaskan pelukan suaminya lalu turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, kemudian Anna segera mengenakan mukenanya untuk menunaikan shalat subuh. Saat ini saja tidak apa bukan jika dia menunaikan shalat subuh sendirian? pasalnya Anna sedang memberi pelajaran pada Rainer.


Demi melancarkan misinya ini, Anna tak membangunkan Rainer secara langsung, setelah selesai menuntaskan kewajibannya, lalu Anna bergegas keluar kamar, tujuannya adalah ke dapur untuk membantu membuatkan sarapan bersama mertuanya.


Untuk membangunkan Rainer agar melakukan shalat subuh, Anna kemudian menelpon Rainer pada saat ia sudah berada di dapur.


"tenonet tenonet tenonet," suara panggilan dari ponsel Rainer terdengar begitu kencang, mengakibatkan kesadaran Rainer ditarik paksa dari mimpinya.


Kemudian ia meraba nakas dimana ponselnya tersimpan didalam dan menariknya, ia mendapati yang menelponnya pagi pagi buta seperti ini adalah My sweety nama kontak untuk sang istri.


Tentu saja Rainer membelalakkan mata melihat siapa yang menelponnya, lalu segera ia mengangkat panggilan itu sambil mengedarkan matanya mencari keberadaan istrinya yang fix sudah tak ada dikamar.


"Halo, sayang kenapa kamu ngga ada di kamar? kemana kamu?" tanya Rainer gelagapan, kini kesadarannya 100% telah kembali karena mendapati istrinya tak ada di sampingnya bahkan dikamarnya pun tidak ada.


"Cepat bangun, dan shalat subuh," ucap Anna tanpa menjawab pertanyaan Rainer kemudian menutup panggilan itu tanpa ada kata penutup sedikitpun.


"Sayang sayang, Hallo..." panggil Rainer dengan gusar.


"Si*la... ngambek udah istri aku..." umpat Rainer sambil mengacak rambutnya dan segera beranjak dari tidurnya untuk menjalankan shalat subuh.

__ADS_1


***


Happy reading🤣🤣


__ADS_2