
Setiap mahluk di dunia ini pasti akan berubah, fisiknya, kebiasaannya, prilakunya, bahkan lingkungannya, apalagi manusia, dari waktu ke waktu pasti akan berubah.
Harapan dari perubahan yang sering disorot adalah, Apakah dia akan berubah lebih baik, ataukan berubah ke arah yang lebih buruk.
Sama halnya yang Anna dan Rainer rasakan, mereka sedang berubah, berusaha merubah keadaan, perasaan, dan keinginan mereka agar menjadi satu rasa, yaitu rasa saling cinta rasa saling memahami, dan rasa saling mengerti keadaan masing masing.
Senyum itu terus merekah kala melihat wanitanya berderai air mata setelah menamparnya, Anna terus mengumpati Rainer, menumpahkan kemarahannya dengan sekuat tenaga, ia tidak lagi memikirkan kejadian apa yang akan terjadi, bahkan dia lupa jika Rainer bisa saja dengan mudah memecatnya.
"Kamu memang laki laki brengsek, kemarin terus mendekati aku, sampai aku menyimpan perasaan padamu, dan sekarang dengan mudah kamu sentuh wanita lain, aku menyesal selalu ingat sama kamu," umpat Anna yang terus terisak menahan ledakan emosi didadanya.
Rainer hanya tersenyum memandang Anna yang sedang menahan isakannya sungguh lucu gadis didepannya ini, tak memberi kepastian padanya, tapi tak rela jika dia berdekatan dengan wanita lain.
Sedangkan Anna semakin terpancing emosi melihat senyum Rainer yang terus merekah itu, maksudnya apa? dia mengejek atau Anna telah kembali terjebak dengan permainan seorang brengsek seperti dia.
Setelah beberapa saat mengeluarkan amarahnya, akal waras Anna berangsur angsur kembali, isakannya mulai berkurang, dan kini dia bisa bernafas dengan lancar tanpa hambatan.
Anna lirik kembali wajah Rainer, dia masih menatap Anna tanpa merubah ekspresinya, tetap dengan senyum yang terus merekah, tetap dengan kediamannya, tetap dengan kebungkamannya, sambil melipat tangan didadanya siap mendengarkan apa yang akan diutarakan oleh Anna.
Tiba tiba Anna berlari meninggalkan Rainer sendirian tanpa sepatah katapun, tanpa berniat membalikkan badannya melihat apakah Rainer mengejar atau tidak. Sedangkan Rainer hanya membiarkannya, tak berniat untuk mengejarnya sama sekali.
Pipi yang tadi ditampar oleh Anna masih terasa panas, Anna lumayan keras menamparnya, tapi itu malah membuat Rainer bahagia, kini ia mendapatkan jawaban atas kegundahannya semalam, yang membuatnya tak nyenyak tidur, membuatnya tak bernafsu untuk tersenyum, bahkan membuat dirinya terus saja marah marah pada orang sekitarnya.
"Sepertinya penantianmu akan segera berakhir Mah" gumam Rainer dalam hatinya.
Melihat Anna tiba tiba berlari, Ratih merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu, ada apa dengan Anna, tadi begitu menggebu memarahi Rainer, sekarang ia berlari seperti dikejar setan, padahal dari tadi Ratih memperhatikan setiap apapun yang di lakukan oleh Anna, tapi Ratih benar benar tak paham apa yang terjadi, bahkan bos tampannya tak mengeluarkan sepatah katapun hanya memandang Anna dengan senyuman sambil melipat tangannya seperti sedang mendengarkan apapun yang dikeluarkan oleh mulut yang sedang murka itu.
Tidak menunggu lama, Ratih lalu bergegas menyusul kepergian Anna dengan berlari, diapun menyempatkan untuk menganggukan kepalanya pada sang bos yang terlihat sedikit gila, bosnya itu bukannya marah telah di tampar dan di marahi oleh seorang cleaning servis, dia malah tak henti tersenyum dengan wajah yang berbinar, sungguh 2 mahluk ini sangat aneh.
Setelah Anna menghilang dari pandangan Rainer yang kemudian disusul oleh Ratih yang mengejarnya, Rainer berjalan dengan santai dengan senyum yang terus menghiasai wajah tampannya, akan kembali menuju ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Kali ini, dia harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya, dia harus segera mengambil cuti beberapa hari untuk melakukan sesuatu.
***
Disisi lain di ruangan yang biasanya di gunakan untuk beristirahat para cleaning service di perusahaan ini, Anna sedang duduk sambil mencondongkan tubuhnya menumpu kepalanya pada lipatan tangan yang ditumpuk di meja, ia menangis sejadinya, menyesali kebodohan yang dia lakukan, mengikuti saran Ratih yang harus melepaskan apapun yang ingin dia lakukan.
"Anna, kamu kenapa lari sih?" tanya Ratih sambil mengatur nafasnya karena berlari mengejar Anna.
__ADS_1
Anna malah semakin keras menangis, sambil memukul meja.
"Waaaaa..."
"Ih... kamu tuh ya, kenapa? jangan bikin khawatir Anna, cerita sama aku ada apa sih?" desak Ratih semakin bingung dengan kelakuan Anna.
"Udah pasti ngga akan selamat sekarang aku Rat, aku malah sibuk mikirin perasaan aku padahal aku lebih butuh uang daripada cinta," ucap Anna tak jelas.
"Ngomong apa sih kamu, denger ya ... uang bisa dicari dimana aja, tapi orang yang cinta sama kamu dengan tulus, ngga akan bisa dibeli An, ngga suka aku ah kalo kamu ngomong kaya gitu," protes Ratih mengingatkan perkataan Anna yang menurutnya salah itu.
"Iya aku juga tau, tapi kamu liat tadi pak Rainer? dia seperti ngancam aku dengan senyumnya, aku kayanya akan di pecat bentar lagi Rat," khawatir Anna.
"Ya ampun, bener bener sahabat aku ini, polos banget sih," gerutu Ratih.
"Aku takut Rat, aku udah nampar dan marahin dia," ucap Anna.
"Dan kamu udah mengungkapkan perasaan kamu sama pak bos, dan bilang kamu cemburu," lanjut Ratih.
"Apa?!"
"Sekarang aku harus gimana Rat," tanya Anna dengan putus asa.
"Ya... minta maaf lah," jawab Ratih dengan enteng.
***
Kini Anna berdiri di depan pintu yang sedang tertutup itu, membawa kopi tanpa ada pesanan yang empunya ruangan. Memberanikan diri untuk meminta maaf dengan perbuatan yang menurutnya sangat tidak pantas dilakukan oleh dirinya kepada sang atasan.
Sekarang logikanya bisa berfungsi dengan baik, dia telah menyadari jika Rainer berhak melakukan apapun yang ia mau tanpa memikirkan siapapun terutama dirinya yang bukan siapa siapa ini, apalagi dia dengan tanpa perasaan telah menolak Rainer, jadi Anna tak punya hak untuk melarang Rainer dekat dengan wanita manapun. Sesak memang terasa pada hati Anna mengingat semua itu, tapi ini adalah akibat dari apa yang dia lakukan, dan Anna dengan lapang dada akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan bukan.
"Tok tok tok."
Setelah minta izin pada Arman, kemudian Arman mempersilahkan Anna untuk menemui Rainer.
"Masuk," terdengar sahutan dari dalam ruangan.
Mendengar suara Rainer, jantung Anna malah berdetak begitu cepat, tangannya berubah menjadi dingin, bahkan kopi yang dibawanya malah bergemeretuk tanda ia sedang gemetar.
__ADS_1
Lalu Anna menarik nafasnya berusaha menenangkan dirinya, berharap rasa gugupnya segera menghilang.
Dengan perlahan, Anna membuka pintu yang sedang tertutup rapat itu, mendorongnya secara perlahan, dan mulai melangkahkan kakinya mendekati secara perlahan menuju pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya, berkutat dengan bertumpuk tumpuk pekerjaannya yang ingin segera ia selesaikan itu.
"Maaf pa, saya bawakan kopi untuk bapa," sapa Anna.
Sejenak Rainer melirik kearah suara yang menyapanya, kemudian senyum itu tersungging lagi, dan kembali fokus pada berkas berkas yang sedang dipelajarinya itu.
"Simpan saja," ucap Rainer dengan nada datarnya.
Setelah Anna menyimpan kopi yang dibawanya, kemudian ia memberanikan diri untuk berdiri menghadap Rainer yang tak mempedulikan keberadaannya itu. Terasa ngilu di hari melihat Rainer tak memandangnya sama sekali.
"Saya mau minta maaf atas apa yang saya lakukan tadi pa," ucap Anna tanpa basa basi.
"Ok, tidak masalah, tolong tinggalkan saya, karena saya banyak sekali pekerjaan ya, nona Anna," ucap Rainer dengan penekanan saat memanggil nama Anna.
Makin sakit saja hati Anna mendengar panggilan Rainer padanya.
"Dan satu lagi, mulai sekarang, tidak usah melakukan apa apa lagi yang sebelumnya saya minta pada anda, bekerjalah seperti biasa," lanjut Rainer.
"Baik pa, saya permisi," ucap Anna dengan hati mencelos.
Pekerjaannya memang sudah pasti selamat, kemungkinan dia tidak akan dipecat, tapi ternyata ada perasaan lain yang tak puas.
Dalam setiap langkah Anna menuju keluar meninggalkan Rainer sendirian di dalam ruangan, rasa sesak makin bertambah, Rainer benar benar melepaskannya, tak ingin berjuang kembali untuknya, tak ingin lagi mempertegas kepemilikan atas dirinya, apakah Anna harus bahagia, tapi kenapa rasanya sangat sesak.
"Kenapa malah jadi sakit begini, harusnya kan aku senang," bisik Anna dalam hati.
"Sebentar lagi kamu akan dapat kejutan mu sayang, tunggu saja." gumam Rainer sambil tersenyum sangat puas.
***
Semoga keburu hari ini bisa up satu bab lagi ya...
Makasih ya buat kalian yang selalu dukung aku, bahagia banget lho akunya. hehehe
Happy readingš¤
__ADS_1