
Dalam ingatan Rainer, senyum itu tampak merekah tanpa beban menghiasi wajah cantik sang pujaan hati, padahal Anna akan bertunangan dengan pria pilihan orang tuanya, bukankah harusnya tak ada senyum di wajah cantiknya, apa mungkin dia sudah menerima keputusan orang tuanya dan tak menunggu Rainer?.
Pransangka buruk terus menghantam pemikirannya, membuatnya mengeratkan pegangannya pada setir lalu menghantam setir tak berdosa itu.
"Sial, ada apa ini? apa yang dilakukan Tania?!" umpat Rainer marah pada sesuatu yang tak pasti.
Ia kemudian menghubungi nomor telponTania yang tersimpan dalam kontak ponselnya yang beberapa hari ini di telpon tapi tak pernah diangkat.
Apa mungkin Tania takut akan kemarahan Rainer yang tak berhasil membujuk Tania menghentikan pertunangan Anna dengan pria pilihan orang tuanya?.
"Tuuut.. tuuut... tuuut"
Sudah hampir 5 kali Rainer terus menelpon Tania, dan tak ada respon, baru panggilan yang ke 7 Tania mengangkat telpon dari Rainer.
"Kaka, ini masih jam 5 pagi ka, ngapain telpon terus sih ka!" umpat Tania tak peduli dengan kemarahan kakaknya itu.
"Kenapa kamu tidak mengangkat telpon kakak dari kemarin hah!!" bentak Rainer.
Orang yang mendapat bentakan malah menjawabnya dengan santai.
"Hehe... maaf, disini terlalu menyenangkan, jadi aku tak membaw ponsel ka, dan Raka terus telpon jadi pusing, ya sudah aku simpan saja ponselnya," ucap Tania tanpa dosa.
Tania sadar dengan kemarahan Rainer, tapi Tania berusaha biasa saja, Kakanya itu harus bisa menerima kenyataan. Manusia pemaksa itu sekali kali harus diberi pelajaran agar memahami bahwa tidak semua yang ia inginkan harus terwujud bukan, dan sayangnya apapun yang Rainer inginkan memang bisa ia capai, itu sangat menyebalkan bukan, memangnya apa sih istimewanya Rainer hingga semua yang ia mau selalu terwujud? sepertinya hidup ini terlalu sempurna untuk seorang Rainer.
"Sudahlah, sekarang kamu dimana? Kaka sedang menuju ke rumah Anna," ucap Rainer yang ingin segera sampai ditujuan.
"Kaka mau kesini dan mengganggu liburan ku?" Mendengar pernyataan Kakanya, kesadaran Tania langsung pulih 100%, ia senang akhirnya Rainer datang juga.
"Cepat kemari ka, sebelum terlambat, sepertinya keluarga ini berubah fikiran tentang perjodohan Anna, mereka ingin Anna segera menikah," ucap Tania.
"Apa? bagaimana bisa? apa yang kau lakukan disana hingga jadi begini? kamu bilang akan mengurus Anna agar tak jadi dijodohkan, Tania !!!" bentak Rainer.
Rainer begitu marah dengan apa yang didengarnya, adiknya ini benar benar tak bisa diandalkan sama sekali.
__ADS_1
"Anna bilang, kau tak sungguh sungguh serius padanya, jadi untuk apa menunggumu," ungkap Tania.
"Dan lagi, kamu terlalu lama ka. Keluarga ini sangat menyukai calon Anna, begitupun Anna jadi aku tak berhak merusak kebahagiaannya bukan," lanjut Tania tanpa beban sedikitpun.
"Jangan bercanda Tania, kamu tau bukan jika Anna cinta sama Kaka, memangnya kamu tak bilang pada Anna bagaimana Kaka akan mengejarnya?!" bentak Rainer begitu marah dengan penuturan asiknya itu.
"Tentu saja aku sudah bilang ka, bahkan mamah juga sudah bilang," jawab Tania.
"Kirim lokasi kamu," ucap Rainer berusaha meredam kemarahannya yang menggunung itu.
Setelah itu, panggilan yang membuat emosinya memuncak itu terputus tanpa ada ucapan perpisahan sedikitpun, Rainer bertekad akan memberi pelajaran pada Tania karena telah gagal dengan misinya, entah apa yang akan dilakukan Rainer, yang pasti saat ini Rainer akan segera mendatangi keluarga Anna, dan menghentikan perjodohan merek, jika tidak bisa Rainer akan menghancurkan entahlah itu pertunangan atau pernikahan Rainer tak peduli.
***
Setelah memacu kendaraannya selama kurang lebih 1 jam, akhirnya Rainer sampai di desa yang Anna tinggali.
Kini pagi sudah menyambut Rainer dengan perasaan yang campur aduk, hari begitu indah dan menyejukkan, angin semilir meniup permukaan kulit yang sedang kepanasan karena amarah itu, matanya dimanjakan dengan pemandangan hijau memukau terhampar luas dikiri kanan jalan dengan perkebunan sayur mayur yang di tanam oleh para petani setempat, dan jangan lupa sinar matahari yang sedikit demi sedikit menampakkan sinar indah yang menghangatkan bumi yang masih berkabut ini.
Dari kejauhan nampak sebuah rumah sederhana yang dikelilingi oleh pagar kayu dan dihiasi oleh pagar tanaman, rumah itu nampak lebih ramai dibandingkan rumah di sekitarnya, sepertinya keluarga di rumah itu tampak sedang mendirikan tenda untuk hajatan atau sebagainya, entahlah Rainer tak paham.
Terlihat Tania keluar dari rumah yang nampak ramai itu, dengan sweeter longgarnya dan celana piamanya, tak lupa rambutnya yang di cepol asal, sedang duduk di kursi depan sambil menikmati camilan dan kopinya, benar benar Tania berhasil berbaur dengan keluarga yang kini ia tinggali itu.
Rainer kemudian bergegas memarkirkan mobilnya, dan mendekati adiknya yang bandel itu, yang berhasil membuat Rainer naik darah karena tak berhasil menghentikan perjodohan Anna, dan malah mendukung apa yang akan terjadi berikutnya.
Saat melihat kedatangan kakak laki lakinya itu, seketika senyum Tania mengembang dan melambai lambaikan tangannya pada Rainer, benar benar Tania tak memiliki ketakutan sedikitpun pada Rainer. Dia tak sadar telah, membuat Kakanya itu kelimpungan dari pagi.
"Akhirnya Dateng juga ka, lama banget sih," ucap Tania sambil memeluk tangan Kakanya, yang dibalas lirikan sinis dari sang Kaka.
"Mana Anna? Kaka ingin bertemu," ucap Rainer sengit.
"Ih, nggak sopan banget, Anna nggak ada, lagi dipingit," ucap Tania membuat Rainer membulatkan matanya.
"Jangan bercanda kamu Tania!" bentak Rainer dengan amarahnya.
__ADS_1
"Ya udah sih, tanyain aja sama bapanya, bentar lagi juga keluar," ucap Tania santai, Rainer benar benar kesal dengan kelakuan adiknya ini, jauh jauh dia mengejar kesini hanya untuk melihat Anna menikah, itu sangat konyol bukan.
"Biar aku panggilin aja deh ya, tunggu bentar," ucap Tania sambil melangkah kedalam.
Saat ini Tania seperti sudah menjadi anggota keluarga ini, tak ada sedikitpun rasa sungkan masuk dan keluar rumah Anna, sebenarnya apa yang terjadi dengan kondisi rumah Anna yang terlihat akan mengadakan hajatan ini?, bahkan Tania yang seperti ikut bahagia dengan keadaan ini, apa Tania merasa pria pilihan orang tua Anna lebih baik dari dirinya?.
Tidak lama menunggu, Tania telah kembali bersama pria paruh baya yang terlihat masih gagah itu, sambil membawa kopi yang akan dinikmatinya, begitupun Tania yang membawakan kopi untuk Kakanya yang sedang murka itu.
"Pak, ini Kakanya Tania, bosnya Anna di kantor juga, namannya Rainer." ucap Tania memperkenalkan Rainer pada Bapanya Anna.
Lalu pria paruh baya itu menatap Rainer yang ikut berdiri dengan kedatangan bapak dari Anna itu.
"Terimakasih pa sudah bersedia datang ke acara putri kami," ucap bapa.
Tanpa banyak bicara, Rainer langsung berlutut dihadapan bapanya Anna, Rainer tak ada ide lain selain memohon pada bapaknya Anna.
"Maaf pa, saya bukan hanya bos dari putri anda, saya juga pria yang mencintai putri anda, jangan jodohkan putri anda dengan pria lain, saya akan menikahi Anna pa," ucap Rainer tak basa basi sedikitpun.
Bapak Anna begitu kaget dengan apa yang dilakukan oleh Rainer, begitupun Tania.
"Ka Rainer benar benar luar biasa, bucin akut pake banget," gumam Tania sambil terkekeh dalam hati.
"Selamat berjuang ka," lanjut Tania bergumam dalam hati.
***
Apakah Rainer akan berhasil menghentikan perjodohan Anna? kita lihat jawabannya sebentar lagi....
Satu up lagi ya....
Spesial dihari lebaran ðŸ¤ðŸ¤
Happy reading 😉
__ADS_1