
Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Rainer, tak ada percakapan sama sekali, bahkan Rainer meninggalkan Anna berjalan sendiri saat ia meninggalkan kantornya menuju parkiran hinggan Rainer duduk manis menunggu Anna didalam mobil.
Sejenak Anna melirik Rainer saat ia sedang menyetir, tak ada candaan, tak ada godaan, tak ada sentuhan sama sekali, bahkan senyum pun tidak, saat ini Rainer hanya bermuka masam.
"Ahem..." Anna berusaha mencairkan suasana dengan cara memulai mengeluarkan suaranya.
"Pak, sepertinya saya ingin ke toilet dulu, bolehkah kita mampir sebentar?" tanya Anna, berharap dengan ia memanggil Rainer dengan sebutan pak, Rainer akan bereaksi seperti biasanya.
Ternyata strategi Anna berhasil, kini Rainer menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket yang ia lewati, lalu Rainer menatap Anna tak suka.
"Jika kamu suka memanggil aku seperti itu, silahkan," ucap Rainer kemudian membuka kunci pintu mobilnya mempersilahkan Anna untuk menuntaskan apa yang dia maksud.
Tapi nyatanya Anna tak bergerak sama sekali, dia malah menghadapkan tubuhnya pada Rainer yang sedang memalingkan wajahnya melihat ke jendela luar, kini Rainer benar benar kesal dengan sikap Anna yang santai saja menanggapi orang lain tanpa memikirkan betapa mendidihnya kepala Rainer karena dibakar cemburu.
Anna lalu meraih tangan Rainer dan menariknya agar mendekat padanya, tentu saja mendapatkan tarikan lembut dari istrinya Rainer langsung menoleh dan memandang istrinya yang sedang terkikik geli melihat tingkah Rainer, benar benar seperti remaja yang sedang jatuh cinta, posesif dan ambekan.
"Seumur hidup, aku tak pernah berpacaran be, bahkan tak ada niatan untuk berpacaran, jadi aku bukan wanita yang mengerti kode kode yang kalian buat," jelas Anna sambil memegang kedua pipi Rainer.
"Jadi, yakinlah padaku, aku ingin rumah tangga kita ini bahagia, saling pengertian dan saling percaya," lanjut Anna.
Dalam hati Rainer begitu bahagia mendengar penuturan Anna, tapi dia berusaha menahan bahagianya agar tak tergambarkan diwajahnya. Kini Rainer sedang berpura pura marah pada Anna agar Anna tak akan lagi dekat dekat dengan pria manapun.
Rainer lalu menepis tangan Anna lalu memalingkan kembali wajahnya.
"Jika mau ke toilet cepat, kita harus ke rumah mamah," ucap Rainer lalu menyandarkan tubuhnya.
Sejenak Anna berdiam diri, merenungi kenapa Rainer tak terpancing dengan apa yang dilakukannya, harapan Anna setidaknya Rainer akan tersentuh dengan apa yang dia katakan tetapi ternyata tidak sama sekali.
"Baiklah, aku keluar dulu sebentar," ucap Anna dengan suara lirihnya, ia pun meninggalkan Rainer sendirian di dalam mobil.
Anna kemudian masuk toilet yang berada di sebuah minimarket, ia mencuci muka dan memejamkan matanya sekejap untuk menenangkan dirinya.
"Huft... tenang Anna, sabar, ini adalah ujian pertama dalam rumah tangga," ucap Anna memberi semangat pada dirinya.
Setelah selesai menenangkan diri di toilet, kemudian Anna berkeliling sebentar sekedar mencari minuman atau makanan ringan kamudian ia kembali ke mobil menemui suaminya yang tetap saja tidak merubah ekspresinya wajahnya.
Kemudian Anna menyodorkan teh kotak yang dibelinya yang sudah dipasangkan sedotan dan tinggal minum saja langsung pada mulut rainer, tak disangka Rainer langsung menyambutnya dan meminumnya.
Meskipun Rainer masih melakukan aksi mogok bicara setidaknya dia masih mau berinteraksi dengan Anna.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga Nelendra ditemani dengan keheningan tanpa ada percakapan sedikitpun.
***
__ADS_1
"Kalian baru sampai?" tanya Mamah Ros saat melihat Anna dan Rainer memasuki rumah.
"Iya mah, tadi kami terjebak macet," jawab Anna sambil memeluk tubuh mertuanya.
"Yang lain udah kumpul di belakang," ucap mamah.
Rainer dan Anna sampai di rumah keluarga Nalendra lumayan terlambat, karena mereka sedikit terjebak macet.
"Akhirnya... pengantin baru Dateng juga, lama banget sih kalian," seru Tania saat melihat Anna dan Rainer datang dengan mamah Ros.
Mendengar perkataan Tania, Anna hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala.
"Iya, tadi sedikit macet," jawab Anna.
Sedangkan Rainer merangkul pinggang Anna kemudian menariknya untuk lebih merapatkan diri pada tubuhnya, dengan aksi Rainer ini tentu saja Anna kaget, bukankah tadi Rainer sedang ngambek.
"Kalian sudah datang ternyata," ucap Rainer melihat keberadaan Raka, Arman dan Damar.
"Iya, kalian sangat terlambat," ucap Arman sambil meneguk minumnya.
Damar melihat Rainer memeluk Anna dengan erat, lalu memalingkan pandangannya berusaha tak terpengaruh, Damar sudah lama menyukai Anna tapi apa daya jodoh tak bisa dipaksakan bukan.
Melihat raut muka Damar, Rainer kemudian menyunggingkan senyum sinis nya, kejadian ini tak luput dari perhatian Anna, Anna merasa Rainer benar benar keterlaluan dan merasa dimanfaatkan oleh Rainer untuk menyakiti hati orang lain.
Anna kemudian menepis rangkulan tangan dari Rainer kemudian menjauh dari Rainer dan segera mendekati mamah Ros yang sedang sibuk menyiapkan bahan bahan barbeque.
Lalu Anna dan Tania meninggalkan Rainer yang sedang menatap tak suka dengan apa yang dilakukan Anna.
"Papah kemana Tan?" tanya Anna, karena memang sejak tadi ia tak melihat keberadaan Pak Rudi mertuanya.
"Papah lagi jemput temennya sama om, mungkin bentar lagi sampe," jawab Tania.
"Sini sayang, kita beresin ini dulu," sambut mamah melihat anak gadis dan menanrunya mendekat.
"Iya mah," jawab Anna lalu dengan sigap membantu mulai membakar beberapa bahan.
Tak lama dari itu, Papah Rudi, Om Rahman, dan teman Papah Rudi yang membawa putranya telah tiba.
"AssalamualIkum."
Terdengar ucapan salam papah Rudi memasuki halaman belakang.
"Waalaikum salam," jawab semua orang.
__ADS_1
"Kalian sudah dateng... Hai Tin, apa kabar?" ucap mamah Ros bersalaman dengan teman papah sekaligus teman mamah juga.
"Apa kabar Ros, udah lama banget kita nggak ketemu ya," ucap om Martin menyambut jabatan tangan mamah Ros.
"Ini anak kamu tin?" tanya mamah Ros.
Pria muda yang di panggil mamah Ros hanya tersenyum ramah dan mencium tangan mamah Ros dengan sopan.
"Hai tante, saya Irwan, apa kabar Tan?" jawab pemuda yang bernama Irwan itu.
"Alhamdulillah baik, ayo gabung gabung, anak anak udah pada nungguin," ajak mamah.
Papah Rudi, Om Rahman, dan Om Martin kemudian meninggalkan mamah Ros yang menarik Irwan untuk berkenalan dengan anak anaknya.
"Kenalin ini anak Tante namanyaTania, dan ini menantu Tante istrinya Rainer namanya Anna," ucap mamah Ros memperkenalkan Anna dan Tania.
Kebetulan posisi Anna dan Tania memang dekat dengan pintu masuk jadi mamah Ros memperkenalkan Anna dan Tania lebih dahulu dibandingkan Rainer dan lainnya.
"Eh, kamu kan yang di cafe kemarin, yang ngga sengaja aku tabrak kan?" ucap Irwan kaget bisa bertemu lagi dengan Anna.
"Oh, iya mas yang itu ya, apa kabar mas," ucap Anna dengan ramah mengingat juga pertemuan mereka tempo hari.
Tak disangka ternyata Rainer dari tadi terus menerus memperhatikan gerak gerik Anna, hingga menyadari pria yang dibawa oleh mamahnya mendekat pada istrinya.
Dengan sigap Rainer mendekati keberadaan Anna, kemudian kembali merangkul pinggang Anna kembali.
"Siapa sayang?" tanya Anna.
Mendapatkan sentuhan yang tiba tiba itu kemudian Anna langsung menoleh.
"Oh, iya Rain, ini anaknya om Martin kamu inget ngga?" tanya mamah memotong percakapan Anna dan Rainer.
"Dan ternyata pernah ketemu juga sama Anna, benar benar kebetulan yang menyenangkan bukan?," lanjut mamah Ros sambil menepuk tangannya sekali.
"Oh iya, kemarin sama Rain juga ketemu," jawab Rainer berwajah datar.
Melihat reaksi putranya yang tak ramah itu, mamah Ros merasa bingung, ada apa dengan mereka sebenarnya.
Sedangkan Tania hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rainer yang kelewat berlebihan itu, benar benar karma itu berlaku, Rainer benar benar terlihat bucin akut.
"Sukurin lho ka," ejek Tania dalam hati.
***
__ADS_1
Oh ya ampun, akunya bener bener ngga jelas gini... maafkan atas kebucinan Rainer yang berlebihan ini ....
Happy reading 😉