Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 107.


__ADS_3

Bahagia begitu membuncah penuh rasa syukur Rainer rasakan, mendapatkan hadiah istimewa begitu bertubi tubi dari sang penentu hidup. Saat dia baru mengubah dirinya yang tadinya pria paling brengsek yang pernah ada, kini ia telah diberi hadiah berupa istri yang ia cintai dan bayi yang baru saja hidup dalam perut sang istri.


Saking bersyukurnya, sehingga Rainer sempat berfikir, sebenarnya ke akan apa yang pernah ia lakukan sehingga mendapatkan anugrah besar seperti ini dari Tuhannya.


Saking bahagianya, Rainer langsung memerintahkan Arman untuk membeli sembako dan keperluan anak anak banyak sekali untuk disumbangkan ke panti asuhan yang direkomendasikan oleh Arman.


Rainer memerintahkan semuanya dari ujung telpon, jika ia punya uang dan kuasa, tak harus tangannya yang bergerak bukan, cukup Arman saja yang akan bergerak lincah melakukan apapun yang Rainer perintahkan.


Setelah selesai memeriksakan kehamilan Anna, kemudian Rainer bergegas membawa Anna pulang ke tempat tinggal mereka, berniat untuk mengistirahatkan diri Anna, dan mengunci Anna dalam kamar. Rainer akan memanjakan Anna mulai hari ini dan seterusnya.


Setelah sampai, tak menunggu lama Anna langsung membersihkan diri, lalu masuk kedalam selimut yang telah rapih. Entah kenapa rasanya Anna begitu lelah dan mengantuk.


Sedangkan Rainer, tentu saja ia akan siap siaga kapanpun, mengorbankan tubuhnya untuk Anna peluk bagaikan Teddy bear yang empuk.


Dari kemarin sebelum mengetahui kehamilan Anna, istrinya itu memang terasa lebih manja menggemaskan di mata Rainer, bahkan sekarang terasa lebih manja lagi. Rainer begitu suka melihat wajah lugunya yang terus menempel pada dada bidangnya yang terbuka, tangan dan kakinya yang melingkar erat di tubuhnya, seperti enggan melepas diri. Ah sungguh manis sekali, Anna yang selalu manja pada dirinya itu.


"Sayang," panggil Rainer pada Anna yang sedang asyik memejamkan mata sambil menempelkan wajahnya di kulit dada Rainer.


"Hmmm.." gumam Anna menjawab panggilan suaminya tanpa berniat untuk membuka mata.


"Cantik banget sih."


Tak ada tanggapan, pelukan Anna semakin erat menanggapi pujian Rainer, senyumnya tercipta sangat tipis, nampak bahagia.

__ADS_1


"Kamu mau makan sesuatu? katanya kalo ibu hamil kan suka ngidam," tanya Rainer sambil mengelus rambut Anna dengan sayang.


"Engga ada, aku cuman mau tidur aja," jawab Anna.


"Tapi kata dokter harus sering makan biar ngga sering mual," bujuk Rainer khawatir dengan istrinya yang dari tadi tak bernafsu untuk memakan sesuatu.


"Nanti aja, aku masih ngantuk, pengen gini aja, kamu kesel ya dipeluk sama aku," tolak Anna tiba tiba membuka mata, terlihat matanya berkaca kaca. Ternyata selain manja, kini Anna lebih baper.


"Mana ada aku kesel, kalo bisa aku mau tiap hari kaya gini sama kamu, ngga mau lepas," jawab Rainer dengan yakin, menarik dagu istrinya dwngan lembut untuk ia kecup bibirnya yang seperti ingin menangis itu.


"Aku sayang banget sama kamu masa iya ngga suka kamu peluk kaya gini, kan ngga mungkin," setelah mengecup dan mengatakan hal manis itu, lalu Rainer memeluk dengan erat tubuh istrinya.


"Jadi, sekarang rencana kamu apa?" tanya Rainer kembali.


"Kan sekarang udah hamil, udah ada yang harus lebih dijagain lagi, masih mau terus kerja?" tanya Rainer harap harap cemas.


Pasalnya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan memaksakan kehendaknya pada Anna, tapi iapun khawatir jika Anna tetap meneruskan pekerjaannya, Anna akan kelelahan dan akan berdampak buruk pada bayi mereka yang masih sangat muda dalam kandungan Anna.


Sekilas Anna berfikir, menimbang nimbang baik buruknya. Tadi di rumah sakit pun ia sempat berkonsultasi perihal kondisi kandungannya dan apakah masih boleh jika ia masih tetap bekerja.


"Tadi kan kata dokter masih boleh bekerja, asal jangan angkat angkat barang berat dan istirahat cukup kan?," jawab Anna mengingatkan perkataan dokter yang mana Rainer juga ikut mendengar penjelasannya.


"Iya, denger ko," jawab Rainer.

__ADS_1


"Kalo di rumah, aku nanti kesepian, bolehkan aku masih tetep kerja, pengen liat aja kira kira kuat apa engga," jawab Anna sambil memandang wajah tampan suaminya.


Rainer terdiam, jika hanya takut kesepian bukankah tak harus bekerja sebagai magang dikantornya buka. Sepertinya Rainer harus merancang agar Anna bisa tetap bekerja dan tetap berinteraksi dengan orang dibawah pengawasannya tanpa harus melakukan pekerjaan berat.


Menjadi magang itu terlalu banyak menguras energi, meskipun konteksnya adalah untuk belajar, tapi beda kondisi dengan sekarang bukan.


"Ya sudah kita liat besok ya," jawab Rainer menutup percakapan mereka.


Melihat Anna mulai tertidur dalam dekapannya, Rainer kemudian menaikkan selimutnya dan menutup sempurna tubuh dirinya dan Anna hingga ke bahu, ditambah pelukan yang tak berniat untuk ia lepaskan.


Setelah Arman mengetahui kabar jika Anna sedang mengandung anak Rainer dari titah bosnya itu untuk memberikan sejumlah sumbangan pada panti asuhan. Arman kemudian menyebarkan kabar pada keluarga besar Nalendra, termasuk Tania dan Raka, mamah Ros dan papah Rudy, dilanjut oleh mamah Ros yang memberikan kabar pada orang tua Anna di kampung yang menurut mamah Ros mereka harus tau berita bahagia ini.


Rainer tak sempat memberikan kabar pada merek begitupun Anna, karna kini waktunya terfokus hanya memperhatikan istrinya yang sedang manja itu. Jadi sama saja bukan jika Arman sebagai kaki tangannya yang memberikan kabar.


Berita kehamilan Anna itu luar biasa membuat seisi rumah Nalendra heboh dibuatnya, mamah Ros begitu bahagia mendengar menantu kesayangannya telah berhasil membuat cucu untuk dirinya.


"Papah, kita akan punya cucu," teriak mamah begitu bahagia memeluk papah Rudy, di sambut hangat pula oleh suaminya itu.


Merasa tak menyangka saja secepat ini Rainer akan mempunyai penerus. Pun seperti anaknya, Mamah Ros langsung mengintrupsikan staf stafnya untuk menyiapkan acara syukuran untuk cucu pertamanya itu esok hari. ia akan mengundang anak anak yatim ke rumahnya, untuk ikut mendoakan sang cucu dan menantunya.


Tak lupa mamah Ros pun memerintahkan supirnya dan pak Rahman untuk menjemput keluarga Anna yang berada di kampung untuk menjemput mereka, mamah Ros ingin semua orang orang yang Anna sayangi hadir dalam syukuran yang akan mereka gelar itu.


Esok hari, sudah pasti akan menjadi hari bahagia bagi Anna dan Rainer, karena dikelilingi oleh orang orang terkasih mereka, yang ikut serta berbahagia dengan kehadiran bayi dalam kandungan Anna.

__ADS_1


__ADS_2