Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 77. Sensitif


__ADS_3

"Cukup saling maaf maafannya, ini bukan lebaran," sungut Rainer sambil meraih tangan Anna hingga ia nyaris dipeluk oleh Rainer.


Mendengar penuturan sang suami yang tiba tiba menarik dirinya itu, sontak Anna memandang tak suka pada suaminya.


"Apa maksudnya?," timpal Anna.


Ucapan Rainer benar benar mengandung sindiran yang menusuk yang membuat Anna yang sedang sensitif ini melirik sinis pada suaminya itu.


Anna kemudian mendorong tubuh Rainer, menolak pelukannya yang sedikit memaksa itu, kemudian melangkahkan kaki keluar dari cafe tersebut tanpa mengatakan sepatah katapun pada Rainer.


Anna benar benar merasa kesal, baru dia bersentuhan dengan yang lain saja sudah seperti itu, padahal dia tidak sengaja dan nyaris terjatuh, tapi Rainer bahkan tak menanyai bagaimana keadaannya.


Pria yang menabrak Anna masih merasa bersalah dan mengejar Anna yang tergesa gesa pergi keluar.


"Sekali lagi maaf ya," ucap pria asing itu saat Anna melewati dirinya.


"Iya nggak masalah, permisi," pamit Anna.


Melihat istrinya pergi dengan amarah, Rainer masih belum faham dengan amarah yang timbul pada istrinya itu, Rainer sampai melupakan kecemburuannya barusan karena kaget tiba tiba Anna meninggalkannya tanpa berkata apapun.


Lalu ia bergegas menyusul Anna keluar meninggalkan Tika dan barang barangnya yang ada di meja tempat ia tadi duduk.


Langkah Anna memang cepat, terkesan tergesa gesa, tapi dengan mudah Rainer bisa mengejarnya.


"Sayang, tunggu," panggil Rainer pada Anna yang tak direspon sama sekali oleh Anna.


"Sayang, kenapa kamu yang jadi marah, harusnya aku yang marah," ungkap Rainer seenaknya sambil menggapai tangan Anna yang berhasil ia susul. Rainer belum menyadari apa kesalahannya hingga membuat Anna mengepalkan tangannya.


"Oh, jadi aku yang salah? kamu engga gitu?" tanya Anna memandang tak ramah sedikitpun pada suaminya itu.


Entah kenapa, hari ini Anna begitu berani pada suaminya itu, emosinya juga begitu meledak ledak, dan tak bisa ditahan, bahkan kini Anna mulai merasa ada yang membuat dadanya sesak, membuat suaranya bergetar menahan tangis.


Anna kemudian berhenti melangkah, mengikuti tarikan suaminya dan memandang tajam wajah suami tampannya ini, Rainer memang harus disadarkan dengan apa kesalahannya.


"Sayang, apa salah aku?" tanya Rainer.


Anna lalu memalingkan wajahnya, tak berniat sedikitpun menjawab pertanyaan Rainer yang sudah jelas ja abangnya buka.


Rainer lalu memeluk Anna dengan sayang, mengusap rambutnya yang tidak diikat itu, lalu mengecup kening Anna penuh dengan perasaan. Anna tak menolaknya sedikitpun, dia membiarkan suaminya melakukan apapun.

__ADS_1


"Tunggu disini, aku ambil barang barang dulu ya," ucap Rainer sambil memegang bahu Anna dan mengecup pipi Anna yang terlihat memerah menahan emosinya, lalu pergi sejenak meninggalkan Anna untuk mengambil barang barangnya di meja cafe tempat ia duduk tadi.


Tak berapa lama, Rainer telah kembali menghampiri Anna yang hanya berdiri diam menunggu suaminya, awalnya dia akan pulang naik taksi saja, tapi dia ingat sudah tak tinggal di kosannya lagi, sungguh sial bukan, aksi ngambeknya tak bisa bertahan lama.


"Ayo kita pulang," ajak Rainer sambil menggandeng tangan Anna, kemudian membukakan pintu mobil untuk dimasuki oleh Anna.


"Kita langsung pulang saja ya," ucap Rainer sambil memandang istrinya yang masih memasang muka masam itu.


Anna tak berniat membalas tatapan Rainer, saat Rainer memandangnya, Anna langsung membuang pandangannya, moodnya belum kembali saat ini.


"Terserah," ucap Anna.


Rainer lalu mulai melajukan mobilnya menuju apartemen yang mereka tinggali, Rainer tak akan menanyakan apapun saat ini, dia akan bicara nanti dikamar saja, saat dia sampai di apartemennya, mungkin saja akan ada hal yang luar biasa yang akan mereka lakukan lagi.


Saat sampai di parkiran apartemen, Anna lalu berusaha membuka pintu mobil, ingin segera turun dari mobil meninggalkan Rainer, tapi sayangnya kini semuanya ada dalam kendali Rainer, pintu mobil tak bisa dibuka jika Rainer tak ingin, jika Anna duluan akan ke apartemennya, dia juga tak bisa, karena sudah jelas pemiliknya adalah Rainer meskipun saat ini Anna sudah menjadi istrinya.


Pada akhirnya Anna duduk menyandarkan bahunya di kursi mobil melipat tangannya dan memasang wajah kesal.


Rainer membiarkan Anna beberapa saat, ia terus memandangi aksi Anna yang ingin memberontak tapi apa daya pergerakannya seperti dibatasi oleh keadaan, lalu Rainer terkekeh beberapa saat tanpa mengatakan apapun membuat amarah Anna tersulut seketika.


Melihat Rainer seperti sedang menertawakan dirinya, Anna lalu menatap Rainer dengan sengit, tak lama matanya kemudian berkaca kaca seperti ingin menangis, melihat istrinya yang masih meluapkan amarahnya tanpa mengeluarkan kata kata, Rainer lalu mengusap kepala Anna dengan sayang.


Mendengar penuturan suaminya yang menyebalkan itu seperti sedang memaksa dirinya untuk tak marah, tentu saja membuat Anna menjadi semakin murka dibuatnya, Rainer benar benar sangat pintar memaksa dirinya.


"Hik .. hik... hik...," tiba tiba Anna menutup mukanya dengan kedua tangannya sambil menundukkan kepala dan mulai menangis tersedu sedu.


Rainer lalu berusaha merangkul tubuh istrinya itu meskipun mendapatkan penolakan kembali.


"Jangan sentuh aku, kamu memang jahat dan egois, sangat pintar memaksa aku," bentak Anna sambil tetap menangis.


Rainer tak peduli dengan penolakan Anna, ia malah semakin memaksa untuk memeluk Anna.


"Maaf... maafkan aku, aku tak memahami perasaanmu," lirih Rainer merasa bersalah melihat Anna menangis tak bisa ditahan itu.


Dan pada akhirnya Anna menerima pelukan Rainer dan menumpahkan tangisnya beberapa menit dalam pelukan Rainer, Rainer terus mengusap punggung Anna yang terus bergetar karena tangisannya, dan sesekali mencium puncak kepala Anna.


"Maaf, aku hanya takut kamu tergoda oleh pria lain, jadi aku tak suka jika kamu dekat dengan pria manapun, meskipun itu tak sengaja sekalipun," tutur Rainer.


Mendengar penuturan yang disampaikan Rainer, Anna malah tersulut kembali emosinya, kemudian ia mendorong dada bidang yang tadi ia gunakan untuk menangis itu, ternyata Rainer hanya mengingat apa yang terjadi pada Anna, tanpa menyadari apa yang telah ia lakukan, dasar laki, memang luar biasa.

__ADS_1


"Jadi hanya aku saja yang tidak boleh berdekatan dengan pria manapun, sedangkan kamu boleh bercanda ria dan mengobral senyumanmu pada wanita manapun?" bentak Anna merasa tak adil dengan sikap Rainer.


"Apa?," tanya Rainer merasa kaget dengan penuturan Anna, sedetik kemudian senyumnya mengembang dengan indah, memancarkan bahagia yang tak terkira.


"Jadi kamu tak suka aku bicara dengan wanita lain?" tanya Rainer sambil mendekatkan wajahnya pada Anna.


Anna langsung memalingkan wajahnya, merasa bingung dengan pertanyaan tak terduga Rainer padanya.


"Turunkan aku," ucap Anna menahan diri agar tak berteriak.


Rainer tak menahan Anna lagi, lalu ia membuka kunci mobilnya secara otomatis agar Anna bisa keluar dari mobilnya.


Saat Anna keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya beberapa langkah, tiba tiba Anna ambruk tepat di depan mobil Rainer sambil memegangi perutnya.


Melihat istrinya ambruk itu, Rainer tergesa gesa turun dari mobilnya kemudian berlari menghampiri istrinya yang terduduk di lantai parkiran didepan mobilnya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Rainer begitu panik.


Anna semakin meringis merasakan sakit dalam perutnya, tubuhnya serasa lemas menahan sakit yang tiba tiba menerjang, wajahnya pucat dan keringat bermunculan di dahinya.


"Asragfirulloh ... asragfirulloh, aaaah... sakit," lirih Anna terus memegangi perutnya.


Rainer begitu panik mendapati istrinya yang kesakitan itu, lalu Rainer mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang sambil merangkul istrinya.


"Halo, Bay kamu dimana?" ucap Rainer pada orang yang ia telpon.


"Tunggu aku di depan apartemen sekarang, bawa peralatan kerjamu," lanjut Rainer memerintah temannya iyang ada di ujung sambungan telponnya.


Tanpa ragu Rainer kemudian menggendong Anna ala bridal style, dan berlari menuju apartemen tempat ia tinggal.


Anna tak melawan atau mengatakan apapun, ia pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh sang suami, sepertinya tenaganya tiba tiba hilang, bahkan hanya untuk bicara saja sepertinya sudah tak ada tenaga.


Kini dalam gendongan suaminya yang sedang merasa panik itu, Anna terus beristigfar menahan sakitnya yang melilit dan terasa panas ke bagian punggung dan pinggangnya itu.


"Sayang, jangan buat aku takut, maafkan aku," ucap Rainer memohon ampunan pada istrinya ini.


Ternyata Rainer tak bisa melihat istrinya kesakitan, padahal ia belum tahu apa yang menyebabkan Anna kesakitan seperti ini.


***

__ADS_1


Happy reading😁😁


__ADS_2