
"Apa ? besok?."
Begitu syok Rainer saat mendengar keputusan papah Rudi yang sepertinya tak akan bisa mereka bantah lagi.
Raut marah dan geram tersirat dari wajah Rainer, ia hanya sesekali menganggukkan kepala, mengucapkan iya, atau baik.Tak ada bantahan atau jawaban yang berarti. Hanya berfokus untuk mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh papah Rudi mertua dari Anna.
Anna begitu bingung melihat perubahan sang suami yang tiba tiba serius itu, padahal Rainer baru memejamkan mata, berharap tubuhnya akan beristirahat dengan nyaman dalam pelukan sang istri. Entah apa yang mereka bicarakan, sehingga Rainer melupakan rasa kantuk yang dari tadi mendera.
Kini yang bisa Anna lakukan hanyalah memandangi setiap ekspresi yang ditimbulkan oleh wajah suaminya dengan khawatir.
"Ada apa ?," tanya Anna dengan khawatir setelah yakin Rainer memutus sambungan telpon dengan sang mertua.
"Sepertinya malam ini kita harus nginep di rumah Mamah, nanti aku cerita di sana ya, gak apa apa kan?."
"Iya gak apa apa, aku beres beres dulu kalo begitu."
Tanpa tanya lagi, Anna lalu bergegas turun dari ranjang, segera merapikan diri, menggunakan jaketnya guna menutupi piyama yang ia kenakan saat ini, juga meredam angin malam yang terasa terasa menusuk.
Begitu pun Rainer yang tergesa gesa mengenakan jaketnya pula, dan menyambar kunci mobil dan ponsel yang tergeletak di nakas.
***
Setelah berkendara dalam kesunyian malam selama 30 menit, akhirnya Rainer dan Anna sampai di rumah utama Nalendra.
Waktu masih menunjukan pukul 10 malam, tapi rumah terasa begitu sunyi. Rainer dengan lembut menggenggam tangan Anna, menariknya menuju ruang keluarga.
Tak disangka, Anna kira semua orang sudah terlelap, ternyata penghuni rumah ini masih terjaga tanpa suara, hanya memandang anak gadis nya yang sedang duduk sendiri dihadapan kedua mertuanya yang bersandar diatas sofa empuk dan nyaman, terlihat begitu lelah.
"Kenapa?" gumam Anna dalam hati.
Perlahan Anna mendekat, memecahkan kesunyian dengan salamnya.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, udah sampai kalian?"
"Iya Pah, Mah," Anna lalu mendekat dan menyalami satu persatu mertuanya.
Melihat suasana mencekam seperti ini, Anna benar benar tak berani bertanya. Anna begitu iba melihat kondisi adik iparnya yang menunduk begitu dalam tanpa niat untuk menoleh sedikitpun, meskipun terdengar Anna dan Rainer mendekat.
Pun Rainer, tak ada niatan untuk menyapa adik tersayangnya hanya sekedar untuk menguatkan dirinya yang berusah menahan Isak yang tak tertahan sejak tadi.
Setelah memastikan putra dan menantunya telah duduk, papah Rudi baru mengeluarkan suaranya yang sudah pasti akan membuat Tania makin tersedu dalam tangisannya.
"Besok, Tania dan Raka akan kita nikahkan,"
Terlihat tangan Tania yang memegang lututnya, meremat dengan kuat tanpa ampun, juga air mata yang putih tak tertahankan dengan Isak tangis yang semakin sulit di elakkan.
"Kenapa papah ngga mau denger penjelasan Tania, Papah hanya denger dan percaya apa yang di ucapin sama Raka? apa sebegitu ngga percayanya papah sama Tania?".
Wajah yang basah dengan air mata itu mengangkat perlahan, matanya memerah tak berdaya dengan sorot kecewa karena merasa tidak dianggap oleh sang papah yang begitu ia hormati ini.
"Papah ngga mau sampai kamu melakukan kebodohan."
"Tania ngga pernah ngelakuin hal itu pah, kenapa papah percaya dengan kebohongan Raka?"
Anna tak tega melihat adik iparnya itu, lalu Anna berpindah tempat duduk dan merangkul bahu Tania yang sedang bergetar tanpa henti karena isakannya itu.
"Tidak ada bantahan lagi, ini demi kebaikan kamu dan keluarga kita, dari pada papah nanti kecolongan, lebih baik kamu segera dinikahi Raka, toh Raka juga tidak keberatan dengan keputusan papah."
Tanpa banyak kata, papah Rudi meninggalkan Tania tanpa menengok anak gadisnya itu sedikitpun.
Meninggalkan ruang keluarga dan menyisakan kebingungan semua orang terutama Tania sebagai sang pelaku, dan juga mamah Ros yang memandangi wajah anak gadisnya dengan pilu dan iba. Mamah Ros masih belum percaya apa yang telah terjadi, tapi apa daya, ia tak mampu membantah ucapan sang suami. Bukankah seorang istri hanya bisa menurut saja dengan apa yang menjadi keputusan suaminya? toh ini pun untuk kebaikan anaknya juga bukan.
__ADS_1
"Sayang, tolong antarkan Tania ke kamarnya," ucap Rainer memecah suasana yang begitu pilu bagi Tania ini.
Setelah mengeluarkan titahnya, Kemudian Rainer bergegas mengikuti papahnya masuk ke ruangan kerja.
Entah apa yang akan mereka diskusikan, tapi yang pasti, besok Tania akan menjadi manten kilat, yang mana persiapannya dilakukan hanya dalam satu malam. Mungkin keluarga Nalendra adalah titisan Sangkuriang yang bisa menyiapkan acara perhelatan Tania dan Raka dalam satu malam, siapa yang tahu bukan.
***
Di tempat lain, sang pembuat huru hara, pria yang tak suka kekalahan dan tak suka di bantah itu sedang terduduk sendiri dikamar sambil menempelkan ponsel ditelinganya. Dengan khidmat mendengarkan teriakan seorang wanita yang begitu ia sayangi yang ia panggil mamah yang jauh di negri sebrang.
"Astaga Raka! Kamu mau bikin mamah serangan jantung hah? kamu ngga mikirin mamah? apa harus kaya gitu kamu mau nikahin Tania? harus bikin mamah malu sama keluarga Nalendra begitu?."
"Maaf mah, Raka yakin ko jantung mamah ngga akan kenapa napa, bahkan mamah akan sangat senang karena mamah bisa cepet dapet cucu kan?."
"Rakaaaaa ... ! dasar anak kurang ajar," bentak mamah Raka dengan geram, jika Raka sedang berada dihadapan mamahnya, sudah pasti ponsel yang sedang digenggam mamahnya itu melayang tanpa ampun ke wajah menyebalkan anak semata wayangnya itu, tapi sayang, saat ini mereka terhalang jarak ribuan kilometer.
Sedangkan Raka hanya terkekeh geli dengan reaksi sang mamah, tentu saja Raka tak akan pernah berbuat gila dengan merusak Tania, ia hanya ingin membuat suasana terasa lebih meriah saja, dan mempercepat keinginannya untuk mempersunting Tania yang terasa begitu sulit ia taklukan.
Apakah Raka tidak tahu bahwa Tania sedang menangis tak henti menerima dampak dari kegilaan dirinya? yah ... namanya juga Raka, penuh obsesi dan kegilaan, apalagi menyangkut soal Tania.
"Pokoknya, besok mamah ngga boleh datang terlambat, biar bisa liat Raka nikah sama Tania ya, udah ya mah Raka tunggu, Assalamualaikum."
Seketika panggilan telpon pun terputus diakhiri dengan teriakan mamah yang semakin geram dengan kelakuan anaknya itu, tak terbayang jika sang papah masih hidup, sudah pasti Raka akan dihajar habis habisan oleh sang papah karena kelakuannya.
Tapi Raka tak menyesal dengan apa yang dia lakukan, mungkin ini satu satunya cara agar menghentikan kegilaan dirinya pada Tania.
Biarlah nanti setelah mereka sah menjadi suami istri, Raka akan menebus tangisan yang sudah ia ciptakan untuk Tania.
Semoga saja ia bisa melakukannya, berharap saja kebencian Tania tak bertambah setelah apa yang telah Raka lakukan padanya.
Mungkin langkah yang Raka ambil, adalah langkah yang terkesan putus asa, tapi Raka adalah pria yang penuh perhitungan, dan ia sangat siap dan percaya diri dengan segala resiko yang akan ia terima.
__ADS_1
Yang tak ingin Raka alami adalah, kehilangan Tania, diluar dari itu, Raka tak peduli.
Selamat berjuang bang Raka, semoga drama yang kamu ciptakan tak menimbulkan Malapetaka dan semoga pernikahanmu esok hari berjalan dengan lancar.