Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 108. Keputusan penting


__ADS_3

Mungkin saja Anna belum menyadari jika dia memiliki suami hebat. Hebat karena mau berubah lebih baik demi kebahagiaan keluarganya, hebat karena bisa mengalahkan keegoisannya demi menyenangkan hati Anna sebagai istrinya.


Apa mungkin Anna menjadi wanita beruntung?, sejauh ini dia begitu bersyukur dengan kehidupannya.


Hari ini begitu mengejutkan bagi Anna, baru kemarin dirinya dan Rainer mengetahui perihal kehamilan dirinya, ternyata Keluarga besar Rainer telah membuat syukuran yang mana mereka pun mengundang dan menjemput keluarga Anna dikampung.


Anna begitu terharu mendapatkan perlakuan seperti ini, banyak doa mengalir dari setiap keluarga yang hadir.


Syukuran pun digelar dengan hanya mengundang anak anak yatim piatu yang melakukan doa bersama untuk kelancaran kehamilan Anna hingga nanti persalinan tiba.


Tak hentinya Anna menggumamkan terimakasih pada Mama Ros yang begitu memperhatikan dirinya, juga pada keluarga lain yang telah hadir dan ikut berbahagia dengan kehadiran buah hati Rainer dalam perut Anna. Dan jangan lupa, dengan hadirnya orang tua dan adik Anna yang sengaja Mamah Ros perintahkan Arman untuk segera menjemput mereka untuk turut serta dalam kebahagiaan ini.


"Teh, mertua kamu baik banget ya, rasanya ibu ngga salah nerima nak Rainer jadi mantu, biarpun dadakan nikahnya juga," ucap Ibunya Anna begitu terharu dengan kebaikan yang telah dilakukan oleh keluarga Rainer, ditambah menantunya yang terlihat mencintai anak sulungnya ini, ibu begitu merasa bersyukur.


Pasalnya, banyak orang orang biasa seperti mereka, jika menikah dengan orang kaya kadang suka diremehkan, malah sering di anggap sebagai pengganggu, tapi keluarga Nalendra benar benar keluarga yang sangat baik dan begitu menyayangi anaknya ini.


"Iya bu, alhamdulillah teteh benar benar beruntung bisa diterima di keluarga ini," ungkap Anna sambil meremas jemari ibunya yang sedang duduk menghadap pada dirinya.


"Jadi teh, ibu titip pesen aja, nurut sama suami ya, jangan sampe kamu bikin suami kecewa, bukan karena apa apa, tapi jika kamu sudah menikah semua keputusan dari suami adalah kewajiban kamu untuk mematuhinya selama itu menjadi sesuatu yang baik," tutur ibu memberi nasehat.


Seketika Anna teringat dengan kelakuannya yang keras kepala, menolak keinginan suaminya untuk mengumumkan status dirinya di hadapan pegawai Rainer, padahal sudah jelas suatu keharusan bukan orang lain tahu jika dia sudah menikah. Dan lagi bukanlah bisa menimbulkan fitnah jika orang lain belum mengetahui status dirinya saat ini apalagi sekarang dirinya sudah berbadan dua.


Sepertinya Anna memang harus segera meluruskan ketidak tahuan orang lain agar kedepannya tidak akan menjadi bahan pergunjingan bukan.

__ADS_1


"Iya bu, Insyaallah teteh akan berusaha menjadi istri yang taat untuk suami," ucapan itu seperti janji pada ibunya bagi Anna.


Memang suatu kebodohan menutup nutupi status pernikahan dirinya, tak ada manfaatnya sama sekali, jika masalahnya ingin mendapatkan pengalaman tanpa mendapatkan privilage sebagai istri dari seorang pemimpin perusahaan, sepertinya itu benar benar tidak diperlukan.


Sepertinya Anna perlu mendiskusikan keinginan baru yang ia miliki saat ini pada suami tersayangnya itu. Rasanya Anna ingin berhambur kedalam pelukan Rainer dan segera meminta maaf dengan sikap egoisnya kemarin.


***


Akhirnya, acara demi acara syukuran yang dilakukan keluarga Nalendra bagi buah hati Rainer itu telah selesai. Tamu undangan yang telah menghadiri acara ini berangsur angsur pulang, dan kini tersisa hanya keluarga inti saja yang ada di kediaman keluarga Nalendra, termasuk keluarga Anna yang hanya terdiri dari ibu, bapa dan Ayu saja yang tidak diperkenankan pulang ke rumahnya, mereka dipaksa menginap di rumah keluarga Nalendra oleh Mamah Ros.


Kini keluarga itu sedang bercengkrama menikmati teh dan kue di sore hari sambil berbincang tentang apa saja yang sekiranya menarik untuk diperbincangkan.


Sedangkan Anna sedang berada di kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya ditemani sang suami yang terus saja menempel pada dirinya, alasannya sih takut Anna membutuhkan sesuatu. Tapi apapun alasannya yang jelas keromantisan nya itu membuat pengantin baru merasa iri saja.


"Maaf kenapa?," tanya Rainer merasa heran dengan sikap Anna yang tiba tiba jadi sendu itu.


"Tadi ibu bilang, kalo aku harus nurut apapun yang dikatakan suami, tapi kemarin aku keukeuh dengan keinginan ku untuk bekerja di tambah dengan syarat yang aku berikan pula, padahal kamu ngga setuju malah kamu ngga suka, maaf ya," terang Anna tiba tiba berkaca kaca.


Mungkinkah ini karena hormon kehamilan sehingga Anna begitu mudah untuk bersedih?, berarti Rainer harus berterima kasih pada anaknya, karna anaknya jadi sekarang istri keras kepalanya jadi luluh juga.


"Ngga apa apa, aku sayang sama kamu jadi aku dukung apapun yang kamu mau selama itu tak membahayakan," turut Rainer terasa bijak dan menawan bagi Anna saat ini.


"Benarkah?, kamu ngga marah?," tanya Anna meyakinkan diri.

__ADS_1


"Mana bisa aku marah sama kamu sayang," gombal Rainer lalu mengecup bibir Anna yang terasa menggoda itu, kemudian ia melanjutkan kalimatnya, "Tapi kalo sekarang, karena kamu lagi hamil, jadi boleh kan kamu berhenti kerja aja? biar nanti kamu ngga bosan, biar aku bikinin cafe aja buat kamu gimana?" tanya Rainer memberi pilihan agar Anna bersedia untuk meninggalkan pekerjaannya sekarang.


Tanpa ragu Anna lalu menganggukkan kepalanya untuk menyetujui keinginan sang suami pengertiannya ini.


"Iya nggak apa apa, tapi kalo dikasih cafe sepertinya terlalu berlebihan deh, kayanya aku ngga pantes dikasih sampe segitunya," jawab Anna menolak apa yang Rainer akan berikan.


"Nggak pantes gimana, sayang, kamu itu istri aku, bahkan kamu minta semua yang aku punya juga aku akan kasih. Ngga boleh ngomong kaya gitu," ucap Rainer dengan yakin.


Sungguh Anna terlalu merendah sebagai istri dari seorang Rainer Nalendra putra. Bagaimana bisa Anna berkata tidak pantas diberikan sesuatu oleh Rainer, apalagi ini hanya sebuah cafe yang bisa dibilang hal yang sepele bagi Rainer, bahkan jika Anna meminta setiap bulan keliling dunia saja, Rainer lebih dari mampu untuk mengabulkannya.


Apakah mungkin Anna belum menyadari seberapa banyak nya kekayaan yang dimiliki keluarga suaminya?.


"Ada satu permintaan aku," ucap Rainer menyunggingkan senyum misterius nya.


"Boleh, minta apa?, jangan yang susah susah ya," jawab Anna ragu ragu mengiyakan entah apa keinginan Rainer.


"Minggu depan kita resepsi ya, kita undang seluruh karyawan perusahaan, semua temen kamu, tetangga kamu, semuanya pokoknya, kita undang wartawan juga biar semua orang tau jika kamu adalah istri aku," jawab Rainer begitu menggebu gebu, Rainer tak mau ada orang yang berani melirik istrinya, semua orang perlu tau jika Anna Azalea Rumi sudah sold out.


"Hah? kenapa harus ada wartawan?" jawab Anna tak percaya.


"Ya jelas kan, biar kamu punya label, istrinya bos Rainer, " kekeh Rainer menertawakan ucapan konyolnya sendiri, dan Anna hanya memutar bola matanya malas.


Bagi Anna benar benar sangat tak dibutuhkan sekali semua orang tau jika ia istri dari Rainer, apalagi jika orang lain melihat perut buncit nya, bukankah orang lain akan tau jika dia sudah punya suami.

__ADS_1


Dasar memang suami tajir nya ini memang langka.


__ADS_2