Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 76. Mengeratkan rasa


__ADS_3

Diperlakukan layaknya seorang wanita yang berharga oleh pasangan adalah sesuatu yang tentu saja sangat membahagiakan, apalagi pasangan itu memiliki satu rasa yang sama.


Bagi sebagian orang, mungkin tak suka diperlakukan berlebihan seperti Rainer memperlakukan Anna, tapi nyatanya Anna begitu bahagia mendapati suaminya terlihat seperti takut kehilangan dirinya, entah akan bertahan berapa lama Rainer akan bersikap posesif padanya, yang pasti Anna harus memupuk terus menerus rasa cinta mereka agar tak akan pernah memudar sampai kapanpun.


Malam ini, perkuliahan Anna jalani tanpa adanya Irma, setidaknya tak akan ada pertanyaan yang mengharuskan Anna berbohong pada Irma. Anna belum merasa siap saja mengatakan statusnya pada temannya itu, tapi tetap saja saat ini Anna merasa khawatir pada Irma, jadi ia segera mengambil ponselnya untuk mencari tau apa yang terjadi pada Irma, hingga tidak masuk pada mata kuliah penting hari ini.


"Tut tuuut tut," nada sambung itu terus berbunyi pertanda yang dihubungi Anna belum juga mengangkat panggilan Anna.


"Ya ampun, kemana sih Ir, kok tumben banget kamu enggak ngabarin aku," gumam Anna di mejanya.


"Irma ya An?," tanya teman Anna yang duduk dipinggir Anna.


"Iya, susah banget di telpon," jawab Anna menanggapi pertanyaan temannya itu.


"Baru kemarin dia minta cuti, katanya lagi ikut seleksi CPNS, jadi dia lagi belajar keras sekarang," lanjut temannya.


"Oh gitu, ko aneh, dia enggak cerita sama aku," gumam Anna dalam hati.


"Gitu ya, ya udah syukur deh," Jawa Anna menyudahi perbincangan dengan temannya itu.


Selama perkuliahan berlangsung, Anna benar benar tak konsentrasi dalam pelajarannya kali ini, dia masih memikirkan sebenarnya ada apa dengan Irma, bahkan selama 5 hari ini, ia tak mendapati kabar apapun darinya, bahkan Irma tidak membuat status wa bahkan online pun tidak.


***


Di tempat lain, Rainer sedang menikmati camilannya di cafe yang terletak persis di depan kampus Anna, ia menunggu sang istri selesai dengan perkuliahannya sambil membuka gawainya untuk mengecek email yang masuk yang mana sudah beberapa hari semenjak dia menikah tidak disentuhnya sama sekali.


"Rainer..." terdengar suara merdu seorang gadis menyapa keberadaan Rainer


Rainer pun sontak menoleh pada suara yang memanggilnya itu.


"Beneran kan ini Rainer, ya ampun, udah lama banget kita nggak ketemu, ngapain kamu disini?" tanya Tika, sambil mendudukkan dirinya di kursi persis di depan Rainer.


"Hai Tik, apa kabar?" jawab Rainer sambil menutup laptop yang sedang dilihatnya, merasa antusias juga dengan pertemuan tak terduga dengan teman SMA nya itu.


"Aku baik, ngapain kamu disini?," mengulang pertanyaan kembali pada Rainer, ia pun tak kalah antusias dengan pertemuan tak terduga mereka ini.

__ADS_1


"Oh, aku lagi nungguin istri lagi kuliah," jawab Tika yang membuat tak percaya dengan jawaban Rainer.


"Jangan bercanda deh, ngga yakin aku seorang Rainer mau berkomitmen," ejek Tika yang tahu betul bagaimana kebiasaan temannya itu.


"Hei, memangnya aku tidak boleh berubah apa, aku sudah menemukan wanita yang buat aku yakin, kenapa enggak kan," sangkal Rainer menepis pemikiran Tika.


"Kamu ngapain disini?" tanya Rainer.


"Hanya lewat aja dan janjian sama dosen sini," jawab Tika terus terang.


Rainer dan Tika pun larut dalam obrolan panjang perihal nostalgia masa lalu saat mereka masih duduk di bangku SMA, bahkan ia tak menyadari jika kini Anna telah berada tepat di depan pintu cafe, memandangi suaminya yang sedang tertawa renyah dengan wanita lain, sungguh laki laki memang luar biasa, baru saja dia berkata jangan dekat dengan pria lain bahkan untuk tersenyum pun tidak boleh, dan ini, tanpa merasa dosa sedikitpun Rainer begitu asik tertawa dengan teman wanitanya.


Anna kemudian mendekati suaminya itu dan berdiri tepat dibelakang Tika memandang suaminya dengan wajah datar sambil melipat tangannya di dada tanpa menyapa bahkan mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Seketika pandangan Rainer beralih kepada Anna yang saat ini menatapnya dengan binar bahagia.


"Ah... ini dia istriku baru datang, sayang sini, kenalkan teman SMA aku namanya Tika," ucap Rainer sambil berdiri menghampiri Anna tanpa menyadari perubahan isteinya sedikitpun, kemudian menarik Anna untuk duduk disampingnya.


Anna hanya mengikuti saja kemana tangan Rainer menariknya, mendudukkan dirinya di samping Rainer dan tepat berhadapan dengan wanita bernama Tika itu.


"Anna," jawab Anna yang langsung menyambut uluran tangan Tika sambil berusaha mengembangkan senyumnya, meskipun ia sebenarnya merasa sulit untuk tersenyum, mungkin bukan sulit, tetapi merasa tak berselera saja untuk tersenyum.


"Ternyata istrimu sangat muda Rain, pantas saja kamu tak pernah serius pada siapapun," kekeh Tika di sela kata katanya, yang membuat Rainer tertawa mendengar lelucon dari temannya itu.


Tetapi bagi Anna, apa yang mereka obrolkan itu tak ada yang membuatnya ingin tertawa, Anna bahkan hanya duduk sambil menyandarkan punggungnya seperti malas mendengarkan percakapan mereka yang benar benar Anna tak mengerti.


Bahkan saat ini Rainer mengacuhkan Anna, dia terus saja berceloteh dengan temannya itu.


"Maaf saya ke toilet dulu sebentar," ucap Anna beranjak dari duduknya.


"Tunggu sayang, biar aku antar," cegah Rainer, sambil meraih tangan anna.


"Tidak usah, silahkan lanjutkan obrolan kalian, aku tak akan lama," tolak Anna sambil menepis tangan Rainer sedikit kasar, wajahnya benar benar masam tak sedikitpun menampakkan kenyamanan.


Melihat perubahan Anna, Rainer mengerutkan dahinya merasa bingung dengan sikap Anna yang mendadak menjadi pendiam dan sedikit jutek, padahal biasanya meskipun Rainer menjahilinya sekalipun, Anna tak pernah menampakkan wajahnya yang tak ramah.

__ADS_1


Anna bergegas meninggalkan meja yang ditempati Rainer dan Tika, di dalam toilet Anna mencuci tangannya dengan kesal kemudian membasuh mukanya untuk menetralkan perasaannya.


"Dasar laki laki, tadi aja bilang aku nggak boleh akrab sama pria lain bahkan senyum saja tidak boleh, sedangkan dia malah bebas tertawa bahagia dengan wanita manapun, dasar egois," gerutu Anna sambil kembali mencuci tangannya yang tak kotor itu dengan begitu emosi.


"Pyuh... tarik nafas... keluarkan... tenang Anna, kamu jangan ngeliatin kalo kamu cemburu, tenangkan dirimu, berfikir positif, semua akan baik baik saja," ucap Anna berbicara sendiri sambil terus berusaha meredakan emosinya.


"Lihat saja, akan aku beritahu bagaimana kesalnya jika aku melakukan hal yang sama," ucap Anna bertekat.


Sesekali boleh kan jika ia ingin menyadarkan suaminya agar dia tak melakukan hal yang sama, bukan hanya suami saja yang akan kesal jika pasangannya asik bercengkrama dengan pria lain, hal sama pun berlaku dengan istri bukan?, jadi semuanya harus seimbang dan sama rata.


Setelah berhasil menenangkan diri, dan mengeringkan mukanya memakai tisu, dengan santai Anna keluar dari toilet, kini ia telah berhasil mengembalikan moodnya, dan ia sudah bisa mengembalikan senyumnya meskipun hanya sedikit.


Dalam perjalanan menuju meja yang ditempati suaminya, Anna tak sengaja ditabrak oleh seorang pria memakai setelan rapih yang terlihat tergesa gesa memasuki cafe.


"Brak..." Tubrukan itu benar benar tak terelakkan, memang tidak terlalu keras, tetapi berhasil membuat Anna tumbang dan nyaris terjungkal jika sang pria gagah itu tak menahan pinggang Anna dengan sigap.


"Kamu tak apa apa?" tanya sang pria sambil memandang wajah cantik alami Anna tanpa pulasan make up itu, Anna terlihat kaget sambil memejamkan mata, Anna merasa takut dia benar benar akan membentur ke lantai keras dibawahnya.


"Sa-saya tidak apa apa," ucap Anna merasa gugup, dengan cepat ia melepaskan pelukan pria itu dari pinggangnya.


Melihat istrinya yang dipeluk oleh pria yang menabraknya meskipun tak sengaja, kepala Rainer seketika mendidih menahan emosi yang sudah nyaris ke ubun-ubun, tanpa menunggu lama, kemudian Rainer menghampiri mahluk yang sedang saling meminta maaf itu.


"Cukup saling maaf maafannya, ini bukan lebaran," sungut Rainer sambil meraih tangan Anna hingga ia nyaris dipeluk oleh Rainer.


***


***


Luar biasa lho masnya, jiwa tak sadar diri Rainer mulai muncul lagi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚, seketika author pengen ngehujat inimah...


Bagaimanakah cara Anna membalas Rainer, dan seperti apa reaksi Rainer jika ada yang terang terangan mengagumi Anna, apakah akan seperti Damar yang menyerah kalah? ataukah seperti dirinya yang gigih...


Makasih banget buat para readers ku yang setia menunggu, yang udah ngasih authornya vote, hadiah, like, yang komen, bahkan yang bersedia mampir dan nengokin karya author yang luar biasa suka suka ini hehehe... love you menggebu gebu pokoknya...


Happy reading😘😘

__ADS_1


__ADS_2