Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 87. Pisah Ranjang


__ADS_3

Sudah 30 menit berlalu semenjak kepergian Anna dan Tania, Kegelisahan terus saja melanda Rainer saat Anna tak kunjung kembali bersama Tania.


Sedangkan Karin terus saja menepel kepada Rainer, tak henti mencari perhatian Rainer.


"Rain, kenapa tiba tiba kamu bisa menikah dengan cleaning service itu?" tanya Karin tak sedikitpun dia filter kata katanya.


Rainer lalu melirik sinis pada Karin, lalu beranjak dari duduknya.


"Yang kamu panggil cleaning service itu, sekarnag telah sah menjadi istri dari CEO, Karin, jadi jaga bicaramu." ucap Rainer penuh dengan penekanan.


Rainer sudah muak dengan sikap Karin yang terus menempelinya, bahkan duduknya tak sedikitpun beranjak dari sisinya, padahal masih banyak kursi yang lain.


Ia ingin sekali mendorong Karin jauh jauh dari dirinya, tapi sayang Karin adalah tipe wanita gigih apalagi soal mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Mah, aku kekamar dulu."


Suara Rainer mengalihkan perhatian orang orang yang sibuk dengan percakapannya masing masing.


"Rain," panggil Karin sambil memegang tangan Rainer , dengan kasar Rainer menepis pegangan tangan Karin.


Derap langkah tergesa gesa menandakan kekhawatiran Rainer terhadap Anna, khawatir Anna akan kembali mendiamkannya, padahal sebelumnya dia yang mendiamkan Anna.


Belum juga sampai tujuan, Rainer kini berpapasan dengan Tania yang berjalan sendiri tanpa Anna.


"Mana Anna De?" tanya Rainer.


"Lagi istirahat, ngga enak badan katanya," jawab Tania kemudian merangkul tangan Kakanya untuk kembali ikut ke halaman belakang berkumpul dengan yang lain.


"Jangan ganggu Anna sekarang, dia sedang kesal sama kaka, nanti kalo udah tidur pules baru pindahin, sekarang Anna tak ingin melihat Kaka," ucap Tania sambil menarik tubuh Rainer yang ingin menerobos masuk ke kamar Tania.


Kini Rainer tahu bagaimana tidak enaknya jika Anna sedang marah, jangankan berbicara padanya, bertemu saja tak mau. Bagi Rainer, lebih baik Anna marah marah padanya daripada terus menghindari dirinya.


Dengan berat hati pada akhirnya Rainer kembali ke halaman belakang untuk kembali bergabung dengan yang lain, menunggu hingga acara usai dan malam tiba agar ia bisa menyusul istrinya.


***


Setelah beberapa waktu kemudian, kini para tamu sudah meninggalkan rumah keluarga Nalendra, walaupun demikian, Rainer masih setia menunggu Anna terbangun dari tidurnya.


Dengan langkah pelan tanpa suara, Rainer mendekati ranjang dimana sang istri sedang terlelap lalu menaiki ranjang tersebut dan merebahkan tubuhnya tepat di samping Anna.

__ADS_1


Sejenak Rainer tertegun dengan kondisi istrinya itu, matanya terlihat membengkak. Memang sebagai seorang suami, Rainer benar benar tidak tahu apa apa tentang istri nya, Rainer hanya tau jika ia sangat mencintai Anna sampai tak rela ada pria lain yang mendekatinya, tanpa tahu bagaimana kebiasaan dan sifat Anna kala ia sedang marah.


Dengan lembut Rainer memberanikan dirinya untuk membelai pipi sang istri yang kemerahan itu, berharap ia bisa menarik kesadaran Anna dengan perlahan tanpa mengejutkannya.


"Sayang, kamu sangat mengantuk?" tanya Rainer tanpa mendapatkan jawaban dari Anna yang sedang memejamkan matanya.


"Maafkan aku," lanjutnya.


Saat ini Rainer menyadari kelemahannya, ia tak bisa melihat air mata menggenang di pelupuk mata istrinya, meskipun ia tahu tidak mungkin Rainer mengendalikan keadaan, tapi kini dia hanya bisa berusaha dan belajar memahami keadaan.


Rainer lalu merebahkan tubuhnya dan memeluk sang istri, kemudian mengecupnya dengan lembut.


"Sayang, jika mau menginap disini, ayo pindah ke kamar kita, kasian Tania jika harus menempati kamar lain," gumam Rainer tepat di depan wajah Anna kemudian mencium bibir manis sang istri.


Karena Rainer mencium Anna sedikit lama dan iapun sedikit meng*hisapnya, mau tidak mau perlahan Anna terjaga.


Mendapati dirinya sedang didekap dan diciumi oleh Rainer, Anna kemudian mendorong dada Rainer berusaha membuat jarak dengan suaminya itu.


"Hentikan Rain," ucap Anna kemudian bangun dari tidurnya lalu Anna melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Sayang," Rainer kemudian mengejar Anna yang telah meninggalkannya ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Anna tak memperdulikan panggilan dari suaminya, ia benar benar kesal, merasa Rainer begitu egois, ingin di mengerti dan dituruti apa maunya, tapi ia tak mau melakukannya sendiri, meskipun itu ketidak sengajaan, tapi nyatanya Rainer tidak menolak sedikitpun sentuhan dari Karin.


Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi, mencuci mukanya untuk menghilangkan rasa kantuknya, Anna kemudian keluar dari kamar mandi.


"Sa-, ceklek."


Mendapati suaminya masih di depan pintu, Anna kemudian mengangkat wajahnya dan menatap suaminya datar dan wajah tanpa ekspresi, saat ini tidak ada keinginan untuk tersenyum.


"Aku ingin menginap dengan Tania," ucap Anna sambil meninggalkan Rainer yang menganga.


"Apa maksudnya?" tanya Rainer.


"Silahkan kamu tidur dikamar kamu, aku tidur disini dengan Tania, tadi aku udah bilang ko, dan Tania tidak masalah," tegas Anna sambil mendudukkan dirinya di sofa yang berada di kamar Tania.


"Enggak bisa, kamu itu istri aku, bukan istri Tania," bantah Rainer dengan alasan yang konyol, tentu saja Anna istrinya, siapa yang bilang kini Anna menjadi istri Tania, sungguh alasan yang tak masuk akal.


Anna kemudian melipat tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa yang di didukinya, menatap sang suami dengan tatapan yang menusuk, seperti mengatakan jika Anna sedang dalam mode tak suka pada Rainer.

__ADS_1


"Jika tidak boleh, aku mau ke rumah Irma atau Ratih."


Ucapan Anna makin membuat Rainer menganga, ia benar benar tak ingin berpisah dengan Anna barang satu malam pun.


"Baiklah baiklah, tidur saja disini, aku tidur dikamar aku," ucap Rainer tak punya pilihan.


Setidaknya saat ini mereka masih serumah, jika beda rumah, Rainer takut Anna akan pulang kerumah orang tuanya, dan bisa dipastikan bukan hanya satu malam Rainer tidak bisa memeluk sang istri tapi bisa jadi 2 hari, 3 hari, atau bahkan seminggu, Oh ya ampun, Rainer tak akan kuat tidur tanpa mencium aroma tubuh istrinya.


"Baik, silahkan ke kamar anda, saya akan melanjutkan tidur saya," ucap Anna acuh, kemudian beranjak dari duduknya dan naik kembali ke atas ranjang untuk melanjutkan tidurnya


Saat ini memang sudah cukup larut, dan Anna pun baru terlelap sekitar 30 menit, wajar saja jika Anna masih merasa mengantuk bukan.


"Sayang, kamu tega padaku?" ucap Rainer dengan memelas.


"Hmmm...." jawab Anna hanya dengan gumaman.


"Baiklah, jangan kemana mana, tetap disini saja," ucap Rainer merasa khawatir.


Dengan berat hati, Rainer meninggalkan kamar Tania, untuk menempati kasurnya yang dingin tanpa guling hidupnya, tanpa aroma memabukkan yang membuat ia selalu tenang itu.


"Ceklek." saat membuka pintu kamar Tania, tak disangka dua wanita yang berbeda generasi ini sedang menempelkan telinganya di pintu berusaha mendengarkan percakapan pasangan pengantin baru di dalam kamar tapi hasilnya nihil, percakapan suami istri itu tak terdengar sedikitpun, benar benar kualitas bangunan keluarga Nalendra memang tak bisa diragukan.


"Eh..." kaget mamah Ros dan Tania tak menyadari jika objek yang sedang mereka dengarkan itu telah berada tepat didepan mereka.


"Mana Anna? aku udah ngantuk," tanya Tania gelagapan.


"Ngapain mamah juga disini?" tanya Rainer heran dengan kelakuan para wanita penting dalam hidupnya itu.


"Hahah... Mamah mau ngerumpi dikamar Tania," ucap mamah Ros dengan tawa hambarnya.


"Awas aja kalo diajarin yang nggak bener ya istri aku," ancam Rainer.


"Nggak diajarin apa apa ko ka, tenang aja,"ucap Tania sambil memukul pelan bahu kakaknya.


Kemudian Rainer pun berlalu meninggalkan Kamar Tania menuju kamarnya yang berada tak jauh dari kamar Tania.


***


Yah, bobo sendiri deh... selamat bergadang Rainer ... 😂😂😂

__ADS_1


Happy reading 🤗🤗


__ADS_2