
Hari yang melelahkan bagi Damar karena seharian dia melakukan survei kebeberapa tempat untuk pelaksanaan ulang tahun perusahaan.
Tahun ini PT Nalendra konstruksi akan mengadakan pesta ulang tahun dengan konsep yang berbeda, tidak hanya pesta ulang tahun yang biasa dilaksanakan setiap tahunnya, kali ini pesta ulang tahun perusahaan akan dilaksanakan dengan mengadakan even even yang menarik yang akan melibatkan seluruh karyawan Nalendra group termasuk perusahaan yang sudah menjadi kolega.
Ditambah lagi dengan telpon mendadak yang diterimanya dari Rainer, membuat rasa lelahnya semakin meningkat, padahal dia baru sampai di lobi.
Dalam perjalanan menuju ruangan Rainer, tak disangka Damar berpapasan dengan Tania dan Anna yang akan menuju taman depan kantor, tujuannya hanya sekedar menyegarkan diri setelah seharian terkurung di ruangan Rainer.
"Hai," sapa Damar saat melihat Tania dan Anna.
"Hai ka," sapa balik Tania ramah dibarengi dengan senyuman Anna sambil menganggukkan kepalanya.
"Anna, kamu sudah kembali? tapi belum mulai kerja sepertinya," tanya Damar.
Bukan tanpa alasan Damar berkata seperti itu, ia melihat Anna tak memakai seragamnya jadi Damar merasa sedikit heran saja.
"Iya mas, Anna tadi menyerahkan surat pengunduran diri, dan akan ikut seleksi untuk melamar jadi staf, doakan ya semoga Anna lulus," jawab Anna ramah.
Sebenarnya Anna sedikit takut ada Rainer yang melihat dia berinteraksi dengan Damar, karena sejak tadi alasan ia terkurung di ruangan Rainer adalah takut jika Anna bertemu dengan Damar, tapi apa daya takdir tidak bisa kita cegah, pertemuan memang harus terjadi jika sang pencipta menghendaki bukan.
"Begitukah? baiklah mas yakin kamu pasti lulus An... ya sudah, silahkan lanjutkan perjalanan kalian, mau keluar kan?" tanya Damar.
"Iya, kita mau ke taman," jawab Tania.
"Dah ka, kita duluan ya," pungkas Tania.
Tanpa menunggu lama, kini mereka sudah meninggalkan Damar yang juga sedang tergesa gesa berjalan menuju ruangan Rainer.
***
"Tok tok tok."
Terdengar ketukan pintu yang seketika mengalihkan atensi ketiga pria yang berada di ruangan Rainer.
"Masuk," ucap Rainer.
Kemudian pintu pun terbuka menampakkan Damar yang menganggukkan kepalanya lalu berjalan mendekati ketiga pria yang sedang mengobrol santai itu.
"Kau sudah datang," ucap Rainer.
"Aku baru sampai. Sepertinya liburanmu lumayan menyenangkan Rain, sampai kau memperpanjang waktu cutimu," ucap Damar sambil mendudukkan tubuhnya di sofa dimana ketiga temannya sedang berkumpul.
__ADS_1
"Tentu saja, lebih dari itu, luar biasa menyenangkan," ucap Rainer bersiap untuk menjatuhkan bom atom yang akan membuat Damar syok bukan main.
Arman dan Raka hanya saling melirik memberikan kode yang tak bisa diartikan satu sama lain.
"Kamu sudah bertemu Anna?" tanya Rainer memancing reaksi Damar.
Mendengar pertanyaan Rainer, Damar mengerutkan dahinya tak mengerti, apa hubungannya liburan Rainer dengan Anna.
"Tadi aku bertemu, memangnya kenapa?" tanya Damar.
"Apa?!...kapan?!" tanya Rainer.
"Baru saja, memangnya kenapa?"
"Lebih baik kita duduk dulu, Rainer ingin mengumumkan sesuatu," ucap Arman memotong perdebatan sebelum terjadi hari hara.
"Mengumumkan apa?," tanya Damar sambil memposisikan dirinya duduk berkumpul bersama teman temannya.
"Aku sudah menikah dengan Anna," ucap Rainer tanpa basa basi.
Mendengar pernyataan Rainer Damar tentu saja tak semudah itu percaya, ia kemudian memandang wajah Rainar dengan penuh selidik kemudian beralih kepada Arman dan Raka satu persatu, berharap kabar yang diberikan oleh Rainer hanyalah candaan semata, tetapi nihil, wajah mereka tak menyiratkan kebohongan atau candaan.
"Baiklah, ayo kita rayakan kebahagiaan Rainer, kita berkumpul di rumah Tante Ros, beliau mengundang kita kerumahnya," ucap Raka sambil merangkul Damar yang tiba tiba diam tak ingin berbicara lagi.
"Tentu, nanti aku datang setelah pekerjaan ku selesai," ucap damar.
Setelah perbincangan santai yang sebenarnya tidak terasa santai bagi Damar itu, kemudian mereka mulai membahas persoalan tentang perusahaan hingga mereka menyelesaikannya hingga petang tiba.
***
Disisi lain, dimana Anna, Tania, dan Ratih berada. Mereka kini sedang duduk sambil menikmati jajanan yang berada di taman depan kantor yang biasa Anna kunjungi selepas bekerja.
"Bagaimana bisa kamu menikah dengan pak Rainer sedangkan kamu kemarin mengatakan dijodohkan oleh bapa kamu dengan anak temannya," ucap Ratih tak percaya dengan status yang disandang oleh Anna saat ini.
"Tentu saja karena jodoh Anna itu adalah Kaka aku, tak usah bingung," ucap Tania dengan santai.
"Dan lagi yang disukai Firman bukan Anna tetapi Ayu, jadi sudah dipastikan disini tidak ada yang dirugikan bukan," lanjut Tania sambil menyuapkan satu sendok batagor terakhirnya.
"Entahlah Rat, aku juga ngga nyangka banget, memang jalan jodoh manusia nggak ada yang tahu," ucap Anna.
"Luar biasa banget An, padahal saat kamu pulang kampung kamu baru bertengkar dengan pak Rainer ya, aku kira kalian tidak akan baik lagi, tapi memang jodoh kita tidak tahu kan," timpal Ratih.
__ADS_1
"Oh iya, nanti malam ikut ke rumah aku ya, kita ada acara kumpul dirumah," ajak Tania pada Ratih.
"Semoga nanti aku bisa Dateng ya, tapi nggak bisa janji," jawab Ratih.
"Ayo kita kembali, sepertinya kita sudah terlalu lama disini," ucap Anna sambil menegakkan tubuhnya.
***
Setelah berpisah dengan Ratih, Tania dan Anna kembali ke ruangan Rainer, tak disangka Anna dan Tania kembali bertemu dengan Damar saat mereka baru tiba tepat di depan pintu ruangan Rainer.
"Hai, kalian baru kembali?" tanya Damar.
Saat ini wajah Damar tampak sedikit berbeda, ekspresinya tidak sama seperti saat tadi ia bertemu dengan Anna dan Tania di lobi.
"Mas Damar kenapa?" tanya Anna bingung dengan perubahan wajah Damar.
"Gak apa apa, oh iya, selamat ya atas pernikahan kamu sama Rainer," ucap Damar berusaha tak menampakkan kekecewaannya.
"Oh iya makasih," ucap Anna berusaha tersenyum.
Meskipun Anna tak memiliki perasaan pada Damar, tetapi Anna benar benar merasa tidak enak pada Damar, pasalnya Anna sudah menganggap Damar seperti Kakanya sendiri tetapi Damar memiliki perasaan berbeda pada Anna.
"Sudah basa basinya? ... jika sudah silahkan kembali ke ruangan mu," ucap Rainer tepat dibelakang Damar.
Rainer begitu tak suka melihat Anna seperti memberikan perhatian pada Damar.
"Ya sudah, Anna, Tania aku ke ruangan ya, sampai jumpa lagi," ucap Damar berpamitan pada Anna dan Tania kemudian bergerak menuju ke ruangannya.
Setelah kepergian Damar, Rainer berdiri menyandarkan tubuhnya melipat tangannya di dada sambil memandang Anna dengan tajam, sedangkan Anna yang dipandang oleh Rainer makin salah tingkah, tatapan Rainer seperti sedang menatap terdakwa yang membuat kesalahan yang sangat berat.
"Segitu juga udah galak, apalagi kalo kamu bikin yang aneh aneh," cibir Tania berbisik tepat di belakang telinga Anna.
Mendengar celotehan Tania, Anna hanya bisa tersenyum hambar.
"Ayo kita pulang," ajak Rainer.
Suara Rainer terdengar begitu dingin, tampak seperti dia sedang marah, dan kini Anna merasa takut, dan bingung.
***
Happy reading 😊
__ADS_1