Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 31. Berani menjauh, kamu habis


__ADS_3

Sesal tak ada gunanya untuk Anna, tak ada yang bisa Anna lakukan untuk membela diri dari kecerobohannya tapi Anna masih berfikir dia tak salah karena jam kuliah kan masih 30 menit lagi. Tapi apa daya, dia sudah membuat Rainer kesal dengan mengabaikan panggilan telponnya. Dan kini, Anna disini, mengejar langkah Rainer yang begitu lebar dan cepat sampai Anna sedikit berlari agar tak tertinggal jauh dari Rainer.


Rainer membawa Anna masuk kembali ke cafe yang sebelumnya ia menunggu Anna selesai dengan perkuliahannya.


"Duduk," ucap Rainer tak terbantahkan.


"Glek," Anna hanya bisa meneguk ludahnya dengan susah payah saat melihat tatapan Rainer yang begitu tajam padanya.


"Iya pa," lalu Anna mendudukan bokongnya tepat di kursi yang berhadapan langsung dengan Rainer. Dalam posisi seperti Anna sudah jelas tak bisa melakukan apa apa, karena Rainer tak henti mengintai setiap gerakan Anna, bahkan saat Anna menarik nafasnya secara perlahan tak luput dari sorotan matanya.


"Mba," panggil Rainer pada pelayan restoran ini.


"Saya pesan Sup iga, dan sate lilit satu porsi aja, dan minumnya jeruk panas aja dan air mineral, udah" pesan Rainer pada pelayan.


"Baik pa, ditunggu pesanannya," ramah sang pelayan, kemudian ia pergi untuk menyiapkan pesanan yang di minta oleh Rainer.


"Ieh, mesennya cuman satu porsi, alamat nontonin dia makan lagi ini, sebel," dumel Anna dalam hati sambil meremas tangannya dengan kesal.


Untuk beberapa saat tak ada suara yang tercipta dari mulut dua orang yang sedang berhadapan ini. Hanya tatapan Rainer yang begitu tajam tak henti menatap Anna menyalurkan kekesalannya dalam kediaman, dan Anna yang risih terus menerus di tatap oleh Rainer sambil menundukkan kepalanya juga tangannya yang terus ******* ***** celana yang dikenakannya, hingga pelayan yang membawa pesanan yang diminta oleh Rainer pun tiba.


"Silahkan pesanannya pa, sup iga dan sate lilit, dan minumnya jeruk panas dan air mineral ya pa, ada pesanan yang lainnya?" tanya sang pelayan begitu ramah sambil mengembangkan senyumnya.


"Cukup,terimakasih," jawab Rainer singkat.


"Baik, selamat menikmati," pungkas pelayan sambil undur diri.


Kemudian Rainer menyodorkan makanan yang telah dipesannya kehadapan Anna lalu menatapnnya.


"Makan," ungkap Rainer begitu ketus dan sarat akan perintah, terdengar ia sepertinya tak terima bantahan.


"Iya pa."


Tak menunggu lama, Anna pun menyantap makanan yang diberikan oleh Rainer, begitu menyegarkan dan memanjakan perut Anna yang begitu keroncongan karena tadi tak sempat menghabiskan bakso yang dipesannya disebabkan kedatangan Rainer yang memaksa Anna untuk mengikutinya.

__ADS_1


"Makasih pa," ucap Anna setelah menghabiskan makanannya sampai tak tersisa.


"Sudah kenyang? atau masih mau lagi yang lainnya?" tanya Rainer terdengar sangat perhatian, tapi saat melihat ekspresi wajahnya saat mengatakannya seperti ada dendam disana, sungguh datar tanpa ekspresi sama sekali.


"Engga pak makasih sudah cukup," ucap Anna gelagapan.


"Oke, sekarang saya tanya, kenapa kamu tidak telpon saya saat kamu selesai kuliah?" tanya Rainer sambil melipat tangannya dan menyandarkan punggungnya pada kursi.


"Kuliah saya selesai jam 8 pa, jadi saya fikir akan menelpon bapa nanti jam 8 saja" ucap Anna berusaha tenang dengan jawabannya.


"Saya bilang telpon saya jika kamu sudah selesai kuliah, kamu sudah selesai harusnya langsung telpon saya" ucap Rainer makin kesal


"Dan untuk apa kamu nongkrong sama teman teman pria kamu? itu pacar kamu?" makin terbakar saja kemarahan Rainer mengingat Anna begitu akrap dengan teman teman prianya.


"Itu teman satu kelompok dengan saya pa, jadi kami ngumpul dulu setelah menyelesaikan tugas kelompok kami," jelas Anna.


"Eh tunggu, kenapa aku harus ngejelasin siapa mereka, apa urusannya sama pak Rainer?" tanya Anna dalam hati tapi tak berani mengungkapkannya pada Rainer.


"Itu pacar kamu?" tegas Rainer mengulang pertanyaannya yang tak dijawab oleh Anna.


"Lalu kenapa kamu begitu akrap dengan pria itu, kamu suka sama dia," selidik Rainer semakin ingin tahu.


"Ieh apa urusannya aku suka siapa, ngga jelas banget sih," kesal Anna dalam hati, sampai Anna ingin meneriakkannya di depan wajah sang bos menyebalkan tapi tetap dia tak berani.


"Maaf pa, saya tidak suka siapapun, dan sepertinya saya juga tak ingin punya pacar," ungkap Anna mulai geram dengan pertanyaan Rainer yang semakin ingin tau privasi Anna.


"Bagus," ungkap Rainer sambil tiba tiba tersenyum yang membuat Anna heran, kenapa bosnya ini.


"Apanya yang bagus pa?" tanya Anna.


Rainer hanya tersenyum dan menggerakkan bahunya keatas kemudian ia mengangkat cangkir kopinya sambil tersenyum lalu menyeruput kopi nikmatnya sedikit demi sedikit.


Setelah mendengar jawaban dari Anna, mood Rainer kembali naik lagi. Kini ia tak ragu lagi dengan pilihannya.

__ADS_1


Setelah berhasil mengontrol emosinya yang tiba tiba menjadi bahagia, yang mengakibatkan adrenalin dalam dirinya meningkat drastis, kemudian ia menarik nafasnya agar menjadi tenang terlebih dahulu. Anna yang memperhatikan perubahan yang cepat pada bosnya ini. merasa begitu aneh.


"Dengarkan, kamu ngga boleh terima pria manapun yang mau jadi pacar kamu, ngerti?" ucap Rainer begitu membingungkan Anna.


"Maksudnya pa? saya ngga ngerti," tanya Anna.


"Saya suka kamu Anna, jadi kamu dilarang menerima pria lain atau suka sama pria lain, jika berani suka sama pria lain atau terima cinta pria lain, habis kamu," ucap Rainer mengejutkan.


Mendengar pernyataan Rainer yang lebih mirip ancaman itu, tiba tiba Anna tersedak air liurnya, ia tak henti hentinya terbatuk, rasanya begitu mengagetkan.


"Apaan itu, mana ada orang menyatakan cinta kaya gitu," keluh Anna dalam hati saat berhenti terbatuk.


"Maaf pa , bukannya saya menolak, tapi saya tidak berniat pacaran, apalagi sama bapa," ucap Anna memancing pertanyaan Rainer.


"Apa maksudnya apalagi sama saya," tanya Rainer sedikit curiga sambil memicingkan matanya.


"Dan lagi saya tidak ngajak kamu pacaran, dan sebentar lagi kamu akan saya pecat," ucap Rainer mengancam.


Anna membulatkan matanya begitu kaget dan berkata," Kenapa saya mau dipecat pa? apa salah saya?."


"Jelaskan apa maksud kamu apalagi sama saya?" tekan Rainer.


Anna begitu bingung bagaimana menjelaskan pada Rainer. Pada akhirnya dia hanya bisa tersenyum dipaksakan menanggapi pertanyaan Rainer.


"Saya hanya merasa tidak pantas saja disukai sama bapa," dusta Anna, yang penting selamat saja dia.


" Jangan pecat saya pa, tolong," mohon Anna memelas sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Lihat saja nanti, sampai kapan kamu bisa kerja," ucap Rainer benar benar membuat Anna panik.


Anna hanya menundukkan kepalanya merasa bersedih, "Sepertinya aku harus mulai cari kerja yang lain," keluh Anna dalam hati.


Benar benar Rainer membuat Anna salah faham dengan apa yang dimaksudnya.

__ADS_1


Sport jantung ngga tuh kalo di tembak tapi diancam πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Happy readingπŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2