Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 92. Perintah mutlak


__ADS_3

Setiap tatapan mata mahluk yang berada di ruangan wawancara itu


saling bergantian menatap Rainer sang pemimpin perusahaan dengan bingung, merasa ada yang janggal dari pernyataan sang putra dari pemilik perusahaan itu.


Sejak kapan pertanyaan soal privasi seperti itu dijadikan tolak ukur diterimanya seseorang untuk menjadi karyawan perusahaan.


Bahkan seandainya seseorang sudah punya cucu sekalipun, bukan menjadi halangan jika dia punya kemampuan, harusnya seperti itu.


Tapi apa boleh buat, pemangku keputusan tertinggi ada pada sang CEO tampan yang sedang menatap tajam kepada peserta seleksi yang sedang menundukkan wajahnya sambil meremas jari jemari dengan kesal di kursi yang seperti kursi terdakwa itu.


Saat mendengar pertanyaan konyol suaminya itu, Anna merasa kesal bukan kepalang, ia seperti dikerjai dengan pertanyaan yang jelas jelas Rainer tahu betul jawabannya.


"Jadi, saat ini apa status anda nona Anna?" tanya Rainer sambil menyangga dagunya dimeja dengan tangan.


"Saya sudah menikah sekitar dua Minggu yang lalu pak," jawab Anna sambil menatap tajam balik mata suaminya yang sedang tersenyum puas itu.


"Eh, ko ngga ngundang sih An?" celetuk salah satu pewawancara bernama Ibu Sari.


"Maaf Bu, memang tidak pesta, hanya pernikahan sederhana saja," jawab Anna tidak enak, yang tadinya mau disembunyikan dulu hingga resepsi tiba, malah dibongkar pada saat yang krusial, bukankah itu sangat mengesalkan bagi Anna bukan.


Tapi bagi Rainer, ini suatu kebanggaan bisa mengumumkan langsung pernikahannya tanpa harus ditutup tutupi, dia tidak peduli meskipun Anna keberatan.


"Tenang saja, nanti juga diundang ke resepsinya," celetuk Rainer masih dengan posisi yang sama.


Sontak semua orang di buat bingung dengan pernyataan sang pimpinan, bukankah aneh jika seorang yang penting seperti Rainer mengetahui hal privasi seperti itu apalagi privasi seorang karyawan yang bisa dibilang biasa disini.


"Oke, Sebutkan siap suami anda nyonya Anna," lanjut Rainer bertanya tanpa ingin menanggapi kebingungan staffnya yang berada di ruangan itu.


Kini Anna benar benar dibuat jengkel dengan tingkah kekanakan Kanakan suaminya itu, ia merasa jika memang Anna tak bisa bekerja dengan tenang jika Rainer masih saja keukeuh dengan keinginannya itu.


"Maaf pa, sepertinya itu hak privasi Anna pa, tidak harus mengungkapkan siapa suaminya bukan," sanggah ibu Sari.

__ADS_1


Mendengar protes bawahannya, Rainer malah makin tak peduli, matanya malah menyorot makin tajam mendapati wajah Anna yang semakin masam dibuatnya.


"Jawab nyonya Anna, jika anda masih ingin lolos sebagai Karyawan kami," tegas Rainer.


"Suami saya adalah anda pa," jawab Anna kesal sekali pada Rainer.


Suaminya ini benar benar sengaja ingin membuat pengumuman terselubung, setidaknya ada orang orang penting yang mengetahui jika Anna telah sah menjadi istrinya.


"Apa?!"


Semua orang makin tersentak mendapati kenyataan bahwa pemimpin perusahaan ini sudah tidak melajang lagi, dan lebih mengagetkan lagi wanita yang beruntung itu adalah seorang Anna yang sebelumnya hanya sebagai seorang cleaning service, sungguh jodoh memang tidak bisa disangka oleh siapapun, selalu penuh dengan kejutan.


"Baiklah, jawaban sempurna," ucap Rainer puas.


"Anda tidak bercanda kan pak?" tanya Pak Bimo tak percaya.


"Tentu saja tidak, tanyakan pada nyonya Anna, apakah dia bercanda," ucap Rainer.


"Selamat atas pernikahan anda pak, saya tidak menyangka sama sekali," ucap semua orang pada Rainer kemudian menyalaminya satu persatu.


Kini senyum kemenangan telah terukir manis di wajah Rainar, tapi wajah geram Anna amat ketara menyorot dengan tajam suaminya yang tengah berbahagia di depan sana.


"Baiklah, wawancaranya sudah selesai nona Anna, besok kami akan menelpon anda untuk memberi tahu hasilnya," Rainer menutup wawancara Anna dengan hati bahagia karena telah berhasil mengumumkan status Anna sebagai istrinya di depan karyawan yang memang punya jabatan cukup penting itu.


"Baik pa terima kasih," jawab Anna kemudian menganggukkan kepalanya untuk berpamitan kemudian meninggalkan ruangan itu dengan gontai dan hati yang tak karuan.


Anna merasa begitu heran, mengapa suaminya itu sangat senang mengacaukan hidupnya. Sudah jelas bukan mulai dari sekarang Anna tidak akan nyaman lagi bekerja, bagaimana dia bisa leluasa bekerja jika kemungkinan orang orang akan menjaga jarak dengannya atas dasar takut melakukan kesalahan pada istri bos.


Setelah berhasil meninggalkan ruangan wawancara, Anna bergegas menuruni tangga berjalan perlahan menyusuri tangga tanpa menghiraukan panggilan masuk dari ponselnya yang terus berteriak teriak minta untuk diangkat.


Sejenak dia lirik ponselnya ingin tahu siapa gerangan yang sudah mengganggu ketenangannya itu.

__ADS_1


Tertera dengan sangat jelas kontak yang menghubunginya adalah suaminya yang dengan sengaja Rainer beri nama nomor kontaknya itu dengan nama suamiku sayang.


Dengan kesal Anna memasukkan ponselnya kedalam tas tanpa ada niatan untuk menerima panggilan itu.


Malah Anna kini menambah laju langkahnya, segera keluar dari gedung perusahaan untuk kembali ke apartemen suaminya yang kini telah ia tinggali.


Dengan cepat Anna telah sampai di pinggir jalan, lalu ia segera memanggil taksi yang lewat tepat dihadapannya.


Setelah sampai di kawasan dekat apartemen suaminya itu, Anna menyempatkan diri untuk sedikit berbelanja di mini market yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya saat ini.


Sepertinya hari ini Anna akan memasak sesuatu yang menyegarkan untuk makan malam, Anna berharap mungkin saja dengan memasak Anna akan melupakan kejadian konyol yang dilakukan oleh suaminya saat wawancara tadi.


Ponselnya sudah tak berisik lagi menandakan sang penelepon sudah menyerah untuk menghubungi Anna, dan kini tinggal dampak yang akan terjadi yang akan ditanggung Rainer yang mungkin saja akan jauh dari ekspektasinya.


Saat ini Anna memang kesal, tetapi apa boleh buat Anna harus menerima keadaan ini dengan lapang dada, toh kini ia adalah seorang istri yang harus mematuhi suaminya bukan.


Setelah selesai berbelanja, Anna kemudian bergegas memasuki apartemennya, kemudian segera menyimpan belanjaannya di dapur, kemudian ia membersihkan diri terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang nyaman dipakai di rumah.


Setelah berhasil menenangkan diri, ia berusaha berfikir positif, mungkin saja ini adalah salah satu ujian dirinya bagaimana dia bisa belajar patuh kepada suaminya.


Anna berusaha mengikhlaskan apa yang akan terjadi pada hidupnya, dengan suka cita Anna memulai memasak menu makanan yang akan disajikan saat suaminya pulang kerja itu.


Anna bertekat, sepertinya hari ini Rainer harus mendapatkan hadiah spesial dari dirinya karena sudah membuat Anna kesal bukan main tadi siang.


Sedangkan di tempat lain, Rainer sudah bolak balik berusaha menghubungi Anna lewat sambungan ponselnya.


Hampir 30 menit ia terus saja menelpon Anna meskipun hasilnya sama, tidak ada tanda tanda akan di terima panggilan telponnya untuk Anna itu.


Pada akhirnya Rainer menyerah untuk menelpon Anna. Dan kini, Rainer sedang berfikir keras bagaimana membujuk istrinya itu agar tidak ngambek lagi.


Sepertinya kemampuan merayu Rainer sedang dibutuhkan untuk saat ini, pertanyaannya apakah akan mempan jika dilakukan pada istri polosnya itu?.

__ADS_1


"Arman, pesankan buket mawar paling cantik, aku mau sore ini sudah ada di tanganku," titah Rainer pada sang asisten serba bisanya itu lewat sambungan telpon di ruangannya.


"Semoga kamu luluh lantah dengan keromantisan aku ya sayang," gumam Rainer sambil menatap foto Anna yang sedang tidur di ponselnya yang ia jadikan wallpaper itu.


__ADS_2