
Suara riuh para penumpang kereta api di stasiun membawa ingatan masa lalu saat Anna pertama kali melangkahkan kakinya menuju kota orang, kota dimana ia memulai kemandiriannya, berusaha berjuang sendiri menggapai cita cita.
Hidup memang tak mudah, kesuksesan harus mengorbankan sesuatu hal, ia mengorbankan waktu kebersamaan dengan orang tua dan saudaranya, mengorbankan indahnya hidup didesa dan hidup sendiri di kota yang tak ia kenal sebelumnya.
Tapi Kini, ia kembali ke desa dimana ia dibesarkan, desa dimana ia bahagia dengan kesederhanaan keluarganya, bahkan ia bahagia dengan segala intrik yang ada di rumahnya.
Yah, Rumah, tempat dimana ia berpulang, tempat dimana ia akan betah meski kondisinya tidak sebaik di kota, tapi dia bahagia, karena dia bisa menemukan orang orang yang selalu mencintai dan menunggunya.
***
Kini ia telah menginjakkan kakinya di desa yang begitu ia rindukan, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam menggunakan kereta api, kemudian dari stasiun kereta api menaiki angkot satu kali untuk menuju ke desanya.
Desa tempat dimana keluarga Anna tinggal memang lumayan jauh, jika naik angkot, butuh waktu sekitar 15 menit, belum lagi dari jalan raya, Anna harus berjalan kaki sekitar 30 menit untuk bisa sampai ke rumahnya.
Kemarin Anna berangkat dari kosannya pagi pagi buta, setelah selesai melaksanakan shalat subuh, mengambil jadwal keberangkatan kereta pukul 7 pagi.
Anna berjalan dengan semangat menyusuri jalanan yang belum tersentuh aspal jalanan itu, hanya tanah dan bebatuan yang Anna pijak. Di sepanjang jalan Anna disuguhkan pemandangan yang indah, kebun sayur yang terhampar luas di pinggir jalan, menambah kesejukan saat mata memandangnya.
Meskipun hari sudah siang, tetapi dinginnya suhu udara masih terasa, ditambah dengan semilir angin segar tanpa adanya asap kenalpot jalanan seperti di kota, mambuat setiap yang berkunjung merasa betah tinggal disini.
Kini perasaan Anna lebih baik, bahkan sangat baik. Sepanjang perjalanan pulang Anna terus merapalkan doa, memohon pada yang kuasa semoga semuanya akan baik baik saja.
Langkah kakinya makin cepat kala ia sudah melihat rumah yang sudah 6 bulan ia tinggalkan itu terlihat diujung jalan ini. Anna begitu rindu pada ibu, bapak dan adiknya yang masih duduk di bangku SMP kelas 3 itu.
"Ibu... Teh Anna udah pulang," teriak Ayu sambil berlari kedalam memberi tahu ibunya.
Melihat adiknya begitu antusias mengetahui kedatangannya, Anna begitu bahagia karena ia begitu dirindukan oleh keluarganya.
Anna lalu membuka pagar rumah dan memasuki halaman yang dihiasi tanaman semak semak itu.
"Assalamualaikum... Bapak, Ibu, Anna pulang," ucap Anna sambil meletakkan ransel yang di bawanya di kursi depan dan melangkahkan kakinya menuju dapur dimana keluarganya sedang berada.
__ADS_1
"Anna... Alhamdulillah kami udah pulang, ibu udah kangen," ucap ibu sambil memeluk putri sulungnya itu, dan mencium keningnya.
Lalu Anna beralih kepada Bapaknya yang sedang memotong kayu bakar, lalu mencium tangannya dengan khidmat.
"Pa, Anna pulang, bapa sehat sehat kan ya," tanya Anna.
Pria paruh baya itu lalu mengusap kepala gadis nya yang tidak terasa kini sudah beranjak dewasa.
"Bapak, sehat An, Alhamdulillah, kamu pulangnya lama banget sih An, sampe 6 bulan baru inget pulang," protes bapa.
"Iya pa, jadwal kuliah anna lumayan padat, dan kerja Anna juga kan tiap hari, jadi kalo cuman pulang sehari, ngga akan mungkin, ini juga minta cuti seminggu, untung kantor dan kampus ngasih," jelas Anna agar orang tuanya mengerti.
Lalu Ayu, adik dari Anna pun mendekat dan memeluk Anna penuh dengan kerinduan.
"Kangen tau teh, lama banget pulangnya," pertanyaan yang sama pun terlontar juga dari mulut mungil gadis remaja itu. Ayu memang sangat dekat dengan Anna, karena mereka hanya dua bersaudara.
"Iya maaf, kalo udah lulus kuliah, Kaka nanti nyari kerja dekat deket sini aja, nggak akan yang jauh jauh," ucap Anna.
"Ya kalo udah kuliah, teteh pasti dibawa suaminya lah," gumam Ayu yang masih terdengar oleh Anna.
Tanpa diketahui Anna, ternyata ucapan Ayu bukan hanya perkataan yang asal di ucapkan saja, Jodoh manusia nggak akan bisa ditebak bukan, itu sesuatu rahasia dan tak akan disangka datangnya kapan, bisa jadi hari ini kita mendapatkan jodohnya, hanya sang pencipta saja yang tahu.
"Ya sudah, teteh kamu udah cape Yu, jangan diajak ngobrol terus, ayo cuci tangan, lalu kita makan bersama ya, ibu udah masak," intruksi dari ibu yang langsung di lakukan oleh semua anggota keluarga.
Kini mereka duduk lesehan di belakang rumah menggelar tikar di teras belakang menghadap tepat ke kebun dibelakang rumah yang terhampar luas, sungguh indah dipandang mata, sehingga menambah nafsu makan dan memperindah keharmonisan keluarga mereka.
Ibu kali ini memasak makanan sederhana, nasi putih hangat, ditemani lauknya diantaranya ada ikan asin, tahu goreng, oseng genjer, sambal dan tak lupa lalapan yang tersedia di kebun yang mereka miliki yang tak seberapa luas di pinggir rumah mereka, Sederhana, tapi begitu nikmat kala menyantapnya sambil berkumpul bersama.
Setelah selesai menyantap makan siang mereka, lalu Anna meminta izin untuk beristirahat sejenak.
"Bu, Anna mau tidur dulu ya, ngantuk banget," ucap Anna.
__ADS_1
"Iya, tidur aja An, nanti ibu bangunin kalo udah mau magrib," ucap ibu.
Lalu Anna bergegas masuk ke kamar yang telah lama ia tinggalkan dan merebahkan diri di kasur yang tak begitu besar itu.
Anna tertidur sangat pulas, sudah seminggu ia tak bisa tidur dengan nyenyak, baru kali ini bisa tidur pulas, bahkan suara suara yang ditimbulkan oleh aktifitas yang dilakukan ibu, bapa, dan ayu, tidak mengganggunya sedikitpun.
Ternyata Anna bukan hanya mengalami kelelahan fisik, bahkan fikiran dan hatinya pun terasa begitu lelah.
***
Waktu begitu cepat berlalu kala Anna berada di tempat yang begitu ia rindukan, kini anggota keluarga Anna berkumpul bersama di teras rumah, sambil menikmati suara jangkrik, ditemani sepiring singkong goreng dan teh manis hangat, membuat bahagia dengan kebersamaan ini, bicara apa saja yang mereka ingin bahas.
"Anna, kamu udah punya pacar?" tanya bapa pada anak sulungnya itu.
Ditanya demikian, Anna hanya menggelengkan kepalanya, tiba tiba sesak di hati Anna kembali melanda, Anna tak punya pacar, tapi ia memiliki orang yang ia cintai, tapi telah ia kecewakan hingga orang itu menyerah pada dirinya.
"Bagus kalo begitu, kalo Anna tidak keberatan, mau ya bapa yang memilihkan calon buat Anna," ucap bapa berharap Anna setuju.
"Deg."
Mendengar pertanyaan bapa, seketika Anna kaget bukan kepalang, ia merasa heran kenapa tiba tiba bapanya ingin ia segera menikah.
"Tapi Anna masih kuliah pa," jawab Anna berusaha mencari alasan yang logis untuk bapanya.
"Tidak masalah, calon dari bapa ini pasti bisa mengerti kamu, jangan khawatir," ucap bapa makin membuat Anna terpojok.
Kini Anna hanya diam saja, menolak pun Anna tak punya alasan kuat. Mungkin ini salah satu jalan agar Anna bisa melupakan Rainer.
"Kalo Anna setuju, sebelum Anna kembali ke kota, mari kita adakan pertunangan kamu sama calon yang udah bapa pilihkan buat kamu ya."
Mendengar pernyataan bapanya, makin bingung saja Anna saat ini. Kini Anna sedang ada dalam dilema yang membingungkan.Saat ini Anna masih menunggu Rainer, apakan Rainer akan memperjuangkannya kembali atau tidak, jika tidak untuk apa Anna menolak keputusan bapanya?. Bukankah tidak akan ada orang tua yang tega menjerumuskan anaknya.
__ADS_1
"Beri Anna waktu satu malam ya pa, Anna akan fikirikan dulu," pungkas Anna. Satu satunya cara saat ini adalah meyakinkan dirinya dulu, jangan sampai ia menyesal mengambil keputusan bukan.
Happy reading😉