Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 61. Harapan


__ADS_3

Amarah yang bersarang pada pria arogan yang biasa terpenuhi segala keinginannya nyatanya akan berimbas pada setiap orang yang ada didekatnya. membakar habis semua yang terlihat seperti api membakar hutan yang hening tanpa suara.


Meskipun mamah Ros dan Tania mengatakan jika mereka akan mengurus Anna, tapi nyatanya tak membuat Rainer merasa tenang atau lega, dia tak yakin jika ibu dan adiknya itu akan bisa meyakinkan Anna.


Penyesalan terus menggelayuti sanubari Rainer saat ini, membuat amarahnya memuncak seketika, ia tak bisa berbuat apa apa, tak mampu bergerak sesuka hati, ingin cepat menyelesaikan segala urusan perusahaan, nyatanya pekerjaan yang menumpuk ini seperti mempermainkan dirinya, membuat segalanya begitu rumit.


Pak Rudi sebagai ayah dari Rainer sekaligus pemangku jabatan tertinggi dari Nalendra group nyatanya tak ada waktu untuk membantu anak sulungnya itu. Urusan di perusahaan inti lebih banyak dibandingkan di perusahaan cabang yang Rainer pegang sekarang.


Setiap pagi Rainer selalu teringat pada Anna, bahkan saat terakhir bertemu dengan Anna, dia terus mengingat dan merindukannya. Rainer berusaha menahan diri agar dia bisa memiliki Anna seutuhnya dengan layak dan sesuai dengan keinginan Anna. Tidak ada pacaran hanya ingin langsung dipersunting menjadi seorang istri, itu lebih pasti dan bukan sekedar menjaga jodoh orang bukan.


Tapi nyatanya, ia malah kecolongan, tak memberi kepastian pada Anna, malah menjadi bumerang untuknya. Padahal sudah jelas perasaan Anna padanya, mereka sudah satu hati.


Rasanya Rainer ingin sekali mengutuk dirinya yang telah bersikap dingin pada Anna.


***


"Siang ini, sekitar jam 13.00, kita ada meeting dengan bagian pengadaan dan keuangan, kemudian jam 15.00 meeting dengan bagian perencanaan, terakhir sekitar jam 19.00 pertemuan dengan perusahaan rekanan," runtut Arman menjabarkan kegiatan Rainer yang harus dijalaninya hari ini.


"Brengsek, kenapa pekerjaanku belum beres juga man, apa yang kau kerjakan hingga semua ini belum selesai!" ucap Rainer memaki Arman.


Arman hanya menghela nafas dengan amarah yang terjadi pada Rainer. Saat ini Arman hanya bisa menerima kemarahan Rainer dengan. ikhlas, dia tau jika Rainer dalam kondisi tidak baik, mengalami kekhawatiran yang berlebihan. Jika Arman menjawab amarah Rainer saat ini, bisa bisa mereka akan baku hantam. Sabar sabar.


***


Berjalan beberapa hari Rainer terus disibukkan dengan pekerjaannya yang belum usai juga, setiap ada waktu luang dia akan menyempatkan untuk sekedar menelpon Anna, atau mengirim pesan what's app meskipun pada akhirnya Anna tak menjawab pesan what's app yang dikirim oleh Rainer ataupun mengangkat telpon dari Rainer, entah apa yang difikirkan Anna sekarang, yang jelas sekarang Rainer makin panik dengan keadaan.


Bahkan Tania pun seperti mendukung apa yang dilakukan oleh Anna, mengabaikan setiap panggilan dari Rainer, padahal seperti yang Tania katakan, Tania telah berangkat ke desa dimana Anna berada.


"Sial, kenapa mereka tidak ada yang mengangkat telpon ku, bahkan membaca what's app dariku saja tidak," umpat Rainer dalam kesendiriannya.


"Tok tok tok."


Terdengar suara pintu yang diketuk dari balik pintu ruangannya.


"Masuk," jawab Rainer.


"Sore Pak Rainer," sapa Arman sambil mendekati posisi Rainer yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kesal.

__ADS_1


Hampir satu Minggu ia berusaha menyelesaikan date line pekerjaannya yang menumpuk, dan jadwal Anna untuk bertunangan pun semakin lama semakin mendekat, rasanya Rainer seperti ingin memecahkan kepalanya, terasa begitu berdenyut nyeri, di satu sisi ia ingin menyusul Tania ke tempat anna untuk menghentikan pertunangan mereka, tapi di sisi lain di tangannya banyak karyawan yang menyandarkan nasibnya, ia tak bisa egois bukan.


"Hari ini kita akan merampungkan proses perencanaan untuk proyek ini, berikutnya tinggal pelaksanaan saja, untuk beberapa hari kau bisa menyerahkan pekerjaanmu pada kami," ucap Arman berusaha untuk memberikan kabar gembira pada bosnya itu.


Arman tahu bosnya itu sedang dilanda kegundahan, bosnya itupun bekerja keras demi kemajuan perusahaan ini dan berusaha memberikan yang terbaik untuk para karyawannya.


"Bagus, kumpulkan setiap divisi yang mengurusi proyek ini, aku perlu melakukan evaluasi agar pelaksanaannya tidak sampai molor," intruksi Rainer yang langsung dilaksanakannya.


Rainer berharap, semoga saja dia tak terlambat untuk mengejar Anna saat ini.


***


Malam ini akhirnya rampung juga semua urusan perusahaan, semuanya telah berjalan sesuai perencanaan dan sesuai dengan anggaran, proyek yang dijalankan oleh tiga perusahaan ini untuk membangun sebuah hotel dikawasan pesisir pantai. Selanjutnya, tinggal pelaksanaan yang akan dimulai sekitar satu bulan lagi.


Rainer tak membuang waktu lagi, ia langsung bergegas menyusul Anna ke desanya.


Kini ia telah menjalankan mobilnya sendirian, mengejar waktu, mengejar cintanya yang nyaris akan segera menjadi milik orang.


Rasanya Rainer begitu takut kehilangan Anna, bisa jadi Anna adalah satu satunya wanita yang membuat Rainer gila karena terus memikirkannya.


Semenjak pergi dari apartemennya hingga ia menjalankan mobilnya menuju desa tempat tinggal Anna, Rainer terus berusaha menelpon Anna dan Tania, tapi sayangnya tak ada yang mengangkat panggilan telponnya.


[ Rainer :" Sayang, please maafkan aku, jangan bertunangan dengan pria pilihan orang tua kamu, katakan pada orang tua kamu bahwa kamu cinta aku, tunggu aku,"] begitulah isi pesan what's app yang dikirim oleh Rainer pada Anna, tapi percuma saja, Anna bahkan tidak membuka pesannya satu kali pun.


Kini Rainer putus asa, benar benar takut jika ia terlambat, yang Rainer takutkan adalah, bukan hanya tunangan, Rainer takut Anna langsung dinikahkan oleh pria pilihan orang tuanya, mengingat memang Anna tak suka berpacaran, mungkin saja diapun menolak untuk bertunangan bukan.


Rainer makin memacu kendaraannya membelah jalanan, berharap ia segera sampai di tujuan, berharap ia tidak terlambat.


Beruntung jalanan yang dilalui Rainer ini lengang, karena dia melakukan perjalanan di malam hari.


Kekhawatiran akan Anna, membuat rasa kantuk menghilang seketika, padahal dia hanya memacu kendaraannya sendiri, tidak ada teman ataupun supir yang menemaninya.


**"


Setelah beberapa jam menyusuri jalanan utama, akhirnya dia sampai juga di sebuah pasar yang sudah dekat dengan desa yang Anna tinggali.


Hari masih sangat pagi, kini Rainer merasakan lelah dan lapar pada tubuhnya, pada akhirnya ia memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk mengisi perut agar tenaganya kembali setelah melakukan perjalanan lumayan panjang itu.

__ADS_1


Kini Rainer duduk di sebuah kedai yang menyediakan sarapan hangat. Kemudian Rainer memesan bubur ayam dan segelas kopi.


Suasana di pasar ini sudah terlihat ramai, di sepanjang jalan sudah nampak banyak pedagang yang mulai menyiapkan lapak dagangannya.


Rainer memandang sekeliling pasar yang ramai dengan aktifitas jual beli yang penduduk sekitar lakukan, sambil melahap sarapannya yang terlalu cepat itu.


Tak disangka, mata Rainer menangkap pergerakan seorang wanita yang seperti tidak asing baginya, gadis manis yang sedang menggandeng seorang wanita paruh baya. Ditangannya penuh dengan plastik belanjaan yang jumlahnya banyak, mereka berdua memasuki angkot yang mungkin sudah disewa oleh mereka untuk mengangkut belanjaannya yang begitu banyak.


"Anna," gumam Rainer yang terus memperhatikan kepergian Anna, dan ia pun berusaha mengejarnya.


"Eh, kang bayar dulu," ucap pedagang bubut.


Sontak Rainer mengalihkan pandangannya sejenak pada tukang bubur lalu mengambil uang pecahan 100 ribu dan memberikannya pada tukang bubur.


"Ini, makasih mang," ucap Rainer sambil berlalu meninggalkan tukang bubur untuk mengejar Anna, sayangnya Angkor yang dinaiki Anna sudah pergi menjauh dan kini sudah tak terlihat lagi.


"Kang ini kembaliannya," teriak mang bubur, sayangnya Rainer sudah berlari menjauh meninggalkan mang bubur yang kegirangan karena dapat harga bubur dan kopi seratus ribu.


Sejenak, Rainer tertegun mengingat ekspresi Anna, ia terlihat biasa saja, malah Anna cenderung terlihat bahagia.


Apakah Anna bahagia dengan pertunangannya? rasa nyeri mulai menghinggapi dada Rainer, kini ia benar benar putus asa, "Ya Allah, tolong aku, jika Anna bukan jodohku jadikan Anna jodohku, buat dia bahagia denganku ya Allah, jangan biarkan orang lain yang membahagiakannya, biar aku saja yang membahagiakannya." Benar benar doa yang maksa bang.


***


Insyaallah besok udah mau lebaran nih...


Rainer dan keluarga mengucapkan


Minal Aidin walfaidzin, mohon maaf lahir batin ya ....


Aku juga nih maaf lahir batin ya


biarpun lebaran insyaallah tetep up ko hehe


Maafkan jika masih ada typo yang bertebaran ya...


Happy reading 😘😘

__ADS_1


__ADS_2