Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 51. Penolakan Tania


__ADS_3

Begitu sulit melupakan kejadian yang telah lalu, hingga menyisakan trauma yang terus terbayang di benak Tania. Cinta itu memang masih tersisa untuk Raka, tapi luka yang ditorehkan oleh pria arogan itu terlalu dalam tersisa dihatinya.


Saat kemarin malam mendengar penuturan dari papahnya, Tania tak begitu saja diam dengan apa yang akan terjadi.


Kini iya sedang melakukan aksi mogok bicara pada papahnya yang seenaknya menentukan pertunangannya dengan Raka.


"Tok tok tok... sayang," tanya mamah Ros sambil membuka pintu kamar Tania yang tidak dikunci.


Semarah marahnya Tania pada orang tuanya, ia tidak pernah mengunci kamarnya dan membuat orang tuanya sulit untuk menemuinya, rasanya Tania tidak pantas saja melakukannya.


"Boleh mamah masuk sayang?" tanya mamah Ros.


"Masuk aja mah," jawab Tania dalam kamar.


Saat mamah Ros masuk ke kamar Tania, tampak Tania sedang sibuk dengan laptopnya di atas kasur. Pasalnya ia harus membereskan skripsinya dalam Minggu ini karena bulan depan ia akan diwisuda, menyandang gelar sarjananya design yang telah ia perjuangkan selama 4 tahun lamanya itu.


"Udah beres sayang kerjaan kamu?" tanya Mamah.


"Udah mah, ini tinggal di print, di jilid baru disetorin ke kampus," jawab Tania.


Hening beberapa saat, Mamah Ros terlihat ingin menyampaikan h tetapi terlihat bingung. Padahal kemarahan Tania baru mereda malam ini karena keputusan papahnya yang menyetujui pertunangan Tania dan Raka tanpa bertanya kesediaan Tania terlebih dahulu.


"Kenapa mah?" tanya Tania.


Melihat gelagat mamahnya yang sedang duduk disampingnya itu, ia kemudian mendudukkan tubuhnya yang awalnya sedang menelungkup kan badannya, kemudian mengaangsurkan kaca mata yang dipakainya, siap untuk fokus mendengarkan apa yang akan disampaikan atau dilakukan oleh mamahnya itu.


"Di bawah ada Raka, lagi ngobrol sama papah kamu," ucap mamah.


Sudah Tania duga, ini akan terjadi. Pria menyebalkan itu memang tak henti hentinya mengganggu kehidupan tenang Tania.


Mendengar informasi dari mamahnya, Tania mendengus pelan, kesal rasanya dengan kegigihan Raka. Dia memang pria arogan bahkan dia tak menghiraukan perasaan tania yang terluka, terus saja memaksakan apa yang dia inginkan.


Kini Tania berusaha menenangkan dirinya, sambil tersenyum ia berkata pada mamah, "Gak apa apa mah, kan Raka mau ketemu papah."


"Enggak gitu sayang, kamu dipanggil sama papah kamu tuh, disuruh nemenin Raka," ucap mamah.

__ADS_1


"Jangan marah lagi ya, nanti kalo udah selesai kerjaan kamu, temui Raka," lanjut mamah, kemudian mamah usap bahu anak gadisnya itu lalu beranjak untuk meninggalkan gadisnya yang sedang menahan kesal itu.


Lalu Tania menarik ponselnya yang tergeletak tepat di samping laptopnya yang masih menyala. Ia mencari kontak yang bernama Ka Arman, tak menunggu lama langsung memijit call untuk menghubungkan telponnya.


[Tania: "Ka, lagi dimana?"] tanya Tania di balik ponselnya .


[Arman : "Lagi di cafe, kenapa"]


[Tania : "Jemput aku sekarang ya, aku tunggu di rumah"]


Alis Arman naik sebelah, merasa aneh kenapa gadis yang sudah dia anggap adiknya ini tiba tiba minta dijemput, sedangkan dia sedang bersama Jihan, sejenak dia melirik gadis cantik yang sedang asik melahap pasta yang ia pesan sambil menikmati live musik di cafe tersebut.


[Araman : "Ayolah Tania, ini malam Minggu"]


[Tania : "Ish, bilang aja lagi kencan, tolongin ka, aku ngga bisa pergi sendiri sekarang, ada Raka disini, udah pasti papah ngelarang aku pergi kalo sendiri"]


[Arman :"Ya udah, cuman jemput ya"]


[Tania : "Iya janji, cuman jemput aja, udah jemput aku, lanjutin kencan kalian"].


***


"Tak tak tak."


Terdengar langkah kaki yang sedang menuruni anak tangga membuat semua orang yang ada di ruang tengah yang sedang menunggu kedatangan Tania menoleh secara bersamaan.


Nampak sosok Tania yang telah rapih memakai terusan selutut dengan rok yang sedikit mengembang berwarna peach, dipadu padankan dengan flat shoes berwarna putih dan rambut panjangnya yang di gerai begitu cantik dan menawan. Meskipun Tania memakai kaca mata tapi tidak mengurangi kecantikannya yang sempurna malah menambah kesan berbeda pada wajah cantik itu.


"Waduh anak mamah udah cantik gini, udah siap diajak jalan sama Raka ya?" tanya mamah salah paham.


Raka pun mengembangkan sedikit senyumnya merasa tersanjung karena Tania berdandan begitu cantik yang dia pikir untuk dirinya.


Tania hanya mengembangkan senyum mengejek melihat ekspresi Raka yang menampakkan wajah senang itu.


"Ehem.... Engga gitu, Tania mau dijemput sama temen mah, udah janjian dari kemarin," ucap Tania membuat semua orang disana menoleh pada Tania merasa tak percaya, padahal dari tadi Raka sudah menunggunya dan sekarang dengan mudah Tania mengatakan ia akan pergi dengan orang lain, sungguh keterlaluan sekali anak gadis ini.

__ADS_1


"Sayang, Raka udah nungguin kamu dari tadi lho," sanggah mamah.


"Tania udah janjian dari kemarin mah, udah gitu bentar lagi dia dateng, kasian kan," ungkap Tania beralasan.


Mendengar dan melihat apa yang dilakukan oleh anak bungsunya itu, papah Rudi hanya menatap datar pada Tania sambil menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di sofa yang ia duduki.


"Ting tong."


Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata orang yang dibicarakan datang juga. Dengan kesal menunggu Tania di depan pintu tak sabar. Pasalnya Arman berjanji pada Jihan tidak akan lama menjemput Tania. Dan Jihan ditinggalkan sendiri di cafe, beruntung dia sedang asik menyaksikan live musik yang disuguhkan oleh cafe yang ia duduki sekarang.


Tak lama menunggu, pintu yang barusan di tekan belnya pun terbuka, menampakka wajah asisten rumah tangga rumah keluarga Nalendra.


"Malam mba, Tania udah siap belum? tolong panggilan ya, bilangin ditunggu disini," ucap Arman langsung pada intinya, dia ingin segera kembali ke cafe dimana Jihan sedang menunggu.


"Mas, kata bapa disuruh kedalam dulu teman mba Tania yang jemput," ucap mba Tini sang asisten rumah tangga.


"Ya ampun... " geram Arman merasa kesal pada Tania yang mengerjainya.


Arman kemudian masuk ke dalam rumah untuk menemui orang tua dari atasannya itu dengan hati yang dongkol.


Saat Arman masuk kedalam dan telah menghadap kepada papahnya Tania itu, Pak Rudi langsung tau apa rencana dari anaknya tersebut, sungguh anaknya memang sangat mudah ditebak jalan fikirannya.


"Malam semua," sapa Arman pada semua orang yang ada di ruangan keluarga tersebut.


"Udah ya pah, aku mau pergi sekarang, kasihan Ka Arman udah Dateng," ucap Tania merasa menang dengan kedatangan Arman.


"Oke silahkan, hati hati di jalan ya," ucap pak Rudi.


Sedangkan Raka yang sedang duduk memandangi kepergian Tania dan Arman itu tengah memendam kekesalan dan kecemburuan begitu besar dalam diamnya, sangat kentara sampai Om Rudinya itu bisa membaca kemarahan yang tersirat dari wajah Raka.


"Jangan khawatir Raka, semua masih dalam kendali Om, untuk sekarang tugasmu hanya satu, luluhkan saja hati putri om yang keras kepala itu," ucap om Rudi sambil meraih teh yang tersaji di meja.


Meskipun Papahnya Tania sudah membesarkan hatinya, tetap saja jiwa posesif Raka selalu bergejolak dan merasa tidak terima pria lain bisa memandang gadis cantiknya dengan leluasa, rasanya Raka ingin mencongkel semua mata lelaki yang berani mengagumi gadis pujaannya itu.


"Jika kamu ingin menyusul mereka, susul saja, om pengen tau bagaimana caramu menaklukan Tania," tantang om Raka.

__ADS_1


Happy reading 😊


__ADS_2