
Nikah usia muda, sepertinya tak ada dalam list cita cita Anna, mengingat usianya yang bahkan 22 tahun saja belum genap.
Mungkin memang benar kata orang, perihal jodoh itu manusia tak bisa menentukan kapan dia akan mendekat, dan bersama siapa kita akan ditakdirkan untuk menghabiskan sisa hidup kita. Termasuk Anna, bahkan tak pernah menyangka jika ia kini sudah dipersunting oleh seorang pria yang berbeda usia sampai 9 tahun dari dirinya, dan jangan lupa suaminya orang kaya.
Kini, disinilah Anna. Sedang berusaha mengembalikan mood dan kepercayaan Rainer sang suami kembali pada dirinya, berharap ia tak mencabut izin Anna untuk tetap bekerja sebagai magang perencanaan di perusahaannya.
"Masih ngambek?," rayu Anna duduk di atas paha suaminya sambil telunjuknya berputar di atas dada bidang Rainer.
"Hmmm..." gumam Rainer berpura pura tak peduli dengan keberadaan Anna yang sedikit mengganggu kinerja kepalanya terutama kepala bawah.
"Ieh, ngga jelas, masa cuman hmmm," lirih Anna makin menelusupkan kepalanya di ceruk leher Rainer.
Masih tak ada tanggapan, Rainer berpura pura tak peduli dengan Anna, ia hanya menatap TV yang sedang menyala, tak berniat mengendurkan pertahanannya, tapi masih dengan posisi tak mengizinkan Anna merubah posisi duduknya yang masih duduk di atas paha Rainer yang sedang bersandar dengan nyaman di sofa. Sungguh posisi yang aneh bukan.
Beruntung kini Anna berada di ruangan Rainer yang dijaga ketat oleh Arman, melarang semua orang masuk kedalam ruangan pemimpin perusahaan Selama waktu yang tidak bisa ditentukan. Jika ada yang melihat posisi dirinya saat ini sudah pasti semua orang akan auto blushing bukan.
"Ya udah, kalo masih ngga mau ngomong aku balik ke bawah aja," ancam Anna bersiap turun dari pangkuan Anna, mulai memberi jarak dirinya.
Mata Rainer langsung melirik tak suka, menginterupsi jika Anna tak boleh kemana mana bahkan turun dari pangkuannya pun tak boleh. Kini Anna sedang ia hukum, suruh siapa dia dekat dekat dengan pria lain, bahkan ada yang berani pegang tangannya seperti anak TK yang di gandeng oleh ibunya, sungguh mengesalkan.
"Ieh, dasar suami, turun ngga boleh, tapi didiemin terus dari tadi," gerutu Anna berusaha sabar dengan tingkah suaminya yang absurd dan pencemburu ini. Kembali menyamankan duduknya diatas paha Rainer.
Tangan Anna mulai nakal, melingkar dengan genit di leher tegas sang suami mengecup area berjambang itu dengan lembut.
"Ya udah maaf, itu salah aku, ngga sadar kalo pak Willy mau ngegandeng aku kaya yang mau nyebrang jalan raya, maaf ya," rayu lagi Anna, ia memang harus ekstra bersabar untuk mengembalikan Rainer ke mode aman lagi.
__ADS_1
Beruntung saja ini sudah hampir waktunya pulang, jadi Anna tak terlalu memusingkan alasan kenapa ia tak ada di ruangannya saat ini. Memang tak harus pusing, sekertaris serba bisa Rainer bisa mengaturnya, entah apa yang akan menjadi alasan Anna masih bisa berada di ruangan bos, Anna tak peduli, yang penting aman saja.
"Udah lah, kamu pindah jadi sekertaris aku aja," Rainer mulai bernegosiasi.
"Ieh, kan udah ada pak Arman, kasih kesempatan sekali ini aja," ucap Anna memohon, berusaha memasang mata Puppy eye, berharap Rainer bisa luluh seperti di tv tv, tak tega melihat mata yang berkaca-kaca.
Pasalnya, Anna saat ini sedang takut Rainer mencabut izinnya untuk bekerja, tapi beruntung Rainer tak Setega itu melakukan kehendak-nya. Memang Rainer suami idaman versi muri.
"Sampai kapan? sampai ada berondong yang naksir kamu gitu?" bentak Rainer kesal sambil melirik tak suka.
"Siapa berondong?" tanya Anna pura pura tidak tahu.
"Ya siapa lagi?" jawab Rainer geram dengan kepolosan istrinya.
"Pak Willy maksudnya? ieh dia bukan berondong, dia kan lebih tua dari aku, mana bisa disebut berondong," bela Anna.
"Masa?," jawab Rainer sumuringah. Tumben sekali istrinya ini menyebut dirinya ganteng.
"Ya, paling ganteng," jawab Anna mempertegas pernyataannya dengan yakin ditambah dengan anggukan kepalanya dan senyum cerah secerah mentari di pagi hari.
"Masa?," jawab Rainer melingkarkan tangan dipunggung Anna mengulang pertanyaannya seperti orang yang tak yakin, mengikis sisa jarak yang masih tersisa dan berusaha saling menempel.
Mendapat respon bagus dari Rainer, Anna tak menyia-nyiakan kesempatan, menyambut rayuan Rainer dan semakin mempererat pelukannya di leher Rainer " Iya, dan yang paling Anna cinta," ucapnya lalu menutupnya dengan kecupan manis diatas bibir merah sang suami.
Kecupan itu dilakukan hanya sekilas, meskipun begitu, Rainer begitu senang dengan keimutan sang istri yang membuat dirinya selalu gemas. Rainer tak membalas kecupan Anna, ingin rasanya membalas kecupan manis itu dengan ciuman yang buas, tapi sudah pasti sesi berikutnya akan berbahaya dan membutuhkan waktu tak sebentar, lebih baik ia tunda sampai nanti di rumah.
__ADS_1
"Jadi, boleh Anna masih kerja?," tanya Anna berharap kekesalan Rainer sudah mereda.
"Boleh, dengan syarat," jawab Rainer memfokuskan matanya agar Anna mengetahui kesungguhan keinginan dirinya.
"Apa?," tanya Anna harap harap cemas.
"Sampai kapanpun boleh, asal jika nanti sudah resepsi, tak masalah status kamu sudah bisa di publish, biar ngga ada yang berani deketin kamu," pungkas Rainer dengan keputusannya yang terkesan menggebu dan sedikit kesal.
Rainer ingin jika istrinya tak usah bekerja, tapi ia pun tak ingin membatasi keinginan Anna untuk tetap berkarir. Ia akan menyerahkan keputusan kepada Anna, mau sampai kapanpun boleh, Anna pun boleh berhenti kapanpun yang ia mau, sesuai dengan kehendaknya, toh Rainer sangat mampu memberikan nafkah pada Anna dan keluarganya.
Hanya satu yang menjadi ganjalannya, yaitu ia tak ingin orang lain berfikir jika Anna masih singel, ia tak mau Anna dilirik oleh pria manapun. Jadi Rainer sangat ingin memberi tahu semua orang, jika istrinya ini sudah dia miliki, jadi para lelaki dimanapun harus tahu diri.
"Iya, Anna nurut apapun yang kamu katakan, makasih suami aku sayang," ucap Anna.
Anna begitu merasa beruntung, bahkan paling beruntung memiliki suami yang tak hanya memikirkan kesenangan dirinya saja, tapi ia tetap mempertimbangkan perasaan Anna, tak bertindak berdasarkan egonya, padahal Rainer cukup mampu dan lebih berhak atas dirinya, mau ia melarang Anna untuk bekerja kembali pun Rainer lebih dari berhak.
"Bip bip," terdengar dering telpon Anna mengintrupsi, pertanda ada beberapa notifikasi chat yang masuk.
Terpampang dengan jelas nama pengirim chat beberapa kali 'WILLY'.
'Anna, kamu masih dimana?', chat pertama yang terlihat
'Aku tunggu diruangan, kita pulang bareng, aku anterin' , chat kedua terbaca.
Sayangnya yang membaca isi chat itu bukan cuma Anna, Pria yang menempel dengan Anna pun sangat jelas membaca setiap kata yang tertuang dalam isi chat tersebut.
__ADS_1
"Dia memang harus dapet SP, berani sekali merayu istri bos," geram Rainer dengan mata yang kembali berkobar.
"Hadeuuuuh," gerutu Anna lelah sambil memijat kepalanya yang mendadak pening.