Sang Penakluk Bos Brengsek

Sang Penakluk Bos Brengsek
Bab 69. Pesan Orang tua


__ADS_3

Sebanyak apapun anak yang dimiliki, pasti suatu saat akan meninggalkan orang tuanya untuk membina rumah tangganya sendiri. Setua apapun anak, dimata orang tua dia tetaplah anak, yang masih bisa dan layak bermaja manja dalam pangkuannya.


Saat ini, Anna sedang memeluk dengan erat tubuh ibunya dengan deraian air mata, tak menyangka akan secepat ini bapaknya telah menyerahkan dirinya pada pria yang telah menyuntingnya.


Menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya, menitipkan jiwa dan raga putrinya untuk hidup bersama pria asing yang diharapkan akan membahagiakan putrinya sampai akhir hayat.


Perpisahan ini terasa begitu berbeda saat bapak dan ibu Anna melepaskan Anna untuk merantau bekerja di kota. Padahal jika merantau untuk bekerja ia hidup sendiri dan kesedihannya tak separah ini. Tapi kini Anna sampai sesenggukan akan berpisah dengan ibu dan bapaknya.


Ibu mengusap kepala Anna dengan lembut dan sayang, berusaha menyalurkan kekuatannya, padahal ibu dan bapaknya lebih rapuh dari itu, tapi mereka sekuat tenaga menahan gejolak yang terjadi di dadanya.


"Dengarkan ibu ya Anna... hiduplah bahagia bersama suami kamu, dampingi suami kamu dalam kondisi apapun, ibu akan selalu berdoa rumah tangga anak ibu akan selalu bahagia, sakinah, mawadah warahmah. Restu kami sudah bersama kamu Nak," tutur ibu dengan suara parau.


Anna mendongakkan wajahnya dengan deraian air mata lalu mengangguk, sedangkan bapak ikut mengelus punggung Anna dengan sayang.


"Terima kasih Bu, sudah selalu mengerti Anna, terimakasih sudah membesarkan Anna dengan baik, hingga selalu memikirkan kebahagiaan Anna," lirihnya dalam tangis.


Kemarin Anna tidak merasakan kesedihan seperti ini, tetapi saat dia akan berangkat dan akan hidup bersama suaminya, rasa sesak itu tiba tiba terasa.


Kemudian bapak beralih pada Rainer yang berada tepat di belakang Anna, Bapak memandangi menantunya itu dengan penuh harap.


"Nak, tolong jaga anak bapa, bahagiakan dia, jangan bentak dia, dan tolong jika suatu saat kamu sudah tidak cinta Anna lagi, kembalikan Anna pada kami, biar tanggung jawab yang sudah kamu ambil itu, bapak ambil kembali," ucap bapa dengan matanya yang berkaca-kaca.


Genggaman tangan bapak begitu kuat, menandakan pengharapan yang begitu besar pada menantunya, Bapak sangat khawatir jika ia salah mengambil keputusan.


"Saya berjanji akan selalu berusaha membahagiakan Anna pak, jika saya lalai tolong tegur saya," ucap Rainer berusaha meyakinkan mertuanya dengan membalas genggaman bapak.


Kemudian bapak menepuk bahu menantunya itu dengan lembut.


"Ya sudah, berangkatlah sekarang, sebelum terkena macet," ucap bapa.


orang tua Rainer dan Tania sudah duluan kembali ke kotanya tadi pagi, dan Rainer sengaja pulang sore hari agar perjalanannya tidak panas, dan Anna bisa beristirahat.


"Hati hati dijalan ya ka, kabarin kalo udah sampai rumah," ucap Ayu yang terakhir memeluk Kaka dan Kaka iparnya itu.


"Iya makasih ya, tolong jagain bapa sama ibu ya Yu," ucap Anna lalu memasuki mobil menyusul Rainer yang sudah duluan berada di belakang kemudi.

__ADS_1


***


Selama beberapa jam dalam perjalanan menempuh jarak yang lumayan jauh itu, akhirnya pasangan pengantin baru itu telah tiba di kota dimana mereka tinggal.


Sepanjang jalan, Anna sedikit sulit untuk menenangkan dirinya karena perpisahan yang terjadi dengan orang tuanya, Rainer terus menggenggam tangan Anna untuk menyalurkan semangatnya mengatakan bahwa semuanya akan baik baik saja.


"Kita bereskan barang barang kamu di kosan ya, hari ini juga kita pindah ke apartemen aku," ucap Rainer sambil tetap fokus dengan kemudinya kala mereka hampir sampai di kosan Anna.


"Bolehkah aku menginap satu malam di kosan? sepertinya banyak yang harus dibereskan, dan aku harus pamit pada penghuni kosan dan induk semang juga," ucap Anna memohon.


"Jika kamu mau menginap di kosan, aku juga akan menginap," jawab Rainer yang tak ingin berpisah dengan istrinya itu meskipun hanya semalam.


Tentu saja Rainer tak ingin berpisah, sudah beberapa hari setelah pernikahannya ia telah menahan diri untuk tidak membuka kado utamanya. Bisa jadi malam ini dia akan memulai untuk membuka segel kan, semoga saja.


"Tapi, ini kosan khusus putri, tidak boleh ada pria yang masuk," ucap Anna berusaha mengelak dan mencari alasan agar Rainer tak menginap.


Bukan maksud Anna tak ingin tidur dengan suaminya itu, tapi sudah 3 hari semenjak status lajangnya berubah, Anna benar benar diganggu terus menerus dalam tidurnya, bahkan Rainer terus memeluk Anna semalaman tanpa ada niat untuk melepaskannya, jika Anna berusaha menjauh, Rainer pasti semakin mengeratkan pelukannya ditambah bonus ciuman yang bertubuh tubi dimanapun Rainer suka membuat Anna pusing tujuh keliling dibuatnya.


Apalagi setiap malam dia terus mencoba lulus dalam ujian yang diberikan Rainer tentang memuaskan Rainer mencium dengan cara yang benar menurut Rainer, sayangnya kembali gagal dan gagal.


"Sayang... aku kira, yang tidak boleh adalah teman lawan jenis yang tidak berstatus, sedangkan aku ini jelas adalah suami kamu, tentu saja boleh," ucap Rainer dengan percaya diri.


"Biar nanti aku yang bicara pada induk semang, sekalian pamitan untuk pindah bukan," pungkas Rainer tak terbantahkan.


***


Kini Rainer dan Anna telah duduk di ruang tamu pemilik kos kosan yang dihuni oleh Anna. Rumah pemilik kos kosan Anna ini tak begitu jauh dari kosan Anna, hanya terhalang oleh lima rumah saja, jadi jika ada sesuatu, pemilik kosan bisa langsung mengeksekusi kendala yang terjadi.


Tidak lama, seorang ibu paruh baya dengan memakai daster dan kerudungnya yang menutupi sampai perut itu menghampiri Anna dan Rainer dengan membawa minuman yang akan disuguhkan.


"Silahkan diminum Anna, dan mas Rainer, maaf ya cuman disuguhin air," ramah ibu Marni meletakkan minum yang dibawanya di meja tepat dihadapan tamunya ini kemudian ikut duduk di kursi yang terletak tepat di hadapan Anna.


"Ini ada apa? ibu ko kaget banget nggak biasanya Anna mampir sini, biasanya juga Anna sibuk banget kan tiap hari," ucap ibu Marni sambil melirik Anna.


"Begini Bu, kedatangan saya kali ini sebagai suami Anna ingin berpamitan akan membawa Anna ke rumah saya," ucap Rainer langsung ke intinya.

__ADS_1


Tentu saja Bu Marni begitu kaget mendengar jika Anna sudah memiliki suami, lalu seketika pandangannya langsung mengarah pada Anna dan pandangannya turun pada perut Anna.


Dipandang seperti itu, Anna secara reflek tiba tiba memegang perutnya dengan kedua tangannya dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Sudah bisa ditebak apa yang difikirkan ibu paruh baya di depannya ini.


"Enggak Bu, insyaallah saya bersih, nggak hamil, amit amit kalo kaya gitu Bu," ucap Anna dengan panik takut dengan prasangka yang terjadi.


"Ya Allah An, ibu kaget lho, kamu ngga ngasih tau ibu, baru seminggu pulang kampung, eh tau tau kesini bawa suami," ucap Bu Marni sedikit mengomel.


Melihat tingkah dua wanita berbeda generasi didepannya ini, Rainer merasa ingin tertawa tapi takut dosa.


"Jodoh ngga bisa ditebak Bu, Alhamdulillah jodoh kami deket banget jadi dikasih cepat," ucap Rainer.


"Ya sudah, rencananya kalian mau pindahnya kapan?" tanya ibu Marni.


"Insyaallah besok pagi Bu," terang Anna


"Makasih ya Bu untuk tempat tinggal nyamannya selama ini, dan Anna minta maaf juga kalo Anna sering ngerepotin ibu sama kang Rama," lanjutnya sambil memeluk pemilik kosan nya itu.


"Iya Anna, semoga rumah tangga kamu sakinah, mawadah, warahmah ya, maaf ibu ngga sempet ngasih kado," ucap ibu Marni.


"Gak apa apa Bu, ya sudah, besok saat Anna mau pergi kuncinya Anna kesini ya Bu, makasih sekali lagi, dan mau izin suami Anna nginep di kosan Anna malam ini nggak apa apa ya," tanya Anna.


"Oh, gak apa apa An, kalian kan sudah halal, mau unboxing juga silahkan, asal jangan berisik aja," ucap ibu Marni menggoda sambil terkekeh.


"Ya ampun Bu," ucap Anna sambil menutup wajahnya merasa malu, sedangkan Rainer menyeringai, tau saja ibu Marni dengan niat Rainer.


Setelah menghabiskan minum yang disajikan oleh ibu Marni, kemudian Rainer dan Anna beranjak untuk pamit.


"Makasih atas izinnya ya bu, kami pamit."


Kemudian Anna dan Rainer meninggalkan kediaman ibu Marni, dan kembali ke kosan Anna.


***


Semoga kosan Anna kedap suara ya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Happy reading😚😚


__ADS_2